Mag-log inSaat itu, Gadis yang lebih tua menarik tangan adiknya sekuat tenaga, jari-jarinya mencengkeram erat dalam keputusasaan. Kakinya mulai goyah, terasa berat dan lemah, tapi ia tidak berani berhenti berlari sedikit pun.
"Sedikit lagi!" teriaknya sambil terus berlari, napasnya terengah-engah di tengah hutan yang gelap. "Desa Heishan sudah dekat! Bertahanlah!"
Tapi harapan itu sirna seketika saat sepuluh bayangan hitam pekat turun dari dahan pohon, muncul entah dari mana. Mereka mendarat ringan di depan mereka, memblokir jalan setapak sepenuhnya.
Jubah gelap yang mereka kenakan menampilkan simbol kelelawar merah darah di dada, sebuah lambang yang mengerikan.
Lima pemuda berdiri kokoh di depan, dan lima lainnya di belakang, membuat mereka terkepung sempurna tanpa celah untuk melarikan diri.
Gadis yang lebih tua berhenti paksa, tubuhnya menegang karena terkejut. Ia mendorong adiknya ke belakangnya dengan cepat, sebuah naluri melindungi yang kuat, dan tangannya gemetar hebat.
Salah satu pemuda di tengah tertawa kecil, sebuah suara yang dingin dan meremehkan. Wajahnya tampan namun matanya penuh nafsu yang menjijikkan.
"Lari ke mana lagi, Nona?" tanyanya sambil melangkah maju perlahan, langkahnya mengancam. "Kalian sudah berlari satu jam penuh. Lelah, kan?"
Pemuda lain ikut tertawa sambil menyeret pedang hitamnya di tanah, menciptakan bunyi gesekan tajam yang bikin bulu kuduk merinding. Suara itu menusuk ke tulang.
"Kami sudah bilang dari tadi," ucapnya dengan nada main-main, seolah ini adalah sebuah permainan kejam. "Kalian tidak akan bisa kabur. Kenapa susah-susah lelahkan diri sendiri?"
"Lebih baik dari tadi menyerah," tambah pemuda ketiga sambil menjilat bibirnya, sebuah gerakan yang menjijikkan. "Kami janji akan melakukannya dengan lembut."
Tawa mesum bergema di antara pepohonan, memecah keheningan hutan. Sepuluh pemuda itu saling pandang dengan seringai penuh arti, berbagi niat jahat.
Gadis yang lebih muda gemetar hebat, tubuhnya bergetar tak terkendali. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang pucat.
"Kakak, aku takut," bisiknya dengan suara bergetar, penuh ketakutan yang mendalam.
Gadis yang lebih tua memeluk adiknya erat, mencoba memberikan sedikit perlindungan. Matanya menatap kearah sepuluh pemuda itu dengan campuran takut dan marah yang yang dibuat-buat berani.
"Kalian dari sekte besar," ucapnya dengan suara bergetar, mencoba menunjukkan keberanian. "Kenapa kalian berniat lakukan hal keji ini?"
Salah satu pemuda tertawa keras, suaranya menusuk telinga.
"Ap? Keji?" Ia menggelengkan kepala, seolah tak percaya dengan pertanyaan itu. "Nona cantik, di dunia ini yang kuat yang menang. Itu saja."
"Dan kami kuat," tambah pemuda lain sambil menyalakan api merah di telapak tangannya, sebuah demonstrasi kekuatan yang menakutkan. "Kalian lemah. Jadi kalian milik kami."
"Lagipula," ucap pemuda ketiga dengan senyum miring, penuh penghinaan, "di era Dewa Benua ini, sekte ortodoks seperti kalian tidak lebih dari rumput liar. Kami bisa lakukan apa saja."
Pemuda yang paling angkuh melangkah maju, memancarkan aura dominasi yang jelas.
