Share

Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang
Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang
Author: Jimmy Chuu

Kebangkitan di Hundun Yaosai

Author: Jimmy Chuu
last update Huling Na-update: 2025-12-07 23:48:18

Pemuda itu membuka mata perlahan, seolah kedua kelopak matanya belum siap menghadapi cahaya dunia yang menyilaukan. Sensasi pertama yang menyentuh kesadarannya Adalah rasa dingin yang menusuk.

Namun bukan dingin yang berat dan pekat seperti energi iblis yang selama ini mengisi tubuhnya. Dingin kali ini terasa berbeda, lebih ringan, seperti sentuhan udara pagi awal musim semi yang menyegarkan.

Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, dan gerakan kecil itu terasa kaku, seakan tubuhnya tidak digunakan dalam waktu yang sangat lama. Sendi-sendinya merespons dengan lambat, membuatnya menarik napas pendek dan berat.

“Di mana aku?” bisiknya dengan suara yang nyaris serak, sebuah pertanyaan yang menggantung di udara.

Dengan usaha yang hati-hati, ia mendorong tubuhnya untuk duduk, setiap otot terasa asing, seperti bukan bagian dari dirinya. Pandangannya sempat buram, sehingga ia mengedip beberapa kali sampai bentuk-bentuk di sekelilingnya menjadi jelas dan fokus.

Saat penglihatannya pulih sepenuhnya, ia terdiam, membeku di tempat.

Hundun Yaosai.

Ini Adalah benteng tua tempat ia menyusun strategi perang terakhir, sebuah sarang kegelapan yang mengerikan. Benteng tempat dia dahulu mengumpulkan seluruh panglima kegelapan untuk menghadapi aliansi sekte ortodoks dan kekaisaran, sebuah medan perang yang tak terlupakan.

Hundun Yaosai adalah tempat yang dulu dipenuhi aura kematian, dengan energi iblis begitu pekat hingga tanah pun retak dan menghitam.

Namun pemandangan di hadapannya sekarang benar-benar berubah, sebuah transformasi yang mengejutkan.

Dinding batu yang dulu berlumut darah kini tertutup tanaman merambat hijau yang tumbuh subur, melilit erat.

Bunga liar berwarna putih dan kuning menyembul di sela retakan batu, menambah sentuhan warna.

Langit di atasnya biru jernih, dihiasi awan putih yang bergerak tenang, dan sinar matahari menyentuh kulitnya dengan hangat, sementara suara burung terdengar samar dari kejauhan.

Namun, tempat yang seharusnya dipenuhi tumpukan tulang dan genangan darah hitam kini justru diisi hamparan rumput hijau yang bergerak lembut saat angin lewat, seolah menghapus jejak masa lalu.

“Apa yang terjadi?” gumamnya lirih, kebingungan melingkupi pikirannya.

Ia bangkit berdiri, kakinya sempat goyah dan hampir membuatnya terjatuh, tetapi ia berhasil menemukan keseimbangan yang rapuh.

Dengan napas yang masih tidak teratur, pemuda itu ia memandang sekeliling, mencoba memahami perubahan besar yang terjadi pada benteng ini.

Hundun Yaosai yang ia ingat adalah tempat suram yang tidak bisa didekati oleh manusia biasa, sebuah benteng yang menakutkan. Namun kini benteng itu tampak seperti reruntuhan taman kuno, damai dan sunyi.

Ia pun melangkah beberapa langkah ke depan, tangannya menyentuh permukaan pilar batu yang masih tersisa. Ukiran berbentuk kelelawar, simbol kekuasaannya dulu, terlihat memudar dan tertutup lumut, seolah waktu telah mengikis kejayaannya.

“Berapa lama aku tidak sadar?” tanyanya perlahan, sebuah pertanyaan tanpa jawaban.

Ia menutup mata untuk merasakan aliran energi dalam tubuhnya, mencoba menggerakkan qi dengan cara yang dulu sangat ia kuasai.

Namun sensasi yang muncul sangat asing, sebuah kejutan yang tak terduga.

“Apa?”

Qi yang mengalir di meridiannya terasa jernih, hangat, dan mengalir seperti air sungai yang tenang. Tidak ada lagi energi iblis yang berat dan gelap, energi yang dulu selalu menyatu erat dengan dirinya.

Tidak ada lagi tekanan menakutkan yang biasa memancar dari tubuhnya, tidak ada rasa dingin yang menggigit dari tenaga gelap.

