LOGINPupil mata Mante melebar, irish birunya yang jernih itu membulat sempurna, membelalak terkejut mendengar pertanyaan tidak terduga dari Lilian.Tidak seperti biasanya Lilian berbicara tentang seks lebih dulu, apakah dia ingin mengajak Mante melakukannya? Apakah sekarang Lilian akhirnya menyukai sensasi saat mereka berhubungan intim? Ataukan mungkin, Lilian sedang butuh pelepasan endorphin karena perasaannya sedang dibebani setres.'Persetan dengan apapun alasannya! Yang terpenting sekarang aku tidak lagi harus menahan diri seperti biksu kan?' batin Mante mengenyahkan pikiran yang tidak perlu.Mante berdeham memecah keheningan yang sempat menjeda, tangannya bergerak ke bawah, menyentuh ujung dress hitam Lilian dengan senyuman dan semburat merah yang menghiasi pipi.Tampaknya Lilian tidak tahu, seberapa senangnya hati Mante layaknya diberi hadiah jika Lilian memiliki inisiatif untuk mengajaknya berhubungan intrim lebih dulu, bahkan jauh lebih baik jika Lilian langsung menyerangnya dimana
Ragu Lilian bergerak menyusuri kamar besar itu dengan tatapan ingin tahu. Kamar adalah cerminan paling intim dari kepribadian, kebiasaan, nilai dan cara seseorang memandang kehidupan.Kamar Mante sangat besar dengan dominasi dinding berwarna hitam arang berhias panel-panel geometris, sementara bagian bawah dilapisi panel cokelat kayu walnut dan atap tinggi menjulang menciptakan atmosfer maskulin yang begitu kuat seperti sosok Mante Hemilton.Di ruang utama itu terdapat ranjang besar berseprai putih senada dengan bantal-bantal. Di pinggiran ranjang terdapat perapian tertanamRanjang berukuran besar menjadi pusat ruang utama, dilengkapi seprai putih bersih serta deretan bantal dengan warna senada. Dinding di salah satu sisinya dihiasi perapian modern yang terintegrasi dengan desain interior, sementara rak-rak pajangan di sekitarnya menampilkan koleksi buku dan benda-benda seni pilihan.Di sisi lain ruangan, tiga pintu kokoh berjajar dengan jarak sekitar tiga meter satu sama lain. Masing
Mengikuti Beatrix yang berada di depannya, Lilian bergerak pelan dengan wajah terangkat melihat ke penjuru arah. Semakin jauh Lilian melangkah, semakin banyak ruangan yang telah dilewati, Lilian baru sadar bahwa ternyata disetiap penjuru tempat terdapat CCTV yang terpasang, merekam segala hal yang sedang terjadi.“Kamar Mante ada di sini.” Beatrix menunjuk pintu putih berukuran besar yang dilengkapi sistem penguncian elektronik. Sebuah pemindai biometrik terpasang di sampingnya, berdampingan dengan slot kartu akses sebagai opsi masuk lainnya.Saat Mante memintanya menunggu di kamar, pria itu memberikan sebuah kartu tanpa memberi penjelasan.Kini akhirnya Lilian tahu kegunaan kartu itu, dan lebih dari itu.. dibandingkan kagum dengan kecanggihan dan kemewahan akses kamarnya. Lilian justru terpantik simpati.. rumah yang harusnya menjadi tempat ternyaman, tempat yang membuat seseorang merasa aman untuk berlindung. Ternyata Mante sama sekali tidak memilik hal itu..Beatrix berhenti sejenak
Lilian terpaku dengan wajah pucat pasi, perasaan dalam hatinya membeku sejenak, dan yang tersisa hanya kata-kata Beatrix yang menggema kencang di telinga.‘Bagaimana bisa?’Pertanyaan itu muncul dalam benak Lilian yang tengah dihantam keras oleh kerterkejutan. Bagaimana bisa, seorang wanita yang telah lalui waktunya untuk dia korbankan, dia mempertaruhkan kesehatan, merelakan tubuhnya berubah, mengesampingkan kebiasaannya, puncaknya dia pertaruhkan nyawanya untuk melahirkan...Namun, mengapa setelah semua perjuangan itu berakhir dan dia akhirnya menjadi seorang ibu, dia justru memilih untuk tidak melanjutkan hidupnya?Badai macam apa yang telah menghancurkan dirinya hingga dia tak lagi menemukan alasan untuk bertahan hidup? Apakah penderitaan itu sedemikian hebatnya, sampai-sampai perjuangan mengandung dan melahirkan terasa jauh lebih ringan dibandingkan beban yang harus dia tanggung setelahnya?Selama ini, Mante memang berkali-kali memberitahu bahwa dia hanya memiliki ayah dan seora
