Se connecterSorotan kearah Bai Lie…
Tidak ada ancang-ancang yang ia lakukan. Tidak ada seruan atau persiapan.
Tubuhnya berpindah dari tempatnya berdiri ke arah Rong Tian dengan kecepatan Jiwa Muda level 6 puncak yang terukur. Bukan kecepatan maksimal, bukan pula serangan biasa. Ini pengujian.
Jurus pertama. Telapak tangan kanannya melepaskan tekanan Qi yang terkonsentrasi ke arah dada Rong Tian dari jarak dua langkah, serangan yang cuk
Idris tidak berkata lebih lanjut. Ia berjalan dengan matanya yang mulai bergerak mengingat-ingat setiap wajah yang ia lihat semalam di ruang pusat.Rafiq Mahrun yang berjalan di sisi kanan Qasim berbicara sangat pelan. "Kain itu aman?""Di tempat yang paling aman yang ada," jawab Qasim.Guan Shiqi dari Sekte Tapak Batu Kunlun mengumpulkan dua muridnya di luar gerbang selatan kota saat matahari sudah setinggi dua tombak."Berapa yang kita bawa?" tanya murid pertamanya sambil mengecek isi kantong di pinggangnya untuk ketiga kalinya sejak pagi."Dua belas tabung pil kultivasi, tiga ikat herbal, dan dua manual," jawab Guan Shiqi sambil ia sendiri mengecek dengan satu sentuhan cepat. "Tidak banyak. Lebih sedikit dari yang aku harapkan ketika pertama kali mendengar ada ruang rahasia di bawah sini.""Senior Guan kecewa?" tanya murid keduanya dengan nada hati-hati.
"Dan kau membawa pulang lebih banyak," kata Lin Jianfeng."Setengah detik lebih cepat," ulang Bai Yuanfeng pelan.Lin Jianfeng tidak menjawab. Ia hanya mengangkat dagunya sedikit dan mengambil langkahnya ke arah timur laut."Perjalanan baik," kata Bai Yuanfeng ke punggungnya."Begitu juga," jawab Lin Jianfeng tanpa menoleh.Ku Zhen menopang Gu Zhi melalui jalur sempit di sisi utara kota yang tidak banyak dilalui orang di pagi hari.Meridian dada kiri Gu Zhi masih terasa seperti bara yang menolak padam setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Ku Zhen sudah menutup titik rasa sakit itu dengan teknik Qi sementara yang bisa menekan gejalanya namun tidak menyembuhkan apapun. Perbaikan sebenarnya butuh tempat yang tenang, ramuan yang tepat, dan waktu yang tidak sedikit."Kita tidak bisa lewat Pasar Jalur Barat," kata Ku Zhen sambil matanya m
Perjalanan mereka singkat. Gulungan teknik kultivasi dari ruang pusat masih tersimpan rapi di dalam lipatan jubah prajurit pertama, tidak bergerak, tidak disentuh sejak dimasukkan semalam. Tidak ada yang bertanya soal isinya."Yang Mulia," kata prajurit pertama saat mereka hampir mencapai gerbang kota barat. "Kabar tentang Rakhim dan Zaryan. Kapan akan disampaikan kepada kota?""Belum," jawab Khagan tanpa memperlambat langkahnya."Keluarga mereka akan bertanya," kata prajurit itu lagi."Aku tahu," kata Khagan. Nada suaranya turun satu tingkat. "Dan aku akan menjawab mereka secara langsung. Bukan lewat rumor pasar."Prajurit pertama itu tidak bertanya lebih lanjut.Prajurit kedua berbicara lebih pelan. "Yang Mulia, tanpa Rakhim dan Zaryan, posisi pertahanan timur kota perlu diisi. Siapa yang akan mengisinya?"Khagan tidak menjawab segera.
Badai gurun itu mereda menjelang fajar.Pasir yang sudah berputar semalaman turun perlahan ke permukaan tanah dan menutup semua yang ada di bawahnya dengan lapisan yang rata dan tenang, seolah tidak ada yang pernah terjadi di bawahnya. Retakan di atas lokasi ruang pusat tertutup pasir tebal. Tidak ada tanda, tidak ada jejak, tidak ada sisa yang bisa dibaca oleh siapapun yang tidak turun ke sana semalam.Di antara gundukan pasir di sebelah barat kota, dua gundukan kecil terbentuk di permukaan yang tidak akan menarik perhatian siapapun yang tidak tahu apa yang ada di bawahnya. Tidak ada tanda batu. Tidak ada nama. Hanya pasir.Rakhim dan Zaryan tidak kembali ke Ashgar.Kabar mulai beredar di antara kultivator yang bermalam di Rumah Penginapan Angin Gurun sebelum matahari naik setengah jengkal."Ruang rahasia itu runtuh," kata seorang pedagang kepada teman duduknya di kedai pagi sam
Pada jurus kedelapan belas, ada rasa seperti logam panas di dalam mulutnya. Ia menelannya tanpa mengubah ekspresi dan melanjutkan gerakan berikutnya."Kau tidak perlu menyelesaikan ini," kata Rong Tian dengan nada yang turun sangat sedikit dari sebelumnya."Dua puluh tiga," kata Rakhim sambil napasnya menderu. "Aku memutuskan dua puluh tiga.""Kenapa dua puluh tiga?""Karena itu jumlah tahun aku menjaga Ashgar bersama Zaryan."Rong Tian tidak menjawab.Jurus sembilan belas. Dua puluh. Dua puluh satu. Dua puluh dua.Gerakan-gerakan itu semakin lambat. Tenaga di balik setiap jurus semakin tipis, seperti bara yang tidak mendapat udara baru namun tetap dipaksa menyala.Pasir di sekitar kaki Rakhim sudah tidak terlempar lagi karena tidak ada cukup tekanan di dalamnya untuk menggerakkan apapun.Jurus du
Zaryan melepaskan serangannya.Ia melesat duluan dengan seluruh Qi Jiwa Muda level 7 puncaknya yang dilepaskan sekaligus ke satu titik, mengumpulkan semua tenaga yang tersisa dalam meridiannya menjadi satu gelombang yang padat dan cepat.Serangan itu bukan pengujian. Bukan pemanasan. Ini serangan seseorang yang sudah memutuskan bahwa tidak ada cukup waktu untuk berhati-hati.Energi itu membentur sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa di sekitar tubuh Rong Tian.Bukan dinding. Bukan perisai. Bukan teknik pertahanan yang bisa diidentifikasi oleh siapapun yang melihatnya. Energi Zaryan hanya bertemu sesuatu di sana dan berhenti melaju.Dan kembali.Bukan terpental dengan suara keras. Ia kembali dalam gelombang balik yang lebih padat dari saat keluar, seperti cairan yang dipaksa melewati celah yang terlalu sempit lalu dilepaskan dari sisi lain dengan t







