Seperti slow motion di film-film, Jenna berlari ke arah Kala dan menerjang pria itu sambil melayangkan pukulan ke wajah. Otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Tangannya digerakkan oleh amarah yang menggebu-gebu.
"Aduh!" Barulah ketika Kala mengerang dan menangkap tangannya, Jenna seketika sadar. Apa yang baru saja dia lakukan? Dia menoleh ke arah Bu Fera yang melotot dengan mulut menganga, begitu juga dengan staff lain yang ada di ruangan itu. "Mati aku," gumam Jenna setelah sadar apa yang telah terjadi. Kakinya refleks mundur dengan mata membelalak. Bagaimana jika Kala menuntutnya? Tapi ngomong-ngomong, pria itu sedang apa di ruangan HRD? "Aku..." Jenna langsung berbalik dan bersiap untuk berlari, sampai tiba-tiba tubuhnya melayang. "Aaaaaa, apa-apaan ini?!" Kepalanya berada di bawah dan matanya bersirobok dengan punggung Kala yang baru Jenna tahu begitu lebar dan terlihat kokoh. Hah? Kenapa dia baru tahu? "Kalajengkiiing! Turunin nggak? Kenapa kamu ngangkat aku kayak karung beras begini?" teriaknya ketika pandangannya mulai berkunang-kunang dan kepalanya terasa pusing. "Turuniiin!" Plak! Jenna terkesiap. Matanya melotot sempurna. Apa yang baru saja dilakukan oleh Kala padanya? Semua orang di ruangan itu langsung hening. Begitu juga dengan Jenna yang mendadak membisu karena terlalu syok. "Kenapa rok kamu pendek banget? Aku nggak suka!" Dan tepukan itu kembali mendarat di pantatnya. Wajah Jenna seperti terbakar karena malu luar biasa. "KALA! Dasar mesum! Turunin nggak? KALA!" Bukannya menuruti perintahnya, Kala malah membawanya keluar dari ruangan HRD dengan santai. Tak peduli dengan pukulan-pukulan Jenna di punggung pria itu dan kakinya yang terus bergerak-gerak. "Kala! Aku laporin perbuatan kamu ini sama ayah. Biar kamu nggak dibolehin lagi main ke rumah!" Tapi pria itu seperti tuli. Membawa tubuh Jenna yang mungil dengan mudah sambil bersiul-siul. Beberapa orang sempat menyapa Kala dan bertanya siapa dirinya, membuat Jenna memejamkan mata karena malu. "Oh, ini calon istri saya. Dia memang bandel, jadi ya terpaksa saya bawa begini." Mata Jenna langsung melotot. Hah? Apa tadi katanya? Calon istri? Dasar pria gila! "Oh, hahaha. Saya kira tadi resepsionis. Soalnya seragamnya sama." "Calon saya memang suka sekali cosplay. Jadi ya saya jemput paksa biar nggak dikira resepsionis di sini." BUGH! Jenna sengaja memukul punggung Kala dengan kuat, hingga tubuh pria itu sedikit menjengit. Setelah entah siapa itu pergi, Kala kembali berjalan dengan santai. "Dasar cowok gila! Calon istri apaan? Memangnya kamu mau sama badan triplek berdada rata kayak aku? Tipemu kan seperti si Clara itu. Di mana pacar kamu yang semok itu? Tumben nggak nempel kayak lintah?" Kala tidak menjawab, membuat Jenna kesal. Lama-lama dia capek juga memberontak. Kepalanya semakin pusing dan matanya terasa berat. "Dasar laki-laki nggak ada otak. Harusnya fokus aja sama ceweknya. Lumayan kan dapet susu ge... Ahhhhh!" Mulut Jenna menganga ketika Kala mencengkeram salah satu aset bagian belakangnya. Laki-laki ini! "Apa aku perlu mengecek udah seberapa besar ukurannya biar kamu diem?" Otak Jenna terlalu lambat memproses kalimat pria itu, sehingga dia hanya diam. "Loh, Pak?" "Ini calon istri saya. Ke depannya kalau dia ke sini lagi, suruh ke lantai paling