MasukLin Jianfeng mengambil satu langkah ke depan. "Tabib Bai sudah mengidentifikasi racunnya. Itu bukan sekadar bau." Suaranya lebih keras dari biasanya.
"Identifikasi tabib adalah pendapat medis," kata Gu Zhi. "Bukan putusan hukum."
Bai Yuanfeng membalikkan tubuhnya ke arah Gu Zhi dengan wajah yang sudah tidak mencoba menyembunyikan ekspresinya. "Dalam empat puluh tahun aku bekerja dengan racun kultivasi, aku belum pernah salah membaca pola dasar seperti
Di Pos Batu Lingshan, seorang penukar kuda mencoba mendekati Wen An dengan harga yang terlalu murah untuk disebut dagang. Ia menepuk leher seekor kuda hitam yang tampak kuat, lalu menawarkan tukar tunggangan demi perjalanan lebih cepat menuju jalur besar.Wen An hampir tergoda, sampai Wei Song muncul dari samping kandang dan memukul pelan kaki kuda hitam itu dengan gagang pipa. Kuda itu tersentak aneh, dan dari bawah tapal belakangnya jatuh serpihan logam kecil yang biasa dipakai untuk membuat kuda pincang setelah menempuh belasan li.Wei Song memandang penukar kuda itu. “Kau menjual kecepatan yang akan patah sebelum pos berikutnya.”Penukar kuda itu mundur, tetapi dua penjaga pos sudah menutup jalan. Dari ikat pinggangnya ditemukan keping perak kecil yang sama, tanda yang kini mulai dikenal oleh orang-orang wilayah barat Kekaisaran Bai Feng.Sementara itu, di Rumah Teh Seruling Senja, pe
Paviliun Perak Langit bergerak pada malam yang sama ketika laporan pengamatan kuning masuk ke arsip tertutup Xuefeng Du. Mereka tidak mengirim pembunuh yang mudah dikenali, tidak memakai lambang, dan tidak datang dengan ancaman keras yang bisa diingat saksi.Mereka memilih cara yang tidak meninggalkan darah di lantai, tetapi bisa membuat kesaksian kehilangan kaki sebelum mencapai meja yang tepat.Seorang pedagang tinta masuk ke Kota Biramaki dengan kotak kayu di punggung. Seorang penukar kuda menawarkan harga murah di dekat Pos Batu Lingshan. Seorang juru tulis keliling duduk di kedai arak dekat Rumah Teh Seruling Senja, meminjam meja, lalu bertanya sambil tertawa siapa saja yang benar-benar melihat Tuan Jubah Putih dengan mata sendiri.Di lantai dua penginapan sempit di sisi pasar obat, Lu Wen membaca tiga salinan laporan yang berhasil dikumpulkan. Ia utusan Paviliun Perak Langit, tetapi di kota itu ia memakai nama peda
Liang Cheng mengetuk cangkir dengan kuku. “Kabar berisik memang sering dipotong supaya ruangan tidak kotor.”Zhao Mingde memandangnya. “Kalau hanya kotor, cukup disapu. Orang memotong karena takut sesuatu terlihat utuh.”Juru arsip muda di sudut menelan ludah. Kuasnya akhirnya menyentuh kertas, tetapi garis yang keluar miring, dan ia buru-buru menutupnya dengan lengan.He Yuanji mengangkat mata. “Kalian berdua sama-sama melompat terlalu cepat. Laporan pertama belum cukup untuk menilai tubuh bayangan, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa ada bayangan lewat.”Ruangan menjadi hening. He Yuanji jarang memberi kalimat yang mudah dibaca, dan saat ia melakukannya, para juru tulis di sekitar meja biasanya memperlambat napas.Liang Cheng menatapnya. “Paviliun Perak Langit juga menganggap orang itu layak diperhatikan?”&l