"Sekte Bayangan Yin memang dulu sekte iblis yang punya aturan ketat," katanya santai, seolah membicarakan hal sepele. "Tapi itu dulu. Di masa pimpinan lama yang sudah mati ratusan tahun lalu."
"Sekarang tidak ada lagi aturan konyol itu," tambah pemuda bersuara rendah dan dingin, suaranya penuh ancaman. "Sekarang era Dewa Benua. Kami bebas lakukan apa pun."
Dua pemuda di belakang sudah melepas ikat pinggang jubah mereka, sebuah tindakan yang sangat mengancam.
"Sudah cukup bicara," ucap salah satu dari mereka, suaranya tidak sabar. "Aku sudah tidak sabar."
Dua pemuda bergerak cepat, menerkam dengan brutal. Mereka menangkap tangan kedua gadis dengan kasar, lalu menarik mereka ke tengah lingkaran.
"Lepaskan!" teriak gadis yang lebih tua sambil mencoba melawan, meronta dengan sekuat tenaga.
Tapi salah satu pemuda menampar pipinya keras, bunyi tamparan nyaring bergema. Pipi gadis itu langsung merah membengkak.
"Diam," ucapnya dingin, suaranya penuh otoritas kejam.
Gadis yang lebih muda menjerit ketakutan, suaranya pecah. Seorang pemuda memegang kedua tangannya dari belakang, memaksa gadis itu berlutut di tanah.
"Berisik," ucap pemuda itu sambil menutup mulut gadis dengan tangannya, membungkamnya. "Kalau tidak diam, aku potong lidahmu."
Gadis yang lebih tua juga dipaksa berlutut, tak berdaya. Salah satu pemuda mengikat kedua tangannya di belakang punggung dengan tali, sebuah ikatan yang kuat. Tali itu diikat kuat hingga pergelangan tangannya memerah kesakitan.
Sepuluh pemuda mengelilingi dua gadis itu, seperti serigala buas mengelilingi mangsa yang tak berdaya.
Salah satu pemuda berjongkok di depan gadis yang lebih tua. Tangannya mengangkat dagu gadis itu paksa, memaksanya menatap.
"Tatap aku," perintahnya dengan senyum menjijikkan, penuh kekejaman. "Aku mau lihat mata cantikmu saat kau menangis nanti."
Tangannya bergerak ke kerah jubah gadis itu, sebuah sentuhan yang meresahkan. Dengan satu tarikan kasar, kerah itu robek, kancing-kancing jatuh berserakan di tanah. Bahu putih gadis itu terlihat, terekspos.
Gadis itu menjerit, sebuah suara yang penuh teror.
"Jangan! Jangan sentuh aku!" teriaknya sambil mencoba menggerakkan tubuhnya yang terikat.
Pemuda itu tertawa, sebuah tawa yang kejam dan memuaskan.
"Terlambat, Nona," ucapnya sambil menarik jubah itu lagi, memperparah kerusakannya.
Jubah gadis itu makin terbuka, memperlihatkan lebih banyak kulit. Bagian atas dadanya mulai terlihat, menambah kengerian.
Di sebelah, dua pemuda lain merobek pakaian gadis yang lebih muda, dengan gerakan brutal. Gadis itu menangis keras tapi mulutnya ditutup paksa, suaranya teredam.
"Mmph! Mmph!"
"Ssshhh," bisik salah satu pemuda di telinganya, suaranya dingin dan mengancam. "Diam saja."
Jubah putih gadis itu robek hingga hampir terbuka semua, hanya pakaian dalam tipis yang masih menutupi tubuhnya. Gadis itu gemetar hebat, tubuhnya bergetar tak terkendali.
Salah satu pemuda menjilat bibirnya sendiri, matanya penuh nafsu yang tak terkendali.
"Kulitnya benar putih seperti salju," ucapnya dengan nada penuh nafsu, sebuah pujian yang mengerikan.
"Jangan rusak dulu," ucap pemuda yang paling angkuh, suaranya tenang namun penuh otoritas. "Kita masih punya waktu panjang."
