Compartilhar

73. Diusir

Autor: Dita SY
last update Data de publicação: 2026-10-27 18:53:27

Beberapa jam kemudian, mobil yang dibawa Enggar memasuki halaman rumah.

Melihat kedatangan majikannya, buru-buru Bi Itam menghampiri dan membuka pintu utama.

Melihat ke depan, Enggar turun dari mobil, disusul Yanti. ​Namun, yang mengejutkan mereka berdua hanya membawa satu anak saja.

Di dalam gendongan Yanti, hanya terlihat si kecil Arsy yang menangis rewel. Sementara Aira sama sekali tidak ada!

Tak ingin langsung berprasangka buruk, Bi Itam menegakkan posisinya berdiri, mengamati bagian dalam
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
etdah dikit kali part nya,,,
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   73. Diusir

    Beberapa jam kemudian, mobil yang dibawa Enggar memasuki halaman rumah.Melihat kedatangan majikannya, buru-buru Bi Itam menghampiri dan membuka pintu utama.Melihat ke depan, Enggar turun dari mobil, disusul Yanti. ​Namun, yang mengejutkan mereka berdua hanya membawa satu anak saja.Di dalam gendongan Yanti, hanya terlihat si kecil Arsy yang menangis rewel. Sementara Aira sama sekali tidak ada!Tak ingin langsung berprasangka buruk, Bi Itam menegakkan posisinya berdiri, mengamati bagian dalam mobil, siapa tahu Aira tertidur di jok belakang.Namun lagi-lagi, ia tidak melihat Aira di sana.Bi Itam melangkah cepat, mengekor Enggar dan Yanti yang memasuki rumah.​"Maaf Pak Enggar. Nek Yanti. Di mana Aira ya? Kok cuma Arsy yang dibawa pulang? Di mana anak satunya lagi?" tanya Bi Itam dengan nada se-sopan mungkin.​Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Yanti berubah seketika. Ia terduduk lemas di atas sofa sambil memegang dadanya."Aira, dia ... dia hilang." Tangis Yanti pecah, entah tangis

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   72. Hatinya Sudah Mati

    "Mi, Pi, please, jangan permasalahkan soal panggilan. Jangan buat Arum tidak nyaman," ucap Lee sambil melirik kedua orang tuanya bergantian.Sudah sangat lama Sofia dan Willy menantikan momen ini, akhirnya terwujud dengan kehadiran Arum di tengah keluarga mereka.Wajah Lee tampak memerah, jelas dia malu dengan ulah kedua orang tuanya, apalagi di depan Arum.Diam-diam Lee melirik wanita cantik itu, lalu mengatakan, "Jangan dipikirkan Rum. Untuk sementara kamu boleh memanggil saya apa saja, hmm."Arum mengangguk pelan. "Iya Pak Lee."Di samping mereka, Willy dan Sofia saling menatap. Senyum di bibir mereka semakin merekah melihat dua orang itu malu-malu."Ayo kita pulang," ajak Lee. Lama-lama di tempat ramai begini, ia bisa jadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang.***​Di tempat berbeda, di rumah yang kini tampak kusam dan tidak terurus itu, Enggar dan ibunya tengah menyusun rencana terakhir.Panik karena kalah dalam persidangan dan ancaman jatuh miskin seperti dulu lagi, membuat

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   71. Menang!

    Setelah berdiskusi singkat dan meneliti dengan cermat berkas-berkas serta bukti forensik digital yang dilampirkan oleh pihak Arum, Hakim ketua akhirnya menghentikan bisik-bisiknya.Hakim menegakkan tubuh, merapikan mikrofon di hadapannya, lalu mengetuk palu satu kali dengan mantap.​Tok!​"Baiklah, majelis telah mempertimbangkan permohonan dari pihak penggugat serta meninjau ulang catatan kehadiran pihak tergugat," ucap Hakim ketua dengan suara berat dan berwibawa yang memenuhi seluruh ruangan sidang. "Mengingat pihak tergugat telah dipanggil secara sah dan patut, tetapi tidak hadir tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, serta berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, maka majelis hakim memutuskan ...."​Arum menahan napas. Jangan tanya perasaannya sekarang. Jantungnya bergemuruh kian hebat, seolah siap melompat keluar dari rongga dada. Jemarinya yang digenggam erat oleh Sofia terasa sedingin es."Tenangkan dirimu, Nak. Kamu pasti bisa membawa

