INICIAR SESIÓNPada hari final berlangsung, aku mengenakan pakaian rapi, berdiri dengan anggun dan penuh percaya diri di atas panggung. Aku membawakan materi presentasi hasil riset pembelajaranku dengan sangat tenang.Metode pengajaran yang kuhadirkan, sangat baru, unik, dan begitu hidup, sampai menarik perhatian seluruh dewan juri serta penonton di dalam aula konferensi.Saat juri mengumumkan namaku sebagai peraih penghargaan juara pertama, air mata haru seketika menetes di pipiku.Seluruh kerja keras dan air mata yang kutumpahkan selama satu tahun ini, akhirnya terbayar lunas.Gerald yang berdiri di barisan penonton, tampak tersenyum lebar menatapku dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga dan kehangatan.Setelah kompetisi berakhir, aku menerima surat rekomendasi resmi dari pihak sekolah studi banding untuk mengajar di salah satu SMP bergengsi di kota ini.Di saat yang bersamaan, beberapa SMP unggulan di negaraku juga mengirimkan tawaran mengajar dengan fasilitas yang sangat menggiurkan.Aku bim
"Lionel, berani-beraninya kamu mau memukulku? Aku nggak akan membiarkanmu lolos begitu saja!"Novia berteriak histeris sembari merogoh ponsel dari dalam tasnya."Aku menyimpan semua foto dan video mesra kita, termasuk bukti obrolan saat kamu memintaku memalsukan surat undangan itu. Kalau aku mengunggah semua ini ke internet, kamu bakal hancur!"Wajah Lionel seketika memucat. Dia bergegas bangkit dari tanah dan mencoba merebut ponsel tersebut."Novia, berani sekali kamu! Kalau kamu berani menyebarkannya, aku nggak akan memaafkanmu!"Mereka berdua saling cakar dan menjambak, merobek pakaian satu sama lain, sambil diiringi makian kasar yang saling terlontar. Pemandangan itu sungguh menjijikkan.Orang-orang di sekitar sibuk mengeluarkan ponsel untuk merekam dan mengabadikan momen memalukan tersebut.Aku dan Gerald yang berdiri tidak jauh dari sana, hanya menatap mereka tanpa rasa iba sedikit pun. Ini adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri, yang menghancurkan masa depan mereka dengan
Orang itu adalah Lionel.Dia mengenakan pakaian kasual yang kusut dengan rambut berantakan, dan tatapan mata yang sangat kuyu. Dia tampak seperti orang yang berbeda dari sosok Pak Lionel yang dulu selalu tampil penuh wibawa.Begitu melihatku, matanya seketika berbinar. Dia bergegas melangkah lebar menghampiriku."Devara, kamu benar-benar di sini!"Suara Lionel terdengar sangat serak, menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. "Aku mencarimu ke mana-mana, akhirnya aku menemukanmu!"Aku mengernyitkan dahi, lalu refleks menggeser dudukku merapat ke arah Gerald.Gerald dengan sigap menggenggam tanganku erat, lalu menatap Lionel dengan dingin namun tenang."Tuan Lionel, ada yang bisa kami bantu? Devara sekarang adalah pacarku, rasanya kurang pantas kalau Tuan Lionel terus mengganggunya."Wajah Lionel seketika memucat. Dia menatapku, lalu beralih menatap tangan Gerald yang menggenggam tanganku. Matanya memancarkan rasa sakit dan penyesalan yang luar biasa."Pacar? Devara, apa kamu benar-benar
Lionel tersentak kaget. "Saya tidak memalsukan surat undangan itu. Novia yang memberikannya pada saya."Novia yang wajahnya sudah pucat pasi, langsung membantah dengan panik, "Bukan saya! Kak Lionel, aku nggak pernah memalsukan surat itu. Aku cuma membantumu menanyakannya, aku nggak tahu kalau surat itu ternyata palsu!"Melihat keduanya saling melempar tanggung jawab dengan begitu memalukan, sudut bibirku terangkat membentuk senyuman sinis.Aku sudah menduga Novia akan berulah. Itulah sebabnya, aku memberi tahu kepala sekolah terlebih dahulu agar memeriksa keaslian surat undangan Lionel. Siapa sangka, gadis itu benar-benar nekat memalsukan surat undangan.Pada akhirnya, Lionel diseret keluar oleh petugas keamanan sekolah untuk diserahkan kepada kepolisian setempat guna penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, Novia dijatuhi sanksi teguran tertulis dari pihak sekolah atas pemalsuan tersebut, dan status magangnya langsung dicabut.Menatap punggung mereka yang pergi dengan sangat mengen
Menatap sorot mataku yang tampak sangat dingin dan penuh tekad, Lionel akhirnya tidak memaksa lagi. Dia hanya berkata dengan mata yang memerah menahan tangis, "Devara, aku nggak akan nyerah begitu saja. Aku akan terus menunggumu kembali!" Aku tidak memberikan jawaban apa pun. Aku langsung berbalik mengikuti koordinator masuk ke dalam area sekolah. Di belakangku, tatapan mata Lionel terasa sangat berat seperti belenggu yang mengikat. Namun, aku tahu pasti bahwa mulai detik ini, aku tidak akan pernah membiarkan diriku terikat olehnya lagi.Lionel tidak langsung pulang. Dia justru menyewa sebuah flat kecil di dekat tempat tinggalku.Setiap hari dia akan berdiri menunggu di depan gerbang sekolah. Meskipun tidak membuat keributan lagi, kehadirannya tetap saja memicu desas-desus di antara orang-orang sekitar.Aku memilih untuk mengabaikannya dan fokus pada kegiatan studi banding. Aku mempelajari metode pengajaran terbaru dari para guru lokal, serta bertukar pengalaman mengajar dengan rekan
Layar ponselku dipenuhi oleh panggilan tidak terjawab, yang semuanya berasal dari nomor Lionel.Ada juga puluhan pesan teks yang masuk. Mulai dari awalnya yang bernada ketus dan menuntut penjelasan, hingga akhirnya berubah menjadi pesan panik yang memohon-mohon.Aku hanya meliriknya sekilas tanpa membuka satu pun pesan tersebut. Tanpa ragu, aku langsung memblokir nomornya. Begitu pula dengan akun WhatsApp, Instagram, dan seluruh kontak sosial mediaku yang bisa menghubungkannya denganku.Koordinator program studi banding sudah menungguku di pintu keluar bandara. Dia menyerahkan jadwal kegiatan serta kartu SIM lokal sambil tersenyum ramah."Bu Devara, Anda pasti lelah selama perjalanan. Kita ke penginapan untuk istirahat dulu, baru besok kita mulai kegiatannya."Aku menerima barang-barang itu, mengucapkan terima kasih dengan sopan, lalu mengikuti rombongan menuju tempat tinggal sementara kami.Embusan angin di negara asing ini membawa aroma yang terasa asing di indra penciumanku. Namun,







