Baru kali ini Jenna merasa badannya remuk, padahal tidak bekerja ekstra seperti pegawai pabrik. Mungkin karena dia tidak tidur sama sekali selama sehari semalam, sehingga tubuhnya mulai oleng. Setelah ini mungkin bagian bawah matanya menghitam.
"Jenna, ke ruangan HRD sekarang." Pak Budi mencegatnya ketika hendak keluar dari lobi. "Hah? Kenapa lagi sih Pak? Saya udah nggak kuat ini, ngantuk banget. Jantung saya juga berdebar-debar," keluh Jenna dengan wajah memelas. Ternyata dunia kerja itu berat sekali. Tidak bisa bersantai-santai seperti saat kuliah dulu. Rasanya Jenna ingin menangis. "Cuma sebentar. Habis itu kamu bisa istirahat." Jenna berdecak. Dengan malas membalikkan badannya dan berjalan menuju ke lift, lalu menekan tombol angka 2. Matanya benar-benar sudah hampir terpejam ketika pintu lift terbuka. Untung suasana hotel masih sepi, sehingga dia tidak perlu merasa malu karena penampilannya tidak sesegar waktu berangkat. "Jenna!" Sebelum pintu lift menutup, Pak Budi berteriak memanggil namanya dan sedikit tergopoh-gopoh menghampirinya. "Apa ada yang ketinggalan Pak? Atau bapak mau ikut saya ke lantai 2?" tanya Jenna heran. "Eh? Itu...saya minta maaf kalau selama ini ada salah sama kamu. Tolong jangan diambil hati saat saya memarahi kamu atau membentak-bentak kamu. Saya cuma melaksanakan tugas saja," jawab Pak Budi dengan sedikit gugup. "Hah? Kenapa minta maaf?" Tapi pintu lift sudah menutup dan Pak Budi buru-buru pergi. Kenapa orang-orang bersikap aneh sih? Kemarin Kala, sekarang Pak Budi. Saat sudah sampai di lantai 2, Jenna menuju ke ruangan HRD dengan sedikit tergesa-gesa karena rasa kantuk yang tidak tertahankan. Dia mengetuk pintu dan menyapa staff yang sudah stand by di belakang komputer. "Eh, Jenna. Masuk Jen. Udah ditungguin sama Bu Fera. Langsung masuk aja ke ruangan beliau," jawab staff itu. Jenna mengangguk dan langsung menuju ke ruangan manajer HRD. Bu Fera, sang manajer yang terlihat masih muda, mungkin seumuran kakaknya, menatapnya dengan tatapan aneh. Sedikit...sinis, tapi juga takut. Sepertinya Jenna sudah mulai berhalusinasi lagi gara-gara kurang tidur. "Duduk!" Jenna menuruti perintah wanita itu. Hatinya mendadak merasa was-was tidak nyaman. Ada apa gerangan? "Mulai besok, kamu tidak udah masuk lagi." Deg! Wajah Jenna terasa dingin dan tangannya mulai gemetar. "Mak-maksudnya gimana, Bu?" tanyanya dengan jantung berdebar jauh lebih cepat. Tangannya bahkan sampai berkeringat dingin. "Ya kamu dirumahkan. Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi di sini." Jenna terperangah dengan wajah tak percaya. "Tapi kenapa Bu? Saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun selama bekerja. Bahkan tamu hotel selalu memberikan ulasan yang positif. Kontrak kerja saya juga masih lama." "Kamu mau tahu kesalahan kamu apa?" Jenna mengangguk-angguk dengan cepat. Bu Fera menghela nafas panjang, lalu menyodorkan surat keterangan kerja yang sudah ditandatangani. "Kamu tidak melayani pemilik hotel ini dengan baik, malah bersikap ketus pada beliau. Kamu juga makan di saat jam kerja. Pemilik hotel tidak berkenan dengan kinerja kamu dan ingin kamu diberhentikan." Deg! "Tapi..saya bahkan tidak tahu pemilik hotel ini siapa. Orangnya yang mana? Kapan saya ketus padanya? Dan untuk makan di saat jam kerja, itu memang kesalahan saya, Bu. Karena