เข้าสู่ระบบSalah satu pemuda tertawa dengan sinis, suaranya menusuk keheningan hutan.
“Hahaha … bodoh!” Ia melepaskan cengkeramannya pada rambut gadis yang lebih tua, lalu berdiri tegak dengan seringai kejam.
"Biar aku yang menghabisi dia," katanya sambil menarik pedang hitam dari sarungnya, bilahnya berkilat mematikan. "Ini akan cepat selesai."
Pemuda itu melangkah maju dengan langkah percaya diri, setiap jejak kakinya memancarkan ancaman. Pedang hitam di tangannya mulai bercahaya gelap, dan energi iblis melingkupi pedang itu seperti kabut hitam yang menyesakkan.
Tsing… suara pedang berdengin.
Dan aura dingin yang menusuk tulang menyebar ke sekitar, membuat udara terasa berat.
"Mati!" teriaknya keras, suaranya membelah udara.
Ia mengayunkan pedang ke arah pemuda berjubah putih itu dengan kecepatan kilat. Pedang hitam itu bergerak secepat meteor, membawa energi iblis yang pekat, dan udara di sekitarnya seolah membeku karena kekuatan yang mengerikan.
Pemuda berjubah putih itu tidak menghindar sedikit pun, tubuhnya tetap kokoh di tempatnya. Ia bahkan tidak menggerakkan kakinya, hanya mengangkat tangan kanannya dengan gerakan santai yang terlihat tak acuh.
Tidak ada persiapan khusus, tidak ada formasi rumit, dan tidak ada mantra yang diucapkan. Hanya mengangkat tangan dengan gerakan yang terlihat asal, seolah tanpa niat.
Tapi saat itu, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Cahaya putih terang meledak dari telapak tangannya, memancar dengan kekuatan yang tak terlukiskan.
Cahaya itu murni, begitu terang dan begitu murni hingga energi iblis di pedang itu langsung lenyap seperti asap tertiup angin kencang.
Dan cahaya itu tidak berhenti di situ, terus melesat maju.
Cahaya itu menembus pedang, menembus tubuh pemuda itu, dan langsung menuju kepalanya dengan kecepatan tak terbayangkan.
Kepala pemuda itu meledak dengan suara mengerikan, pecah berkeping-keping.
Darah dan pecahan tengkorak berceceran ke segala arah, membasahi tanah dan dedaunan di sekitarnya. Tubuhnya masih berdiri sebentar dengan pedang di tangan, lalu roboh ke tanah dengan suara keras yang memecah keheningan.
Keheningan total menyelimuti hutan, sebuah kebisuan yang mematikan.
Sembilan pemuda yang tersisa terdiam membeku, mata mereka melebar tak percaya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat, salah satu saudara mereka baru saja mati, kepalanya meledak hanya dengan satu gerakan tangan.
Dua gadis juga terdiam, mulut mereka terbuka lebar. Mereka tidak bisa berkata apa-apa, terlalu terkejut dan ketakutan.
Pemuda berjubah putih, Rong Tian menatap tangannya dengan ekspresi bingung, seolah tak mengenali apa yang baru saja dilakukannya.
"Apa yang baru terjadi?" gumamnya pelan pada diri sendiri, suaranya nyaris tak terdengar.
Ia tidak mengerti, ia hanya menggerakkan tangan dengan asal. Tidak ada niat membunuh, tidak ada teknik khusus, hanya gerakan refleks untuk memblokir serangan, tapi kenapa hasilnya sehebat ini?
"Qi murni-ku," bisiknya sambil menatap telapak tangannya, "ternyata jauh lebih kuat dari yang kukira?"
Ia menatap tubuh tanpa kepala yang tergeletak di tanah, darah masih mengalir deras dari leher yang terbuka.
"Apa aku masih di tingkat yang sama? Jiwa Muda akhir? Atau bahkan lebih tinggi?"
Ia tidak tahu, ia benar-benar tidak tahu seberapa kuat dirinya sekarang.
"Brengsek!" Teriakan marah memecah keheningan, mengoyak kesunyian hutan. Salah satu pemuda melangkah maju dengan wajah merah padam, matanya penuh amarah yang membara.