Pemuda lain menggerakkan api merah di tangannya dekat pipi gadis yang lebih muda, sebuah ancaman yang nyata. Gadis itu bisa merasakan panasnya yang membakar.
"Kalau kau berontak," ancamnya dengan suara dingin, "aku bakar wajahmu."
Gadis itu menggelengkan kepala cepat, sebuah tanda kepatuhan yang menyakitkan. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya.
Gadis yang lebih tua melihat adiknya diperlakukan seperti itu, hatinya hancur berkeping-keping.
"Hentikan! Kalian brengsek!" teriaknya dengan suara penuh amarah dan putus asa, sebuah perlawanan terakhir.
Pemuda yang memegang rambutnya tertawa, sebuah tawa yang kejam.
"Brengsek?" Ia menarik rambut gadis itu hingga kepalanya mendongak ke atas, memaksanya menatap. "Terima kasih pujiannya."
Bersambung
Energi di dalam zona tidak bergerak seperti arus laut biasa yang mengalir ke satu arah.Ia berputar.Tidak hanya di permukaan. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas sekaligus. Pusaran kecil muncul dan hilang di berbagai titik, saling bertaut seperti bagian dari satu sistem raksasa yang sudah berumur sangat tua.Permukaan laut terlihat tenang dari jauh.Namun di bawah kabut, energi itu berputar tanpa henti.Seperti ribuan roda kecil yang bekerja bersama dalam satu mekanisme yang tidak terlihat."Ini bukan formasi buatan," katanya pelan kepada dirinya sendiri.Tangannya segera menarik Qi yang ia kirim ke dalam zona sebelum pusaran di depannya menyerapnya lebih jauh."Terlalu besar," gumamnya.Ia menatap pusaran yang berputar di bawah kapal."Dan terlalu tidak beraturan untuk
Kapal nomor tiga berbalik.Ketegangan turun satu tingkat.Namun tidak hilang.Dari tepi Pulau Karang Merah, Zhao Wuchen menyaksikan semua itu dengan tangan terlipat di dada.Di sebelahnya, Master Lan Qiyue berdiri diam.Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja melihat percikan api mendekati bubuk mesiu."Hampir," kata pemimpin regu Zhao Wuchen.Nada suaranya masih tegang."Hampir sekali.""Hampir akan menjadi semakin dekat setiap hari," jawab Zhao Wuchen pelan.Ia menatap dua armada yang kini hanya menjadi bayangan di kejauhan."Sampai suatu hari seseorang tidak cukup sabar."Pemimpin regu itu menghela napas."Kalau kedua kekaisaran itu akhirnya saling tembak di sini..."Ia menelan ludah.
"Mereka pergi ke mana sebenarnya?" tanya nelayan muda itu.Nelayan tua di sampingnya tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir teh dan menghirupnya perlahan sebelum berbicara."Ke tempat yang tidak seharusnya dimasuki kapal perang," katanya akhirnya.Ia menatap laut yang tertutup kabut tipis di kejauhan."Dan mereka tahu itu."Nelayan muda itu mengerutkan kening."Kalau tahu, kenapa tetap pergi?"Nelayan tua itu menghela napas pendek."Karena yang di seberang juga tahu dan tetap pergi."Ia menunjuk samar ke arah laut."Begitulah cara dua kekaisaran bekerja."Ia meneguk tehnya lagi."Mereka tidak bisa berhenti sebelum yang satunya berhenti lebih dulu."Beberapa nelayan lain di warung itu ikut mendengar percakap