saya belum makan sama sekali waktu Pak Budi meminta saya untuk masuk shift malam secara mendadak. Tapi setidaknya, saya diberikan SP1 dulu dong, bukannya langsung dipecat." Bu Fera menggeleng dengan tatapan prihatin. "Maaf, ini sudah keputusan dari pemilik hotel. Saya sendiri tidak berhak untuk mengintervensi. Tapi sebagai gantinya, saya sudah buatkan surat rekomendasi buat kamu. Bisa kamu gunakan untuk melamar kerja di tempat lain. Ini sekalian surat keterangan kerjanya." "Tapi Bu...saya tidak terima..." "Kita nggak bisa melawan orang berduit, Jenna. Mau kita benar sekalipun, tetap saja kalah dengan yang punya kuasa. Bukan hanya kamu, saya pun juga bisa dipecat kalau tidak mau menuruti perintah dari pemilik hotel ini." Air mata Jenna mengalir tanpa bisa dicegah. Emosinya benar-benar terkuras habis dalam hitungan detik. Sudahlah belum tidur sama sekali, badan lemas, dan sekarang dipecat. Kesalahan apa yang sudah dia lakukan sebelumnya, Tuhan? Apakah itu karma karena dia sudah berani melawan orangtuanya? Dengan tangan gemetar, dia meraih surat keterangan kerja dan surat rekomendasi dari Bu Fera. Wanita itu benar. Dia bukan siapa-siapa. Meskipun dia tidak bersalah, pemilik hotel ini bisa bebas memecat siapapun dan menggantinya dengan orang lain. Bawaannya mungkin? Sudah biasa kan, hal seperti itu terjadi? "Maafkan saya ya, Jen. Maaf kalau selama ini saya ada salah sama kamu." Jenna tersenyum getir. Jadi ini maksud permintaan maaf dari Pak Budi tadi? Ternyata karena dia dipecat tanpa sebab yang jelas? Siapa sih pemilik hotel ini? Sombong sekali! Dia doakan semoga mendapatkan jodoh yang menyebalkan dan menguras emosi, biar kena mental! "Saya pamit, Bu. Makasih untuk semuanya," pamit Jenna dengan suara lirih. Bu Fera memeluknya singkat, sebelum menepuk pundaknya. "Kamu cantik dan masih fresh. Pasti gampang nyari kerjaan yang lain. Malah nggak perlu kerja pun, kamu bisa ongkang-ongkang kaki di rumah." "Hah?" Jenna menatap wanita itu heran. Ongkang-ongkang kaki bagaimana? Kalau tidak kerja, ya mana bisa ongkang-ongkang kaki? "Gajinya aku transfer habis ini. Nggak usah khawatir." Jenna mengangguk sebelum akhirnya keluar dari ruangan yang menyesakkan itu. Dalam perjalanannya menuju ke lobi hotel, ponselnya berbunyi. Mungkin transfer gaji yang dijanjikan oleh Bu Fera. Karena penasaran, Jenna akhirnya duduk di lobi hotel dan menjawab sapaan Santi yang ternyata memang benar masuk shift pagi. Ah, dia seperti dipermainkan saja. Diambilnya ponsel dari tas, lalu dibukanya kunci layarnya. Benar, transfer gaji dari HRD. "Seratus lima puluh...hah? Gimana-gimana?" Jenna mengucek matanya berkali-kali, takut salah lihat. "Seratus lima puluh juta? Hah? Sama bonus? Ini nggak salah?" Dia membuka aplikasi m-banking dan matanya melotot dengan mulut menganga lebar. "Ini Bu Fera ngelindur apa gimana sih?" Saldo rekeningnya ada 200 juta. 200 juta! Manajer HRD-nya sedang kesurupan penunggu hotel ini pasti! Angka itu terlalu mencurigakan! Atau jangan-jangan, uang ini adalah hasil money laundering? Jenna sengaja dipecat untuk menghilangkan barang bukti, atau malah dijebak agar polisi hanya fokus menangkapnya dan si pelaku bisa bebas? Tidak bisa dibiarkan! Dengan langkah cepat, Jenna kembali menaiki lift menuju ke lantai dua. Mengabaikan teriakan Santi yang memanggil-manggil namanya. Begitu