LOGIN
Pemuda itu membuka mata perlahan, seolah kedua kelopak matanya belum siap menghadapi cahaya dunia yang menyilaukan. Sensasi pertama yang menyentuh kesadarannya Adalah rasa dingin yang menusuk.
Namun bukan dingin yang berat dan pekat seperti energi iblis yang selama ini mengisi tubuhnya. Dingin kali ini terasa berbeda, lebih ringan, seperti sentuhan udara pagi awal musim semi yang menyegarkan.
Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, dan gerakan kecil itu terasa kaku, seakan tubuhnya tidak digunakan dalam waktu yang sangat lama. Sendi-sendinya merespons dengan lambat, membuatnya menarik napas pendek dan berat.
“Di mana aku?” bisiknya dengan suara yang nyaris serak, sebuah pertanyaan yang menggantung di udara.
Dengan usaha yang hati-hati, ia mendorong tubuhnya untuk duduk, setiap otot terasa asing, seperti bukan bagian dari dirinya. Pandangannya sempat buram, sehingga ia mengedip beberapa kali sampai bentuk-bentuk di sekelilingnya menjadi jelas dan fokus.
Saat penglihatannya pulih sepenuhnya, ia terdiam, membeku di tempat.
Hundun Yaosai.
Ini Adalah benteng tua tempat ia menyusun strategi perang terakhir, sebuah sarang kegelapan yang mengerikan. Benteng tempat dia dahulu mengumpulkan seluruh panglima kegelapan untuk menghadapi aliansi sekte ortodoks dan kekaisaran, sebuah medan perang yang tak terlupakan.
Hundun Yaosai adalah tempat yang dulu dipenuhi aura kematian, dengan energi iblis begitu pekat hingga tanah pun retak dan menghitam.
Namun pemandangan di hadapannya sekarang benar-benar berubah, sebuah transformasi yang mengejutkan.
Dinding batu yang dulu berlumut darah kini tertutup tanaman merambat hijau yang tumbuh subur, melilit erat.
Bunga liar berwarna putih dan kuning menyembul di sela retakan batu, menambah sentuhan warna.
Langit di atasnya biru jernih, dihiasi awan putih yang bergerak tenang, dan sinar matahari menyentuh kulitnya dengan hangat, sementara suara burung terdengar samar dari kejauhan.
Namun, tempat yang seharusnya dipenuhi tumpukan tulang dan genangan darah hitam kini justru diisi hamparan rumput hijau yang bergerak lembut saat angin lewat, seolah menghapus jejak masa lalu.
“Apa yang terjadi?” gumamnya lirih, kebingungan melingkupi pikirannya.
Ia bangkit berdiri, kakinya sempat goyah dan hampir membuatnya terjatuh, tetapi ia berhasil menemukan keseimbangan yang rapuh.
Dengan napas yang masih tidak teratur, pemuda itu ia memandang sekeliling, mencoba memahami perubahan besar yang terjadi pada benteng ini.
Hundun Yaosai yang ia ingat adalah tempat suram yang tidak bisa didekati oleh manusia biasa, sebuah benteng yang menakutkan. Namun kini benteng itu tampak seperti reruntuhan taman kuno, damai dan sunyi.
Ia pun melangkah beberapa langkah ke depan, tangannya menyentuh permukaan pilar batu yang masih tersisa. Ukiran berbentuk kelelawar, simbol kekuasaannya dulu, terlihat memudar dan tertutup lumut, seolah waktu telah mengikis kejayaannya.
“Berapa lama aku tidak sadar?” tanyanya perlahan, sebuah pertanyaan tanpa jawaban.
Ia menutup mata untuk merasakan aliran energi dalam tubuhnya, mencoba menggerakkan qi dengan cara yang dulu sangat ia kuasai.
Namun sensasi yang muncul sangat asing, sebuah kejutan yang tak terduga.
“Apa?”
Qi yang mengalir di meridiannya terasa jernih, hangat, dan mengalir seperti air sungai yang tenang. Tidak ada lagi energi iblis yang berat dan gelap, energi yang dulu selalu menyatu erat dengan dirinya.
Tidak ada lagi tekanan menakutkan yang biasa memancar dari tubuhnya, tidak ada rasa dingin yang menggigit dari tenaga gelap.
