Compartilhar

Bab 2 

Autor: Muriaz
Gerbong kereta itu penuh sesak, hingga hampir tidak ada ruang untuk berdiri. Kakiku kan kaki Yanika menempel erat, sedangkan tubuhnya sepenuhnya bersandar dalam pelukanku. Payudaranya yang besar dan bulat menempel makin erat pada dadaku.

Dengan begitu, aku diam-diam menyentuh kaki Yanika yang panjang dan dibalut stoking hitam sambil memeluknya. Aku bermain-main dengannya selama setengah jam penuh.

"Panas banget!" ucap Yanika padaku secara tiba-tiba.

Aku melihat ke bawah dan menyadari bahwa wajah Yanika sudah memerah entah sejak kapan. Mungkin karena sentuhanku. Dia bertingkah agak aneh. Tangannya yang kecil dan seputih salju bertumpu di dadanya. Kulit di area dadanya yang terpampang bahkan sudah lebih basah dari sebelumnya.

Yanika menyeka keringat dari dadanya. Tampangnya terlihat makin menggoda. Aku benar-benar hampir tidak tahan lagi dan mulai menggodanya. Sayangnya, ruang gerbong terlalu sempit. Aku mencoba membuat ruang, tetapi segera didorong balik lagi begitu bergerak.

Tak mampu menahan diri lagi, aku memberanikan diri untuk mulai membelai bokong Yanika yang indah dengan penuh nafsu. Dia mengenakan rok lipit hitam yang hampir tidak menutupi bokongnya.

Aku meletakkan tanganku yang besar di atas bokongnya, lalu mulai meremas dan mencubitnya. Wajah Yanika mulai memerah secara tidak wajar. Mengangkat roknya sedikit, aku memindahkan tanganku ke paha Yanika. Bokong kecilnya sangat berisi. Meremasnya terasa luar biasa.

Aku menelan ludah dan mengeluarkan suara penuh dambaan. Yanika juga mendengarnya, tetapi tidak menghentikanku.

Sekarang, kami sudah berpelukan. Orang-orang bahkan mengira kami adalah pasangan. Gerak-gerik kami lebih mirip pasangan muda yang penuh hasrat.

Melihat Yanika tidak keberatan, aku tak bisa menahan diri lagi. Berhubung gerbongnya sangat sesak dan kami benar-benar terhalang, aku diam-diam lanjut menjelajahi tubuh Yanika yang menggoda.

Di bawah pinggangnya, rok Yanika sudah hampir kuangkat. Seberkas angin sejuk pun menerpa bokongnya.

Aku sangat berani. Meskipun kami terhalang oleh orang-orang di sekitar, jika penumpang yang duduk di kursi memperhatikannya secara cermat, perbuatan kami akan tetap ketahuan. Bahkan aku juga sedikit khawatir tindakanku ini mungkin akan mengekspos area intim Yanika.

Sayangnya, sensasi mendebarkan seperti ini sudah membuatku kehilangan kendali. Aku menatap Yanika dalam pelukanku dengan tatapan penuh hasrat. Dia sama sekali tidak terlihat malu. Kurasa, dia justru menikmati sentuhanku dan sedang menikmati rangsangan itu.

Saat ini, aku baru menyadari bahwa Yanika mengenakan stoking bodysuit hitam. Meski sudah menyingkap roknya sedikit, aku hanya bisa menyentuh permukaannya saja. Ini agak mengecewakan. Jadi, aku mencubit bokong Yanika dengan kuat!

"Ah!"

Mungkin karena terlalu merangsang, Yanika pun tidak dapat menahan diri dan hampir berteriak. Dia buru-buru menggigit bibir dan membenamkan wajahnya di dadaku untuk meredam suara itu.

Aku juga terkejut. Setelah menunggu beberapa menit dan tidak melihat ada yang terjadi, aku merasakan dorongan kuat untuk "menyiksa" Yanika. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan sebagus ini!

Napasku mulai memburu. Aku meremasnya dengan kuat, tanpa menahan diri. Terkadang, aku mencengkeram dengan kuat dan menikmati sensasi lembut dagingnya. Bokong Yanika juga menunjukkan reaksi dan menegang kencang.

Melihat Yanika terengah-engah, aku menjadi sangat tidak sabar. Sekarang, hanya satu pikiran yang memenuhi benakku. Aku ingin melakukan sesuatu yang lebih mendebarkan lagi.

Hasrat telah mengalahkan akal sehatku. Keberanianku pun tumbuh pesat. Aku meraih ujung stoking hitam Yanika dan mencoba merobeknya. Sekarang, Yanika sedikit takut.

"Jangan ...." Dia dengan cepat menutupi bokongnya dan mencoba menghentikanku.