"Kau membunuh saudaraku!"
Enam pemuda lain juga bergerak serentak, tubuh mereka dipenuhi amarah. Mereka semua menarik senjata mereka, pedang, tombak, cambuk, pisau, dan mata mereka semua penuh kebencian dan amarah yang sama.
"Bunuh dia!" teriak salah satu dari mereka, suaranya penuh dendam.
Tujuh pemuda itu menyerang bersamaan, sebuah gelombang serangan yang terkoordinasi.
Pedang hitam turun dari atas, tombak menusuk dari samping kiri, cambuk melilit dari samping kanan.
Pisau terbang berdengin dari belakang, jarum berdesing beracun dilempar dari depan, dan salah satu pemuda mengeluarkan formasi penyegel. Ini formasi gelap yang mengandung melepaskan aura kematian yang pekat, menciptakan suasana mencekam.
Tujuh serangan dari tujuh arah berbeda, sebuah serangan mematikan yang terkoordinasi dengan sangat baik.
Rong Tian menatap mereka dengan tatapan datar, tanpa sedikit pun rasa takut. Ia tidak takut, tidak panik, hanya bingung dengan situasinya sendiri.
"Mereka menyerangku bersamaan," gumamnya pelan. "Apa aku harus melawan?"
Ia tidak yakin, ia masih tidak paham sepenuhnya seberapa kuat qi murninya sekarang.
Tapi tubuhnya bergerak refleks lagi, sebuah tindakan tanpa sadar. Tangan kiri terangkat untuk memblokir pedang, tangan kanan mendorong ke arah tombak.
Cahaya putih meledak lagi, kali ini lebih kecil tapi tetap dahsyat.
DUAR!
Pedang patah di udara, tombak hancur jadi debu, cambuk terbakar oleh cahaya murni dan menjadi abu. Pisau meleleh sebelum sampai, jarum lenyap, formasi retak dan pecah, dan aura kematian tertahan.
Tujuh pemuda itu terlempar mundur dengan kekuatan dahsyat. Tubuh mereka jatuh ke tanah dengan keras, beberapa memuntahkan darah, dan napas mereka terengah-engah.
Tapi mereka belum mati.
Rong Tian menatap tangannya lagi, kali ini dengan ekspresi lebih serius.
"Qi murni ini," gumamnya sambil merasakan aliran energi di tubuhnya, "kekuatannya setara dengan kultivasi iblisku dulu. Atau bahkan lebih kuat?"
Ia mulai mengerti, sebuah pencerahan datang kepadanya. Meski qi-nya berubah dari energi iblis jadi murni, tingkat kultivasinya tidak berubah, ia masih di tingkat yang sama, Jiwa Muda akhir, setengah langkah menuju keabadian.
Setengah Langkah menjadi abadi, dalam aliran iblis disebut Semi Devil, sedangkan sekte Ortodoks di kenal dengan sebutan Demigods.
"Jadi aku tidak kehilangan kekuatan," bisiknya sambil mengepalkan tangannya. "Hanya bentuk energi-ku yang berubah."
Ia menghela napas panjang, sebuah desahan yang tak terdengar.
Tujuh pemuda itu bangkit lagi dengan susah payah, wajah mereka pucat pasi. Beberapa masih batuk darah, tapi mata mereka penuh kebencian yang membara.
"Kita serang lagi!" teriak salah satu dari mereka, suaranya serak. "Jangan biarkan dia hidup!"
Mereka bergerak lagi, kali ini lebih brutal dan lebih gila. Mereka tidak peduli nyawa mereka sendiri, yang penting membunuh pemuda di hadapan mereka.
Salah satu pemuda menarik pedang cadangan, bilahnya berkilat di bawah cahaya rembulan. Ia menggerakkan teknik kultivasi terkuatnya, energi iblis di tubuhnya meledak, dan kekuatan Tahap Fondasi akhir keluar sepenuhnya.
"Bayangan Iblis Seribu Pedang!" teriaknya dengan suara penuh amarah, memanggil kekuatan kegelapan.
