Home / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 59: Jejak di Jaringan Gelap

Share

Bab 59: Jejak di Jaringan Gelap

Author: Sasmita
last update publish date: 2026-08-21 16:17:17

"Kamu yakin langkah ini benar-benar aman, Gibran? Bagaimana kalau server umpan yang Nika buat justru terbaca sebagai sebuah jebakan oleh mereka?" tanya Dania dengan nada suara yang menyiratkan kecemasan mendalam, matanya menatap tajam ke arah layar monitor yang kini dipenuhi oleh barisan kode biner berwarna hijau menyala di ruangan yang temaram itu.

​Gibran mengetuk papan ketik laptopnya dengan sangat cepat, dahinya berkerut serius sementara kacamatanya memantulkan cahaya layar.

"Justru itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Degrees Of Intimacy   Bab 59: Jejak di Jaringan Gelap

    "Kamu yakin langkah ini benar-benar aman, Gibran? Bagaimana kalau server umpan yang Nika buat justru terbaca sebagai sebuah jebakan oleh mereka?" tanya Dania dengan nada suara yang menyiratkan kecemasan mendalam, matanya menatap tajam ke arah layar monitor yang kini dipenuhi oleh barisan kode biner berwarna hijau menyala di ruangan yang temaram itu. ​Gibran mengetuk papan ketik laptopnya dengan sangat cepat, dahinya berkerut serius sementara kacamatanya memantulkan cahaya layar. "Justru itu tujuan utamanya, Dan. Kita harus membuat mereka mengira Nika sedang merasa panik ketakutan dan mencoba menghapus sisa data penting itu secara mandiri. Dengan begitu, mereka akan terpancing untuk membuka jalur komunikasi langsung guna meretas balik, dan tepat di situlah kita akan mencatat titik koordinat alamat IP asli mereka." ​Nika yang duduk tepat di sebelah Gibran menarik napas panjang-panjang untuk menenangkan degup jantungnya, lalu jemarinya yang lentik kembali menari di atas tombol ente

  • Degrees Of Intimacy   Bab 58: Meja Bundar Darurat

    Suasana di ruang tamu apartemen Ardi dan Nika malam itu terasa begitu menyesakkan, jauh berbeda dari kehangatan keluarga kecil yang biasa mereka bangun dengan tenang dan damai. Di atas meja kopi, sebuah laptop menyala menampilkan barisan kode enkripsi asing yang dikirimkan melalui jalur peretasan siang tadi. Gibran dan Dania duduk bersila di karpet dengan ekspresi tegang, sementara Ardi berdiri mondar-mandir di dekat jendela dengan rahang mengeras, dan Nika duduk di sofa sambil mendekap erat pundaknya sendiri, mencoba menepis rasa dingin yang merayap di dadanya. ​"Ini bukan kerjaan penjahat siber amatiran," ucap Gibran memecah keheningan malam, jemarinya bergerak sangat lincah menelusuri log data yang tersisa di layar monitor. "Pola enkripsinya menggunakan algoritma turunan Project Sentinel, tapi dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa melewati dinding api modern tanpa meninggalkan jejak identitas pengirimnya. Seseorang sedang mempermainkan kita dari bayang-bayang." ​Dania ya

  • Degrees Of Intimacy   Bab 57: Bayangan di Balik Layar

    Nika mematung di depan layar komputernya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya seolah ingin lepas. Barisan teks ancaman itu seakan mengejek rasa aman yang selama dua tahun terakhir mati-matian ia dan Ardi bangun di Jakarta. ​Bagaimana bisa? batin Nika panik. Sistem itu sudah hancur. Semua jaringannya sudah dibabat habis oleh kepolisian. ​Ia mencoba bernapas teratur, memaksa otaknya yang dibalut rasa takut untuk kembali berpikir analitis sebagai seorang programmer andal. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, menelusuri jejak digital (IP trace) dari mana sinyal pesan pop-up itu dikirimkan. Namun, hasilnya justru membuat bulu kuduknya meremang. Jalur komunikasi itu berlapis-lapis, menggunakan proksi anonim yang memantul dari berbagai server luar negeri sebelum akhirnya mendarat langsung ke perangkat privat miliknya. ​Seseorang tidak sedang meretas server kantor secara acak. Orang ini secara spesifik menargetkan dirinya. ​Di tengah kepanikan yang mula

