LOGINKapal nomor tiga berbalik.Ketegangan turun satu tingkat.Namun tidak hilang.Dari tepi Pulau Karang Merah, Zhao Wuchen menyaksikan semua itu dengan tangan terlipat di dada.Di sebelahnya, Master Lan Qiyue berdiri diam.Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja melihat percikan api mendekati bubuk mesiu."Hampir," kata pemimpin regu Zhao Wuchen.Nada suaranya masih tegang."Hampir sekali.""Hampir akan menjadi semakin dekat setiap hari," jawab Zhao Wuchen pelan.Ia menatap dua armada yang kini hanya menjadi bayangan di kejauhan."Sampai suatu hari seseorang tidak cukup sabar."Pemimpin regu itu menghela napas."Kalau kedua kekaisaran itu akhirnya saling tembak di sini..."Ia menelan ludah.
"Mereka pergi ke mana sebenarnya?" tanya nelayan muda itu.Nelayan tua di sampingnya tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir teh dan menghirupnya perlahan sebelum berbicara."Ke tempat yang tidak seharusnya dimasuki kapal perang," katanya akhirnya.Ia menatap laut yang tertutup kabut tipis di kejauhan."Dan mereka tahu itu."Nelayan muda itu mengerutkan kening."Kalau tahu, kenapa tetap pergi?"Nelayan tua itu menghela napas pendek."Karena yang di seberang juga tahu dan tetap pergi."Ia menunjuk samar ke arah laut."Begitulah cara dua kekaisaran bekerja."Ia meneguk tehnya lagi."Mereka tidak bisa berhenti sebelum yang satunya berhenti lebih dulu."Beberapa nelayan lain di warung itu ikut mendengar percakap
"Aku mengirim orang yang cukup kuat untuk pengintaian," balas Kaisar dengan nada keras.Ia menatap Takeda Raigen lurus."Dan tidak cukup penting untuk menjadi alasan perang jika sesuatu terjadi."Ia berhenti sebentar."Kau siapkan dirimu untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari pengintaian."Takeda Raigen tidak menjawab.Namun ia memahami satu hal.Sejak sebelum rapat ini dimulai, Kaisar sudah memikirkan skenario yang jauh lebih besar dari sekadar mengirim kapal pengintai.Di Cheonsang, surat dengan isi hampir sama tiba dari arah yang berbeda.Kaisar Seonghwa Jinmu membacanya sambil duduk.Ia membaca perlahan. Setiap baris diperiksa dengan tenang.Ketika selesai, ia menutup surat itu dan meletakkannya menghadap bawah di meja.Ia memang
Surat Lu Wenqing tiba di Pelabuhan Shiranami dalam waktu empat hari.Pelabuhan itu tidak seperti biasanya.Di dermaga utama, dua dari tiga lapak ikan yang biasanya buka sejak fajar sudah tutup sejak dua hari lalu. Papan kayu yang biasa penuh ikan segar kini kosong, hanya menyisakan noda air laut yang mengering di permukaan.Kapal-kapal nelayan yang biasanya memenuhi dermaga kecil di sisi timur kini hanya tersisa setengahnya. Ruang kosong di antara perahu-perahu yang masih bertahan terlihat seperti gigi yang rontok.Beberapa tali tambat bahkan masih tergantung tanpa kapal.Seorang pedagang tua yang sudah tiga puluh tahun berjualan di tepi dermaga itu menutup lapaknya pagi itu untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun yang mengenalnya.Ia menurunkan penutup kayu perlahan.Gerakannya tidak terburu-buru, tapi pasti.S
Lu Wenqing berjalan melalui semua itu dengan langkah yang tidak tergesa dan mata yang mencatat segalanya.Ia bukan kultivator kuat. Tingkat kultivasi Lu Wenqing hanya cukup untuk memperpanjang hidupnya beberapa puluh tahun lebih dari manusia biasa dan menjaga kesehatannya dalam kondisi perjalanan laut yang keras. Kekuatannya bukan di Qi atau teknik tempur.Kekuatannya adalah jaringan."Kau mendengar tentang pembantaian di dermaga?" tanya seorang pedagang kepadanya saat mereka berpapasan di depan sebuah warung."Aku mendengar tentang catatan kuno dan cahaya dari kedalaman laut," jawab Lu Wenqing sambil ia berhenti sebentar dengan wajah yang terlihat tertarik namun tidak terlalu tertarik. "Seperti yang semua orang dengar.""Menurutmu itu nyata?" tanya pedagang itu."Menurutku," kata Lu Wenqing sambil sudut bibirnya bergerak sedikit, "apakah nyata atau tidak, ti
"Biarkan mereka bertanya," kata Guo Haishan. "Jawabannya adalah: Baek Daejin mati karena serakah di tempat yang salah, bukan karena musuh kita. Itu pelajaran yang lebih berharga dari pembalasan manapun.""Orang-orang mungkin tidak melihatnya seperti itu," kata wakilnya. "Mereka bisa menganggap kita lemah.""Kalau ada yang ingin membalas dengan uangnya sendiri dan kapalnya sendiri," kata Guo Haishan sambil matanya akhirnya terangkat dari peta dan menatap wakilnya, "aku tidak akan menghentikannya. Tapi jangan pakai sumber daya armada untuk urusan yang tidak menguntungkan."Wakilnya diam sebentar. "Lalu apa yang kita lakukan?""Membalas," kata Guo Haishan sambil jarinya menyentuh titik tengah peta. Di Jurang Laut Bintang. "Tapi bukan untuk Baek Daejin. Kita membalas dengan cara yang membuat semua yang ikut membunuhnya menjadi tidak relevan."Wakilnya menatap titik di peta itu. "Arte
Rong Tian mendengarkan semua ini dengan wajah yang tetap tenang. Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada reaksi yang terlihat. Tapi dalam hatinya, amarah mulai menyala."Lima ratus tahun," batinnya dengan nada dingin, "dan dunia menjadi seperti ini."Ia mengambil napas dalam, menenangkan diri. Waja
Ratusan bayangan pedang Mo Jianhai hancur menjadi asap hitam.Puluhan klon Luo Qianmo lenyap seperti kabut yang terkena angin.Pilar-pilar batu Zhen Wushao retak dan runtuh menjadi debu.Jaringan energi gelap Han Yelou terbakar habis dalam sekejap.Cakar hitam Hei Wucheng meledak menjadi percikan a
Rong Tian tidak menjawab, ia tidak peduli dengan bisikan-bisikan di sekitarnya. Ia hanya terus berjalan, mengamati sekitar dengan tatapan datar dan penuh analisis."Dunia ini," gumamnya pelan sambil menatap semua pemuda dan pemudi yang ramai berbicara, "benar-benar berbeda dari yang kukenal."Merek
Balai utama Desa Heishan adalah bangunan bergaya paviliun besar dengan tiang-tiang merah tua yang kokoh. Atapnya melengkung dengan sudut-sudut timur yang khas, dihiasi lampion-lampion merah yang berderet rapi.Tirai sutra putih bergetar pelan karena angin malam yang menyelinap masuk. Meja-meja kayu







