LOGINBenturan pertama tertahan di antara dua hukum, menekan ruang sampai rambut para saksi bergerak mundur dan tepi lengan jubah mereka menempel ke tubuh. Bau batu panas naik dari retakan lantai, bercampur dengan getah pinus yang pecah dari batang tua di sisi pelataran.Di lantai pelataran, retakan memanjang dari titik benturan sampai pilar batu paling dekat. Garis itu berhenti tepat sebelum mencapai kaki seorang murid kecil, seolah kehendak pedang Rong Tian sengaja menutup jalannya di sana.Murid itu menatap retakan di depan sepatunya. Wajahnya kehilangan warna, dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia mengerti bahwa satu tebasan Abadi bukan sesuatu yang bisa dibicarakan dengan bahasa ujian sekte.Di antara para saksi, beberapa orang yang dulu meragukan Rong Tian kini tidak lagi berani mengangkat wajah terlalu tinggi. Mereka pernah mengira Tuan Jubah Putih hanyalah orang luar yang pandai mempermalukan sekte kecil, tabib, for
Chen Shouyi menurunkan kuas ke lembar catatan baru, tetapi tangannya berhenti sesaat sebelum tinta menyentuh bambu. Ia memandang orang-orang yang masih berlutut, lalu mereka yang berdiri dengan ragu, dan akhirnya menulis perlahan bahwa Dewa Perak tidak kehilangan kekuatan, tetapi hari ini jarak sucinya mulai retak di depan banyak saksi.Zhang Qingshan membaca perubahan itu dari wajah para murid Sekte Gunung Xuandu. Sebagian masih gemetar di bawah tekanan cahaya perak, sebagian terpaku pada Rong Tian yang tidak menunduk, dan beberapa mulai memahami bahwa arena di depan mereka tidak lagi sepenuhnya milik satu sekte, satu kekaisaran, atau satu hukum lama.Jin Xuanwei juga melihat perubahan kecil itu. Tatapannya berhenti lebih lama pada Rong Tian, lalu suaranya turun dengan ketenangan yang membuat para saksi di bawah tangga kembali menahan napas. “Kau membuat saksi terlalu banyak.”“Agar dunia punya cukup m
Liang Cheng masih berdiri di depan pasukannya. Harga dirinya baru saja jatuh bersama formasi Tentara Serigala Perak, tetapi ketika cahaya perak muncul di langit, wajahnya mengangkat kembali seolah ia menemukan tiang untuk menyandarkan malu.“Yang Mulia datang,” bisiknya.Ucapan itu menyebar lebih cepat daripada perintah militer. Beberapa prajurit muda Tentara Serigala Perak langsung berlutut, bukan karena disuruh, tetapi karena sejak kecil mereka dibesarkan untuk percaya bahwa Dewa Perak tidak turun ke dunia fana untuk urusan kecil.Di barisan saksi, seorang tetua sekte kecil ikut menekuk lutut. Murid di belakangnya ragu, menatap gurunya, lalu menunduk setengah badan karena takut tampak kurang hormat.Namun tidak semua orang berlutut. Pengawal dari Balai Angin Senja tetap berdiri dengan tangan menahan gagang pedang, sedangkan beberapa murid Akademi Linchuan hanya menoleh kepada Chen Shouy
Rong Tian memandang formasi di bawah. Ia melihat panji utama, tiga genderang kecil di sisi kiri, perwira pembawa papan perintah, dan prajurit muda di baris depan yang telapak tangannya mulai basah di gagang tombak.“Pasukanmu datang untuk membuat saksi takut,” kata Rong Tian.“Pasukan saya datang menjaga hukum.”“Kalau hukum harus dibawa naik gunung dengan tombak, berarti hukum itu tidak sanggup berdiri dengan kakinya sendiri.”Wajah Liang Cheng menegang. Tangannya naik, dan tiga genderang kecil di sisi kiri langsung menyambut gerak itu dengan ketukan yang rapat.Formasi Tentara Serigala Perak bergerak seperti pintu besi yang menutup. Barisan pertama menurunkan tombak sampai ujungnya menutup jalur tangga, barisan kedua menyilang dari dua sisi, sementara barisan ketiga merapatkan sudut agar siapa pun yang hendak turun dari pelataran harus melewa
