LOGINElia duduk kaku di tepi ranjang, masih dengan gaun pengantin lengkap beserta hiasan kepala dan riasan di wajah. Inginnya, segera menghapus riasan itu. Namun, aroma alkohol membuatnya mual. Jadilah, Elia termenung dengan pandangan tertuju pada ujung alas kakinya.
Pintu kamar terbuka, menampakkan sosok Wirasena yang juga berpakaian lengkap seperti Elia. Dari gerak-geriknya yang canggung, sepertinya pria itu hendak mengurungkan niatnya masuk ke kamar.
“Prof,” panggil El
“Yah, jangan tinggalkan El sendirian.” Elia mencekal lengan Wirasena.Wirasena yang masih membungkuk di atas tubuh Elia membeku oleh sentuhan itu. Sampai malam ini, Wirasena tidak pernah menyadari bahwa ia—tubuhnya—sangat merindukan wanita itu. Bukan karena Elia sedang mengandung anaknya, bukan karena tanggung jawab yang selama ini ia jadikan alasan untuk bisa dekat dengan wanita itu, tapi karena wanita itu Elia.“El, kamu akan menyesalinya dan semakin marah padaku begitu kamu bangun besok pagi.”Elia menarik lengan Wirasena semakin erat hingga lengan berotot itu bersentuhan dengan dada penuh yang terbalut kain kaos. Wirasena mengejang, rahangnya gemerutuk menahan hasrat yang ditahannya beberapa bulan ini.Tangan bebas Wirasena mengusap wajah Elia lembut. Ibu jarinya menyentuh bibir Elia yang lembab.“Pers*tan, El! Aku siap menanggung semuanya besok,” gumam Wirasena sebelum merendahkan kepalanya dan melumat bibir istrinya yang setengah terbuka.Tidak berhenti di situ, Wirasena berpind
Elia sedang merendam kakinya setelah beberapa jam berdiri dan berjalan mengerjakan tugasnya di puskesmas dan balai desa sekaligus. Ia bersandar nyaman pada sofa dan menikmati larutan garam hangat melebarkan pembuluh darahnya dan menenangkan ototnya yang kaku.“Cokelat hangat?” tawar Jonas dari meja makan.“Tidak, terima kasih. Seharian ini aku merasa perutku penuh dan napsu makanku hilang.” Elia menegakkan punggungnya. “Jonas, apakah respon warga selalu antusia begitu saat ada penyuluhan?” tanya Elia penasaran.Jonas tersenyum. “Ya, setidaknya di sini, mereka sangat antusias terhadap informasi kesehatan yang diberikan. Atau mungkin ….” Jonas duduk di samping Elia. “Mereka lebih antusias karena kamu yang berbicara.”Elia terkekeh. “Bukankah sebelumnya mereka sudah punya doknas yang ganteng?” gurau Elia polos.“Dok, Dokter!” Bagus muncul di ambang pintu dengan wajah panik. “Pasien baru, anak-anak usia sembilan tahun, luka bakar empat puluh persen.”Jonas dan Elia bergegas menuju UGD pus
Di atas ranjang, Barata tersenyum memandangi foto yang sengaja diambilnya untuk sebuah tujuan yang mulia. Pose mereka berdua sangat provokatif, meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan dan didukung keahlian sang fotografer, Joko.“Kamu kenapa? Pulang dari area konflik malah senyum-senyum.” Elena naik ke atas ranjang menjejeri suaminya. “Jangan kelewat bahagia, besok ketemu Wira, jadi remahan rempeyek.”Barata terkekeh seraya menyerahkan foto yang dipandanginya sejak tadi. “Coba lihat. Apa yang akan terjadi padaku besok, ketika si Wira lihat foto ini?”Elena menerima ponsel Barata dengan rasa penasaran. “Wahh, habis kamu, Yang. Bakal jadi perkedel kamu. Kok bisa posenya begini, sih?!” Elena menyodorkan kembali ponsel suaminya dengan bergidik.“Disuruh bantu selesaikan masalah, malah nambah masalah. Misimu itu meredakan perang, bukan sebaliknya. Astaga ...,” desah Elena lelah.“Biar saja. Jengkel aku dibuatnya! Istri siapa yang kabur, siapa yang disuruh kejar.” Barata kembali mengam
