Share

Sang Penyelamat.

Author: Jimmy Chuu
last update publish date: 2025-12-07 23:49:43

Pemuda di depan gadis yang lebih tua mulai melepas ikat pinggangnya, gerakannya lambat dan disengaja. Tali itu terlepas perlahan, sebuah suara kecil yang memecah keheningan, dan jubah gadis itu makin terbuka.

Buah dada gadis itu tampak sedikit menyembul, menimbulkan hawa nafsu si pemuda.

"Sebentar lagi kita mulai," ucapnya sambil menjilat bibirnya, tatapan matanya penuh birahi yang menjijikkan.

Gadis itu menutup mata rapat, menolak melihat kekejian yang akan terjadi. Ia tidak mau melihat, tidak mau merasakan, dan dalam hatinya ia hanya bisa berdoa memohon keajaiban.

Sepuluh pemuda itu tertawa puas, suara tawa mereka memecah kesunyian hutan yang mencekam. Mereka sudah siap memulai ritual keji mereka, tak ada keraguan.

Tapi saat itu, di tengah kegelapan hutan, sebuah suara tenang dan tak terduga terdengar dari balik pepohonan.

"Ngomong-ngomong, kalian sedang apa anak muda?"

Suara itu tidak keras, tidak pula berteriak, namun terdengar jelas memecah tawa mesum mereka yang baru saja menggema.

Sepuluh pemuda itu seketika berhenti, tawa mereka terhenti di tenggorokan. Mereka menoleh serentak ke arah sumber suara, mata mereka mencari-cari.

Seorang pemuda berjalan tenang keluar dari balik pohon magnolia, siluetnya muncul dari bayangan. Rambut hitam panjang terurai bebas, membingkai wajah tampan dengan garis tegas dan mata hitam tajam yang penuh misteri.

Jubah putih polosnya sedikit kotor tanah, pakaiannya sederhana, hampir seperti pakaian orang mati yang baru keluar dari makam, namun memancarkan yang aura tak biasa.

Pemuda itu berdiri beberapa meter dari mereka, mengamati pemandangan di depannya dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Dua gadis berlutut tak berdaya dengan baju robek dan wajah basah air mata, dikelilingi sepuluh pemuda dengan senyum mesum yang mengerikan.

Matanya turun, berhenti pada simbol kelelawar merah darah yang terbordir di jubah para pemuda itu, sebuah tanda pengenal.

"Sekte Bayangan Yin," ucapnya pelan.

Ada sesuatu yang aneh dalam nada suaranya, sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan amarah yang membara, bukan pula rasa jijik yang kentara, melainkan kekecewaan mendalam yang tersirat.

Salah satu pemuda berdiri tegak, memancarkan aura angkuh. Ia menatap pemuda berjubah putih itu dari atas ke bawah, menilai dengan tatapan meremehkan.

"Siapa kau? Mengapa memanggil kami anak muda, sementara kamu sendiri seorang anak muda?" tanyanya dengan nada meremehkan, penuh ejekan.

Pemuda berjubah putih itu tidak langsung menjawab, membiarkan keheningan sesaat. Ia menatap dua gadis itu sebentar, dan gadis yang lebih tua membuka matanya, menemukan harapan tipis di sana.

Lalu pemuda itu menatap kembali sepuluh orang di hadapannya.

"Sekte Bayangan Yin," ucapnya dengan nada tenang namun ada tekanan halus di dalamnya, "dulu adalah sekte iblis yang punya kehormatan. Meski jalan mereka gelap dan kejam, ada batasan yang tidak boleh dilanggar oleh anggotanya."

Ia diam sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih dingin.

"Memaksa gadis tidak berdosa dan lemah adalah salah satu batasan suci itu yang kini kalian langgar."

Salah satu pemuda tertawa, sebuah tawa yang mengejek.

"Dulu?" Ia menyeringai. "Kau bicara tentang masa lalu? Tahu apa kamu?" cemooh pemuda itu.

