Share

Daun Gugur Tanpa Suara
Daun Gugur Tanpa Suara
Author: Muriaz

Bab 1

Author: Muriaz
Setelah menyerahkan surat permohonan, bel tanda pulang sekolah pun berdering.

Kepala sekolah menatapku beberapa saat dengan pandangan ragu, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Bu Devara, Ibu dan Pak Lionel bulan depan akan menikah. Padahal kemarin lusa, Ibu masih membuat rancangan kartu undangan. Kenapa sekarang ...?"

Aku tahu kelanjutan kalimatnya yang menggantung.

Program pertukaran ke luar negeri ini membutuhkan waktu minimal tiga tahun untuk bisa kembali. Sepasang pengantin baru, mana yang sanggup menanggung hubungan jarak jauh yang begitu lama? Apalagi, semua orang di sekolah tahu perjuanganku mendapatkan Lionel Artha. Aku mengejarnya selama empat tahun dan berpacaran dengannya selama tiga tahun, hingga akhirnya kami akan melangkah ke pelaminan.

Bagaimana mungkin aku rela meninggalkannya?

Namun, perjalanan yang jauh hanya akan menyisakan kerinduan jika kedua belah pihak saling mencintai. Dan beberapa saat yang lalu, aku baru menyadari bahwa pria yang setuju menikahiku itu, ternyata tidak mencintaiku sebesar dugaanku selama ini.

Aku mengikis noda darah kering di sela kuku tanganku. Bekas darah yang tidak sengaja menempel saat aku menyumpal celanaku dengan tisu tebal, lalu berucap pelan, "Sepertinya kami memang nggak berjodoh."

"Bu Kepala Sekolah, saya ingin minta tolong satu hal. Tolong jangan beri tahu siapa pun tentang hal ini, ya?"

Kepala sekolah mengernyit, matanya memancarkan rasa iba.

"Baiklah, aku akan merahasiakan hal ini untukmu."

"Kebetulan rombongan studi banding pertama ke luar negeri akan berangkat besok. Kalau kamu mau, aku bisa mengatur agar kamu ikut dalam rombongan besok."

Aku mengangguk, membungkuk penuh terima kasih, lalu melangkah keluar dari ruangannya.

Ponselku bergetar untuk kedua kalinya. Saat kubuka, ada pesan dari Lionel.

[Kenapa lama sekali? Sudah sepuluh menit lebih dari jam pulang sekolah, tapi kamu belum turun juga.]

Sejak tinggal bersama Lionel, aku selalu pulang bersamanya setiap hari.

Meskipun jam pulang kerja Lionel dua jam lebih lambat dariku dan mengharuskanku duduk diam di ruang guru selama dua jam, aku tidak pernah mengeluh lelah sekali pun.

Namun hari ini, dia yang baru menungguku selama sepuluh menit, sudah mulai kehilangan kesabaran.

Aku mengatupkan bibir, mencoba merasakan rasa di dadaku sendiri. Anehnya, rasa sesak yang kukira akan menyiksa ternyata tidak ada. Saat itulah aku tahu, aku benar-benar sudah merelakannya.

Aku mengetik balasan singkat.

[Aku masih ada urusan, kamu pulang duluan saja.]

Setelah itu, aku langsung mematikan ponsel tanpa melihatnya lagi.

Aku kembali ke meja kerjamu untuk merapikan buku pelajaran, serta menyusun berkas serah terima tugas dan data siswa. Satu jam kemudian, barulah aku melangkah keluar dari gerbang sekolah sambil meregangkan bahu yang pegal.

Saat aku mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi, suara klakson keras di belakangku mendadak mengejutkanku. Aku menoleh dan mendapati mobil Lionel terparkir tepat di belakangku.

Aku tertegun di tempat, sampai akhirnya dia membunyikan klakson sekali lagi dan menjulurkan kepalanya dari jendela mobil.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 10

    Pada hari final berlangsung, aku mengenakan pakaian rapi, berdiri dengan anggun dan penuh percaya diri di atas panggung. Aku membawakan materi presentasi hasil riset pembelajaranku dengan sangat tenang.Metode pengajaran yang kuhadirkan, sangat baru, unik, dan begitu hidup, sampai menarik perhatian seluruh dewan juri serta penonton di dalam aula konferensi.Saat juri mengumumkan namaku sebagai peraih penghargaan juara pertama, air mata haru seketika menetes di pipiku.Seluruh kerja keras dan air mata yang kutumpahkan selama satu tahun ini, akhirnya terbayar lunas.Gerald yang berdiri di barisan penonton, tampak tersenyum lebar menatapku dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga dan kehangatan.Setelah kompetisi berakhir, aku menerima surat rekomendasi resmi dari pihak sekolah studi banding untuk mengajar di salah satu SMP bergengsi di kota ini.Di saat yang bersamaan, beberapa SMP unggulan di negaraku juga mengirimkan tawaran mengajar dengan fasilitas yang sangat menggiurkan.Aku bim