Pagi di Gunung Xuandu belum sepenuhnya terang ketika kabar tentang pasukan kekaisaran naik dari jalur bawah. Kabut masih menggantung di antara pinus tua, menyentuh atap paviliun seperti kain basah, sementara halaman batu Sekte Gunung Xuandu sudah dipenuhi saksi dari berbagai faksi.Gunung itu bukan lagi sekadar tanah tinggi yang dijaga Sekte Gunung Xuandu. Sejak Rong Tian memilih tempat ini sebagai arena, setiap tangga, lonceng, pilar batu, dan jalur pinus berubah menjadi mata yang menunggu peristiwa besar.Zhang Qingshan berdiri di tangga utama dengan wajah berat. Di sisi kiri, Biksu Mingyuan memutar tasbih kayu perlahan, sedangkan Chen Shouyi dari Akademi Linchuan menahan kuas kecil di atas lembar catatan, belum berani menurunkan satu goresan pun.Di jalur samping, beberapa murid sekte kecil mulai goyah. Mereka datang karena ingin melihat bagaimana Tuan Jubah Putih menantang nama Dewa Perak, tetapi saat mendengar Tentara Serigala Perak bergerak menuju kaki gunung, keberanian yang la
Bunyi rendah itu menyentuh dada orang-orang di pelataran. Asap dupa naik perlahan, tidak lurus seluruhnya karena angin gunung, tetapi juga tidak pecah.Biksu Mingyuan menatap Rong Tian. “Jika hatimu membawa pembantaian, asap dupa ini akan pecah.”Rong Tian berdiri di tengah lingkar dupa. “Kalau asap pecah, saya turun dari gunung.”Jawaban itu membuat sebagian orang diam. Ia tidak membela diri, tidak meminta belas, dan tidak meminjam nama siapa pun untuk menekan saksi.Penjilat Klan He berbisik, “Biara Tiantai tidak bisa ditipu. Jika hatinya gelap, hari ini semua orang akan melihat.”Utusan istana menambahkan, “Orang yang terlalu tenang sering menyimpan niat paling berat.”Asap dupa mendekati Rong Tian. Ujung jubah putihnya bergerak perlahan, bukan karena tekanan besar, melainkan karena angin gunung turun melewat
Pemimpin Bayangan tiba-tiba mendekat, wajahnya yang tersembunyi di balik tudung kini sangat dekat dengan wajah Lin Tao. Aura dingin yang keluar dari tubuhnya membuat Lin Tao merasa seperti tenggelam di danau es."Atau," ucap Pemimpin Bayangan dengan suara yang sangat pelan, namun sangat jelas dan s
Lan Fen menatap Lin Tao dengan tatapan yang sangat dingin."Dan kemarin," ucap Lan Fen, "sebelum Tuan Lin pergi ke markas kami untuk memesan jasa pembunuhan, Tuan Lin mengatakan kepada saya bahwa Tuan Lin akan membuat pemuda berjubah putih itu membayar. Bahwa Tuan Lin akan menyewa Persekutuan Bulan
Tie Hao bergerak pertama kali tanpa basa-basi.Tidak ada peringatan, tidak ada persiapan yang terlihat oleh mata biasa. Tubuhnya yang kekar melesat maju seperti batu yang dilempar dari ketapel raksasa, tinjunya terayun ke arah dada Rong Tian dengan kekuatan mematikan. Tinju itu diperkuat Qi yang pa
Gerbang Makam Pedang Kekaisaran berdiri kokoh di antara dua tebing curam yang menjulang bagai dua raksasa penjaga. Batu pucat yang membentuk gerbang itu telah aus oleh waktu, permukaannya penuh retakan halus bagai jejak usia yang tak terbantahkan.Simbol-simbol pedang yang diukir di sana nyaris tak







