Share

Aliansi dan Kapal Roh

Author: Jimmy Chuu
last update Last Updated: 2026-01-29 20:19:22

Rong Tian diam sejenak mendengar pertanyaan itu. Pikirannya bekerja dengan cepat, menganalisis situasi dan maksud di balik pertanyaan.

Informasi memang menyebar cepat di Jianghu dan ibu kota, apalagi setelah kejadian di Paviliun Harta Karun Langit. Ini bukan hal yang mengejutkan baginya sama sekali.

Sebagai sosok yang sudah hidup lima ratus tahun di kehidupan pertamanya, ia sudah sangat terbiasa dengan hal seperti ini. Tidak ada yang benar-benar rahasia di dunia ini.

"Begitu adanya, Kaisar."

Ro
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
cerita yg sangat bagus dan ditunggu2
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Menjual Kabar kepada Dua Kekaisaran

    Lu Wenqing berjalan melalui semua itu dengan langkah yang tidak tergesa dan mata yang mencatat segalanya.Ia bukan kultivator kuat. Tingkat kultivasi Lu Wenqing hanya cukup untuk memperpanjang hidupnya beberapa puluh tahun lebih dari manusia biasa dan menjaga kesehatannya dalam kondisi perjalanan laut yang keras. Kekuatannya bukan di Qi atau teknik tempur.Kekuatannya adalah jaringan."Kau mendengar tentang pembantaian di dermaga?" tanya seorang pedagang kepadanya saat mereka berpapasan di depan sebuah warung."Aku mendengar tentang catatan kuno dan cahaya dari kedalaman laut," jawab Lu Wenqing sambil ia berhenti sebentar dengan wajah yang terlihat tertarik namun tidak terlalu tertarik. "Seperti yang semua orang dengar.""Menurutmu itu nyata?" tanya pedagang itu."Menurutku," kata Lu Wenqing sambil sudut bibirnya bergerak sedikit, "apakah nyata atau tidak, ti

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Semua Mulai Mengawasi

    "Biarkan mereka bertanya," kata Guo Haishan. "Jawabannya adalah: Baek Daejin mati karena serakah di tempat yang salah, bukan karena musuh kita. Itu pelajaran yang lebih berharga dari pembalasan manapun.""Orang-orang mungkin tidak melihatnya seperti itu," kata wakilnya. "Mereka bisa menganggap kita lemah.""Kalau ada yang ingin membalas dengan uangnya sendiri dan kapalnya sendiri," kata Guo Haishan sambil matanya akhirnya terangkat dari peta dan menatap wakilnya, "aku tidak akan menghentikannya. Tapi jangan pakai sumber daya armada untuk urusan yang tidak menguntungkan."Wakilnya diam sebentar. "Lalu apa yang kita lakukan?""Membalas," kata Guo Haishan sambil jarinya menyentuh titik tengah peta. Di Jurang Laut Bintang. "Tapi bukan untuk Baek Daejin. Kita membalas dengan cara yang membuat semua yang ikut membunuhnya menjadi tidak relevan."Wakilnya menatap titik di peta itu. "Arte

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Perbatasan Zona Kabut Bintang

    "Ini bukan kabut laut biasa," kata seorang awakkapal dengan nada yang setengah berbisik. "Ini sesuatu yang sama sekali berbeda.""Putar balik," kata Master Lan Qiyue dengan nada yang tidak meninggalkan ruang untuk diskusi."Tapi kita baru masuk beberapa li," kata muridnya dengan nada yang memohon. "Mungkin kalau kita teruskan sedikit lagi...""Kita teruskan tanpa kompas yang berfungsi dan tanpa bintang yang bisa dipercaya," potong Master Lan Qiyue. "Di laut seperti ini, kita bukan kultivator yang gagah berani. Kita hanya orang yang tidak tahu jalan pulang."Muridnya menelan argumennya."Kita berhenti di perbatasan zona," kata Master Lan Qiyue sambil tangannya sudah bergerak ke tuas kemudi. "Kita amati dulu."Mereka membangun pos pengamatan kecil di Pulau Karang Merah, sebuah pulau tak berpenghuni selebar seratus langkah yang terdiri dari batu karang dan beber

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Para Pemburu di Tepi Kabut

    Beberapa kepala di sekitar meja menoleh ke arah Zhao Wuchen dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya menyetujui."Makanya kita tidak masuk sekarang," kata Zhao Wuchen."Lalu apa yang kita lakukan?" tanya pemimpin regu pertama. "Menunggu sambil orang lain mengambil apa yang seharusnya kita ambil?""Kita bangun pos pengamatan di Pulau Karang Merah," jawab Zhao Wuchen sambil jarinya bergeser ke titik yang lebih kecil di dekat batas zona. "Dekat perbatasan. Kita lihat siapa saja yang bergerak dan ke arah mana.""Dengan menunggu," kata pemimpin regu ketiga, "kita memberi orang lain waktu untuk masuk lebih dulu.""Kita beri mereka waktu untuk mati lebih dulu," jawab Zhao Wuchen dengan nada yang sama tenangnya. "Beda tipis, tapi sangat berbeda artinya bagi kesehatan kita."Pemimpin regu kedua yang dari tadi diam mengetuk mejanya sekali. "Dan kalau Sekte Ombak Gelap sud

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Ketika Rumor Mulai Bergerak

    "Berapa kapal?" tanya seorang prajurit patroli yang kebetulan sedang makan di meja sebelah. Sumpit di tangannya berhenti di tengah jalan."Tiga," jawab perempuan itu dengan meyakinkan. "Aku mendengarnya dari kapten kapal yang melihat langsung.""Nama kaptennya siapa?" tanya prajurit itu dengan nada yang mulai berubah dari sekadar penasaran menjadi sesuatu yang lebih terlatih.Perempuan itu sebentar berhenti. "Aku tidak tanya namanya. Tapi ia memakai jubah gelap dan tangannya...""Kau tidak tahu namanya," potong prajurit itu sambil ia meletakkan sumpitnya dengan perlahan, "tapi kau sangat yakin ada tiga kapal yang hilang?""Tiga atau empat," kata perempuan itu sambil keningnya berkerut. "Semua orang di pelabuhan Hyeongseong mengatakan hal yang sama.""Semua orang," ulang prajurit itu. "Atau satu orang yang menceritakannya kepada semua orang, lalu semua orang m

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Rumor dari Hyeongseong

    Kapal dagang pertama yang meninggalkan Pulau Hyeongseong keesokan paginya berlayar ke arah barat menuju Pulau Akakumo, wilayah Yamatsukuni. Angin pagi membawa asin laut yang lebih tajam dari biasanya, seolah bahkan udara di sekitar pulau itu sudah menyerap ketegangan malam sebelumnya.Kaptennya adalah pria bertubuh gemuk dengan kulit yang sudah gelap karena bertahun-tahun terpapar angin laut. Tangannya memegang kemudi dengan gaya seseorang yang sudah terlalu sering menempuh rute yang sama, namun matanya menyimpan cahaya yang berbeda dari biasanya.Ia membawa lebih dari sekadar muatan kain dan garam.Ia membawa cerita.Ketika kapal itu berlabuh di dermaga Pulau Akakumo setelah setengah hari perjalanan, seorang buruh muda yang sedang mengikat tali berlutut di tepi dermaga menoleh ke atas. Wajah kapten itu sudah memberi tahu bahwa ada sesuatu sebelum mulutnya terbuka."Hyeongseong s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status