MasukLisa was supposed to be the pride of her pack—the perfect heir, the next great alpha. But fate had other plans. "A defective wolf," they called her. "A disgrace." Born with a wolf that refused to shift, Lisa lived under the shadow of her father’s disappointment and her pack’s whispers. But nothing could have prepared her for the betrayal that led to her capture. Now, locked in a dungeon, she’s nothing more than a pawn in Alpha Cole’s twisted game. "You have been chosen as the breeder," the prisoner in the next cell murmurs. "None survived before you." Lisa refuses to accept this fate. She’d rather die than be used. But when the prisoner—Derek, a powerful fallen alpha—offers her a dangerous escape plan, she’s forced to make a choice. "Trust me," Derek says, his red eyes glowing in the dark. "Or stay and find out what happens when they come for you." Lisa doesn’t trust alphas. But if she wants to live, she might have no other choice.
Lihat lebih banyak"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGLisa's POVThe name itself sent a cold shiver down my spine.“What do you mean by death valley?” I asked, my voice quieter than I intended.Derek didn’t answer immediately. He crouched low, brushing his fingers over the damp soil, then sniffed the air. His expression hardened. “It's a cursed route,” he muttered. “a graveyard for any supernatural being that dares to cross it, even witches.”My stomach tightened. “You brought us here on purpose?”He straightened, eyes flicking to mine. “No. We didn’t have a choice. This is the fastest route to get beyond their reach. If we turn back, those demons, or worse, will find us before nightfall.”I didn’t like it. Every instinct in me screamed that this place was wrong. I tried to calm my pounding heart.“Derek,” I stepped closer. “What if there are more creatures here? What if what we see in this valley is far more cruel than the ones we saw in the forest?”“Like I said, we don't have a choice,” he cut me off, his vo
Lisa's POVI could not take one single step. My legs felt anchored there, into the wet earth, and froze at the sight of those green-eyed beasts.My claws twitched a little, but my body could not respond. I could barely take breath as I was looking at them."Lisa." The name echoed through the haze, sharp and authoritative.I slowly turned my head. In the meantime, Derek had reached to stand right next to me, his body tautly hard, his eyes dark with moods brewing.He saw them, the ugly looking forest demons hiding behind the trees; their glowing eyes locked on us.And without ever seeing hesitation, Derek shifted.The sickening sound of bones snapping, skin tearing, and rebirthing into fur sent an icy shiver up my spine.I have seen him shift once or twice, but never like this. Never with such swiftness. It was akin to watching some wild thing tear itself free from a maw. His wolf stood taller, darker, more terrifying than I remembered: Muscles rippled underneath the thic
Lisa's POVMy scream caught in my throat. The canoe rocked hard. Water splashed into it. Derek grabbed the sides to steady it, his eyes scanning the water fast.“What was that?” I whispered, heart racing.He didn’t answer right away. His jaw clenched tight. “Something’s under us.”I looked into the water, but all I saw was our reflection shaking with the ripples. The river was dark now, deep and wide, and everything around us suddenly felt colder.“Derek?” I said again, my voice thin.He didn’t blink. “Hold onto the canoe. No matter what, don’t fall in.”Another hit came, this time from the other side. We both leaned to balance it, but I was shaking too much to stay calm.Then I heard the same voices again. They were whispers, and louder this time around.I held onto the wooden edge with both hands. “They followed us! The magic, it's still here.”Derek’s eyes turned sharp, red flickering like fire in them. “They shouldn’t be able to follow us on the river.”“Well,
Lisa's POVI walked down to the river and had a quick bath. The water was cold, but I didn’t mind. My body still felt weird after everything that happened. When I came back, Derek was already sitting by a fire, roasting a deer. I had no idea how he caught it so fast. My eyes widened. "You caught that?" I asked, stepping closer.He didn’t look at me. Just turned the stick the meat was on."Yeah. Saw it when I was out earlier. Figured we needed food."I didn’t ask how. I didn’t want to know. He always did things I couldn’t explain."You can eat," he said. "I need to bathe."And with that, he stood up, wiped his hands on his pants, and walked toward the river. I watched him go. His back muscles moved like ropes under his skin. I sat beside the fire, picked a piece of the roasted deer, and started eating slowly. It tasted better than I expected. I guessed I was just very hungry.But then something strange started happening.I began to hear voices. Soft whispers.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.