INICIAR SESIÓN46Seunit mobil sedan hitam berhenti di depan bangunan besar di kawasan Tendean. Keempat penumpangnya turun dan jalan memasuki restoran keluarga yang terlihat ramai pengunjung. Seorang pegawai menyambut di dekat pintu. Zianka menerangkan maksudnya dan pegawai itu mengajak keempat tamu, menaiki tangga hingga tiba di lantai dua. Mereka melintasi lorong panjang yang di kanan dan kirinya merupakan ruang VIP. Mereka menghentikan langkah di depan pintu ujung kiri. Sang pegawai membukakan pintu ruang VIP 1 dan mempersilakan para tamu masuk. Lalu dia menerangkan cara memesan, dan menunggu keempat tamu itu menentukan menu pilihan masing-masing. Sekian menit berikutnya, seorang pria bermata besar memasuki ruangan. Disusul seorang perempuan yang juga bermata besar. Keduanya menyalami semua tamu, sebelum duduk di kursi yang berdekatan. Selama belasan menit selanjutnya, Hadrian Danadyaksha dan Laura Hayaka berdiskusi dengan Raidu. Ketiganya sepakat untuk menjalin kerjasama dalam membuka restor
45Minggu terlewati. Wirya dan yang lainnya telah kembali dari tanah suci. Dimas dan Zhou Yiran yang hendak balik ke rumah mereka, dicegah Wirya, karena pria itu hendak berbincang serius dengan keduanya. Malam itu, seusai makan, ketiga orang tersebut berpindah ke ruang kerja. Wirya menerangkan rencana buatannya dan Alvaro, supaya bisa menekan Xiao He Huan dan Xiao Longwei, guna menjual saham milik mereka di Zhou Company. Wirya, Dimas, Dante, dan Cheung Chyou Jaden, telah berhasil mendapatkan 50% saham di perusahaan itu. Hal tersebut tak lepas dari gerak cepat ketiga anggota tim binaan GUNZ, yakni Chou Hao-ran, Han Lionell, dan Xie Benton. "Yiran, apa kamu punya info, apa yang bisa kami gunakan untuk menekan Longwei dan ayahnya?" tanya Wirya. "Tidak ada, Yah," jawab Zhou Yiran. "Aku tidak dekat dengan keluarga Longwei. Mereka agak kaku," lanjutnya. "Hmm, berarti kita cuma bisa menunggu tim kokomu yang sedang cari celah di keluarga Xiao." "Kenapa kalian tidak menekan Dingbang, Ser
44Hari berganti. Dimas keluar dari lift bersama Rabiya. Mereka bergegas menuju ruang rapat di ujung kanan lorong, dan memasuki tempat yang telah ramai orang. Keduanya bergantian bersalaman dengan belasan pebisnis Indonesia dan asisten mereka. Dimas menyunggingkan senyuman saat menyalami Zianka, yang bersalaman dengannya dengan ujung jari. Dimas mengabaikan tingkah gadis itu, yang diduganya masih marah padanya. Dimas menyambangi Januar Achnav yang telah memanggilnya. Dimas merunduk guna mendengarkan penuturan bos PG tersebut. Mereka berbincang dengan suara pelan, sebelum Dimas manggut-manggut, lalu berpindah duduk ke kursi kosong antara Dhruvi Ardhibanu dan Drew Bimantara, keduanya berasal dari tim PC 8 serta 7. Sedangkan Rabiya telah lebih dulu menempati kursi di deretan belakang, yang merupakan tempat para asisten.Tidak berselang lama, rapat dimulai oleh Anggara Dwi Andarji, direktur marketing JVE. Anggara yang akrab dipanggil Angga, merupakan anggota tim lapis 8 PBK. Karier Angg
43*Tim Proyek Guangzhou* Benigno : Apa-apaan itu? @Hao-ran. Sebastian : Ada apakah gerangan? Chow Warren Gareth : Hao-ran mengaku sebagai besannya W. Linggha : Siapa calon mantunya? David : Bayazid? Alvaro : Itu menantuku. Tristan : Marwa? Emris : Tidak bisa! Aku sudah deal duluan sama W, agar Marwa jadi menantuku. Chou Hao-ran : Anak sulungku perempuan. Jelas bukan Marwa calonnya. Bayazid, beda usianya terlalu jauh. Sekitar 12 tahun. Yang paling pas itu, Zayd. Kalau nggak, Shahzain juga boleh. Hadrian : Zayd adalah mantuku! Minta tabok ini. @Hao-ran.Chou Hao-ran : Enggak, @Kang Ian. Silakan. Aku keep Shahzain aja. Rangga : Ponakanku bukan barang dagangan. Nggak bisa di-keep! Zein : Ponakanku bukan apartemen, dilarang DP!Hendri : Ponakanku bukan proyek resor. Nggak boleh masang patok besi! Dimas : Aku nggak paham kalian ngomong apa. Tolong jelaskanlah. Han Lionell : @Dimas. Bisa merapat ke Guangzhou? Dimas : Kapan? @Koko Lionell.Han Lionell : Secepatnya. Dimas : Aku
42"Kenapa kamu memukulku!" bentak Zhou Dingbang sambil mengusap belakang kepalanya yang sakit. "Koko, Bodoh!" umpat Zhou Serena. "Gara-gara perbuatan Koko, kita kehilangan 25% saham, dan juga harus mengganti kerugian mereka!" hardiknya sembari menatap tajam kokonya. "Jangan menyalahkanku. Ini kulakukan untuk membantu kalian!" bantah Zhou Dingbang, sebelum dia bangkit dari lantai dan berpindah duduk ke kursi lain."Membantu apanya? Sekarang kondisi keuangan kita sudah kacau! Bukannya menolong, tapi Koko malah bikin tambah parah!" "Kamu tenang dulu. Aku tengah menunggu Longwei pulang dari Hong Kong. Dia juga harus ikut menanggung ganti rugi itu, karena ini semuanya rencana dia. Aku cuma ngasih uang. Lainnya, dia yang urus." "Uang? Apa maksudmu?" tanya Zhou Ming Hao. "Aku minta uang dari Mama, Pa," jelas Zhou Dingbang.Zhou Ming Hao mengerutkan dahi. "Papa tidak tahu tentang itu." "Maaf, Tuan. Nyonya memang ada menarik uang dari rekening pribadinya," celetuk Qiao Malfred. "Kapan?
41Zhou Dingbang jalan mondar- mandir sepanjang ruang kerjanya di Zhou Company. Pria bermata sipit itu merasa gusar, setelah asisten Duan Raidon menyampaikan pesan dari tim PBK. Zhou Dingbang bingung, bagaimana caranya tim PBK bisa mengetahui, jika dirinya dan Xiao Longwei yang telah menyewa banyak kelompok gangster, guna merusak beberapa proyek yang pengawasannya dipegang para ajudan PBK dan CJC. Pria berkemeja marun itu duduk di kursi tunggal. Dia meremas-remas rambutnya, sembari memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah itu. Zhou Dingbang sudah menghubungi Xiao Longwei dan meminta bertemu, tetapi sayangnya lelaki tersebut tengah berada di Hong Kong guna urusan bisnis. Kala pintu ruang kerjanya terbuka, Zhou Dingbang refleks mendongak. Dia belum sempat berdiri, ketika satu tamparan ketas mendarat di pipi kirinya. "Apa yang kamu lakukan bersama Longwei?" tanya Zhou Ming Hao, dengan nada suara tinggi. "Aku tidak paham maksud Papa," kilah Zhou Dingbang sembari memegangi pipinya