"Pimpinan lama kami sudah mati ratusan tahun lalu," tambah pemuda lain dengan nada mengejek. "Aturan konyol itu ikut mati bersamanya."

"Sekarang era Dewa Benua," ucap pemuda ketiga. "Kami bisa lakukan apa pun."

Pemuda berjubah putih itu menatap mereka diam, tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya.

Namun, ada sesuatu dalam tatapan matanya yang dingin dan tajam, membuat sepuluh pemuda itu sedikit tidak nyaman, seolah mereka sedang dihakimi. “Ratusan tahun? Apakah aku tertidur ratusan tahun lamanya?” batin si baju putih.

Sekejab berlalu …

"Lepaskan mereka," ucap pemuda itu. Suaranya masih tenang.

Keheningan sebentar.

Lalu sepuluh pemuda itu tertawa, sebuah ledakan tawa yang keras dan mengejek. Tawa itu bergema di seluruh hutan, memecah kesunyian malam.

Salah satu pemuda tertawa paling keras.

"Lepaskan mereka?" Ia menepuk tangannya pelan. "Kau dengar itu? Dia suruh kami melepaskan mainan kami!" ekspresinya terlihat merasa lucu.

"Kau pikir kau siapa?" tanya pemuda lain sambil menyeringai.

"Pahlawan sok suci?" tambah pemuda ketiga dengan nada meremehkan.

Tawa mereka makin keras, penuh remeh dan nafsu yang menjijikkan.

Pemuda berjubah putih itu tetap diam, wajahnya datar tanpa ekspresi sedikit pun. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan dingin yang sulit dibaca, sebuah ketenangan yang mengganggu.

"Brengsek!"

Salah satu pemuda melangkah maju dengan geram, wajahnya merah padam karena amarah yang memuncak. Jari telunjuknya menunjuk agresif ke arah pemuda berjubah putih itu.

"Kau pikir kau siapa? Berani menceramahi kami?" bentaknya dengan suara keras.

Pemuda berjubah putih itu tidak menjawab, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. Ia hanya menatap sepuluh orang di hadapannya dengan tatapan datar, tanpa amarah atau kebencian di wajahnya, hanya ketenangan aneh yang membuat mereka semakin jengkel dan gelisah.

"Lihat dia," ucap pemuda lain sambil tertawa mengejek. "Tidak ada aura kultivasi dari tubuhnya. Sepertinya hanya orang biasa yang sok jadi pahlawan."

"Atau kultivator lemah yang baru Tahap Awal," tambah pemuda ketiga sambil menyeringai. "Berani lawan kami yang semua sudah Tahap Fondasi akhir?"

Pemuda berjubah putih itu diam sebentar, membiarkan ejekan mereka berlalu. Ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang sulit dibaca, lalu ia berbicara dengan nada tenang.

"Aku minta kalian lepaskan dua gadis itu. Mereka tidak bersalah."

Bukan perintah. Bukan ancaman. Hanya permintaan tenang.

Tapi kata-kata itu justru membuat sepuluh pemuda itu makin marah.

Pemuda yang paling angkuh maju selangkah.

"Kau minta?" Ia menyeringai lebar. "Kau pikir dengan minta sopan, kami akan dengar?"

"Bodoh sekali," ucap pemuda bersuara rendah sambil menatap dengan tatapan dingin. "Di dunia kultivasi, permintaan sopan tidak ada artinya. Yang ada hanya kekuatan."

Dua pemuda saling pandang. Mereka tersenyum sinis.

"Aku rasa kita dapat hiburan tambahan," ucap salah satu dari mereka. "Setelah selesai dengan dua gadis ini, kita bunuh dia juga."

"Bagus," sahut yang lain. "Lama tidak bunuh orang. Tanganku sudah gatal."