atas." "Siap, Pak. Loh? Mbak Jenna toh? Oalah, jadi selama ini calon istrinya pemilik...eh, iya, Pak. Siap!" Jenna tidak menggubris percakapan Kala dengan satpam hotel, karena kantuknya kembali datang dan kali ini tidak bisa ditahan lagi. Jadi ketika pria itu masih sibuk mengobrol, dia sudah tenggelam ke alam mimpi. *** "Kamu nggak jadi dipecat kok, Jen. Yang tadi itu cuma prank." Jenna membuka mata dan melihat langit-langit kamarnya sendiri dengan pikiran linglung. Tadi itu benar-benar Bu Fera yang berbicara atau hanya mimpi? Kepalanya terasa pusing dan tubuhnya pegal-pegal. Dia meregangkan kaki dan tangannya sampai mengeluarkan bunyi. Setelah itu merenung. Dia benar-benar sudah dipecat dari pekerjaannya yang menjanjikan. Menjadi resepsionis di hotel bintang 5 selama enam bulan, membuatnya bisa mengumpulkan banyak uang. Dan dia merasa bangga karena akhirnya tidak merepotkan orangtuanya lagi. Tapi semuanya hancur berantakan karena tiba-tiba saja dia dipecat dengan alasan yang tidak jelas. Dia tidak sopan pada pemilik hotel? Memangnya siapa pemilik hotel itu? Dan dia teringat dengan Kala. Mengingat tentang lelaki itu membuat darah Jenna kembali mendidih. "Hiih! Tuh orang nggak ada capek-capeknya ya gangguin aku terus. Salah aku sama dia sebenarnya apa sih? Selalu aja bikin aku jengkel! Makin benci aku sama dia," gerutunya sambil menendang-nendang selimut dengan kesal. "Loh? Kok aku udah ganti baju? Siapa yang gantiin?" Keningnya berkerut dalam. Tidak mungkin Kala kan? Mengingat bagaimana kurang ajarnya pria itu meremas pantatnya di depan seluruh karyawan HRD, apa jangan-jangan.... Jenna buru-buru bangkit dari posisinya dan menuruni ranjang dengan tergesa-gesa sampai hampir terjatuh. Pasti ibunya yang menggantikan. Dia hanya sedang paranoid saja. Awas saja kalau pria itu sampai berani kurang ajar saat dia tertidur. "Mamaaa!" Sepi. Tidak ada orang sama sekali di lantai bawah. Kakinya melangkah menuruni tangga sambil terus berteriak memanggil seluruh anggota keluarganya, tapi tidak ada respon. "Pada ke mana sih? Memangnya ini jam berapa kok rumah sepi banget?" Jenna menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mengedikkan bahu. Perutnya keroncongan. "Ck, bodo amat lah. Aku laper banget." Dia menuju ke ruang makan dan menghela nafas lega ketika melihat banyaknya lauk di atas meja makan yang ditutupi oleh tudung saji. Meskipun heran kenapa lauknya banyak, Jenna tetap melanjutkan aksinya untuk mengambil berbagai jenis lauk dan nasi sampai piringnya penuh. Kalau saja pria-pria yang menyukainya tahu mengenai kebiasaannya makan, mungkin mereka akan ilfeel. Tapi herannya, tubuh Jenna tetaplah kecil dan mungil. Hanya bagian dada dan pantat saja yang berisi meskipun tidak sebesar perempuan lain. Bohong kalau Kala bilang dia kurus kering seperti triplek. Pria itu memang jail! "Mama kenapa sih masak banyak terus? Perasaan Mas Arman nggak segini rakusnya deh kalau makan," gumamnya setelah seluruh makanan yang ada di piringnya habis tak bersisa. "Apa gantian ayah yang ada acara?" Dicucinya piring bekas makannya di wastafel sampai bersih, setelah itu dikeringkannya tangannya dengan lap khusus. Sekarang, dia bingung harus bagaimana. Apa ke rumah Kala saja untuk protes? Dia sangat yakin bahwa pria itulah yang membuatnya dipecat. Ting tong! Jenna mengerang. Tamu