LOGINLiang Cheng mengetukkan jari pada gagang pedang. “Berikan perintah. Pengawal Langit bisa memotong jalurnya sebelum ia mencapai Gunung Xuandu.”Seorang pejabat sok netral mengusap janggut. “Bakar suratnya, lalu biarkan namanya mati seperti asap. Jika istana tidak menjawab, siapa yang berani berkata surat itu pernah ada?”Xu Changhe menatapnya. “Asap sudah sampai ke rumah teh sebelum api kalian padam.”Ruangan itu berhenti bernapas sejenak. Pejabat sok netral tadi menunduk, dan seorang penjilat yang sudah membuka mulut untuk menambah hinaan segera meminum teh.Zhao Mingde menyipitkan mata. “Perdana Menteri Agung terlalu meninggikan orang liar.”“Orang liar tidak membuat tiga jalur pos, dua rumah pengawal, dan lima rumah teh menyebut nama yang sama dalam satu hari,” jawab Xu Changhe. “Orang liar tidak menulis surat ya
Duan Heng yang tadi menjilat tidak berani mengangkat kepala.Kurir ketiga masuk dengan lutut menabrak lantai. “Pemimpin Paviliun, satu paket obat sudah masuk jalur Xuefeng Du. Tanda luarnya biasa, tetapi beberapa penjaga luar berkata ada surat di dalamnya.”He Yuanji menatap abu di anglo. Baru saat itu ia sadar, benda yang terbakar di depannya bukan jalan Rong Tian, melainkan lentera yang sengaja diletakkan agar semua mata Paviliun Perak Langit menatap tempat yang salah.Duan Heng berbisik, “Paviliun sudah membakar suratnya, Tuan.”He Yuanji meletakkan cawannya. “Kita membakar surat yang ia izinkan untuk kita bakar.”Dari luar pintu, kurir ketiga menunduk lebih rendah, suaranya nyaris pecah. “Tuan, Xuefeng Du sudah membaca tantangannya.”+++Gerbang luar Xuefeng Du tidak pernah benar-benar s
Duan Heng segera menunduk lebih rendah. “Pemimpin Paviliun benar. Karena itu kami sudah menutup dua jalur lain.”Saat ia selesai bicara, kurir kedua masuk dengan lutut berdebu. Ia membawa surat palsu kedua yang ditemukan di rumah pengawal kecil sebelum dilepas ke jalur burung pesan.He Yuanji membaca surat kedua. Kali ini senyumnya lebih jelas, karena surat itu lebih sombong, lebih keras, dan lebih mudah dijadikan bukti bahwa Tuan Jubah Putih hanyalah pendekar liar dari barat.“Bakar,” katanya.Duan Heng mengambil penjepit besi, menahan surat pertama di atas anglo. Kertas menghitam, menggulung, lalu jatuh menjadi abu kecil yang melayang sebentar sebelum tenggelam di bara.Surat kedua menyusul. Bawahan muda yang tadi menjilat tersenyum lebar seolah dirinya yang mengalahkan Rong Tian.“Paviliun Perak Langit sudah membakar dua surat
Lampu minyak di kamar penginapan kecil itu menyala rendah, cukup untuk menerangi meja kayu yang permukaannya penuh bekas pisau. Di luar jendela, roda gerobak malam melewati jalan batu wilayah barat Benua Longhai, membawa suara kasar yang sebentar muncul lalu tenggelam bersama angin.Rong Tian duduk tanpa jubah kebesaran, hanya pakaian putih sederhana yang ujung lengannya sudah menyimpan debu perjalanan. Di hadapannya ada lima lembar kertas berbeda mutu, dua batang kuas, satu batu tinta, tiga segel kecil tanpa lambang keluarga, dan sebuah keranjang obat yang mengeluarkan bau akar pahit.Ia menulis surat pertama dengan tekanan kuas kasar. Kalimatnya dibuat tajam, terlalu berani, dan cukup bodoh untuk membuat mata-mata mana pun merasa telah menemukan jalan leher musuh.Surat kedua memakai segel yang sengaja ditekan tidak sempurna. Di salah satu sudut, ia membiarkan bercak tinta kecil seperti kesalahan orang gugup yang menulis terlalu cepat sebelum dikejar.Surat ketiga lebih halus. Di da
Guo Wenliang menatap tabung bambu kosong. “Lalu surat itu sendiri bagaimana, Tuan Rong?”Rong Tian menyentuh kertas pendek yang ditulis malam sebelumnya. “Ini belum surat tantangan penuh.”Beberapa wajah berubah. Cheng Yuwen yang paling dulu memahami mengangkat mata. “Jadi hari ini bukan pengiriman.”“Bukan.”Han Beitang berkata, “Persiapan jalur.”Rong Tian mengangguk. “Surat asli belum bergerak. Tiga bayangan surat juga belum bergerak. Hari ini kita memilih jalur, bukan membuka isi.”Qiao Shiren langsung mencondongkan tubuh. “Tiga bayangan surat? Kalau sampai ada surat palsu, bukankah itu justru membahayakan wilayah barat?”Luo Chenghai menoleh kepadanya. “Yang membahayakan wilayah barat adalah orang yang pura-pura takut surat palsu, tetapi berhara
Di rumah teh, Rong Tian melipat rancangan surat itu tanpa segel. Tabung bambu kosong diletakkan di meja seperti benda biasa, tetapi semua orang yang melihatnya paham benda itu lebih mengganggu daripada pedang terhunus.Surat itu belum dikirim. Justru karena belum dikirim, Paviliun Perak Langit dipaksa menghabiskan malam dengan menebak isi, arah, dan waktu yang belum Rong Tian buka.Pagi berikutnya, Rumah Teh Seruling Senja tidak lagi cocok menjadi tempat pembicaraan. Banyak mata menempel di jendela, dan terlalu banyak telinga berpura-pura sibuk dengan cangkir teh.Pei Shouyuan membuka halaman dalam Balai Angin Senja. Rumah pengawal besar itu memiliki dua gerbang samping, tembok batu setinggi tiga orang, dan cukup banyak penjaga untuk membuat pengintai berpikir ulang sebelum mencoba mendekat.Di halaman itu berkumpul orang-orang yang beberapa hari terakhir dipaksa menentukan sikap. Han Beitang datang
Biarawati Thunder menarik pedangnya dengan gerakan yang sangat cepat. "Empat," katanya sambil menghitung dengan nada yang sangat santai seolah sedang menghitung buah di pasar."Satu lagi. Kemana kau mau lari, sampah?"Pria kelima sudah berlutut dengan tubuh gemetar hebat. "Ampun," mohonnya dengan s
Ma Cheng bangkit perlahan dengan kaki yang masih gemetar. "Aku dulunya tidak percaya cerita tentang kultivator abadi," katanya sambil menatap Rong Tian dengan mata yang penuh kekaguman. "Sekarang aku tahu mereka ada. Dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."Liu An berbicara dengan nada yan
Jarum itu jatuh ke bawah dengan tidak berdaya seperti kehilangan semua kekuatan yang mendorongnya, seperti kehilangan semua energi spiritual yang memberinya kekuatan.Kawat Qi tersembunyi Kael meluncur dengan sangat cepat, tetapi berhenti mendadak tepat di depan Rong Tian. Seolah menabrak dinding i
Kemudian, Liu An tiba-tiba menahan napas. Matanya melebar menatap ke bawah dengan tatapan yang sangat terkejut."Kapten," katanya dengan suara yang hampir berbisik karena tidak percaya. "Lihat itu."Gu Han menoleh cepat, mengikuti arah pandangan Liu An. Matanya langsung menyipit melihat pemandangan







