MasukRumah Zhou Kaimin tidak jauh dari blok utara, tetapi malam itu jalan yang ia tempuh terasa lebih sempit daripada biasanya. Ia baru sampai di halaman samping ketika pelayan tuanya berlari keluar dengan wajah pias.“Nyonya kambuh lagi.”Zhou Kaimin masuk hampir menabrak kusen. Di dalam ruang kecil berlampu redup, istrinya terbaring miring dengan tangan mencengkeram kain alas, wajahnya putih kehijauan, dan napasnya terputus-putus seperti ada es tipis yang digesekkan di dalam dada.Kaki kirinya yang selama bertahun-tahun tak bisa digerakkan kini kejang hebat. Dari pinggang bawah sampai paha, kulitnya tampak menggelap di satu garis yang membuat pelayan tua di pojok hampir menangis.“Sejak kapan,” tanya Zhou Kaimin sambil meraih pergelangan istrinya.“Baru setengah dupa,” jawab pelayan itu dengan suara bergetar. “Awalnya Nyonya bilang pinggangn
Lampu minyak di rumah teh Wu Laosan diturunkan setengah, dan teh krisan di atas meja bundar sudah keburu dingin sebelum satu pun orang di dalam ruangan itu bicara jujur.Mereka datang dengan wajah seolah sedang memikirkan keselamatan Pasar Hantu Shiqiao, padahal masing-masing hanya sibuk menghitung dagangan, jalur, dan muka sendiri.Zhou Kaimin duduk paling dekat jendela dengan punggung tegak, tetapi urat di pelipisnya sudah lama bergerak. Di kiri kanannya ada penarik iuran lorong, pemilik kios obat liar, pedagang kulit, pengelola gudang kecil, dan dua wakil blok yang semalam paling cepat menyuruh Balai Pengobatan Bulan Patah ditukar demi ketenangan.Zhao Meiyan berdiri dekat tiang, kipas lipatnya diketuk-ketukkan ke pergelangan tangan. Wu Laosan tak ikut duduk di meja rapat, hanya menumpu siku di balik meja teh sambil menuang cangkir demi cangkir seperti orang yang tak peduli, padahal telinganya menangkap semua.
Rumor pun bergerak lagi, tapi kali ini lebih hati-hati.Ada yang menyebutnya Tuan Berjubah Putih, ada yang berkata dia cuma tabib balai yang terlalu sukar dibaca, dan ada pula yang berbisik bahwa pria itu mungkin ahli besar dari luar jalur pasar yang sengaja menyembunyikan pedangnya.Rong Tian mendengar sebagian bisik itu, tapi ia tidak membantah dan tidak mengaku. Ia hanya kembali duduk di meja depan, membersihkan ujung jarum seperti semua yang baru saja terjadi hanyalah kerja malam yang harus diselesaikan sebelum lampu mati.Penolakan seperti itu jauh lebih berat daripada jawaban. Orang-orang Shiqiao paham bahasa orang yang tidak butuh memperkenalkan dirinya karena perkenalan justru akan membuat terlalu banyak kepala bergerak.Nama Balai Pengobatan Bulan Patah pun terdengar berbeda ketika akhirnya disebut-sebut lagi. Tidak lagi dengan nada meremehkan, juga tidak dengan manis palsu, melainkan dengan
Kerumunan luar menahan napas. Mereka mungkin tak paham banyak soal kutukan jiwa, tapi semua orang tahu ada jenis luka yang lebih buruk daripada daging terbelah, sebab tubuh masih hidup tetapi akal pecah lebih dulu.Rong Tian mendekat, menatap pupil pria itu, kulit tengkuknya, lalu ujung kukunya. “Siapa yang mengutuk.”“Kami tidak tahu.”Rong Tian menyentuh belakang telinga pria itu dengan dua jari. “Kalian tahu. Kalian hanya tidak berani mengucapkannya.”Pria yang terkena kutukan mengeluarkan suara kecil seperti orang yang sedang berdiri di tepi jurang. Dari sudut bibirnya menetes garis keperakan tipis.Qingfeng melihatnya lebih dulu. “Darah qi.”Rong Tian mengangguk. “Kutukan pengikat takut.”Xiao Li merinding, tapi tetap mendekat. “Apa maksudnya.”