“Silakan, Nona Lilian.” Roland sedikit membungkukkan tubuh, mempersilakan Lilian berjalan di sampingnya.Lilian menoleh, dilihatnya Mante dengan mata berkaca-kaca menahan tangisan, dia ingin sekali merengek agar Mante tidak membiarkannya sendirian bersama orang asing, namun Lilian malu melakukannya karena itu akan semakin merusak reputasinya.Menjaga ketenangan bukanlah perkara mudah bila Lilian berada diantara orang-orang berkarakter keras seperti keluarga Hemilton.Jangankan untuk dekat, untuk berpapasan pun rasanya Lilian ingin pergi bersembunyi.Ragu-ragu akhirnya Lilian melangkah, meski sekali lagi gadis itu sempat menoleh ke belakang, melihat Mante yang tengah memastikan kepergiannya.Pada akhirnya, dengan berat hati Lilian pergi mengikuti Roland yang akan mengantarnya menuju kamar pribadi Mante untuk menunggu dan beristirahat, sementara Mante harus memenuhi panggilan Elisio yang telah menantinya di ruang pribadi.Derap suara langkah kaki heels terdengar di lantai, menyusuri set
Ruangan makan itu sunyi seketika.. Orang-orang saling melihat tak dapat menyembunyikan seberapa terkejutnya mereka dihadapkan pada kenyataan, bahwa ternyata istri Mante memiliki keberanian untuk langsung bersuara.Siapa yang menyangka? Perempuan kecil yang sejak pertama kali menginjakkan kaki di ballroom hanya bersembunyi di balik bahu Mante, gemetar seolah tidak sanggup menghadapi tatapan keluarga Hemilton, ternyata bukan sosok yang bisa terus-menerus diperlakukan sesuka hati.Penampilannya yang penakut, sempat membuat beberapa orang meragukan kemampuannya. Bahkan, diam-diam ada yang menganggap Lilian akan menjadi beban terbesar hidup Mante di masa depan.Namun, begitu perempuan itu akhirnya mengangkat suara, satu kalimat darinya sudah cukup untuk membuat Gabriella Hemilton membeku di tempat.Di balik kacamata yang bertengger di hidungnya, mata Gabriella bergetar hebat menahan amarah. Jemarinya yang keriput mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya menegang.Gabrie
Lilian mundur seketika, dengan wajah pucat pasinya gadis itu mundar-mandir menggigit ujung jari, tidak dapat mengendalikan kepanikan yang semakin berkeacamuk dalam kepala. Jika pria asing itu tidak ingat apapun, apa itu artinya dia mengalami lupa ingatan akibat benturan? Jika hal itu benar, ini
“Keadaannya baik-baik saja meski ada beberapa luka dan memar. Setelah nanti teman Anda bangun, baiknya mandi air dingin untuk membantu mengurangi nyeri dari benturan dan pembengkakan. Untuk mengetahui apakah ada cedera, Anda harus membawanya ke rumah sakit,” ucap seorang dokter sambil meletakan tab
Kendaraan bergerak cepat ditengah kegelapan malam, sambil menyetir Lilian berkali-kali melihat dan menyentuh ujung hidung pria yang tidak sengaja dia tabrak, memastikan kondisinya yang kini tidak sadarkan diri masih bernapas. Perasaan Lilian bercampur aduk, takut dan cemas menjadi satu, tidak t
Sakit menusuk ke dalam ulu hati, menyaksikan pria yang Lilian harapkan akan menjadi penjaganya, justru dengan tenang membiarkan teman-temannya bicara buruk. Mengapa Sean terkesan tidak peduli padanya? Meski semua orang tahunya mereka kekasih yang dijodohkan. Sean punya hati nurani yang bisa dia







