Masuk“Coba bayangin kalau ternyata cerita buruk yang kamu denger dari mereka bikin kamu overthingking, pasti mereka gak mau itu kan?”
“Iya sih, bener juga.”“Ya udah jangan ikutan galau gitu. Kasih waktu aja dulu ke kakak-kakak itu.” kata Shima mengakhiri percakapan tentang keresahan Yuuki. Dua orang itu kini asik membahas kegiatan bermusik mereka yang masih sangat aktif.Sampai akhirnya kos Yuuki pun terpampang nyata. “Makasih ya hari ini. Udah jadi tempat curhat, dikasih sar“Yuuki??” seru Hikaru, Usa, juga Aimi yang berlari masuk mendekati tempat tidur Yuuki. Anak itu meringkuk memegangi perutnya sambil memejamkan mata.Panik.Hanya itulah yang patut dikatakan. Hikaru menarik sisa selimut yang masih menempel di kaki Yuuki. Dia berusaha untuk mengangkat dan membopong Yuuki untuk pergi dari kamarnya. Mungkin ia bermaksud membawa Yuuki ke rumah sakit.Tetapi, belum tuntas kaki itu melangkah keluar rumah, mata gadis itu terbuka, lalu mulutnya terbuka “K-kak..?” ucapnya gagap.Hikaru tadinya tegang, seketika melebar dua matanya kini. Wajah yang pucat, Hikaru langsung menunduk menatap gadis yang dibopongnya. Langkahnya berhenti dan menghela panjang nafasnya.“Kamu.. kamu kenapa??” tanya Hikaru.“Aku? A-aku ijin Kak hari ini, perutku sakit..” jawab Yuuki dengan wajah polos. Dia sebenarnya sedang bingung. Mau bagaimana menjawabnya, sedangkan otaknya berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.Lalu,
“Coba bayangin kalau ternyata cerita buruk yang kamu denger dari mereka bikin kamu overthingking, pasti mereka gak mau itu kan?”“Iya sih, bener juga.”“Ya udah jangan ikutan galau gitu. Kasih waktu aja dulu ke kakak-kakak itu.” kata Shima mengakhiri percakapan tentang keresahan Yuuki. Dua orang itu kini asik membahas kegiatan bermusik mereka yang masih sangat aktif.Sampai akhirnya kos Yuuki pun terpampang nyata. “Makasih ya hari ini. Udah jadi tempat curhat, dikasih saran, dianterin pulang juga..”Shima dengan santainya meletakkan tangan ke atas kepala Yuuki yang mungil itu. Terbukti dari tangan Shima yang hampir sama dengan ukuran kepala Yuuki.“Aku pulang ya, bye! Sampe jumpa di sekolah!” kata Shima sambil berlari mundur menjauh dari Yuuki. Gadis ini malah terdiam, sedang keheranan dengan tingkah Shima. “Selalu ada orang usil di sekelilingku,” gumamnya.Setelah hari itu, Shin berhari-hari tak pulang. Pernah sesekali dia pulan
Empat orang duduk berkumpul dengan tumpukan kertas yang menemani mereka. Ada lirik dan not lagu tertera di kertas-kertas itu. Suasana tampak tegang jika dilihat dari raut masing-masing orang.“Bisa-bisanya, kalian semua gak masalah hal ini terjadi!” marah Shin yang begitu menggebu. Tangannya itu sambil mengibaskan kertas bernot lagu yang tadi. Hikaru memberinya jawaban dengan tenang, namun masih saja Shin emosi sampai memerah wajah dan juga lehernya.Usa dan Aimi pun berusaha untuk meluluhkan amarah temannya itu. Tapi tak mempan juga.Merasa amarahnya tak berguna di mata teman-temannya, Shin akhirnya keluar dan pergi dari sana. Dia berpapasan dengan Yuuki yang baru saja pulang.“Yuuki, aku masak chicken katsu buat kamu, ambil di dapur yaa, sana makan dulu nanti keburu gak enak makanannya.” kata Hikaru mengalihkan perhatian Yuuki saat anak itu terlihat begitu canggung dengan situasi yang ada.Yuuki buru-buru saat mengambil makanannya. Ia lalu pergi ke kamar karena tak ingin mengganggu