"Aku mengirim orang yang cukup kuat untuk pengintaian," balas Kaisar dengan nada keras.Ia menatap Takeda Raigen lurus."Dan tidak cukup penting untuk menjadi alasan perang jika sesuatu terjadi."Ia berhenti sebentar."Kau siapkan dirimu untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari pengintaian."Takeda Raigen tidak menjawab.Namun ia memahami satu hal.Sejak sebelum rapat ini dimulai, Kaisar sudah memikirkan skenario yang jauh lebih besar dari sekadar mengirim kapal pengintai.Di Cheonsang, surat dengan isi hampir sama tiba dari arah yang berbeda.Kaisar Seonghwa Jinmu membacanya sambil duduk.Ia membaca perlahan. Setiap baris diperiksa dengan tenang.Ketika selesai, ia menutup surat itu dan meletakkannya menghadap bawah di meja.Ia memang
Surat Lu Wenqing tiba di Pelabuhan Shiranami dalam waktu empat hari.Pelabuhan itu tidak seperti biasanya.Di dermaga utama, dua dari tiga lapak ikan yang biasanya buka sejak fajar sudah tutup sejak dua hari lalu. Papan kayu yang biasa penuh ikan segar kini kosong, hanya menyisakan noda air laut yang mengering di permukaan.Kapal-kapal nelayan yang biasanya memenuhi dermaga kecil di sisi timur kini hanya tersisa setengahnya. Ruang kosong di antara perahu-perahu yang masih bertahan terlihat seperti gigi yang rontok.Beberapa tali tambat bahkan masih tergantung tanpa kapal.Seorang pedagang tua yang sudah tiga puluh tahun berjualan di tepi dermaga itu menutup lapaknya pagi itu untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun yang mengenalnya.Ia menurunkan penutup kayu perlahan.Gerakannya tidak terburu-buru, tapi pasti.S
Lu Wenqing berjalan melalui semua itu dengan langkah yang tidak tergesa dan mata yang mencatat segalanya.Ia bukan kultivator kuat. Tingkat kultivasi Lu Wenqing hanya cukup untuk memperpanjang hidupnya beberapa puluh tahun lebih dari manusia biasa dan menjaga kesehatannya dalam kondisi perjalanan laut yang keras. Kekuatannya bukan di Qi atau teknik tempur.Kekuatannya adalah jaringan."Kau mendengar tentang pembantaian di dermaga?" tanya seorang pedagang kepadanya saat mereka berpapasan di depan sebuah warung."Aku mendengar tentang catatan kuno dan cahaya dari kedalaman laut," jawab Lu Wenqing sambil ia berhenti sebentar dengan wajah yang terlihat tertarik namun tidak terlalu tertarik. "Seperti yang semua orang dengar.""Menurutmu itu nyata?" tanya pedagang itu."Menurutku," kata Lu Wenqing sambil sudut bibirnya bergerak sedikit, "apakah nyata atau tidak, ti
Balai utama Desa Heishan terasa seperti sebuah kuburan yang dingin, bukan tempat pertemuan para ahli.Udara di dalamnya berat, dipenuhi keheningan yang menyesakkan, hanya sesekali dipecahkan oleh desahan samar atau gesekan kain.Suara pertemuan yang seharusnya penuh semangat justru terdengar sepert
Rong Tian masih berdiri diam. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Ia hanya menatap Elder itu dengan tatapan datar, seperti menatap sesuatu yang membosankan.Di dalam hatinya, ia bahkan sedikit merasa lucu."Elder Jiwa Muda awal," gumamnya dalam hati sambil mengamati aura yang mengepul dari tu
Rong Tian menatap tangannya sendiri, sebuah tangan yang tampak muda dan tanpa cela. Tangan ini, yang kini terasa asing, telah melintasi lima abad tanpa ia sadari sedikit pun.Tubuh yang ia tempati sekarang telah melompati waktu begitu jauh, sebuah kenyataan yang sulit dicerna. Perasaan disorientasi
Balai utama Desa Heishan adalah bangunan bergaya paviliun besar dengan tiang-tiang merah tua yang kokoh. Atapnya melengkung dengan sudut-sudut timur yang khas, dihiasi lampion-lampion merah yang berderet rapi.Tirai sutra putih bergetar pelan karena angin malam yang menyelinap masuk. Meja-meja kayu