Beberapa orang di kerumunan langsung mengenalinya. Nama Ji Song beredar dari mulut ke mulut, disertai reputasi keras kepala dan kesombongannya yang dulu pernah menolak ditangani tabib pasar.“Aku dengar dia pernah bilang meja rumah obat ini cuma cocok menempel luka kuli pelabuhan.”“Aku juga dengar dia pernah tertawa waktu orang menyebut nama Rong... eh, Tuan Berjubah Putih itu.”Orang-orang yang mengantar Ji Song jelas mendengar semua bisik itu. Wajah mereka tak enak, tapi mereka tak punya ruang untuk marah karena Ji Song kini bahkan tak sanggup berdiri lurus.Rong Tian memeriksa sebentar, lalu jarinya berhenti di bawah tulang selangka pria itu. “Meridiannya pecah di bahu dan dada kiri. Ia memaksa benturan lurus melawan tenaga berat, kalah, lalu masih berjalan lebih dari satu li.”Salah satu teman Ji Song, yang lebih muda dan tampak paling gel
Malam setelah Qiu Fenglan dipukul mundur tidak datang sebagai malam biasa. Ia datang sebagai malam yang ditonton.Sejak lampu pertama dinyalakan, orang-orang sudah menempati tempat yang memberi pandangan terbaik ke Balai Pengobatan Bulan Patah tanpa terlihat terlalu terang-terangan menunggu.Ada yang duduk di rumah teh Wu Laosan dengan secangkir teh yang tak disentuh sampai dingin, ada yang berdiri di dekat penjual mi sambil pura-pura membahas harga tepung, dan ada yang bertengger di atap rendah seberang gudang kain sambil menahan napas setiap kali pintu balai terbuka sedikit.Shiqiao ingin melihat wajah pria yang membuat pemburu hadiah patah tangan di ambang rumah obat. Mereka tidak datang untuk memberi hormat, tetapi mereka juga tak lagi datang dengan nada mengejek yang sama seperti dua malam lalu.Rong Tian tidak mengubah kebiasaan demi tatapan mereka. Ia tetap duduk di meja depan saat lampu dinya
"Ini... ini sungguhan?" bisik seseorang."Penguasa berjubah putih... memberi kami harta?"Satu kultivator memberanikan diri bangkit, bergerak perlahan menuju gudang. Ketika tidak ada yang menghentikannya, yang lain mengikuti. Segera kerumunan bergegas maju, mengambil bagian mereka dengan tergesa-ge
Matahari pagi yang hangat menyinari jalanan tanah yang berliku, membentang jauh ke arah selatan. Debu-debu halus beterbangan setiap kali angin sepoi-sepoi berembus, membawa wangi tanah kering dan rumput liar.Kereta kuda sederhana melaju perlahan, meninggalkan Kota Heiyang yang kini sunyi di belaka
Senja mulai turun saat Rong Tian tiba di Kota Moyun. Langit berubah menjadi jingga kemerahan, dihiasi gumpalan awan tipis yang bergerak lambat di ufuk barat. Angin sore berhembus sejuk, membawa aroma danau dan tanah basah yang menyegarkan setelah perjalanan panjang.Kota Moyun adalah kota persingga
Sikap Rong Tian yang acuh tak acuh itu semakin memicu amarah kedua panglima. Mo Shen, urat lehernya menonjol, tak bisa lagi menahan diri. Wajahnya berubah merah karena amarah yang meledak."Jangan buang waktu!" teriaknya dengan suara yang nyaris pecah. "Siapkan panah!"Lima ratus pemanah bergerak s







