LOGINMeng Qingsong tidak langsung masuk ke paviliun. Ia menunduk, mengambil lonceng bambu yang jatuh di dekat kaki Fang Jichao, lalu mengusap serat putus pada simpulnya dengan ibu jari.Wajah tua itu tidak marah, tetapi para murid Sekte Hutan Zhulin justru menahan napas lebih dalam. Mereka tahu, kemarahan yang tak keluar dari mulut pemimpin mereka sering lebih berat daripada bentakan di aula hukuman.“Lonceng ini seharusnya mengingatkan orang pada arah angin,” kata Meng Qingsong pelan. “Hari ini, ia justru mengingatkan sekte kita pada rasa malu.”Fang Jichao menunduk lebih rendah. Dua murid yang tadi mengikuti cemoohnya ikut menurunkan mata, dan suara bambu yang bergesekan di atas kepala mereka mendadak terasa seperti bisik-bisik panjang dari seluruh hutan.Meng Qingsong menyerahkan lonceng itu kepada murid penjaga di sampingnya. “Gantung di aula latihan. Biarkan semua murid
Tiga lonceng di jalur kiri berbunyi bersamaan. Nada bambunya panjang, ramai, dan jelas akan membuat siapa pun yang masuk dari arah itu tampak seperti orang ceroboh yang membangunkan seluruh hutan.Fang Jichao kehilangan senyum tipisnya sesaat. Ia tahu lonceng itu seharusnya berbunyi karena Rong Tian salah memilih arah.Rong Tian berjalan melewati akar basah tanpa mengubah napas. “Suara palsu selalu ingin orang menoleh ke tempat yang salah.”Belokan kedua lebih licik. Serbuk daun kering ditabur di atas tanah lembap untuk menukar arah angin, sementara dua murid Sekte Hutan Zhulin memakai qinggong ringan di balik rumpun bambu agar langkah mereka menciptakan gema palsu dari arah kanan.Rong Tian berhenti sebentar, bukan karena ragu, tetapi karena mendengar tanah. Embun yang jatuh dari daun bambu di sisi kiri terdengar terlalu teratur, dan akar di bawahnya menyimpan getar pendek yang tak bisa
Undangan Sekte Hutan Zhulin datang ketika Kota Biramaki belum sepenuhnya pulih dari keributan semalam. Seorang murid berjubah hijau gelap memasuki Rumah Teh Seruling Senja dengan langkah ringan, membawa gulungan bambu tipis yang diikat tali sutra hijau pucat.Pelayan tua yang sedang membersihkan meja dekat jendela segera menurunkan kain lapnya. Orang-orang yang semula berbicara soal pelataran pasar obat ikut menahan suara, sebab semua tahu satu undangan dari sekte wilayah tidak pernah datang tanpa maksud.Murid itu berhenti tiga langkah dari meja Rong Tian, lalu menangkupkan tangan dengan hormat yang rapi. “Pemimpin Sekte Hutan Zhulin, Meng Qingsong, memohon agar Tuan Jubah Putih berkenan singgah sebagai tamu.”Rong Tian menerima gulungan itu tanpa membuka terlalu lama. Tulisan di permukaan bambu disusun halus, sopan, dan bersih, tetapi di bawah kesopanan itu ada satu arti yang tidak perlu diterjemahkan.Sekte Hutan Zhulin ingin mengukur orang yang namanya baru lahir dari rumah teh, l
Tak ada yang tertawa.Para murid Sekte Puncak Matahari di belakang Xu Zhenhai justru memucat sedikit, dan satu tetua di sisi kanannya mengatupkan gigi karena apa yang dibongkar Rong Tian bukan kelemahan murid muda, melainkan akar satu jalan teknik.Xu Zhenhai menatapnya cukup lama. “Kalau Tuan sedang menebak, satu jurus cukup untuk menjatuhkan semua kata itu ke tanah.”Rong Tian memandangnya datar. “Kalau saya benar, satu jurus cukup untuk membuat seluruh Kota Biramaki melihat di mana Sekte Puncak Matahari kehilangan akarnya.”Xu Zhenhai mencabut pedang. Tidak cepat, tidak kasar, tetapi cukup untuk membuat matahari petang memantul tipis di bilahnya. Hawa panas halus merambat dari pusat tubuhnya ke bahu, lalu ke lengan.Kerumunan mundur setapak. Pedagang obat mengangkat keranjang mereka. Pengawal karavan menahan tangan pada gagang pedang, bukan untuk ikut c