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   70. Tidak Juga Datang

    Satu jam berlalu dengan begitu cepat. Namun, Enggar tak juga menunjukkan batang hidungnya. Sementara waktu penundaan yang diberikan oleh pihak pengadilan telah habis.Di kursi saksi, Arum duduk dengan perasaan yang semakin tak karuan. Jantungnya berdegup kencang dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.Kekhawatiran itu semakin menjadi saat ia melihat majelis hakim yang dipimpin oleh ketua sidang kini sudah memasuki ruangan dan duduk di kursi kebesarannya sambil mengetuk palu tiga kali.​Tok! Tok! Tok!​"Sidang perkara perdata nomor gugatan hak asuh anak dan rekonvensi atas nama Arum dan Enggar dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap sang Hakim ketua.​Arum menelan ludah dengan susah payah. Bulir-bulir keringat dingin terus merembes membasahi telapak tangan yang saling meremas di atas pangkuan.Kursi di sisi meja pihak tergugat, kursi yang seharusnya diduduki oleh Enggar atau kuasa hukumnya, terlihat kosong."Mas Enggar beneran nggak akan datang?" gumam Arum.​Di tengah

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   69. Perdebatan Sengit

    Sementara itu di tempat berbeda, Enggar mondar-mandir di ruang tamu dengan langkah gontai, keringat dingin bercucuran membasahi kemejanya yang sudah tampak kusut."Gimana Nggar? Apa kamu udah nyiapin strategi buat balas Arum?" tanya Yanti yang tengah duduk bersandar dengan wajah pucat pasi.Enggar hanya diam, melirik sekilas ibunya lalu kembali sibuk mondar-mandir seperti setrikaan.​Beberapa menit yang lalu, ia baru saja mengakhiri sambungan telepon dengan pengacaranya. Orang yang ia harapkan bisa menjadi perisai pelindung itu justru secara tegas menyatakan angkat tangan dan menolak mendampingi sidang hari ini."Bagaimana ini, Nggar? Kok kamu diem aja ditanyain? Apa kata pengacara tadi?" desak Yanti dengan suara bergetar, tak sabar menunggu putranya membuka mulut. "Dia mau datang ke pengadilan, kan? Dia bakal bela kita habis-habisan supaya hak asuh anak tetap ada di tanganmu, kan?"Enggar menghentikan langkahnya, menoleh menatap sang ibu dengan mata memerah dan napas memburu. "Dia ng

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   68. Belum Juga Datang

    Setengah jam berlalu, Enggar belum juga menunjukkan batang hidungnya."Mas Enggar belum datang? Apa mungkin dia nggak akan datang?" Arum kembar bertanya dengan nada cemas, tatapannya menyiratkan ketakutan yang mendalam.Pak Hendra hanya diam sambil celingak-celinguk mengamati sekitar gedung dan pintu masuk utama."Jam berapa sidang dimulai?" tanya Pak Hendra pada sekretarisnya."Satu jam lagi, Pak."Mendengar itu, jantung Arum berdegup semakin kencang. Bayangan persidangan ini ditunda karena ketidakhadiran pihak tergugat mulai menghantui kepalanya.​Rasanya tidak sanggup jika harus berlama-lama menggantungkan nasib dan menunda pertemuan untuk segera memeluk kedua buah hatinya.​Melihat raut wajah Arum yang mendadak pias dan dipenuhi kekhawatiran, Sofia langsung merangkul pundak wanita itu lebih erat lagi. "Tenang, Nak. Jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu. Pengacara pihak lawan atau Enggar pasti akan datang. Mungkin mereka hanya terjebak macet di jalan," hibur Sofia lembut, berusah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status