Share

Abimana Abrisam

Author: Ceeri
last update Last Updated: 2025-03-22 22:01:40

Abimana membubuhkan goresan pena di halaman terakhir proposal, menandakan tugasnya dalam mengecek berkas-berkas itu pun tuntas. "Masuklah!" seru pria ini saat mendengar ketukan pintu dari balik ruangannya.

"Pak, ini kopi Anda. Satu jam lagi Tuan Lim akan tiba. Beliau bilang ingin menemui anda untuk membicarakan demo produk di cabang di Kalimantan." Diana/sekretarisnya menuturkan.

"Saya sudah baca e-mail yang dia kirim. Tolong kamu siapkan semuanya, ya."

"Baik, Pak." Diana membungkuk sopan sebelum meninggalkan atasannya itu.

Embusan napasnya terdengar berat, Abimana tampak lesu kali ini. Padatnya jadwal pertemuan bisnis dan proyek yang harus dituntaskan membuat dia berangsur-angsur merasakan jenuh. Usai merapikan lagi berkas-berkas yang sudah rampung diperiksa, dia mengangkat gagang telepon di sisi kanannya. "Dimas, tolong ke ruangan saya sekarang. Saya sudah baca semua proposal yang kamu kirim kemarin."

Lima menit berikutnya pria jangkung tersebut sudah muncul, bergegas menghampiri Abimana. "Iya, Pak?!"

"Ini proposal yang bisa kamu urus."

"Hanya ini, Pak? Kemarin ada banyak."

"Saya pilih yang idenya matang dan perencanaan juga jelas. Dari semuanya cuma ini yang memenuhi syarat. Kita harus selalu berhati-hati. Buat apa kita sukarela mengeluarkan dana untuk rencana yang masih mengambang? Di antaranya juga ditulis asal-asalan. Sepertinya ulah oknum yang tidak bertanggung jawab."

"Begitu ya, Pak?" Dimas cengengesan, menyapu kepalanya demi mengusir rasa segan. Tak lama berselang dia berpamitan sembari membawa berkas-berkas yang diberikan Abimana.

Saat situasinya tenang tanpa urusan tugas lagi, Abimana pun rehat sejenak. Kini dia dapat menikmati secangkir kopi dengan tenang. Satu sesap membawa pikirannya melayang pada sang istri. Sedang apa Ajeng bersama teman-temannya?

Ajeng bilang ingin menghabiskan waktu hingga sore menjelang. Padahal, Abimana membayangkan quality time berdua. Dia begitu mendambakan keintiman mereka semasa kehamilan istrinya. Seperti mengobrol sambil bermanja-manja, menonton acara TV kesukaan mereka atau juga berpelukan di atas ranjang. Tentu sangat membahagiakan jika bisa melewati momen tersebut berdua. Namun, harapan tidak selalu selaras dengan kenyataan.

Tungkainya melangkah ke jendela. Sebuah jendela kaca seukuran dinding, hingga dia dapat melihat langsung pemandangan kota dari lantai tiga; tempatnya berdiri sekarang. Detik singkat berlalu, dia gagal menahan rasa rindunya. Abimana meraih ponselnya di saku celana, menekan tombol khusus untuk menghubungkan dia dan nomor istrinya.

"Halo, Dek! Adek udah di mana?"

"Baru aja nyampe, Mas. Adek lagi jalan ke dalam mal."

"Jangan terlambat makan, Mas juga enggak mau Adek makan sembarangan!"

"Iya. Udah ya, Mas. Enggak enak sama teman-teman Adek, mereka nungguin."

Abimana mengerang rendah jangka obrolan itu diputus sepihak oleh istrinya. Tak jarang dia kehabisan kata-kata bila menghadapi Ajeng yang dalam mode keras kepala dan seenaknya. Atau itu hanya disebabkan dia tipikal suami yang terlalu lunak, sulit mengatasi perilaku negatif istrinya.

-----

"Abimana Abrisam, apa kabar Pak Direktur? Sehat banget nampaknya, Bro."