Mengusap bokong dan stoking hitamnya yang dingin nan lembut, tonjolan di antara kakiku sudah hampir membuat celanaku robek. Namun, dia malah menyuruhku berhenti. Aku sangat frustrasi!

Aku tidak punya pilihan selain menyerah karena Yanika tidak mengizinkannya. Aku hanya bisa kembali menikmati kelembutan melalui stokingnya.

Tiba-tiba, semuanya menjadi gelap ....

Woosh ....

Kereta api melaju menderu di dalam terowongan gelap. Setelah belasan detik kemudian, gerbong baru terang kembali.

"Ada belasan terowongan di sini. Yang di depan adalah yang terpanjang dan butuh waktu tiga menit penuh untuk melewatinya!"

Mendengar ini, aku langsung menatap Yanika dengan penuh semangat. Dia juga tertegun sejenak, seolah memahami pikiranku. Kemudian, dia hanya bisa mengangguk malu-malu.

Menurutku, tiga menit memang agak singkat. Namun, selama dapat bergerak sebentar, itu sudah cukup memuaskan!

Aku tahu bahwa si jalang kecil ini juga tidak tahan lagi. Tubuhnya yang menempel di dadaku terasa jauh lebih lembut. Jadi, aku bertanya dengan berani, "Sudah siap?"

Yanika mengangguk, tetapi tangannya yang kecil tanpa sadar bertumpu pada celanaku. Posisi ini memudahkannya untuk membantuku. Dia juga sedang bersiap-siap!

"Tiga, dua, satu!"

Tiba-tiba, kereta memasuki terowongan terpanjang dan membuat seluruh gerbong gelap gulita.

Pada saat yang sama, Yanika dengan cepat membuka ritsleting celanaku. Sementara itu, aku juga dengan cepat menarik turun sebagian besar stoking hitam Yanika ....
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Debaran di Gerbong Kereta Api   Bab 7

    Aku berbaring di sampingnya, tetapi hampir tidak tidur sama sekali.Setelah kembali ke kota, kehidupan dengan cepat kembali ke ritme biasanya. Rutinitas seperti pergi dan pulang kerja, makan, tidur juga berjalan seperti biasa, seolah-olah perjalanan itu hanyalah perjalanan biasa. Namun, beberapa hal telah berubah secara diam-diam.Hubungan pacarku dengan Yanika jelas menjadi makin dekat. Sesekali, dia akan membicarakan perjalanan itu, juga memuji sifat Yanika yang penuh perhatian dan bijaksana. Dia bahkan dengan tekun merencanakan "liburan bertiga" selanjutnya. Setiap kali pacarku membicarakan hal itu dengan penuh antusias, aku hanya bisa mengangguk setuju, tetapi hatiku terasa sesak. Dia tidak tahu bahwa "kepercayaan" seperti ini justru adalah yang paling kutakutkan.Di sisi lain, Yanika menjadi jauh lebih berhati-hati. Dia tidak lagi berinisiatif mengirimiku pesan, juga sengaja menjaga jarak yang pantas untuk teman biasa dalam obrolan grup. Hanya saja, terkadang ponselku akan menya

  • Debaran di Gerbong Kereta Api   Bab 6

    Yanika tertawa dan menjawab, "Minum dikit nggak masalah kok. Itu justru akan buat kita tidur lebih lelap!" Sambil berbicara, dia mendorong gelas anggur ke arah pacarku. Pacarku awalnya mengerutkan kening. Namun, setelah tidak berhenti dibujuk oleh aku dan Yanika, dia akhirnya mengambil gelas itu dan meminumnya.Aku sengaja sering mengisi gelasnya, sedangkan dia juga tidak menolak. Ketika pipinya memerah dan matanya mulai terlihat tidak fokus, dia bahkan mencolek dahiku dan bertanya, "Ka ... kamu memang sengaja mau buat aku mabuk supaya bisa menikmati malam romantis, ya?""Dasar kamu ini!" tegurnya dengan pelan. Suaranya terdengar seperti sedang bermanja-manja.Anggur merah itu memiliki efek yang bertahan lama. Setelah menghabiskan gelas ketiga, pacarku jelas tidak dapat duduk tegak lagi. Pada detik berikutnya, dia bersandar di lenganku.Aku pun memapahnya kembali ke kamar. Dia langsung berbaring di atas tempat tidur tanpa melepas sepatunya. Napasnya teratur dan panjang. Aku menyelimut