sampai di lantai dua, nafas Jenna langsung memburu. Kakinya terus melangkah menuju ke ruangan HRD dengan segala kalimat yang sudah tersusun di otaknya. "Jenna udah dikeluarkan?" "Sudah Pak." Langkah Jenna langsung terhenti. Suara itu, dia sangat mengenal suara itu. Begitu melekat di otaknya sampai-sampai dia bisa mendeteksi keberadaan pemilik suara itu dari radius puluhan meter. "Bagus." Darah Jenna terasa mendidih. Gerakan tangannya lebih cepat dari kinerja otaknya, menyebabkan pintu ruangan menjeblak dengan kasar. Membuat dua orang di sana langsung menoleh dengan ekspresi syok. "Jadi kamu pelakunya?""Aku nggak yakin kamu mau bertahan dengan aku yang dulu."Jenna semakin penasaran. Kenapa Kala bisa berbicara seperti itu? Memangnya Kala yang dulu bagaimana? Seingat Jenna, Kala hanyalah pemuda menyebalkan yang selalu membuatnya kesal dan bersikap tengil di depannya. Kalau hanya sikap seperti itu, dia masih bisa tahan."Aku nggak ngerti." Jenna akhirnya duduk dan menutupi tubuhnya dengan selimut.Wajahnya memerah ketika melihat tanda merah di dada dan leher Kala. Bukan hanya satu, melainkan banyak. Seliar itukah dirinya? Jenna hanya tidak mau Kala berpaling dan kehilangan cintanya. Jadi, Jenna ingin mengikat Kala dengan tubuhnya. Bukankah pria sangat menyukai seks yang hebat?"Aku nggak sebaik yang kamu kira, Sayang. Aku bukan pria normal."Deg!Maksudnya bagaimana? Kala sebenarnya adalah pecinta sesama jenis? Tap-tapi...Kala sangat hebat di atas ranjang dan begitu memuja tubuhnya! Tidak mungkin kan, kalau Kala gay? Pria itu tidak jijik melahap bagian intim Jenna seperti melahap maka
Kala membuka mata dengan senyum puas. Mimpi paling indah yang pernah dia miliki. Bercinta dengan Jenna habis-habisan sampai wanita itu menangis memohon-mohon untuk berhenti setelah tiga jam berlalu.Berbagai gaya mereka coba atas permintaan Jenna. Setiap kali berganti gaya, Jenna selalu memujinya. Memuji ukurannya dan staminanya. Ah, benar-benar mimpi yang sangat indah. Kucingnya begitu jinak dan manja. Bahkan berani mengeksplor hal-hal baru yang membuat tubuh wanita itu menggelepar entah sampai berapa kali.Jenna bahkan begitu liar ketika berada di atas. Pemandangan yang akan terus terpatri dalam otaknya. Bahkan video-video biru itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gerakan tubuh Jenna yang begitu erotis.Seandainya itu terjadi di dunia nyata...Kala menoleh ke sisi ranjang di sampingnya dengan senyum masih menghiasi wajah, sampai senyum itu akhirnya surut. Matanya mengerjap berkali-kali dan tangannya mencubit lengannya sendiri. Masih belum percaya, dia mengucek matanya.Jenna
Kala fokus pada layar laptop yang menampilkan laporan keuangan hotel. Mumpung Jenna masih di rumah orangtuanya, dia jadi bisa berkonsentrasi. Sejak kejadian Septi dan Rangga, Kala membuat peraturan baru mengenai karyawan.Sesama karyawan tidak boleh menjalin hubungan, tidak boleh ada karyawan yang diterima dengan jalur orang dalam, dan semua karyawan wajib diperiksa sebelum memasuki hotel. Kemarahan Jenna tadi saja sudah membuatnya trauma. Apalagi Septi ternyata mengartikan kebaikannya sebagai perhatian yang salah."Ck, gitu aja baper. Pantesan aja si Arman membatasi diri dari perempuan. Mereka dibaikin dikit malah ngelunjak. Pantesan banyak cewek yang ditipu sama laki-laki," gumamnya sambil meraih secangkir kopi tanpa mengalihkan pandangannya dari grafik yang terus naik.Ternyata, pemecatan Rangga dan Septi memberikan dampak yang signifikan. Para karyawan mulai berani membuka suara mengenai tingkah laku mereka yang membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman."Cuma Jenna yang nggak ba