“Ini qi murni?” Ia membuka mata dengan cepat, napasnya memburu karena terkejut. “Mengapa qi-ku berubah menjadi qi murni? Ke mana energi iblisku?”

Ia mencoba lagi, kali ini lebih fokus, menarik napas pelan, membiarkan qi mengalir dari dantian ke meridian utama. Namun hasilnya tetap sama, qi murni mengalir dalam tubuhnya, seolah ia adalah kultivator aliran lurus yang disiplin memurnikan qi sejak kecil.

“Jangan bilang aku kembali jadi pemula?” gumamnya dengan wajah yang mulai pucat, sebuah ketakutan yang nyata.

Saat ia mencoba mengumpulkan qi lebih banyak, tetapi justru semakin bingung, sensasi ini terlalu berbeda. Ia tidak bisa menilai seberapa tinggi kemampuan dirinya sekarang, seolah ia sedang meminjam tubuh orang lain.

Dia Adalah Raja Kelelawar Hitam, kultivator tingkat jiwa muda akhir, hampir mencapai keabadian sejati, kini tidak dapat memastikan kemampuan dasar tubuhnya sendiri.

Ia menarik napas panjang dan kembali melihat kondisi benteng, perubahan yang terlalu drastis membuat pikirannya semakin gelisah.

“Kalau kondisi benteng seperti ini, pasti sesuatu sudah lama sekali berlalu,” gumamnya sedikit asing.

Ingatan terakhir mulai muncul perlahan, sebuah kilasan masa lalu yang menyakitkan.

Ingatan ini tentang medan perang Padang Jiwa Terkoyak, darah, jeritan pasukan, cahaya pedang keemasan yang turun dari langit, rasa nyeri luar biasa ketika cahaya itu menembus tubuhnya, lalu gelap pekat.

Rong Tian. Itulah namanya.

Dia Adalah oemimpin aliran gelap, disebut Raja Kelelawar Hitam yang ditakuti seluruh benua, pemimpin tertinggi sekte-sekte iblis.

“Aku mati,” ucapnya pelan, sebuah kebenaran yang menusuk jiwanya. “Aku ingat jelas. Aku mati di Padang Jiwa Terkoyak, tubuhku seharusnya hancur luluh.”

Ia menatap kedua tangannya, ujung jarinya masih bergetar halus, seolah menolak kenyataan yang ada.

“Tapi mengapa aku hidup lagi? Dan mengapa qi-ku berubah drastis?” Sebuah ingatan samar melintas di benaknya, tentang Gelang Karma Samsara yang selalu diburu semua kultivator di masa itu, sebuah artefak legendaris.

“Mungkinkah gelang itulah yang membangkitkanku dari kematian?” batinnya bertanya-tanya, dipenuhi kebingungan yang mendalam.

“Namun siapa yang memberikannya padaku? Dan mengapa benda itu mengubah esensiku? Apakah aku ditakdirkan menjadi sosok berenergi murni?”

Angin bertiup pelan, membawa wangi bunga magnolia dari kejauhan, sebuah aroma yang menenangkan.

Rong Tian mulai berjalan mengitari reruntuhan, mencari petunjuk yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan lama yang tersisa, tapi semua dipenuhi rumput dan tanaman baru, seolah sejarah kelam tempat ini sengaja dihapus.

“Paling lama dua tahun,” gumamnya menghibur diri. “Tidak mungkin dunia berubah lebih cepat dari ini.”

Ia tidak tahu bahwa perkiraannya jauh dari benar, sebuah ironi yang belum ia sadari.

Rong Tian berhenti di tepi reruntuhan. Dari sana, ia bisa melihat Hutan Magnolia, sebuah pemandangan yang indah. Hutan luas dengan pohon tinggi dan bunga putih yang mekar lembut, menciptakan karpet alam yang memukau.

“Mungkin aku harus ke kota terdekat,” katanya lirih. “Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Namun sebelum ia sempat melangkah, sebuah suara menusuk memecah kesunyian pagi, sebuah jeritan nyaring yang membawa kepanikan.

“Tolong! Lepaskan kami!”

Suara itu berasal dari Hutan Magnolia, nadanya jelas menunjukkan rasa panik dan ketakutan yang mendalam.

Tak lama kemudian terdengar tawa kasar beberapa pemuda, tawa yang penuh niat buruk dan mengancam.

“Lari ke mana lagi, nona?” teriak salah satu dari mereka, suaranya penuh ejekan.

“Kalian tidak akan bisa kabur!” tambah yang lain, sebuah ancaman yang dingin.