Sore di Kota Biramaki bergerak lambat, tetapi kabar bergerak jauh lebih cepat.Saat rumah-rumah pengawal mulai menyalakan lampu gantung pertama dan penjual obat gunung menurunkan tirai setengah, Rumah Teh Seruling Senja justru mulai kehilangan orang-orangnya, bukan karena urusan selesai, melainkan karena seluruh kota tahu masalah berikutnya tak akan selesai di dalam bangunan kayu itu.Apa yang lahir dari cangkir, sumpit, dan meja kayu pagi tadi telah keluar ke jalan. Ia menyentuh rumah-rumah pengawal, losmen karavan, kios jimat, pedagang obat, sampai pagar luar halaman sekte-sekte kecil yang membuka cabang di kota.Orang-orang tak lagi berkata, “ada pria berjubah putih di rumah teh.” Mereka kini berkata, “Tuan Jubah Putih membuat murid inti Qingcheng berlutut tanpa menyentuh gagang pedangnya.”Itu sebabnya ketika rombongan Sekte Puncak Matahari datang petang itu, mereka tak la
Duan Yifeng menerima tanpa perubahan besar di wajah. “Baik. Kalau begitu saya yang akan belajar.”Jurus pertama datang seperti garis hujan yang turun dari celah awan. Pedang Qingcheng bersih, cepat, dan dibangun untuk membuat lawan salah menilai jarak.Banyak mata di rumah teh bahkan tak sempat melihat kapan bilah itu terangkat penuh. Yang mereka lihat hanya ujung pedang sudah hampir menyentuh dada Rong Tian.Rong Tian bergerak setipis kain ditarik angin. Ia menggeser tubuh sejauh yang dibutuhkan, membuat garis itu lewat di ruang kosong, lalu membiarkan Duan Yifeng merasakan sendiri bahwa tusukan pertamanya tak menyentuh apa-apa selain udara.Satu dengus pendek keluar dari meja murid Sekte Puncak Matahari. “Cepat memang cepat, tapi orang itu bahkan tak perlu mengubah napas.”“Diamlah,” bisik temannya. “Kalau Qingcheng ikut kehilangan muka
"Lima belas jurus," kata Feng Cangyun dengan suara yang sangat lemah namun masih sangat jelas."Aku kalah."Rakhim mengangguk dengan cara yang sangat menghormati."Kau lebih baik dari yang kukira," katanya dengan nada yang sangat tulus."Lima belas jurus melawan aku tanpa menggunakan senjata adalah
"Dua puluh jurus," kata Rakhim sambil menatap seluruh lantai dua dengan tatapan yang sangat lambat dan sangat mengukur."Untuk pimpinan Sekte Bunga Salju, kau bertahan cukup lama."Li Mingyuan dari Sekte Awan Sembilan Keabadian berdiri dari kursinya dengan sangat pelan, wajahnya sangat keras."Tuan
Rakhim menarik napas sangat panjang, dadanya naik turun dengan cara yang sangat jelas dan sangat terlihat. Ia mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan kiri, mata tidak pernah lepas dari Rong Tian yang berdiri dengan sangat tenang di hadapannya."Baiklah," kata Rakhim dengan suara yang sa
Suara riuh dari lantai bawah mulai bergerak naik. Langkah-langkah kaki yang sangat banyak menghantam tangga kayu dengan bunyi yang sangat keras dan sangat bertubi-tubi, seperti hujan batu jatuh ke atap rumah.Penduduk Ashgar yang tadinya duduk di lantai bawah naik satu per satu dengan wajah yang sa