Keduanya fist bump ria. Alvian Lim adalah seorang etnis Tionghoa dengan rambut klimis mengkilap di sisir rapi ke belakang. Sepuluh menit yang lalu dia tiba di PT Sabina.

"Bisa aja kamu, Vin. Kamu juga sama, makin bugar. Ya enggak, Direktur?"

Alvian Lim tergelak sebelum dia berdeham dan berkata, "Jangan dipanggil Direktur lah! Gue buruh, Bim. Bokap gue Bosnya."

"Aku juga cuma pekerja di sini."

"Sama 'kan? Sama-sama makan gaji. Hahaha." Alvian Lim tertawa lagi. "Mau membangun perusahaan sendiri udah enggak kebagian lahan, Bro. Modalnya juga gede. Atap belum dipasang, tiangnya keburu goyang. Haha." Gampang sekali bagi Alvian Lim untuk tertawa. Dia ceriwis dan santai.

"Lebih baik melanjutkan yang udah ada, Vin. Sekalian menghargai usaha orang tua."

"Iya, benar. Daripada orang lain yang menikmati. Betul, enggak? Sekali lagi tawa keduanya pun meramaikan suasana. "Jadi, kapan berangkat ke Kalimantan? Gue dengar mau mengenalkan produk Lo ke sana. Apa waktunya udah tepat? Lumayan jauh 'kan?"

"Kalau enggak ada halangan, rencananya sih bulan depan."

Alvian Lim manggut-manggut. Lalu berkata, "Semoga lancar, Bro."

"Pasti aman. Ada Alvian Lim di sini." Kelakar Abimana, dia berhasil menjahili rekannya itu hingga si empu sedikit salah tingkah.

"Humor yang bagus," kata Alvian Lim pula. "Lebih pas lagi itu karena kerjasama kita berdua, Bim. Bukan gue atau siapapun." Abimana sekadar menaikkan pundak dan alisnya seiring sudut bibir pun bergerak serupa. "Btw nih, Bim. Gue pengen mengundang Lo ke acara makan malam di rumah gue. Emang dadakan, sih. Tapi, momennya pas buat merayakan reuni kecil-kecilan. Setahun juga 'kan kita enggak jumpa."

"Itu karena kamu kabur ke Singapura." Abimana tersenyum tipis usai mengatakannya, bersusulan Alvian Lim menunduk; menyeringai tipis. "Kapan, Vin?"

"Ya malam ini."

"Nanti malam?"

"Hn. Lo enggak bisa, ya?"

"Bisa, enggak ada schedule lain sebenarnya." Abimana tampak berpikir sekejap, dia berniat mengajak istrinya. Cukup lama keduanya tidak bepergian bersama. "Okelah. Aman, kok. Aku bakal datang."

"Serius nih?"

"Udah lama enggak keluar bareng istri, Vin. Sekalian aja aku pikir."

"Wess, pucuk dicinta ulam pun tiba. Istri gue bakalan makin semangat nih kayaknya. Lagi belajar menu-menu western dia, nanti malam eksekusinya."

"Wah, apa enggak ngerepotin?"

"Ya enggaklah. Istri gue hamil, dan selama kehamilan pertama ini dia di rumah aja. Kasihan gue, rahimnya lemah. Happy banget muka dia begitu gue bilang mau ngadain acara makan malam. Berarti ada yang mampir, dia punya temen ngobrol."

"Jadi, istrimu sedang hamil?"

"Jalan empat bulan, Bro."

"Kebetulan sekali."

"Jangan bilang kalau istri Lo juga."

"Iya, Vin. Istriku hamil sudah bulan ke lima." Senyum Abimana mengembang. Dan yah ... aku dikalahkan sama dia. Enggak berdaya, Vin. Aku kepikiran, pengennya dekat terus."

"Wajar, Bim. Ada yang bilang suami juga bisa ngidam. Siapa tau di kehamilan istri Lo, Lo yang kebagian merasakan itu."

"Mungkin kali, ya."

"Kayaknya seru nih semisal istri gue dan istri Lo ketemu. Apa ya reaksi mereka? Penasaran gue."

