Se connecterSalinan penilaian Paviliun Awan Bijaksana sampai ke Benteng Utara Jin Gao sebelum matahari hari berikutnya condong ke barat.Kuda pengantar pesan tiba dengan busa putih di mulut, pelananya basah oleh keringat, dan pembawa suratnya tak sempat membersihkan debu dari alis sebelum gulungan dipindahkan ke tangan penjaga gerbang.Benteng Utara Jin Gao tidak sebesar kota, tetapi nadinya jauh lebih keras.Dindingnya tebal, parit kering mengitari sisi luar, panji Kekaisaran Bai Feng berkibar di atas menara, dan halaman dalam dipenuhi bunyi tombak panjang, sepatu besi, tali busur, serta perintah pendek yang dilatih agar tidak bergantung pada emosi.Han Beitang membaca laporan itu di ruang kerjanya yang sederhana. Di hadapannya ada peta wilayah barat Kekaisaran Bai Feng, satu baki teh hitam, segel militer, dan dua orang kepercayaan yang sudah terlalu lama berdiri di dekat kekuasaan untuk berpura-pura tidak cema
Cheng Yuwen mengangkat tangan kecil, menghentikan Sun Kehui sebelum pria itu membalas. “Kami tidak ingin berdebat sebelum menimbang. Paviliun Awan Bijaksana punya Formasi Tujuh Lapis untuk membaca aliran qi, keselarasan dengan tanah, stabilitas meridian, dan kemungkinan jejak teknik yang merusak.”Ia menunjuk lingkaran di lantai. “Jika qi Tuan selaras dengan hukum wilayah, kami akan mencatatnya. Jika tidak, kami juga harus mencatatnya.”Rong Tian berjalan ke tengah formasi. “Alat yang jujur boleh membaca.”Sun Kehui tersenyum lagi, kali ini lebih tipis. “Semoga Tuan tetap berkata demikian setelah hasilnya keluar.”Wei Dazhi mengambil kuas. Tangannya belum gemetar, tetapi genggamannya lebih rapat daripada sebelumnya.Cheng Yuwen memberi isyarat. Lonceng kecil di sisi meja diketuk, dupa penenang di empat sudut menyala lebih terang, da
Meng Qingsong tidak langsung masuk ke paviliun. Ia menunduk, mengambil lonceng bambu yang jatuh di dekat kaki Fang Jichao, lalu mengusap serat putus pada simpulnya dengan ibu jari.Wajah tua itu tidak marah, tetapi para murid Sekte Hutan Zhulin justru menahan napas lebih dalam. Mereka tahu, kemarahan yang tak keluar dari mulut pemimpin mereka sering lebih berat daripada bentakan di aula hukuman.“Lonceng ini seharusnya mengingatkan orang pada arah angin,” kata Meng Qingsong pelan. “Hari ini, ia justru mengingatkan sekte kita pada rasa malu.”Fang Jichao menunduk lebih rendah. Dua murid yang tadi mengikuti cemoohnya ikut menurunkan mata, dan suara bambu yang bergesekan di atas kepala mereka mendadak terasa seperti bisik-bisik panjang dari seluruh hutan.Meng Qingsong menyerahkan lonceng itu kepada murid penjaga di sampingnya. “Gantung di aula latihan. Biarkan semua murid
Tiga lonceng di jalur kiri berbunyi bersamaan. Nada bambunya panjang, ramai, dan jelas akan membuat siapa pun yang masuk dari arah itu tampak seperti orang ceroboh yang membangunkan seluruh hutan.Fang Jichao kehilangan senyum tipisnya sesaat. Ia tahu lonceng itu seharusnya berbunyi karena Rong Tian salah memilih arah.Rong Tian berjalan melewati akar basah tanpa mengubah napas. “Suara palsu selalu ingin orang menoleh ke tempat yang salah.”Belokan kedua lebih licik. Serbuk daun kering ditabur di atas tanah lembap untuk menukar arah angin, sementara dua murid Sekte Hutan Zhulin memakai qinggong ringan di balik rumpun bambu agar langkah mereka menciptakan gema palsu dari arah kanan.Rong Tian berhenti sebentar, bukan karena ragu, tetapi karena mendengar tanah. Embun yang jatuh dari daun bambu di sisi kiri terdengar terlalu teratur, dan akar di bawahnya menyimpan getar pendek yang tak bisa
