LOGINDi bawah bentangan langit biru nan cerah, sejumlah perempuan berkumpul di sekeliling meja-meja bundar dengan taplak sutra putih yang menjuntai anggun. Percakapan mengalir di antara cangkir-cangkir porselen dan sajian yang tertata rapi, sesekali diselingi tawa lembut yang menandakan betapa mereka menikmati jamuan teh siang itu.Kendati hanya berupa pertemuan minum teh, suasananya jauh dari kesan santai. Para perempuan itu hadir dalam balutan gaun-gaun elegan yang pantas dikenakan di sebuah jamuan resmi, dengan setiap potongan kain, perhiasan, dan aksesori yang menjadi penegas garis keturunan serta kedudukan yang mereka sandang.Dengan sepatu mahal mereka injak rumput liar dihiasi bunga-bunga jacaranda yang berguguran, dengan fascinator maupun picture hat mereka berliindung dari riaknya cahaya yang menerobos pohon jacaranda yang tengah bermekaran memancarakan warna ungu kebiuran yang sejuk. Semilir angin menyusup di antara pepohonan jacaranda, membawa wangi bunga yang samar sebelum ber
Mentari pagi samar-samar mulai terlihat dibalik gorden tipis putih, embun berjatuhan di permukaan jendela kamar ruang dirawatnya Lilian yang saat ini masih terbaring dengan alat-alat medis yang terpasang pada tubuhnya.Satiap satu jam sekali, dokter datang memeriksa untuk memastikannya tetap stabil tidak menunjukan adanya penurunan akibat kerasnya racun yang sempat menyebar di tubuhnya.Obat-obatan terbaik dan tenaga medis paling kompeten telah dikerahkan untuk menyelamatkannya. Namun, hingga detik ini, Lilian masih belum sadarkan diri. Tubuhnya seolah masih berjuang melawan sisa-sisa racun yang nyaris merenggut nyawanya, membuat kesadarannya tetap berada di luar jangkauan siapa pun.Mante genggam lembut tangannya yang dingin tidak bertenaga, ia usap permukaan kulitnya bekas jarum transfuse darah. Racun dalam tubuh Lilian telah merusak sel darah merah yang menurunkan begitu banyak kadar hemoglobin.Tidak terbayang berapa besar sakit yang harus Lilian tanggung semalam.Dalam penantiann
Dari balik beningnya gelas wine yang tengah Elisio teguk, sekilas pria paruh baya itu pandangi Jach sebagai isyarat, agar putra bungsunya yang menjawab dan memberi alasan.Menyadari perintah yang tak terucap itu, dengan penuh ketenangan Jach angkat bicara menjawab pertanyaan sang bibi. “Saat ini, Mante sedang menyambut tamu yang baru datang, dia memiliki jadwal janji bincang secara pribadi dengan mereka,” ucapnya berdusta.Jach tahu, apa yang sebenarnya kini sedang terjadi diluar sana, dan apa yang kini tengah dialami oleh Mante.Sayang, situasi saat ini sama sekali tidak bisa mendukung Jach untuk datang dan membantu, begitupun dengan Mante yang tidak bisa membalas sekalipun bukti sudah jelas mengarahkan pada satu dalang, Celestine.Saat ini, Lilian boleh saja berstatus sebagai isteri sah-nya Mante, namun kenyataannya.. Lilian tidak lebih dari orang asing di mata anggota keluarga Hemilton yang tidak mengenali, bahkan Elisio pun belum pernah berjumpa empat mata dengan Lilian.Di tenga
Kepulan asap cerutu bergelombang di udara, menghiasi kegelapan malam yang dingin dan mencekam.Suara angin terdengar saat berhembus, menyapu rambut halus Mante yang tidak lagi tertata rapi seperti biasa.Wajah tampannya terlihat begitu tenang dan terkesan dingin, namun kilatan di matanya tidak dapat menyembunyikan kebenaran bahwa kini, Mante Hemilton sedang cemas.Setiap kali Mante tertunduk menatap jarum jam di pergelangan tangan, napasnya sesak dan beban dalam hatinya semakin besar menumpuk berat.Mante bertanya-tanya, harus berapa lama lagi dia habiskan waktu untuk bisa mengetahui keadaan Lilian? Semakin lama Mante menanti, dia merasa mulai kehilangan akal sehatnya.Sepanjang hidupnya, Mante sudah pernah merasakan ditinggal berbagai orang yang pernah dekat dengannya. Dimulai dari teman, kakaknya.. Halu Hemilton, bahkan perempuan yang sehari lagi akan dia nikahi, yaitu Gloria.Namun, Mante tidak pernah merasa terguncang apalagi menangis, dia masih bisa memikirkan dan mengerjakan pe