"Pasti rame. Belum apa-apa udah ngomongin soal belanja perlengkapan bayi."

"Nah, itu dia. Gue tunggu kedatangan Lo ya, Bim. Jangan sampe enggak datang, istri gue effort banget buat masak demi menyambut kalian."

"Yoi, Vin. Bilangin ke istrimu, jangan cape-cape. Kasihan bayinya."

"Tenang aja, 'kan ada gue, Bim." Detik sekian berputar, Alvian mengembus ringan napasnya. "Gue pamit, ya. Masalah keberangkatan ke Kalimantan, kita bahas entar malam aja. Deal ya, Bro!"

"Oke. Hati-hati, Vin."

"Sip, Bro."

-----

"Ya, Tuhan. Perasaan baru satu jam yang lalu, deh. Ini suami kamu udah menelepon lagi? Jeslyn seperti ingin memekik di situ. Dia bahkan melongo saking tidak percayanya. "Gila, ya. Istimewa banget kamu Jeng di mata dia. Ditelepon melulu, dong. Buset!

"Biarin aja. Mas Abim udah terbiasa siaga setiap aku keluyuran."

"Suamimu terdeteksi bucin," celetuk Lisa.

"Atau mungkin dia enggak tahan berlama-lama tanpa kamu. Tapi, bukannya seharian dia di kantor?" Gisca turut menambahi.

"Enggak bisa ini enggak bisa. Jiwa iri di dalam diriku meronta-ronta." Lisa sekonyong-konyong menjadi heboh. "Kamu kok beruntung banget, Ajeng. Apa kebaikan yang kamu lakukan di masa lalu? Suamimu impian semua wanita, loh. Termasuk bagi kami-kami yang memiliki pasangan sekaku manekin ini."

Kemudian, tetes terakhir di permukaan gelas diseruput tandas oleh Lisa. Kebetulan kafe yang mereka singgahi belum terlalu ramai pengunjung. Mereka jadi bebas berbincang, juga mengekspresikan perasaan masing-masing. Sementara, Ajeng Dwi Ayu tengah berada di atas angin sekarang. Suaminya selalu menempati tahta tertinggi untuk standar lelaki idaman, setidaknya demikian di mata teman-temannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dek Ajeng & Mas Abim   Keinginan Arjuna

    Lobi hotel itu tampak sepi dengan hawa sejuk yang menggigit, bahkan di siang hari begini. Arjuna mengenali setiap sudutnya. Termasuk arah pantulan cahaya di lantai marmer. Tempat itu telah menjadi persinggahan sementara dalam hidupnya. Sejak Alyssa memilih menepi, langkah kakinya kerap berakhir di sana. Kadang dengan maksud jelas, ada pula cuma untuk memastikan istrinya baik-baik saja.Pintu kamar terbuka setelah ketukan singkat.Alyssa berdiri di ambang, wajahnya tampak lelah namun tetap bersahaja. Rambutnya diikat longgar, gaun sederhana menutupi tubuh yang kian menampakkan usia kandungan. Tatapannya menyiratkan kejenuhan yang lunak."Kamu datang cepat." Sapaannya terdengar datar saat dia memberi jalan masuk.Arjuna melangkah ke dalam, sembari menutup pintu di belakangnya. Ruangan sunyi menyambut kehadiran dia, beriringan dengung AC berputar pelan. Pandangannya secara refleks menyapu seisi kamar itu—masih terlalu rapi untuk persinggahan."Aku cuma mau tahu kamu gimana. Wajar 'kan kh