lagi. Dia selalu enggan jika harus menerima tamu. "Mama sama ayah ke mana sih?" Jenna berpikir apakah mereka ada di halaman belakang? Tapi tidak ada suara apapun. Ting tong! "Ck! Hiih! Bisa nggak sih mereka pergi aja?" Tapi bel pintu tetap saja berbunyi, hingga mau tak mau Jenna terpaksa menyeret langkahnya menuju ke pintu depan dengan sangat enggan. Dia membuka pintu dengan wajah masam. "Ya?" Jenna tertegun ketika melihat siapa yang ada di hadapannya. Seorang pria bule berbadan tinggi besar menatapnya dengan mata abu-abu yang baru kali ini Jenna lihat. Siapa lagi ini?"Aku nggak yakin kamu mau bertahan dengan aku yang dulu."Jenna semakin penasaran. Kenapa Kala bisa berbicara seperti itu? Memangnya Kala yang dulu bagaimana? Seingat Jenna, Kala hanyalah pemuda menyebalkan yang selalu membuatnya kesal dan bersikap tengil di depannya. Kalau hanya sikap seperti itu, dia masih bisa tahan."Aku nggak ngerti." Jenna akhirnya duduk dan menutupi tubuhnya dengan selimut.Wajahnya memerah ketika melihat tanda merah di dada dan leher Kala. Bukan hanya satu, melainkan banyak. Seliar itukah dirinya? Jenna hanya tidak mau Kala berpaling dan kehilangan cintanya. Jadi, Jenna ingin mengikat Kala dengan tubuhnya. Bukankah pria sangat menyukai seks yang hebat?"Aku nggak sebaik yang kamu kira, Sayang. Aku bukan pria normal."Deg!Maksudnya bagaimana? Kala sebenarnya adalah pecinta sesama jenis? Tap-tapi...Kala sangat hebat di atas ranjang dan begitu memuja tubuhnya! Tidak mungkin kan, kalau Kala gay? Pria itu tidak jijik melahap bagian intim Jenna seperti melahap maka
Kala membuka mata dengan senyum puas. Mimpi paling indah yang pernah dia miliki. Bercinta dengan Jenna habis-habisan sampai wanita itu menangis memohon-mohon untuk berhenti setelah tiga jam berlalu.Berbagai gaya mereka coba atas permintaan Jenna. Setiap kali berganti gaya, Jenna selalu memujinya. Memuji ukurannya dan staminanya. Ah, benar-benar mimpi yang sangat indah. Kucingnya begitu jinak dan manja. Bahkan berani mengeksplor hal-hal baru yang membuat tubuh wanita itu menggelepar entah sampai berapa kali.Jenna bahkan begitu liar ketika berada di atas. Pemandangan yang akan terus terpatri dalam otaknya. Bahkan video-video biru itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gerakan tubuh Jenna yang begitu erotis.Seandainya itu terjadi di dunia nyata...Kala menoleh ke sisi ranjang di sampingnya dengan senyum masih menghiasi wajah, sampai senyum itu akhirnya surut. Matanya mengerjap berkali-kali dan tangannya mencubit lengannya sendiri. Masih belum percaya, dia mengucek matanya.Jenna
Kala fokus pada layar laptop yang menampilkan laporan keuangan hotel. Mumpung Jenna masih di rumah orangtuanya, dia jadi bisa berkonsentrasi. Sejak kejadian Septi dan Rangga, Kala membuat peraturan baru mengenai karyawan.Sesama karyawan tidak boleh menjalin hubungan, tidak boleh ada karyawan yang diterima dengan jalur orang dalam, dan semua karyawan wajib diperiksa sebelum memasuki hotel. Kemarahan Jenna tadi saja sudah membuatnya trauma. Apalagi Septi ternyata mengartikan kebaikannya sebagai perhatian yang salah."Ck, gitu aja baper. Pantesan aja si Arman membatasi diri dari perempuan. Mereka dibaikin dikit malah ngelunjak. Pantesan banyak cewek yang ditipu sama laki-laki," gumamnya sambil meraih secangkir kopi tanpa mengalihkan pandangannya dari grafik yang terus naik.Ternyata, pemecatan Rangga dan Septi memberikan dampak yang signifikan. Para karyawan mulai berani membuka suara mengenai tingkah laku mereka yang membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman."Cuma Jenna yang nggak ba