“Kyohei!” satu teman terdengar memanggil dengan lantangnya. Orang itu adalah Takumi. Ia berlari ke arah Kyohei yang berbalik setelah namanya dipanggil.“Aduh-““Makanya gak usah lari. Situ ke sini doang juga.”“Hehe,” ujar Takumi terkekeh memegangi ujung kakinya yang tersandung, “gosip panas itu bener adanya?”Kyohei menghela panjang nafasnya. Dia hanya diam tak beri jawaban.“Kok bisa sih? Kenapa? Soal Yuuki? Trus Minami gimana, bukannya kalian masih pacaran? Atau udah putus? Kok gak cerita-cerita sii?!” Langkah Kyohei berhenti. Keningnya berkerut dan tangannya mengacak kasar rambut yang tadi rapi itu.“Udah selesai pertanyaanmu?”Seakan tahu dirinya menyebalkan saat ini, Takumi cengengesan mendengar Kyohei bertanya padanya. Mau marah Kyohei pun tak bisa, biar bagaimana, Takumi ini cukup sering bersamanya. Dia juga butuh teman curhat saat ini. Diajaklah Takumi untuk ke atap, agar dia bisa bercerita dengan leluasa di sana.
Angin bertiup cukup kencang di waktu ini. Dua atau tiga daun bahkan terlempar di lantai koridor sekolah berkali-kali. Memanas situasi, jadi semakin mencekam di antara Shima dan Kyohei yang sedang berhadapan sampai detik ini.“Gak usah banyak tingkah dan memaksakan diri demi deket lagi sama Yuuki. Kamu itu udah gak pantes buat jadi temennya!” ucap ketus Shima. Dengan wajah yang datar, amarah tetap tersorot dari dua matanya.“Apa urusanmu? Aku temen dia dari kecil, kamu yang pendatang kan? Sedihnya dia, bahagianya dia, ada aku di sampingnya.”“Gila. Gak waras emang pikiranmu ya!”“Gila? Kamu gak sih yang gila? Apa hakmu menentukan siapa yang boleh temenan sama Yuuki!”Shima sampai menganga mulutnya. Dia pasti berpikir bagaimana bisa ada orang yang gak tahu malu kaya manusia satu ini. “Kamu, sama Minami. Udah berapa kali kalian nyakitin Yuuki hah?!”Emosi Shima semakin meluap, dia bahkan tak peduli ada orang lain atau tidak di sekit
“Aku bener-bener ga paham. Apa yang terjadi dengan persahabatan kami, itu semua gara-gara Minami?”“Dimana letak kesalahanku atau Kyohei, sampai dia berbuat sesuka hati gini?”Yuuki terus mengoceh walaupun televisi di depannya berbunyi cukup keras. Dia bisa bergumam dengan santai karena saat ini hanya ada dirinya sendiri di kos.Saat pintu tiba-tiba terbuka, tatapan matanya langsung beralih ke arah itu. Hikaru muncul dan sempat terdiam, melihat Yuuki yang menatapnya. “Sendirian Kak?” tanya Yuuki basa-basi sebagai pemanis obrolan. Hikaru sedikit gagap menjawabnya. Lalu, orang itu bertanya dimana Ryo, dia memastikan bahwa dirinya tak berduaan saja di rumah ini.Setelah Yuuki menjawabnya, si Hikaru langsung gerak cepat memakai sepatunya lagi sambil berkata, “Ah iya, aku lupa beli sesuatu. Aku pergi dulu ya,” katanya tanpa melihat lawan bicaranya dengan jelas.Yuuki mengiyakan pamitan Hikaru tetapi pintu itu sudah tertutup saking cepatnya