“Ini qi murni?” Ia membuka mata dengan cepat, napasnya memburu karena terkejut. “Mengapa qi-ku berubah menjadi qi murni? Ke mana energi iblisku?”
Ia mencoba lagi, kali ini lebih fokus, menarik napas pelan, membiarkan qi mengalir dari dantian ke meridian utama. Namun hasilnya tetap sama, qi murni mengalir dalam tubuhnya, seolah ia adalah kultivator aliran lurus yang disiplin memurnikan qi sejak kecil.
“Jangan bilang aku kembali jadi pemula?” gumamnya dengan wajah yang mulai pucat, sebuah ketakutan yang nyata.
Saat ia mencoba mengumpulkan qi lebih banyak, tetapi justru semakin bingung, sensasi ini terlalu berbeda. Ia tidak bisa menilai seberapa tinggi kemampuan dirinya sekarang, seolah ia sedang meminjam tubuh orang lain.
Dia Adalah Raja Kelelawar Hitam, kultivator tingkat jiwa muda akhir, hampir mencapai keabadian sejati, kini tidak dapat memastikan kemampuan dasar tubuhnya sendiri.
Ia menarik napas panjang dan kembali melihat kondisi benteng, perubahan yang terlalu drastis membuat pikirannya semakin gelisah.
“Kalau kondisi benteng seperti ini, pasti sesuatu sudah lama sekali berlalu,” gumamnya sedikit asing.
Ingatan terakhir mulai muncul perlahan, sebuah kilasan masa lalu yang menyakitkan.
Ingatan ini tentang medan perang Padang Jiwa Terkoyak, darah, jeritan pasukan, cahaya pedang keemasan yang turun dari langit, rasa nyeri luar biasa ketika cahaya itu menembus tubuhnya, lalu gelap pekat.
Rong Tian. Itulah namanya.
Dia Adalah oemimpin aliran gelap, disebut Raja Kelelawar Hitam yang ditakuti seluruh benua, pemimpin tertinggi sekte-sekte iblis.
“Aku mati,” ucapnya pelan, sebuah kebenaran yang menusuk jiwanya. “Aku ingat jelas. Aku mati di Padang Jiwa Terkoyak, tubuhku seharusnya hancur luluh.”
Ia menatap kedua tangannya, ujung jarinya masih bergetar halus, seolah menolak kenyataan yang ada.
“Tapi mengapa aku hidup lagi? Dan mengapa qi-ku berubah drastis?” Sebuah ingatan samar melintas di benaknya, tentang Gelang Karma Samsara yang selalu diburu semua kultivator di masa itu, sebuah artefak legendaris.
“Mungkinkah gelang itulah yang membangkitkanku dari kematian?” batinnya bertanya-tanya, dipenuhi kebingungan yang mendalam.
“Namun siapa yang memberikannya padaku? Dan mengapa benda itu mengubah esensiku? Apakah aku ditakdirkan menjadi sosok berenergi murni?”
Angin bertiup pelan, membawa wangi bunga magnolia dari kejauhan, sebuah aroma yang menenangkan.
Rong Tian mulai berjalan mengitari reruntuhan, mencari petunjuk yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan lama yang tersisa, tapi semua dipenuhi rumput dan tanaman baru, seolah sejarah kelam tempat ini sengaja dihapus.
“Paling lama dua tahun,” gumamnya menghibur diri. “Tidak mungkin dunia berubah lebih cepat dari ini.”
Ia tidak tahu bahwa perkiraannya jauh dari benar, sebuah ironi yang belum ia sadari.
Rong Tian berhenti di tepi reruntuhan. Dari sana, ia bisa melihat Hutan Magnolia, sebuah pemandangan yang indah. Hutan luas dengan pohon tinggi dan bunga putih yang mekar lembut, menciptakan karpet alam yang memukau.
“Mungkin aku harus ke kota terdekat,” katanya lirih. “Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Namun sebelum ia sempat melangkah, sebuah suara menusuk memecah kesunyian pagi, sebuah jeritan nyaring yang membawa kepanikan.
“Tolong! Lepaskan kami!”
Suara itu berasal dari Hutan Magnolia, nadanya jelas menunjukkan rasa panik dan ketakutan yang mendalam.
Tak lama kemudian terdengar tawa kasar beberapa pemuda, tawa yang penuh niat buruk dan mengancam.
