Masuk"Biarkan mereka bertanya," kata Guo Haishan. "Jawabannya adalah: Baek Daejin mati karena serakah di tempat yang salah, bukan karena musuh kita. Itu pelajaran yang lebih berharga dari pembalasan manapun."
"Orang-orang mungkin tidak melihatnya seperti itu," kata wakilnya. "Mereka bisa menganggap kita lemah."
"Kalau ada yang ingin membalas dengan uangnya sendiri dan kapalnya sendiri," kata Guo Haishan sambil matanya akhirnya terangkat dari peta dan menat
"Biarkan mereka bertanya," kata Guo Haishan. "Jawabannya adalah: Baek Daejin mati karena serakah di tempat yang salah, bukan karena musuh kita. Itu pelajaran yang lebih berharga dari pembalasan manapun.""Orang-orang mungkin tidak melihatnya seperti itu," kata wakilnya. "Mereka bisa menganggap kita lemah.""Kalau ada yang ingin membalas dengan uangnya sendiri dan kapalnya sendiri," kata Guo Haishan sambil matanya akhirnya terangkat dari peta dan menatap wakilnya, "aku tidak akan menghentikannya. Tapi jangan pakai sumber daya armada untuk urusan yang tidak menguntungkan."Wakilnya diam sebentar. "Lalu apa yang kita lakukan?""Membalas," kata Guo Haishan sambil jarinya menyentuh titik tengah peta. Di Jurang Laut Bintang. "Tapi bukan untuk Baek Daejin. Kita membalas dengan cara yang membuat semua yang ikut membunuhnya menjadi tidak relevan."Wakilnya menatap titik di peta itu. "Arte
"Ini bukan kabut laut biasa," kata seorang awakkapal dengan nada yang setengah berbisik. "Ini sesuatu yang sama sekali berbeda.""Putar balik," kata Master Lan Qiyue dengan nada yang tidak meninggalkan ruang untuk diskusi."Tapi kita baru masuk beberapa li," kata muridnya dengan nada yang memohon. "Mungkin kalau kita teruskan sedikit lagi...""Kita teruskan tanpa kompas yang berfungsi dan tanpa bintang yang bisa dipercaya," potong Master Lan Qiyue. "Di laut seperti ini, kita bukan kultivator yang gagah berani. Kita hanya orang yang tidak tahu jalan pulang."Muridnya menelan argumennya."Kita berhenti di perbatasan zona," kata Master Lan Qiyue sambil tangannya sudah bergerak ke tuas kemudi. "Kita amati dulu."Mereka membangun pos pengamatan kecil di Pulau Karang Merah, sebuah pulau tak berpenghuni selebar seratus langkah yang terdiri dari batu karang dan beber
Beberapa kepala di sekitar meja menoleh ke arah Zhao Wuchen dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya menyetujui."Makanya kita tidak masuk sekarang," kata Zhao Wuchen."Lalu apa yang kita lakukan?" tanya pemimpin regu pertama. "Menunggu sambil orang lain mengambil apa yang seharusnya kita ambil?""Kita bangun pos pengamatan di Pulau Karang Merah," jawab Zhao Wuchen sambil jarinya bergeser ke titik yang lebih kecil di dekat batas zona. "Dekat perbatasan. Kita lihat siapa saja yang bergerak dan ke arah mana.""Dengan menunggu," kata pemimpin regu ketiga, "kita memberi orang lain waktu untuk masuk lebih dulu.""Kita beri mereka waktu untuk mati lebih dulu," jawab Zhao Wuchen dengan nada yang sama tenangnya. "Beda tipis, tapi sangat berbeda artinya bagi kesehatan kita."Pemimpin regu kedua yang dari tadi diam mengetuk mejanya sekali. "Dan kalau Sekte Ombak Gelap sud
"Berapa kapal?" tanya seorang prajurit patroli yang kebetulan sedang makan di meja sebelah. Sumpit di tangannya berhenti di tengah jalan."Tiga," jawab perempuan itu dengan meyakinkan. "Aku mendengarnya dari kapten kapal yang melihat langsung.""Nama kaptennya siapa?" tanya prajurit itu dengan nada yang mulai berubah dari sekadar penasaran menjadi sesuatu yang lebih terlatih.Perempuan itu sebentar berhenti. "Aku tidak tanya namanya. Tapi ia memakai jubah gelap dan tangannya...""Kau tidak tahu namanya," potong prajurit itu sambil ia meletakkan sumpitnya dengan perlahan, "tapi kau sangat yakin ada tiga kapal yang hilang?""Tiga atau empat," kata perempuan itu sambil keningnya berkerut. "Semua orang di pelabuhan Hyeongseong mengatakan hal yang sama.""Semua orang," ulang prajurit itu. "Atau satu orang yang menceritakannya kepada semua orang, lalu semua orang m
Kapal dagang pertama yang meninggalkan Pulau Hyeongseong keesokan paginya berlayar ke arah barat menuju Pulau Akakumo, wilayah Yamatsukuni. Angin pagi membawa asin laut yang lebih tajam dari biasanya, seolah bahkan udara di sekitar pulau itu sudah menyerap ketegangan malam sebelumnya.Kaptennya adalah pria bertubuh gemuk dengan kulit yang sudah gelap karena bertahun-tahun terpapar angin laut. Tangannya memegang kemudi dengan gaya seseorang yang sudah terlalu sering menempuh rute yang sama, namun matanya menyimpan cahaya yang berbeda dari biasanya.Ia membawa lebih dari sekadar muatan kain dan garam.Ia membawa cerita.Ketika kapal itu berlabuh di dermaga Pulau Akakumo setelah setengah hari perjalanan, seorang buruh muda yang sedang mengikat tali berlutut di tepi dermaga menoleh ke atas. Wajah kapten itu sudah memberi tahu bahwa ada sesuatu sebelum mulutnya terbuka."Hyeongseong s
Kapal-kapal berhenti melaju karena tidak ada angin yang mendorong layar dan tidak ada gelombang yang membantu pergerakan. Semua orang di atas kapal berdiri diam tanpa mengerti apa yang baru saja terjadi.Kuroda Tetsuya menurunkan pedangnya yang sudah setengah terhunus.Ryu Seongmin menarik napas dan tidak mengeluarkannya.Han Jisoo, yang sudah mengangkat tombaknya untuk melempar ke arah kapal Seo Hyunwoo, membiarkan tangannya turun perlahan sampai ujung tombak itu menyentuh geladak kapalnya sendiri.Tidak ada yang berkata apapun selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.Di bawah permukaan laut yang hitam dan rata itu, dari kedalaman yang tidak bisa diukur dengan cara apapun yang diketahui manusia, sesuatu bergerak.Cahaya muncul dari kedalaman. Bukan cahaya biasa, bukan cahaya dari benda yang dikenal.Ia bergerak dalam pola yang m