Sepanjang perjalanan, Meta selalu mengumpat dan mencaci maki Jenna beserta ibunya. Rencananya gagal total, dan dia justru terpaksa harus ikut memakan kue yang dia berikan untuk mereka."Anj*** memang ibunya Jenna! Nenek-nenek tua menyebalkan!" umpatnya dengan dada bergemuruh.Perutnya terasa seperti diaduk-aduk sekarang. Keringat mengalir deras di keningnya dan dadanya berdebar. Meta ingin segera pulang dan berbaring di atas tempat tidur yang nyaman.Saat berhenti di lampu merah, Meta merasa kepalanya pusing. Apakah itu efek dari racun yang ada di kue pelangi? Seingatnya, dia tadi hanya makan sedikit. Seharusnya tidak berdampak apa-apa, kan?TIN!Meta terlonjak. Dia mendongak dan melihat lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Dengan dada semakin berdebar, dia menjalankan motornya menuju ke rumah orangtuanya. Persetan jika mereka menolaknya nanti!Sejak kecil, orangtuanya memang tidak begitu peduli padanya. Karena kurang kasih sayang, Meta selalu berbuat ulah di luar sana untuk
Bukan hanya Jenna yang tegang, melainkan Meta juga. Mereka melihat Bu Via yang baik-baik saja setelah semenit berlalu. Meskipun Jenna heran bukan main kenapa ibunya tidak kenapa-kenapa, tapi dia sangat bersyukur.Sekarang, dia melihat ke arah Meta yang masih mematung di tempatnya. Kedua mata Jenna menyipit. Reaksi gadis itu semakin membuat dia yakin bahwa Meta memang berniat untuk meracuni keluarganya."Ayo, Met. Dimakan dong kuenya. Apa kamu nggak doyan sama kue yang kamu bawa sendiri?" Jenna sengaja sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Meta. "Atau jangan-jangan...ada sesuatu ya di dalam kue itu?"Meta langsung terlihat gugup. "Hah? Ng-nggak kok. Kenapa kamu bilang begitu?""Kalau nggak ada apa-apa di dalam kue itu, seharusnya kamu nggak perlu tegang begitu dong. Cuma ngambil satu aja terus dimakan. Apa susahnya?" Jenna terus memprovokasi. "Kecuali kamu lagi hamil. Katanya orang hamil itu sensitif sama bau-bauan atau makanan tertentu. Kamu kelihatan eneg pas nyium bau jus mangga."
Kalau saja Kala tidak tiba-tiba muncul dan melamarnya, mungkin dia akan terus terjebak dengan sahabat yang ternyata berniat untuk menusuknya dari belakang. Seandainya dia tidak menikah dengan Kala, mungkin dia sudah berakhir mengenaskan di tangan Rangga dengan masa depan yang hancur, sedangkan Meta tertawa terbahak-bahak dan memiliki kesempatan yang besar untuk menjebak Kala.Sekarang Jenna sadar akan satu hal. Segala yang terjadi dalam hidupnya, sudah diatur oleh Tuhan. Dan dia merasa seperti tertampar. Tuhan tidak mungkin mengirimkan Kala untuknya jika laki-laki itu berniat jahat, kan?Dia melihat ayah dan ibunya, lalu melihat foto Arman di dinding ruang tamu. Kesadaran itu membuatnya terhenyak. Mereka semua mengenal Kala dengan baik. Dan Kala adalah tetangga mereka sejak Jenna bahkan belum lahir. Hanya Jenna saja yang tidak pernah mau tahu."Aku nggak nyangka kalau kamu selama ini nggak tulus berteman dengan aku, Met. Cuma demi cowok, kamu menjelek-jelekkan aku."Meta terlihat syo