“Kami akan lembut kok!” suara mesum menyusul, membuat bulu kuduk merinding.

Rong Tian mengerutkan kening, sebuah kerutan dalam di dahinya. Tangan kanannya mengepal refleks, dan insting lamanya bangkit begitu saja, sebuah dorongan dari masa lalu.

“Ada yang tidak beres,” ucapnya pelan, matanya menyipit tajam.

Tanpa berpikir panjang, ia melesat menuju sumber suara, tubuhnya bergerak spontan dengan kecepatan luar biasa. Qi murni mengalir mengikuti gerakan kakinya, meski ia belum sepenuhnya terbiasa mengatur alirannya yang baru.

Ia melesat seperti terbang, melewati padang rumput dengan kecepatan meningkat. Dedaunan berdesir di bawah kakinya, seolah ia terbang diatas rumput. Semakin dekat ke hutan, suara teriakan dan tawa semakin jelas, sebuah nada ketakutan.

Rong Tian, pemuda itu mempercepat langkahnya sampai memasuki hutan.

++++

Hutan Magnolia biasanya tenang, tetapi pagi itu dipenuhi suara kepanikan yang mengoyak kedamaian.

“Kakak, aku tidak kuat lagi!”

“Lari, Lingyin! Jangan berhenti!”

Dua gadis berlari terhuyung di antara pepohonan, jubah putih mereka robek, rambut terurai berantakan, dan wajah mereka pucat serta penuh air mata. Napas mereka tersengal-sengal, setiap tarikan napas adalah perjuangan melawan nasib.

Bersambung

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
NACL
lanjut kaaaan
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Titah Sang Raja Pedang

    Madam Lan mengangkat kepala lebih tinggi. Mata menatap Rong Tian dengan tatapan yang masih gemetar."Kamu tahu siapa saja pemimpin sekte iblis terdepan yang tewas di tanganku," lanjut Rong Tian dengan nada yang sedikit lebih tegas.Aula bergetar secara psikologis. Tidak ada gempa fisik, tetapi setiap orang merasakan tekanan yang tidak terlihat."Sebagai orang yang menguasai informasi Jianghu, kamu pasti tahu."Madam Lan menarik napas yang terputus-putus. Ia tahu. Ia sangat tahu.Xu Ying Ming, pemimpin Sekte Iblis Teratai Bulan Perak, mati. Hei Zongyuan, pemimpin Sekte Bayangan Yin, mati. Persekutuan Bulan Hitam, organisasi pembunuh bayaran terbesar di ibu kota, dihancurkan.Semua oleh satu orang. Tuan Berjubah Putih.Rong Tian melangkah maju satu langkah. "Jika aku ingin, Paviliun Harta Karun Langit bisa aku rata tanahkan hanya sekali jentikan jari!"Suaranya tidak keras. Tidak ada teriakan, tidak ada ancaman dramatis. Hanya pernyataan fakta yang dingin.Tetapi setiap orang di aula it

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Ritual Penyerahan Diri (Kedua)

    Jubah sutra hijau giok Madam Lan yang sangat mahal terseret di lantai, kusut dan kotor oleh debu. Ujung jubah basah oleh air mata dan darah yang menetes tanpa henti."Mohon ampun untuk ponakan hamba yang bodoh," suaranya keluar sangat gemetar dari bibir yang masih menempel di lantai dingin. "Ia layak mati seribu kali dengan cara paling menyakitkan untuk penghinaan yang dilakukannya kepada Tuan Yang Mulia."Napasnya tersengal sangat hebat, terdengar sangat jelas di aula yang sunyi total. Punggung naik turun tidak teratur seperti orang sekarat, menunjukkan betapa sulitnya bernapas dalam posisi kowtow yang sangat hina itu."Tetapi hamba memohon... hamba mohon dengan sangat pada belas kasihan Tuan... mohon belas kasihan Tuan yang Mulia dan Agung."Tubuhnya bergetar sangat hebat dalam posisi menyembah itu. Gemetar seperti daun kering di badai dahsyat, tidak bisa dikendalikan sama sekali oleh kehendak.Air mata terus mengalir tanpa henti, bercampur dengan darah dari dahi yang pecah parah. G