Tsing! Tsin!
Bersambung
Beberapa tamu sekte kecil berbisik ketika melihat dua ahli waris Sekte Bunga Salju berdiri di sisi Rong Tian. Ada yang dulu ikut percaya bahwa Bing Ruoxue dan Xue Lingyin membawa aib dari Laut Timur, dan kini mereka tidak berani mengangkat suara setelah Pedang Rembulan tergantung jernih di belakang aula.Seorang tetua dari sekte luar mencoba menyelamatkan muka dengan berkata bahwa dunia persilatan memang sering salah paham. Murid di belakangnya cepat mengangguk, tetapi wajah mereka memucat ketika seorang murid tua Sekte Bunga Salju membuka catatan lama dan membacakan nama-nama orang yang pernah ikut menyebarkan tuduhan palsu.Rong Tian tidak mempermalukan mereka dengan kata-kata. Justru karena ia hanya duduk tenang di kursi utama tamu, para tamu merasa punggung mereka makin berat, sebab tidak ada yang tahu apakah diamnya seorang abadi berarti memaafkan atau sekadar menganggap mereka tidak layak ditegur.Upacara berlangsu
Beberapa hari setelah nama Bing Ruoxue dan Xue Lingyin dipulihkan, Sekte Bunga Salju tidak lagi tampak seperti tempat yang hanya dijaga oleh dingin dan aturan. Aula utama dibersihkan dari catatan palsu, tirai biru pucat diganti, dan tablet pendiri diseka oleh murid-murid tua yang selama lima tahun menelan keraguan tanpa berani menantang Qiao Yulan.Kabar menyebar dari pegunungan utara ke kota-kota kecil di bawah lereng. Orang-orang mulai berbisik bahwa Tuan Jubah Putih datang ke Sekte Bunga Salju, merobohkan ketua palsu tanpa membantai murid, membuka penjara bawah tanah, lalu mengembalikan Pedang Rembulan kepada dua ahli waris yang seharusnya tidak pernah hilang.Di gerbang luar, murid-murid yang dulu ikut menghunus pedang kini berdiri lebih tegak tetapi jauh lebih hati-hati. Mereka tidak lagi berani menyebut Bing Ruoxue dan Xue Lingyin sebagai pengkhianat, dan setiap kali melihat Rong Tian melewati tangga salju, tangan mereka merapikan gaga
Pedang Rembulan ikut bersinar. Cahaya bulan menyentuh titik-titik segel di bahu, dada, dan pergelangan mereka, lalu menarik keluar qi dingin yang salah seperti benang hitam tipis dari kain putih.Beberapa murid yang mengikuti dari luar pintu menangis tanpa berani mengeluarkan suara. Mereka pernah mendengar dua nama itu sebagai pengkhianat, tetapi pemandangan di depan mereka tidak terlihat seperti pengkhianat yang dihukum, melainkan ahli waris yang dikurung agar tidak bisa bicara.Qiao Yulan menggertakkan gigi, lalu memaksa suara lembutnya keluar lagi. “Mereka dihukum karena membawa bahaya bagi sekte. Jangan tertipu oleh keadaan mereka sekarang, karena orang yang merusak nama Bunga Salju memang harus menanggung konsekuensi.”Bing Ruoxue menoleh ke arah suara itu. Tubuhnya masih lemah, tetapi matanya tetap berdiri lebih tegak daripada banyak murid sehat di belakang Qiao Yulan.“Kau me
Segel kecil di gagang pedang pecah. Cahaya bulan yang semula dipaksa mengalir ke arah Qiao Yulan tiba-tiba berbalik, dan perempuan itu memuntahkan darah ketika meridiannya dihantam oleh qi yang selama ini ia tekan dengan paksa.Pedang Rembulan lepas dari tangannya dan berputar sekali di udara. Rong Tian mengangkat lengan, membiarkan gagang pedang jatuh ke telapak tangannya, sementara seluruh aula melihat Qiao Yulan terhuyung mundur dengan wajah yang tidak lagi mampu mempertahankan senyum.“Pedang ini tidak pernah memilihmu,” kata Rong Tian.Aula sunyi, tetapi kesunyian itu tidak kosong. Di dalamnya ada wajah murid yang memucat, napas yang tertahan, jari yang melepaskan gagang pedang, dan tatapan yang mulai menghitung ulang semua cerita yang mereka dengar selama lima tahun.Cai Ruxin paling cepat bereaksi. Ia menunjuk Rong Tian dengan tangan gemetar, lalu berteriak, “Teknik iblis! Di