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 9

    "Lionel, berani-beraninya kamu mau memukulku? Aku nggak akan membiarkanmu lolos begitu saja!"Novia berteriak histeris sembari merogoh ponsel dari dalam tasnya."Aku menyimpan semua foto dan video mesra kita, termasuk bukti obrolan saat kamu memintaku memalsukan surat undangan itu. Kalau aku mengunggah semua ini ke internet, kamu bakal hancur!"Wajah Lionel seketika memucat. Dia bergegas bangkit dari tanah dan mencoba merebut ponsel tersebut."Novia, berani sekali kamu! Kalau kamu berani menyebarkannya, aku nggak akan memaafkanmu!"Mereka berdua saling cakar dan menjambak, merobek pakaian satu sama lain, sambil diiringi makian kasar yang saling terlontar. Pemandangan itu sungguh menjijikkan.Orang-orang di sekitar sibuk mengeluarkan ponsel untuk merekam dan mengabadikan momen memalukan tersebut.Aku dan Gerald yang berdiri tidak jauh dari sana, hanya menatap mereka tanpa rasa iba sedikit pun. Ini adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri, yang menghancurkan masa depan mereka dengan

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 8

    Orang itu adalah Lionel.Dia mengenakan pakaian kasual yang kusut dengan rambut berantakan, dan tatapan mata yang sangat kuyu. Dia tampak seperti orang yang berbeda dari sosok Pak Lionel yang dulu selalu tampil penuh wibawa.Begitu melihatku, matanya seketika berbinar. Dia bergegas melangkah lebar menghampiriku."Devara, kamu benar-benar di sini!"Suara Lionel terdengar sangat serak, menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. "Aku mencarimu ke mana-mana, akhirnya aku menemukanmu!"Aku mengernyitkan dahi, lalu refleks menggeser dudukku merapat ke arah Gerald.Gerald dengan sigap menggenggam tanganku erat, lalu menatap Lionel dengan dingin namun tenang."Tuan Lionel, ada yang bisa kami bantu? Devara sekarang adalah pacarku, rasanya kurang pantas kalau Tuan Lionel terus mengganggunya."Wajah Lionel seketika memucat. Dia menatapku, lalu beralih menatap tangan Gerald yang menggenggam tanganku. Matanya memancarkan rasa sakit dan penyesalan yang luar biasa."Pacar? Devara, apa kamu benar-benar

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 7

    Lionel tersentak kaget. "Saya tidak memalsukan surat undangan itu. Novia yang memberikannya pada saya."Novia yang wajahnya sudah pucat pasi, langsung membantah dengan panik, "Bukan saya! Kak Lionel, aku nggak pernah memalsukan surat itu. Aku cuma membantumu menanyakannya, aku nggak tahu kalau surat itu ternyata palsu!"Melihat keduanya saling melempar tanggung jawab dengan begitu memalukan, sudut bibirku terangkat membentuk senyuman sinis.Aku sudah menduga Novia akan berulah. Itulah sebabnya, aku memberi tahu kepala sekolah terlebih dahulu agar memeriksa keaslian surat undangan Lionel. Siapa sangka, gadis itu benar-benar nekat memalsukan surat undangan.Pada akhirnya, Lionel diseret keluar oleh petugas keamanan sekolah untuk diserahkan kepada kepolisian setempat guna penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, Novia dijatuhi sanksi teguran tertulis dari pihak sekolah atas pemalsuan tersebut, dan status magangnya langsung dicabut.Menatap punggung mereka yang pergi dengan sangat mengen

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 6

    Menatap sorot mataku yang tampak sangat dingin dan penuh tekad, Lionel akhirnya tidak memaksa lagi. Dia hanya berkata dengan mata yang memerah menahan tangis, "Devara, aku nggak akan nyerah begitu saja. Aku akan terus menunggumu kembali!" Aku tidak memberikan jawaban apa pun. Aku langsung berbalik mengikuti koordinator masuk ke dalam area sekolah. Di belakangku, tatapan mata Lionel terasa sangat berat seperti belenggu yang mengikat. Namun, aku tahu pasti bahwa mulai detik ini, aku tidak akan pernah membiarkan diriku terikat olehnya lagi.Lionel tidak langsung pulang. Dia justru menyewa sebuah flat kecil di dekat tempat tinggalku.Setiap hari dia akan berdiri menunggu di depan gerbang sekolah. Meskipun tidak membuat keributan lagi, kehadirannya tetap saja memicu desas-desus di antara orang-orang sekitar.Aku memilih untuk mengabaikannya dan fokus pada kegiatan studi banding. Aku mempelajari metode pengajaran terbaru dari para guru lokal, serta bertukar pengalaman mengajar dengan rekan

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 5

    Layar ponselku dipenuhi oleh panggilan tidak terjawab, yang semuanya berasal dari nomor Lionel.Ada juga puluhan pesan teks yang masuk. Mulai dari awalnya yang bernada ketus dan menuntut penjelasan, hingga akhirnya berubah menjadi pesan panik yang memohon-mohon.Aku hanya meliriknya sekilas tanpa membuka satu pun pesan tersebut. Tanpa ragu, aku langsung memblokir nomornya. Begitu pula dengan akun WhatsApp, Instagram, dan seluruh kontak sosial mediaku yang bisa menghubungkannya denganku.Koordinator program studi banding sudah menungguku di pintu keluar bandara. Dia menyerahkan jadwal kegiatan serta kartu SIM lokal sambil tersenyum ramah."Bu Devara, Anda pasti lelah selama perjalanan. Kita ke penginapan untuk istirahat dulu, baru besok kita mulai kegiatannya."Aku menerima barang-barang itu, mengucapkan terima kasih dengan sopan, lalu mengikuti rombongan menuju tempat tinggal sementara kami.Embusan angin di negara asing ini membawa aroma yang terasa asing di indra penciumanku. Namun,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status