  • Debaran di Gerbong Kereta Api   Bab 5 

    Dalam keadaan linglung, Yanika tanpa sadar mulai mengisap jari-jariku.Aku tahu gadis cantik di depanku sudah siap untuk disetubuhi, tetapi aku tidak terburu-buru. Aku menarik jari-jariku dan berjongkok di hadapannya. Aku meraih bokongnya yang bulat nan montok dengan kedua tangan, lalu menurunkan celana dalamnya. Area intimnya benar-benar indah. Seperti putingnya, lipatan di area itu juga berwarna merah muda cerah dan sedikit terbuka, dengan sebuah kuncup kecil mengintip dari dalam. Rambut kemaluannya yang gelap dan keriting dipangkas dengan rapi hingga membentuk segitiga terbalik."Ayo ... cepat .... Aku sudah nggak tahan ...." Yanika tiba-tiba mengeluarkan erangan lembut.Aku mendongak untuk menatapnya. Dua rona merah menghiasi wajah cantiknya. Matanya yang besar dan memikat bersinar dengan pesona yang menggoda. Lidah merahnya yang lembut menjilat bibirnya, sedangkan air liur menetes dari sudut mulutnya hingga ke payudaranya yang seputih salju.Pada saat ini, aku tidak bisa lagi men

  • Debaran di Gerbong Kereta Api   Bab 4

    "Kalau begitu, kenapa kamu nggak cari Yanika saja?" Pacarku mengira aku tidak berani dan langsung merajuk. Begitulah pacarku, polos namun keras kepala.Namun, aku sudah menahan diri sepanjang perjalanan. Yanika yang mandi juga makin membangkitkan hasratku. Mengabaikan fakta bahwa Yanika masih mandi, aku pun memeluk pacarku dan mulai merayunya untuk mencoba melepaskan hasrat yang terpendam.Aku menindih pacarku yang mungil ke tempat tidur. Berhubung terlalu terangsang, aku sepenuhnya mengabaikan reaksinya. Dengan beberapa gerakan cepat, aku menyelipkan tanganku ke dalam pakaiannya. Dia mengenakan celana jeans yang tidak mudah dilepas. Ditambah lagi, keadaan pacarku sedang kurang baik dan dia terlihat tidak bersedia. Dia bahkan melawan dengan kuat. Setelah perjuangan yang panjang, aku tetap tidak mendapatkan apa-apa. Akan tetapi, aku malah makin bergairah.Melihat wajah cemberut pacarku, aku tahu aku tidak akan bisa mendapatkan apa pun darinya hari ini.Pada saat ini, Yanika sudah sele

  • Debaran di Gerbong Kereta Api   Bab 3 

    Gundukan seputih salju yang lembut itu langsung terpampang di udara. Aku buru-buru meremasnya dengan kuat. Ah, nyaman sekali!Dalam kegelapan, aku menarik turun tank top-nya dengan tangan kananku, mendorong bra itu ke samping, lalu mulai meremas payudara kirinya yang berukuran sempurna dan elastis. Dengan ujung kuku, aku menggores puting kecilnya sampai berdiri tegak.Pada saat yang sama, tubuh bagian bawah kami saling menempel dan tidak berhenti bergesekan. Dalam kegelapan, mata Yanika yang menatapku sangat penuh hasrat!Woosh ....Tut!Suara klakson kereta api sangat memekakkan telinga.Yanika dengan cepat menjadi sangat bergairah. Dalam kegelapan yang pekat, dia menggeliat seperti ular. Aku juga mencengkeram tubuh Yanika erat-erat. Pahaku menempel di pahanya ...."Ah!" Suara rendah dan serak keluar dari bibir Yanika.Tiga menit bukanlah waktu yang lama, tetapi juga bukan waktu yang singkat. Dengan jantung berdebar kencang, aku mencuri sedikit waktu untuk bermesraan dengan Yanika."S

  • Debaran di Gerbong Kereta Api   Bab 2 

    Gerbong kereta itu penuh sesak, hingga hampir tidak ada ruang untuk berdiri. Kakiku kan kaki Yanika menempel erat, sedangkan tubuhnya sepenuhnya bersandar dalam pelukanku. Payudaranya yang besar dan bulat menempel makin erat pada dadaku.Dengan begitu, aku diam-diam menyentuh kaki Yanika yang panjang dan dibalut stoking hitam sambil memeluknya. Aku bermain-main dengannya selama setengah jam penuh."Panas banget!" ucap Yanika padaku secara tiba-tiba.Aku melihat ke bawah dan menyadari bahwa wajah Yanika sudah memerah entah sejak kapan. Mungkin karena sentuhanku. Dia bertingkah agak aneh. Tangannya yang kecil dan seputih salju bertumpu di dadanya. Kulit di area dadanya yang terpampang bahkan sudah lebih basah dari sebelumnya.Yanika menyeka keringat dari dadanya. Tampangnya terlihat makin menggoda. Aku benar-benar hampir tidak tahan lagi dan mulai menggodanya. Sayangnya, ruang gerbong terlalu sempit. Aku mencoba membuat ruang, tetapi segera didorong balik lagi begitu bergerak.Tak mampu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status