Dua gadis yang masih berlutut di tanah menatap pemuda berjubah putih itu dengan tatapan campur aduk, antara harapan tipis dan ketakutan yang mendalam. Mereka tidak mau pemuda ini mati sia-sia karena mencoba menolong mereka, sebuah pengorbanan yang tak diinginkan.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Mereka yang Bergerak Sendiri

    Kapal nomor tiga berbalik.Ketegangan turun satu tingkat.Namun tidak hilang.Dari tepi Pulau Karang Merah, Zhao Wuchen menyaksikan semua itu dengan tangan terlipat di dada.Di sebelahnya, Master Lan Qiyue berdiri diam.Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja melihat percikan api mendekati bubuk mesiu."Hampir," kata pemimpin regu Zhao Wuchen.Nada suaranya masih tegang."Hampir sekali.""Hampir akan menjadi semakin dekat setiap hari," jawab Zhao Wuchen pelan.Ia menatap dua armada yang kini hanya menjadi bayangan di kejauhan."Sampai suatu hari seseorang tidak cukup sabar."Pemimpin regu itu menghela napas."Kalau kedua kekaisaran itu akhirnya saling tembak di sini..."Ia menelan ludah.

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Dua Armada di Ambang Kabut

    "Mereka pergi ke mana sebenarnya?" tanya nelayan muda itu.Nelayan tua di sampingnya tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir teh dan menghirupnya perlahan sebelum berbicara."Ke tempat yang tidak seharusnya dimasuki kapal perang," katanya akhirnya.Ia menatap laut yang tertutup kabut tipis di kejauhan."Dan mereka tahu itu."Nelayan muda itu mengerutkan kening."Kalau tahu, kenapa tetap pergi?"Nelayan tua itu menghela napas pendek."Karena yang di seberang juga tahu dan tetap pergi."Ia menunjuk samar ke arah laut."Begitulah cara dua kekaisaran bekerja."Ia meneguk tehnya lagi."Mereka tidak bisa berhenti sebelum yang satunya berhenti lebih dulu."Beberapa nelayan lain di warung itu ikut mendengar percakap

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Armada yang Berlayar ke Kabut

    "Aku mengirim orang yang cukup kuat untuk pengintaian," balas Kaisar dengan nada keras.Ia menatap Takeda Raigen lurus."Dan tidak cukup penting untuk menjadi alasan perang jika sesuatu terjadi."Ia berhenti sebentar."Kau siapkan dirimu untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari pengintaian."Takeda Raigen tidak menjawab.Namun ia memahami satu hal.Sejak sebelum rapat ini dimulai, Kaisar sudah memikirkan skenario yang jauh lebih besar dari sekadar mengirim kapal pengintai.Di Cheonsang, surat dengan isi hampir sama tiba dari arah yang berbeda.Kaisar Seonghwa Jinmu membacanya sambil duduk.Ia membaca perlahan. Setiap baris diperiksa dengan tenang.Ketika selesai, ia menutup surat itu dan meletakkannya menghadap bawah di meja.Ia memang

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Bayangan yang Bangkit dari Laut

    Surat Lu Wenqing tiba di Pelabuhan Shiranami dalam waktu empat hari.Pelabuhan itu tidak seperti biasanya.Di dermaga utama, dua dari tiga lapak ikan yang biasanya buka sejak fajar sudah tutup sejak dua hari lalu. Papan kayu yang biasa penuh ikan segar kini kosong, hanya menyisakan noda air laut yang mengering di permukaan.Kapal-kapal nelayan yang biasanya memenuhi dermaga kecil di sisi timur kini hanya tersisa setengahnya. Ruang kosong di antara perahu-perahu yang masih bertahan terlihat seperti gigi yang rontok.Beberapa tali tambat bahkan masih tergantung tanpa kapal.Seorang pedagang tua yang sudah tiga puluh tahun berjualan di tepi dermaga itu menutup lapaknya pagi itu untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun yang mengenalnya.Ia menurunkan penutup kayu perlahan.Gerakannya tidak terburu-buru, tapi pasti.S