“Tidak mungkin ketahuan, maksudmu?” sela Wirasena dengan sorot mata tajam. “Bukan tidak ketahuan, tapi belum saatnya diketahui orang. Sama seperti tindakanmu pada almarhum ibuku yang akan aku bongkar sebentar lagi.”Wajah Rossana makin pias. Keringat sebesar biji jagung, muncul di kedua pelipisnya. “A-apa maksudnya?”“Cih! Dari sikap gugup dan butiran keringat yang keluar, sudah cukup membuktikan bahwa kamu mengerti betul apa maksud ucapanku,” cibir Wirasena sinis. “Ayo, Nar. Tidak perlu berlama-lama.”“Sampaikan pada Yulia, kami tidak akan menuntut kalau semua dikembalikan pada pemiliknya. Itu saja.” Danar meraih tas kerjanya dan bangkit dari kursinya. “Kami permisi.”Wirasena hanya melirik ketika Danar menepuk bahunya sambil lalu. Ia belum berniat beranjak dari tempatnya.“Sekilas, aku ingat Elia pernah menyebut tentang tukang kebunnya yang tiba-tiba menghilang setelah kematian ayahnya. Apa itu juga ada hubungannya denganmu?”Dengan tenang, Wirasena mengusap dagunya yang kasar. “Aku
Haris duduk bersandar pada kursi plastik tebal yang baru pertama kali dipakainya menemui tamu karena semenjak dirinya mendekam dalam tahanan, belum ada satu orang pun yang menjenguknya, termasuk para perempuannya. Ia mengernyit melihat dua pria yang menjadi tamu pertamanya. Rasanya, ia belum pernah melihat apalagi mengenal mereka berdua. “Kalian siapa?” Pria berdasi menegakkan punggungnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kulit hitam yang biasanya juga Haris pakai ketika menemui klien atau yang berkaitan dengan kasus yang ditanganinya. “Saya Danar Wiguna, kuasa hukum dari Wirasena. Saya datang untuk menyampaikan ini kepada anda.” Danar memutar kertas menghadap Haris agar pria itu mudah membacanya. Tangan bergelang borgol itu, menerima dengan ragu. Bola matanya bergerak lambat mencermati setiap kata yang tertera dalam kertas. Sejurus kemudian, senyum sinis terbersit di sudut kanan bibirnya. “Pemalsuan surat wasiat? Apa ini?!” Haris meremas kertas di tangannya dan mem
Mata wanita Bali itu lekat menatapnya, membuat Elia was-was.“Secara keseluruhan, kondisi bayinya sehat. Hanya saja ….”“Hanya saja apa, Dok? Bayi saya kenapa?” sambar Elia cepat.Tok tok tok.“Masuk.”Elia sedikit kesal pada pemilik tangan di balik pintu yang mengganggunya. Wajah cemberutnya tidak lepas dari pengamatan Kadek.“Permisi, Dok. Apa suami pasien sudah boleh masuk?” tanya perawat pendamping polos.“Boleh. Persilakan masuk, Sus.” Senyum jenaka terbersit di sudut bibir Kadek.Elia memalingkan wajahnya menanti kemunculan Jonas. Begitu pria itu menampakkan wajah tampannya yang sedang tersenyum canggung, Elia menekuk bibirnya keluar.“Kenapa masuk sekarang, sih?!” ketus Elia disambut ekspresi kebingungan Jonas.“Hah?”“Silakan duduk.” Kadek berdiri dan mengulurkan tangan. “Tidak perlu kaget, pengaruh pregnancy hormone.”Mulut Jonas membulat tanda maklum. “Jadi, bagaimana dengan bayinya, Dok?” Jonas mengambil kursi di samping Elia, mengabaikan wajah cemberut yang masih menatapny
“Masuk, Bang!” Jonas mengiring Barata masuk. “Kok gak kabar-kabar dulu? Kakak gaka ikut?”Elia hanya terbengong melihat Jonas begitu akrab dengan dosen walinya. Kalau hanya kenal, dirinya juga mengenal Barata dengan baik. Tapi ini, lebih dari sekedar saling kenal.
“Mau apa?” Mata Elia melebar karena panik.Alih-alih menjawab pertanyaan Elia, Jonas menarik turun kedua kaki Elia dan meletakkannya di dalam ember berisi larutan garam hangat.“Rendam kakimu sebentar.” Jonas merasa Elia menarik kakinya dengan tatapan curiga. &
“Jonas! Apa benar yang dikatakan nenek Aminah?!” tanya Andika tak sabar.Mulut Jonas setengah terbuka hendak menjawab pertanyaan Andika, tapi urung karena kepala-kepala lain menyusul di belakang Andika. Tatapan penasaran menghujani Elia dan Jonas yang masih bingung mencerna kondisi yang sedang terjad
“Haish! Dia lagi di mana, sih?!” kesal Shinta seraya menghubungi Elia kembali. “Kamu di mana, El?” cemas Shinta kala operator menjawab panggilannya.Maswir calling ….“Halo, Maswir.”[Ada apa dengan Elia?] tanya Wirasena dengan