  • Degrees Of Intimacy   Bab 56: Retak di Balik Dinding Rumah

    Suara dering jam dinding di ruang tamu apartemen Jakarta Selatan itu berdetak konstan, mengisi kesunyian malam yang terasa begitu menyesakkan. Di atas meja kerja kecil di sudut ruangan, layar laptop Nika menyala terang, memantulkan barisan kode program yang sedang ia audit. Namun, jari-jarinya terdiam di atas papan ketik. Matanya menatap kosong ke arah layar, sementara pikirannya melayang pada pertengkaran kecil yang baru saja terjadi beberapa menit lalu antara dirinya dan Ardi. ​"Ardi, ini sudah yang ketiga kalinya minggu ini kamu memeriksa kunci jendela dan sensor pagar sampai tiga kali lipat," suara Nika terdengar lelah, mencoba menahan emosinya saat melihat Ardi kembali mondar-mandir mengecek setiap sudut ruang tamu. ​Ardi menghentikan langkahnya, menoleh dengan sorot mata yang menyiratkan kecemasan luar biasa. "Aku hanya ingin memastikan semuanya aman, Nika. Kamu tahu sendiri masa lalu kita tidak semudah itu dilupakan. Di luar sana, orang-orang itu... mereka bisa saja masih p

  • Degrees Of Intimacy   Bab 55: Rumah, Cinta, dan Fajar Baru

    Dua tahun telah berlalu sejak badai teror dan intrik digital mengguncang hidup Nika dan Ardi di ibu kota. Jakarta yang sibuk dan bising kini terasa jauh lebih hangat, terutama di dalam sebuah rumah minimalis bernuansa modern di kawasan Jakarta Selatan yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka. ​Sore itu, sinar matahari keemasan menyusup lembut lewat jendela ruang keluarga, menerangi hamparan karpet bermain anak. Nika duduk bersila di lantai, mengenakan pakaian santai rumahannya sambil tertawa renyah. Di hadapannya, seorang anak laki-laki berusia satu tahun dengan mata bulat mewarisi sorot ketegasan Ardi tengah tertatih-tatih melangkah, berusaha mengejar bola mainannya. ​"Pelan-pelan, sayang... jangan terburu-buru," ucap Nika lembut, merentangkan kedua tangannya untuk menyambut tubuh mungil sang buah hati yang akhirnya terjatuh pelan ke dalam pelukannya. Nika menghujani pipi anaknya dengan ciuman gemas, membuat balita itu tertawa riang. ​Di ambang pintu dapur, Ardi berdir

  • Degrees Of Intimacy   Bab 54: Lembaran Baru di Ruang Sidang

    Sinar matahari pagi di Jakarta memantul terang dari kaca-kaca gedung Fakultas Teknik, memancarkan atmosfer yang jauh lebih ramah dibanding ketegangan yang sempat mencengkeram hidup Nika dan Ardi beberapa bulan lalu. Di ruang tunggu sidang lantai dua, suasana terasa begitu senyap namun penuh debar. ​Nika merapikan setelan jas hitam formalnya, memastikan setiap lembar naskah skripsi di dalam map biru di pangkuannya tersusun rapi tanpa ada yang terlewat. Di sampingnya, Ardi duduk dengan postur tegap, mengenakan kemeja putih bersih dan dasi gelap yang menyamarkan bekas luka di lehernya. Meski fisik mereka sempat dihantam badai teror yang mematikan, sorot mata keduanya kini menyala oleh tekad yang tak tergoyahkan. ​"Bagaimana perasaanmu, Nik?" bisik Ardi pelan, tangannya terulur menggenggam jemari Nika yang terasa sedikit dingin di dalam balutan jas formalnya. ​Nika menoleh, membalas genggaman tangan Ardi dengan erat, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya. "Sedi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status