“Lari ke mana lagi, nona?” teriak salah satu dari mereka, suaranya penuh ejekan.
“Kalian tidak akan bisa kabur!” tambah yang lain, sebuah ancaman yang dingin.
“Kami akan lembut kok!” suara mesum menyusul, membuat bulu kuduk merinding.
Rong Tian mengerutkan kening, sebuah kerutan dalam di dahinya. Tangan kanannya mengepal refleks, dan insting lamanya bangkit begitu saja, sebuah dorongan dari masa lalu.
“Ada yang tidak beres,” ucapnya pelan, matanya menyipit tajam.
Tanpa berpikir panjang, ia melesat menuju sumber suara, tubuhnya bergerak spontan dengan kecepatan luar biasa. Qi murni mengalir mengikuti gerakan kakinya, meski ia belum sepenuhnya terbiasa mengatur alirannya yang baru.
Ia melesat seperti terbang, melewati padang rumput dengan kecepatan meningkat. Dedaunan berdesir di bawah kakinya, seolah ia terbang diatas rumput. Semakin dekat ke hutan, suara teriakan dan tawa semakin jelas, sebuah nada ketakutan.
Rong Tian, pemuda itu mempercepat langkahnya sampai memasuki hutan.
++++
Hutan Magnolia biasanya tenang, tetapi pagi itu dipenuhi suara kepanikan yang mengoyak kedamaian.
“Kakak, aku tidak kuat lagi!”
“Lari, Lingyin! Jangan berhenti!”
Dua gadis berlari terhuyung di antara pepohonan, jubah putih mereka robek, rambut terurai berantakan, dan wajah mereka pucat serta penuh air mata. Napas mereka tersengal-sengal, setiap tarikan napas adalah perjuangan melawan nasib.
Bersambung
Takeda Raigen menggenggam tiang kapal dengan satu tangan.Tubuhnya menyerap guncangan itu tanpa bergeser.Meridian di tangan kanannya terasa panas.Bukan panas dari teknik yang berhasil.Panas dari Qi yang dipaksa keluar terlalu cepat oleh zona.Dari posisi mundurnya, di kejauhan arah selatan, ia melihat siluet kapal kecil lain.Kapal itu juga terdorong mundur.Gerakannya hampir identik.Jaraknya terlalu jauh untuk melihat lambang.Namun pria yang berdiri di haluan kapal itu tidak perlu lambang untuk dikenali."General Kang Baekryong," kata Takeda Raigen pelan.Lebih kepada dirinya sendiri."Ia mengalami hal yang sama."Fujita mengikuti arah pandangannya.Ia melihat kapal kecil di selatan.
Energi di dalam zona tidak bergerak seperti arus laut biasa yang mengalir ke satu arah.Ia berputar.Tidak hanya di permukaan. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas sekaligus. Pusaran kecil muncul dan hilang di berbagai titik, saling bertaut seperti bagian dari satu sistem raksasa yang sudah berumur sangat tua.Permukaan laut terlihat tenang dari jauh.Namun di bawah kabut, energi itu berputar tanpa henti.Seperti ribuan roda kecil yang bekerja bersama dalam satu mekanisme yang tidak terlihat."Ini bukan formasi buatan," katanya pelan kepada dirinya sendiri.Tangannya segera menarik Qi yang ia kirim ke dalam zona sebelum pusaran di depannya menyerapnya lebih jauh."Terlalu besar," gumamnya.Ia menatap pusaran yang berputar di bawah kapal."Dan terlalu tidak beraturan untuk
Kapal nomor tiga berbalik.Ketegangan turun satu tingkat.Namun tidak hilang.Dari tepi Pulau Karang Merah, Zhao Wuchen menyaksikan semua itu dengan tangan terlipat di dada.Di sebelahnya, Master Lan Qiyue berdiri diam.Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja melihat percikan api mendekati bubuk mesiu."Hampir," kata pemimpin regu Zhao Wuchen.Nada suaranya masih tegang."Hampir sekali.""Hampir akan menjadi semakin dekat setiap hari," jawab Zhao Wuchen pelan.Ia menatap dua armada yang kini hanya menjadi bayangan di kejauhan."Sampai suatu hari seseorang tidak cukup sabar."Pemimpin regu itu menghela napas."Kalau kedua kekaisaran itu akhirnya saling tembak di sini..."Ia menelan ludah.