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Menjual Kabar kepada Dua Kekaisaran

    Lu Wenqing berjalan melalui semua itu dengan langkah yang tidak tergesa dan mata yang mencatat segalanya.Ia bukan kultivator kuat. Tingkat kultivasi Lu Wenqing hanya cukup untuk memperpanjang hidupnya beberapa puluh tahun lebih dari manusia biasa dan menjaga kesehatannya dalam kondisi perjalanan laut yang keras. Kekuatannya bukan di Qi atau teknik tempur.Kekuatannya adalah jaringan."Kau mendengar tentang pembantaian di dermaga?" tanya seorang pedagang kepadanya saat mereka berpapasan di depan sebuah warung."Aku mendengar tentang catatan kuno dan cahaya dari kedalaman laut," jawab Lu Wenqing sambil ia berhenti sebentar dengan wajah yang terlihat tertarik namun tidak terlalu tertarik. "Seperti yang semua orang dengar.""Menurutmu itu nyata?" tanya pedagang itu."Menurutku," kata Lu Wenqing sambil sudut bibirnya bergerak sedikit, "apakah nyata atau tidak, ti

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Semua Mulai Mengawasi

    "Biarkan mereka bertanya," kata Guo Haishan. "Jawabannya adalah: Baek Daejin mati karena serakah di tempat yang salah, bukan karena musuh kita. Itu pelajaran yang lebih berharga dari pembalasan manapun.""Orang-orang mungkin tidak melihatnya seperti itu," kata wakilnya. "Mereka bisa menganggap kita lemah.""Kalau ada yang ingin membalas dengan uangnya sendiri dan kapalnya sendiri," kata Guo Haishan sambil matanya akhirnya terangkat dari peta dan menatap wakilnya, "aku tidak akan menghentikannya. Tapi jangan pakai sumber daya armada untuk urusan yang tidak menguntungkan."Wakilnya diam sebentar. "Lalu apa yang kita lakukan?""Membalas," kata Guo Haishan sambil jarinya menyentuh titik tengah peta. Di Jurang Laut Bintang. "Tapi bukan untuk Baek Daejin. Kita membalas dengan cara yang membuat semua yang ikut membunuhnya menjadi tidak relevan."Wakilnya menatap titik di peta itu. "Arte

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Elder Sekte Bayangan Yin

    Balai utama Desa Heishan adalah bangunan bergaya paviliun besar dengan tiang-tiang merah tua yang kokoh. Atapnya melengkung dengan sudut-sudut timur yang khas, dihiasi lampion-lampion merah yang berderet rapi.Tirai sutra putih bergetar pelan karena angin malam yang menyelinap masuk. Meja-meja kayu

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Dilempar Sejauh Lima Li.

    Ratusan bayangan pedang Mo Jianhai hancur menjadi asap hitam.Puluhan klon Luo Qianmo lenyap seperti kabut yang terkena angin.Pilar-pilar batu Zhen Wushao retak dan runtuh menjadi debu.Jaringan energi gelap Han Yelou terbakar habis dalam sekejap.Cakar hitam Hei Wucheng meledak menjadi percikan a

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Pertemuan Para Jenius yang Lelah

    Rong Tian tidak menjawab, ia tidak peduli dengan bisikan-bisikan di sekitarnya. Ia hanya terus berjalan, mengamati sekitar dengan tatapan datar dan penuh analisis."Dunia ini," gumamnya pelan sambil menatap semua pemuda dan pemudi yang ramai berbicara, "benar-benar berbeda dari yang kukenal."Merek

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Panggung yang Membeku

    Balai utama Desa Heishan terasa seperti sebuah kuburan yang dingin, bukan tempat pertemuan para ahli.Udara di dalamnya berat, dipenuhi keheningan yang menyesakkan, hanya sesekali dipecahkan oleh desahan samar atau gesekan kain.Suara pertemuan yang seharusnya penuh semangat justru terdengar sepert

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status