Share

13. Ajarkan Memasak

Zayna mengikuti Desi dari belakang. "Mama mau bicara apa?" tanya Zayna tidak berani menatap mata Desi setelah berdiri saling berhadapan. Mereka berdua berdiri agak menjauh dari dapur agar Bi Astri tidak mendengar obrolan.

"Mama minta maaf soal semalam, ya, Nak. Mama benar-benar tersulut emosi dengan ucapan Dona," ungkap Desi merasa tidak enak hati dengan Zayna, sebab telah memaksa Zayna bercerita akan masa lalunya. "Mama tidak bermaksud memaksa kamu untuk bercerita. Harusnya Mama mengerti di posisi kamu. Mama minta maaf sekali lagi, jangan dipikirkan, ya?" mohon Desi.

Jangan dipikirkan? Sudah terlambat, Zayna semalam overthinking parah. Zayna pikir Mama Desi mengajak berbicara empat mata untuk menyuruhnya berkata sejujurnya tanpa ada kelewat sedikitpun, ternyata tidak. Di sisi lain ada kelegaan di hati Zayna saat mendengar permintaan maaf Mama Desi.

Kepala Zayna terangkat dan menggigit bibir bawahnya. "Mama jangan minta maaf sama Zayna. Mama pasti kecewa sama Zay, ya?" Tatapan Zayna berubah.

Desi meraih tangan Zayna, dielus lembut. Dia sangat menyayangi menantu perempuannya itu, sudah seperti anak sendiri. "Sayang, Mama tidak kecewa sama kamu. Setiap orang punya masa lalu, yang penting kamu sekarang sudah memperbaiki diri. Jangan dengerin omongan Dona yang kemarin, ya! Biar Mama marahin kalau bertemu dengannya! Enak saja menantu kesayangan Mama diinjak olehnya," murka Desi.

Senyuman Zayna mengembang. Sangat bersyukur dia diterima oleh keluarga Fatih, kecuali Latisa yang tampak membencinya entah punya alasan apa. "Makasih banget, ya, Ma. Rasanya lega sekarang." Matanya berbinar-binar tak bisa dipungkiri merasa senang, dia tidak overthinking lagi.

"Sama-sama sayang. Mau masak bantu Bi Astri?"

"Iya, Ma. Sambil belajar," jawab Zayna merasa malu karena tidak bisa memasak. "Repot nanti kalau pindah ke rumah baru masih tidak bisa masak," lanjutnya.

Desi tidak mempermasalahkan kalau menantunya belum bisa terbiasa di dapur. Justru salut dengan Zayna yang bicara terang-terangan kalau tidak bisa memasak. "Tidak apa-apa. Fatih bisa memasak kok, nanti Mama suruh Fatih buat ngajarin kamu masak. Oh, ya. Kalau sudah pindah rumah pekerjaan rumah tangga itu bukan kewajiban istri, melainkan tanggung jawab yang dibebankan pada suami. Jadi, Mama sudah meminta Fatih untuk membantu kamu."

"Akhh, terima kasih, Ma!" jerit Zayna senang sambil memeluk Mama Desi. Zayna beruntung sekali diterima baik oleh Ibunya Fatih, bisa menerima kekurangannya dan perhatian padanya.

"Iya, sayang." Membalas pelukan. "Pokoknya kalau Fatih bikin kamu menangis. Bilang sama Mama!"

Zayna mengangguk semangat. "Siap, Ma!"

Zayna pun melanjutkan membantu Bi Astri di dapur. Sambil belajar sedikit, Bi Astri tidak keberatan sama sekali. Setelah selesai memasak sambil membawa makanan ke meja makan Zayna bercerita ke Bi Astri tentang keluarga Fatih.

"Nak Zayna harus bersyukur banget bisa menjadi bagian keluarga ini. Bu Desi memang baik banget orangnya. Pernah Bibi melakukan kesalahan, ditegur langsung dimaafkan. Untunglah tidak dipecat. Apalagi soal makanan, Bu Desi tidak pelit sama sekali. Dulu juga Bibi dipaksa gabung makan satu meja, tapi Bibi tolak, nggak enak hati," cerita Bi Astri. "Pokoknya banyak banget kebaikan Bu Desi. Sampai anak Bibi yang terakhir di kampung dibiayai kuliah."

Zayna melongo. "Oh, ya, Bi?" Kaget sekaligus senang mendengarnya. Kalau Bi Astri tidak cerita, mungkin Zayna tidak akan tahu kebaikan Mama Desa, memperlakukan ART tanpa pandang bulu.

"Iya, Nak. Alhamdulillah banget Bibi bisa kerja di sini. Dapat majikan super baik!" Bi Astri sangat amat bersyukur.

"Syukurlah, Bi. Ikut senang."

****

Tepat pukul enam lebih lima belas menit, semua makanan untuk sarapan tersaji di meja makan. Banyak pilihan lauk pauk sampai bingung ingin memakan yang mana. Melihat saja sudah ngiler.

"Ini semua yang masak Zayna, lho. Saking banyaknya bisa sisain untuk makan siang," ucap Desi memberi tahu saat suaminya dan putranya sudah duduk di sana. "Cobain deh masakannya Zay."

Zayna tersenyum kikuk. Sebenarnya tidak sepenuhnya dirinya yang masak, dia hanya membantu Bi Asri. Zayna masih kesulitan dan kaku di dapur. Entah rasanya enak di lidah mereka apa tidak.

Fatih mencicipi lebih dulu salah satu menu paling dekat dengannya membuat semua orang di meja menelan ludah menunggu jawaban Fatih. Zayna gelisah takut masakan kurang di lidah suaminya.

"Gimana?" tanya Desi. "Enak, 'kan?"

Fatih mengangguk. "Lumayan. Tidak mengecewakan."

"Nah, apa kata Mama! Tapi katanya Zayna ingin diajarkan memasak oleh kamu tuh. Itung-itung bikin senang istri."

Fatih menoleh ke Zayna. Dahi berkerut menandakan kebingungan. "Ini sudah bisa masak, lho," tanggapnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status