Duan Rong masih berusaha menjaga senyum. “Pemimpin Luo terlalu cepat menilai.”Luo Chenghai menutup peti biru. “Kalau begitu tulis ulang di depan kami. Tulis sesuai laporan asli, tambahkan catatan bahwa salinan pertama sempat diturunkan bahasanya, lalu tekan cap pos. Jika Tuan Duan merasa semua itu penghinaan, silakan tulis keberatan di bawah nama sendiri.”Juru salin kecil yang tadi menyindir Wei Song salah mencelupkan kuas. Tinta hitam menetes ke lengan bajunya, dan ia buru-buru menyembunyikan tangan di bawah meja.Pengawal karavan yang sempat tertawa kini pura-pura memeriksa tali sepatu. Mereka tidak lagi berani ikut meremehkan nama Tuan Jubah Putih setelah melihat satu juru salin utama pos dipaksa menulis ulang di depan orang banyak.Wei Song mendorong lembar kosong ke tengah meja. “Mulai ulang saja, Tuan Duan. Kuda kurir masih sanggup membawa kebenaran, asal penulis
Laporan resmi dari Benteng Utara Jin Gao meninggalkan halaman militer ketika embun masih menggantung di ujung panji Kekaisaran Bai Feng.Tabung bambu itu tampak kecil di tangan kurir muda bernama Wen An, tetapi cap merah Han Beitang di permukaannya membuat setiap pos jalan wajib memperlakukannya sebagai urusan wilayah, bukan cerita yang lahir dari meja rumah teh.Di dalam tabung itu, nama Tuan Jubah Putih belum menjadi legenda. Ia baru berupa catatan dingin yang menyebut Rumah Teh Seruling Senja, Sekte Puncak Matahari, Sekte Hutan Zhulin, Paviliun Awan Bijaksana, Balai Angin Senja, Klan Naga Air, dan Benteng Utara Jin Gao sebagai saksi berlapis atas kemunculan seorang pria berjubah putih di wilayah barat Kekaisaran Bai Feng.Namun kabar resmi selalu berjalan dengan kaki lebih berat daripada rumor.Saat kuda Wen An baru meninggalkan debu gerbang benteng, dua pengawal karavan sudah menceritakan versi m
Tombak-tombak di depan tidak patah. Mereka hanya miring sepersekian, cukup untuk membuat garis komando kehilangan sudut.Langkah kedua jatuh di sisi kiri. Baris belakang yang seharusnya menutup celah mendadak bergerak terlalu cepat, lalu tertahan oleh posisi kaki mereka sendiri.Langkah ketiga menekan pusat formasi.Seluruh tombak miring ke tanah satu demi satu.Tak seorang pun jatuh ke tanah, tetapi barisan itu sudah kehilangan bentuknya. Ujung-ujung tombak miring, langkah para prajurit tertahan, dan di depan mata semua saksi, Rong Tian meruntuhkan wibawa formasi tanpa perlu membuat satu tubuh pun berdarah.Prajurit muda yang tadi paling cepat menegakkan dada kini menunduk lebih dulu. Tombaknya masih di tangan, tetapi ujungnya menghadap tanah, dan di bawah tatapan para karavan yang tertahan, itu sudah cukup untuk membuat wajahnya panas.Cao Zhen berdiri kaku
Tie Hao bergerak pertama kali tanpa basa-basi.Tidak ada peringatan, tidak ada persiapan yang terlihat oleh mata biasa. Tubuhnya yang kekar melesat maju seperti batu yang dilempar dari ketapel raksasa, tinjunya terayun ke arah dada Rong Tian dengan kekuatan mematikan. Tinju itu diperkuat Qi yang pa
Gerbang Makam Pedang Kekaisaran berdiri kokoh di antara dua tebing curam yang menjulang bagai dua raksasa penjaga. Batu pucat yang membentuk gerbang itu telah aus oleh waktu, permukaannya penuh retakan halus bagai jejak usia yang tak terbantahkan.Simbol-simbol pedang yang diukir di sana nyaris tak
Dengan langkah ringan, Rong Tian melompat. Tubuhnya melayang di udara, mendarat dengan elegan di atas menara gerbang batu kuno yang menjulang tinggi.Gerbang itu adalah pintu masuk ke Makam Pedang Kekaisaran, tertutup rapat dengan ukiran-ukiran kuno yang memancarkan cahaya samar.Dari sana, ia mena
Setelah gemuruh Nadi Pedang mereda dan pedang raksasa hancur berkeping-keping, Makam Pedang Kekaisaran kembali diselimuti keheningan yang dalam. Keheningan yang berbeda dari sebelumnya.Bukan lagi keheningan yang mencekam atau mengancam, melainkan keheningan yang penuh hormat.Rong Tian berdiri di