Aula utama Sekte Bunga Salju tampak indah dengan cara yang dingin dan tertib. Pilar putihnya dipahat menyerupai batang es, lantai batu beku memantulkan cahaya biru pucat, sementara lambang bulan besar tergantung di balik kursi ketua seperti mata yang menilai setiap orang dari tempat tinggi.Rong Tian masuk di antara dua baris murid perempuan yang sudah mendengar tuduhan pencurian teknik. Beberapa menatapnya dengan kebencian yang dipelajari dari rumor, beberapa lagi mencoba tampak keras meskipun tangan mereka masih mengingat bagaimana formasi gerbang runtuh tanpa satu pun luka besar.Qiao Yulan duduk di kursi utama. Ia bukan perempuan renta, tetapi usia tampak berusaha disembunyikan di balik riasan halus, dan matanya yang licin menatap Rong Tian seperti pedagang tua menaksir barang langka sebelum menawar dengan harga paling rendah.Di samping kursi ketua, sebuah pedang tersandar pada penyangga giok putih. Pedang Rembulan
Rong Tian tidak mengubah ekspresi. Ia melihat bagaimana nama Bing Ruoxue dan Xue Lingyin menimbulkan reaksi yang terlalu cepat, terlalu seragam, dan terlalu takut untuk disebut sebagai kebenaran yang lahir alami.“Aku hanya bertanya apakah mereka masih hidup,” kata Rong Tian. “Jika kalian tidak tahu, panggil orang yang tahu.”Kalimat itu membuat wajah Cai Ruxin sedikit berubah. Bagi murid-murid muda, ucapan Rong Tian terdengar seperti ketenangan orang yang tidak memahami bahaya, tetapi bagi Cai Ruxin, ketenangan itu terasa seperti seseorang yang sengaja menahan tangan karena belum ingin membongkar meja.“Mulutmu ringan sekali menyebut nama orang berdosa,” ujar Cai Ruxin sambil mengangkat tangan. “Di depan wilayah sekte kami, pria asing sepertimu masih berani menyuruh kami memanggil orang, seolah Sekte Bunga Salju adalah halaman rumahmu sendiri.”Seorang
Jauh di dalam Istana Kekaisaran Lingxiao Tian, tersembunyi sebuah ruang rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Ruangan itu tidak besar, dindingnya diukir dengan naga dan awan yang saling berkelindan.Cahaya rembulan menembus celah jendela tinggi, jatuh menerangi lantai marmer hitam yan
Di gerbang Makam Pedang, Master Yuan, Jenderal Fang, dan Penasihat Tua Lin masih berdiri. Kebingungan dan kekalahan masih terpancar dari wajah mereka. Mereka berbicara dengan suara pelan, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.Tiba-tiba, sebuah gelombang suara lonceng raksasa menghantam merek
Gerbang Makam Pedang Kekaisaran berdiri kokoh di antara dua tebing curam yang menjulang bagai dua raksasa penjaga. Batu pucat yang membentuk gerbang itu telah aus oleh waktu, permukaannya penuh retakan halus bagai jejak usia yang tak terbantahkan.Simbol-simbol pedang yang diukir di sana nyaris tak
Di tengah Makam Pedang Kekaisaran yang gelap, Rong Tian berdiri tegak dengan Lonceng Jiwa Senyap dalam genggamannya. Di hadapannya, pedang raksasa yang terbentuk dari jalinan ribuan bilah kuno menjulang tinggi, memancarkan aura kehancuran yang mencekam.Wushhhh!Tanpa peringatan, pedang raksasa itu