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Ritual Penyerahan Diri

    Madam Lan berteriak dengan suara yang pecah total tanpa kontrol. Tidak ada ketenangan yang biasa, tidak ada kontrol sama sekali atas emosi, hanya ketakutan murni yang meledak keluar tanpa bisa ditahan.Ia melangkah maju dengan tubuh gemetar hebat, menempatkan dirinya di antara Lin Xuan dan Rong Tian. Gerakan itu bukan perlindungan berani dari bibi yang sayang, tetapi tindakan sangat putus asa dari orang yang sudah kehilangan akal sehat sepenuhnya.Tangannya gemetar sangat hebat di samping tubuh yang kaku. Jari-jari bergetar tidak terkendali seperti daun kering, keringat mengalir sangat deras di pelipis meski udara tidak panas sama sekali, membasahi leher putih dan punggung yang basah."Tuan Berjubah Putih," katanya dengan suara yang bergetar sangat tidak terkendali seperti gemetar kedinginan. Setiap kata keluar dengan sangat susah payah, seperti tenggorokan yang tertutup rapat oleh ketakutan yang melumpuhkan seluruh tubuh."Mohon... mohon maafkan ketidaksopanan ponakan hamba yang sang

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Pedang yang Berbalik Arah

    Pedang itu berhenti tepat di depan tenggorokan Lin Xuan dengan presisi sempurna. Jarak hanya satu inci yang sangat tipis, cukup dekat untuk merasakan hawa dingin dari logam tajam.Keringat dingin mengalir sangat deras di pelipis Lin Xuan. Matanya melebar penuh ketakutan yang sangat nyata dan melumpuhkan.Napasnya terputus-putus tidak teratur seperti orang tenggelam. Kaki gemetar hebat, hampir ambruk ke lantai, tetapi tubuh terlalu takut untuk bergerak sama sekali.Kerumunan tidak berani bernapas terlalu keras. Semua mata tertuju pada ujung pedang yang bergetar kecil di udara seperti ular berbisa.Rong Tian tetap diam tanpa ekspresi apapun. Ia tidak mengangkat tangan untuk bertindak, tidak mengeluarkan suara ancaman, hanya berdiri di sana dengan tatapan dingin yang kosong.Semua orang di aula yang ramai itu kini mengerti dengan sangat jelas. Orang berpakaian putih kasar ini sama sekali bukan orang biasa yang bisa diremehkan.Ujung pedang itu bergetar kecil di depan tenggorokan Lin Xuan

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Penghinaan di Aula Megah (Kedua)

    Lin Xuan mendengar bisikan itu dan senyumnya melebar sangat puas. Ia merasa didukung penuh oleh massa yang memihaknya. "Dengar itu?" katanya dengan nada sangat puas seperti pemenang pertandingan."Semua orang tahu Anda bukan siapa-siapa yang penting. Keluar sebelum saya panggil penjaga untuk menyeret Anda," ancamnya sambil mengangkat dagu tinggi dengan sikap angkuh maksimal.Rong Tian masih tidak menjawab sama sekali. Tatapannya tidak berubah walau sedikit, tubuhnya tidak bergerak seperti patung giok.Lin Xuan tersinggung sangat berat karena diabaikan. Diabaikan di depan umum membuatnya merasa dipermalukan parah. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, tangan terkepal erat sampai buku-buku jari memutih."Baik. Kalau Anda tidak mau pergi dengan baik-baik," katanya sambil berbalik ke arah lorong dengan gerakan dramatis. "Penjaga!"Lima pria berbaju seragam coklat tua dari kain katun tebal muncul dari pintu samping. Mereka adalah penjaga keamanan paviliun, petugas yang ditugaskan menjag

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Penghinaan di Aula Megah

    Aula utama Paviliun Harta Karun Langit dipenuhi keramaian yang teratur seperti pasar istana. Kultivator berjubah sutra berwarna-warni dan pedagang kaya berkeliling di antara etalase jade putih dan gulungan kuno yang disegel lilin merah.Lampion sutra merah berjajar rapi di sepanjang pilar kayu cendana tua. Cahaya kuning hangat memantul di lantai batu giok putih yang dipoles halus, menciptakan kilauan yang menenangkan mata seperti permukaan danau.Lonceng angin kecil dari perunggu berbunyi halus di sudut-sudut aula. Suaranya lembut, berirama seperti air mengalir, seperti musik yang mengalir tanpa henti dari instrumen guqin.Di meja-meja transaksi yang terbuat dari kayu rosewood tua, pedagang dan pembeli berbicara dengan nada rendah penuh kehati-hatian. Uang Batu Energi berkualitas tinggi berpindah tangan, gulungan informasi rahasia diserahkan dalam amplop sutra tertutup rapat.Suasana tertib seperti upacara istana. Tidak ada keributan yang mengganggu, tidak ada teriakan kasar, hanya bi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status