Undangan Sekte Hutan Zhulin datang ketika Kota Biramaki belum sepenuhnya pulih dari keributan semalam. Seorang murid berjubah hijau gelap memasuki Rumah Teh Seruling Senja dengan langkah ringan, membawa gulungan bambu tipis yang diikat tali sutra hijau pucat.Pelayan tua yang sedang membersihkan meja dekat jendela segera menurunkan kain lapnya. Orang-orang yang semula berbicara soal pelataran pasar obat ikut menahan suara, sebab semua tahu satu undangan dari sekte wilayah tidak pernah datang tanpa maksud.Murid itu berhenti tiga langkah dari meja Rong Tian, lalu menangkupkan tangan dengan hormat yang rapi. “Pemimpin Sekte Hutan Zhulin, Meng Qingsong, memohon agar Tuan Jubah Putih berkenan singgah sebagai tamu.”Rong Tian menerima gulungan itu tanpa membuka terlalu lama. Tulisan di permukaan bambu disusun halus, sopan, dan bersih, tetapi di bawah kesopanan itu ada satu arti yang tidak perlu diterjemahkan.Sekte Hutan Zhulin ingin mengukur orang yang namanya baru lahir dari rumah teh, l
Tak ada yang tertawa.Para murid Sekte Puncak Matahari di belakang Xu Zhenhai justru memucat sedikit, dan satu tetua di sisi kanannya mengatupkan gigi karena apa yang dibongkar Rong Tian bukan kelemahan murid muda, melainkan akar satu jalan teknik.Xu Zhenhai menatapnya cukup lama. “Kalau Tuan sedang menebak, satu jurus cukup untuk menjatuhkan semua kata itu ke tanah.”Rong Tian memandangnya datar. “Kalau saya benar, satu jurus cukup untuk membuat seluruh Kota Biramaki melihat di mana Sekte Puncak Matahari kehilangan akarnya.”Xu Zhenhai mencabut pedang. Tidak cepat, tidak kasar, tetapi cukup untuk membuat matahari petang memantul tipis di bilahnya. Hawa panas halus merambat dari pusat tubuhnya ke bahu, lalu ke lengan.Kerumunan mundur setapak. Pedagang obat mengangkat keranjang mereka. Pengawal karavan menahan tangan pada gagang pedang, bukan untuk ikut c
Pintu ruang pribadi ditutup perlahan dengan bunyi yang hampir tidak terdengar. Aula luar yang masih dipenuhi bisikan ketakutan dan tatapan penasaran terputus total dari ruangan pribadi ini.Bau dupa krisan tipis mengambang di udara seperti kabut. Aromanya lembut menenangkan jiwa, tidak menyesakkan
Dua sosok itu berjalan menyusuri jalan yang semakin sunyi dengan langkah teratur.Kasim tua berjalan beberapa langkah di depan, punggungnya sedikit membungkuk hormat seperti kebiasaan lama yang sudah mendarah daging."Tuan Yang Mulia, kita sudah tiba."Kasim itu berbicara pelan sambil menunjuk bang
Pintu bangunan utama Persekutuan Bulan Hitam terbuka perlahan.Kayu tebal yang telah menghitam oleh usia bergeser dengan suara berat, seolah menolak memperlihatkan isi di baliknya. Dari dalam, bau dupa kematian menguar lebih pekat. Aroma kemenyan bercampur darah kering dan logam berkarat, bau yang
Malam semakin dalam.Rong Tian meneguk tehnya perlahan. Cairan hijau pucat itu mengalir di tenggorokan, meninggalkan rasa pahit yang menenangkan seperti daun wormwood yang direbus tiga hari.Di luar, hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis. Rintik air masih jatuh membasahi genteng tanah liat yang