"Mereka pergi ke mana sebenarnya?" tanya nelayan muda itu.Nelayan tua di sampingnya tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir teh dan menghirupnya perlahan sebelum berbicara."Ke tempat yang tidak seharusnya dimasuki kapal perang," katanya akhirnya.Ia menatap laut yang tertutup kabut tipis di kejauhan."Dan mereka tahu itu."Nelayan muda itu mengerutkan kening."Kalau tahu, kenapa tetap pergi?"Nelayan tua itu menghela napas pendek."Karena yang di seberang juga tahu dan tetap pergi."Ia menunjuk samar ke arah laut."Begitulah cara dua kekaisaran bekerja."Ia meneguk tehnya lagi."Mereka tidak bisa berhenti sebelum yang satunya berhenti lebih dulu."Beberapa nelayan lain di warung itu ikut mendengar percakap
"Aku mengirim orang yang cukup kuat untuk pengintaian," balas Kaisar dengan nada keras.Ia menatap Takeda Raigen lurus."Dan tidak cukup penting untuk menjadi alasan perang jika sesuatu terjadi."Ia berhenti sebentar."Kau siapkan dirimu untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari pengintaian."Takeda Raigen tidak menjawab.Namun ia memahami satu hal.Sejak sebelum rapat ini dimulai, Kaisar sudah memikirkan skenario yang jauh lebih besar dari sekadar mengirim kapal pengintai.Di Cheonsang, surat dengan isi hampir sama tiba dari arah yang berbeda.Kaisar Seonghwa Jinmu membacanya sambil duduk.Ia membaca perlahan. Setiap baris diperiksa dengan tenang.Ketika selesai, ia menutup surat itu dan meletakkannya menghadap bawah di meja.Ia memang
Surat Lu Wenqing tiba di Pelabuhan Shiranami dalam waktu empat hari.Pelabuhan itu tidak seperti biasanya.Di dermaga utama, dua dari tiga lapak ikan yang biasanya buka sejak fajar sudah tutup sejak dua hari lalu. Papan kayu yang biasa penuh ikan segar kini kosong, hanya menyisakan noda air laut yang mengering di permukaan.Kapal-kapal nelayan yang biasanya memenuhi dermaga kecil di sisi timur kini hanya tersisa setengahnya. Ruang kosong di antara perahu-perahu yang masih bertahan terlihat seperti gigi yang rontok.Beberapa tali tambat bahkan masih tergantung tanpa kapal.Seorang pedagang tua yang sudah tiga puluh tahun berjualan di tepi dermaga itu menutup lapaknya pagi itu untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun yang mengenalnya.Ia menurunkan penutup kayu perlahan.Gerakannya tidak terburu-buru, tapi pasti.S
Bola energi gelap itu tiba-tiba terpental balik dengan kecepatan dua kali lipat, meluncur kembali ke arah Han Yelou yang masih berdiri dengan tangan terangkat.Wraaak!Bola energi itu menghantam dada Han Yelou dengan kekuatan penuh. Tubuhnya terlempar ke belakang seperti layangan putus, melayang di
Rong Tian menatap tangannya sendiri, sebuah tangan yang tampak muda dan tanpa cela. Tangan ini, yang kini terasa asing, telah melintasi lima abad tanpa ia sadari sedikit pun.Tubuh yang ia tempati sekarang telah melompati waktu begitu jauh, sebuah kenyataan yang sulit dicerna. Perasaan disorientasi
Rong Tian masih berdiri diam. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Ia hanya menatap Elder itu dengan tatapan datar, seperti menatap sesuatu yang membosankan.Di dalam hatinya, ia bahkan sedikit merasa lucu."Elder Jiwa Muda awal," gumamnya dalam hati sambil mengamati aura yang mengepul dari tu
Balai utama Desa Heishan terasa seperti sebuah kuburan yang dingin, bukan tempat pertemuan para ahli.Udara di dalamnya berat, dipenuhi keheningan yang menyesakkan, hanya sesekali dipecahkan oleh desahan samar atau gesekan kain.Suara pertemuan yang seharusnya penuh semangat justru terdengar sepert