Sepanjang perjalanan, Meta selalu mengumpat dan mencaci maki Jenna beserta ibunya. Rencananya gagal total, dan dia justru terpaksa harus ikut memakan kue yang dia berikan untuk mereka."Anj*** memang ibunya Jenna! Nenek-nenek tua menyebalkan!" umpatnya dengan dada bergemuruh.Perutnya terasa seperti diaduk-aduk sekarang. Keringat mengalir deras di keningnya dan dadanya berdebar. Meta ingin segera pulang dan berbaring di atas tempat tidur yang nyaman.Saat berhenti di lampu merah, Meta merasa kepalanya pusing. Apakah itu efek dari racun yang ada di kue pelangi? Seingatnya, dia tadi hanya makan sedikit. Seharusnya tidak berdampak apa-apa, kan?TIN!Meta terlonjak. Dia mendongak dan melihat lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Dengan dada semakin berdebar, dia menjalankan motornya menuju ke rumah orangtuanya. Persetan jika mereka menolaknya nanti!Sejak kecil, orangtuanya memang tidak begitu peduli padanya. Karena kurang kasih sayang, Meta selalu berbuat ulah di luar sana untuk
Bukan hanya Jenna yang tegang, melainkan Meta juga. Mereka melihat Bu Via yang baik-baik saja setelah semenit berlalu. Meskipun Jenna heran bukan main kenapa ibunya tidak kenapa-kenapa, tapi dia sangat bersyukur.Sekarang, dia melihat ke arah Meta yang masih mematung di tempatnya. Kedua mata Jenna menyipit. Reaksi gadis itu semakin membuat dia yakin bahwa Meta memang berniat untuk meracuni keluarganya."Ayo, Met. Dimakan dong kuenya. Apa kamu nggak doyan sama kue yang kamu bawa sendiri?" Jenna sengaja sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Meta. "Atau jangan-jangan...ada sesuatu ya di dalam kue itu?"Meta langsung terlihat gugup. "Hah? Ng-nggak kok. Kenapa kamu bilang begitu?""Kalau nggak ada apa-apa di dalam kue itu, seharusnya kamu nggak perlu tegang begitu dong. Cuma ngambil satu aja terus dimakan. Apa susahnya?" Jenna terus memprovokasi. "Kecuali kamu lagi hamil. Katanya orang hamil itu sensitif sama bau-bauan atau makanan tertentu. Kamu kelihatan eneg pas nyium bau jus mangga."
Kalau saja Kala tidak tiba-tiba muncul dan melamarnya, mungkin dia akan terus terjebak dengan sahabat yang ternyata berniat untuk menusuknya dari belakang. Seandainya dia tidak menikah dengan Kala, mungkin dia sudah berakhir mengenaskan di tangan Rangga dengan masa depan yang hancur, sedangkan Meta tertawa terbahak-bahak dan memiliki kesempatan yang besar untuk menjebak Kala.Sekarang Jenna sadar akan satu hal. Segala yang terjadi dalam hidupnya, sudah diatur oleh Tuhan. Dan dia merasa seperti tertampar. Tuhan tidak mungkin mengirimkan Kala untuknya jika laki-laki itu berniat jahat, kan?Dia melihat ayah dan ibunya, lalu melihat foto Arman di dinding ruang tamu. Kesadaran itu membuatnya terhenyak. Mereka semua mengenal Kala dengan baik. Dan Kala adalah tetangga mereka sejak Jenna bahkan belum lahir. Hanya Jenna saja yang tidak pernah mau tahu."Aku nggak nyangka kalau kamu selama ini nggak tulus berteman dengan aku, Met. Cuma demi cowok, kamu menjelek-jelekkan aku."Meta terlihat syo