Air mata semakin deras berjatuhan, membasuh darah segar yang menodai wajah.Bibir Lilian terkatup rapat menelan sakit dan katakutan yang telah menjadi satu. Suara tembakan yang berkali-kali sempat pecah di pendengaran, menyisakan kesunyian dan jejak kengerian yang kini mencekam.Segala hal yang telah Lilian alami, segala hal yang telah Lilian saksikan, telah buatnya merasa seperti kehilangan sisi kemanusiaannya. ‘Mengapa ini terjadi? Mengapa aku harus menyaksikan situasi ini, disaat aku sedang belajar berdamai dan menerima sisi lain Mante?’ batin Lilian bertanya dalam tangisan.Lilian memanggilnya datang hanya ingin dapatkan perlindungannya yang normal dan membalas kejahatan semua orang di jalan yang benar, bukan membalasnya dengan kejahatan yang jauh lebih kejam.Apa yang telah Mante lakukan di depan mata, telah buat Lilian merasa kehilangan sosoknya yang selama ini dia cintai. Sosok laki-laki yang penuh kelembutan, pandai bicara manis dan tampil seperti seorang pahlawan yang menyel
Kerasnya suara jendela yang pecah menghamburkan serpihan kaca, berterbangan dan berserakan di lantai menyakiti pendengaran.Lilian bergerak lemah memeluk diri di lantai sebagai perlindungan terakhir yang bisa dia lakukan, serpihan kaca yang berterbangan itu menggores kaki dan lengannya.Lilian terisak sudah tidak mampu melakukan apapun, sudah tidak dapat berpikir apapun..Lilian berkubang menahan sakit yang begitu menyiksa. Sakitnya yang luar biasa sampai tidak mampu diwakilkan dengan kata-kata.Lilian sudah pasrah, jika memang takdirnya harus tiada dengan cara memilukan seperti ini, Lilian akan menerimnya. Namun, jika ternyata ini semua adalah sebuah ujian hidupnya, Lilian tahu kedepannya apa yang harus dia lakukan.Pergi! Persetan dengan kehidupan rumit seperti ini!Lampu-lampu kendaraan padam di depan café, tampak terlihat siluet pergerakan orang-orang yang datang mendekat.Dua anak buah Shopie saling lirik tanpa suara, secara naluri mereka perlahan mundur seraya mengeluarkan pisau
Kendaraan bergerak cepat ditengah kegelapan malam, sambil menyetir Lilian berkali-kali melihat dan menyentuh ujung hidung pria yang tidak sengaja dia tabrak, memastikan kondisinya yang kini tidak sadarkan diri masih bernapas. Perasaan Lilian bercampur aduk, takut dan cemas menjadi satu, tidak t
Sakit menusuk ke dalam ulu hati, menyaksikan pria yang Lilian harapkan akan menjadi penjaganya, justru dengan tenang membiarkan teman-temannya bicara buruk. Mengapa Sean terkesan tidak peduli padanya? Meski semua orang tahunya mereka kekasih yang dijodohkan. Sean punya hati nurani yang bisa dia
Saat matahari mulai tenggelam membawa cahayanya di langit, Mante kembali ke tempat dimana dia tinggalkan kudanya. Penampilan Mante telah berubah kotor penuh debu, ada darah segar yang menghiasi wajahnya dari cipratan hewan buruan yang telah dia habisi. Dengan langkah gontai dan suara napas kasar,
Lilian meringkuk tertidur lelap di bathub, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah, mengumpulkan energinya kembali agar bisa kuat menghadapi banyak kenyataan pahit dari kehidupannya yang tidak lagi sama seperti dulu. Bukan hanya kehilangan orang tua, Lilian juga harus siap kehilangan seg