  • Dek Ajeng & Mas Abim   Rahasia yang mulai retak

    Kamar samar-samar masih dilingkupi wangi sabun pel. Seprai telah dirapikan, bantal disusun kembali, sebagai rutinitas mingguan demi menjaga kenyamanan dia dan suaminya. Tangannya bergerak otomatis—menarik sudut seprai dan meratakan lipatannya. Lalu, derap langkah pelan di ambang pintu membuatnya tersentak.Gerakannya terhenti. Sepasang telempap nya tengah menekan permukaan kasur, seiring jari-jarinya kaku. Ajeng mematung, tubuhnya membutuhkan jeda untuk mengenali kehadiran siapa yang baru saja datang."Boleh ibu masuk, Nak?"Suara tersebut lembut, sekaligus menyimpan beban. Di sana, ibunya berdiri di bingkai pintu, enggan langsung melangkah masuk. Pandangnya menyiratkan permohonan—dan perkara yang lebih dalam berupa kesedihan serta kegelisahan.Ajeng menelan ludah. Dadanya sesak akan perkara yang tidak bisa dia namai. Dia menengok lamban, memaksakan senyum tipis yang sesungguhnya juga mengandung sungkan. "Bu—" Kata itu menggantung, kehilangan kelanjutannya. Sejemang dia mengangguk, s

  • Dek Ajeng & Mas Abim   Perang di antara penolakan dan konsistensi

    Abimana menatap layar komputernya, meski dia tak benar-benar membaca baris demi baris yang terpampang. Padahal kursor berkedip, seperti menyamai denyut pikiran yang berdentum ke banyak titik.Belakangan hari ada sesuatu yang mengganggu ritme kerjanya, berupa intuisi serta jenis kegelisahan yang sesungguhnya.Perubahan Diana terlalu halus jika disebut mencurigakan. Tetapi, dia kelewat konsisten untuk diabaikan. Abimana tidak menyukai hal-hal yang mengaburkan batas. Dan ketika batas itu mengabur, dia tahu dirinya perlu mengambil sikap.Panggilan internal dikirimnya ke meja personalia. Nama Dimas terlintas pertama kali. Pria muda itu pernah menggantikan posisi Diana saat cutinya beberapa waktu lalu—cepat, rapi, serta tidak pula mencampurkan urusan personal ke dalam pekerjaan.Tak lama berselang, pintu ruangannya diketuk."Masuk!" Dimas berdiri di ambang pintu dengan postur yang tegak. "Bapak manggil saya?""Duduk, Dimas," lanting Abimana sambil menutup dokumen di layarnya.Dimas duduk s

  • Dek Ajeng & Mas Abim   Kegigihan Diana

    Kafetaria lantai bawah tampak lapang ketika Diana Sophia mengambil tempat di sudut yang agak tertutup. Dinding kaca memantulkan sinar mentari yang sedikit lembut di pagi ini, turun ke permukaan meja kayu berlapis pernis. Dia menyiasati segalanya. Salah satunya dengan membaca saat-saat situasi tidak ramai, supaya ranah yang dia punya cukup privat untuk percakapan yang ingin dia jaga agar tak didengar telinga lain. Dua cangkir latte mengepul halus di atas meja, ditemani sepiring ragam kue tradisional yang belum disentuh. Diana sibuk mengaduk minuman, lalu menyesapnya tipis-tipis. Rexa datang di beberapa menit kemudian. Perempuan itu menjatuhkan tubuhnya ke kursi di seberang Diana, seiring pula napasnya berembus panjang. "Pagi-pagi banget lo ngajak ketemu, penting banget, ya?" Diana mengangkat pandangnya, sembari menyematkan seringai wajar. "Gue butuh suasana yang bersih, Rex. Makanya gue pilih jam segini.""Bersih?" Rexa menyipitkan mata usai dia mengamati sekitar mereka. "Lo gampan

  • Dek Ajeng & Mas Abim   Canggung

    Meja makan malam terisi seperti biasa, diterangi cahaya remang jingga yang memantul ke permukaan set kayu sebagai pusat kebersamaan keluarga. Uap masakan mengepul dengan bau lezat yang seharusnya menggugah selera. Cahyani duduk di ujung meja, sedang merapikan serbet di pangkuannya. Mumu mondar-mandir sebentar sebelum akhirnya ikut duduk. Arjuna datang belakangan, wajahnya tenang tanpa cela. Sangat khas perawakan dia. Ajeng duduk di sisi Abimana. Tangannya bertaut di atas meja, jemarinya saling mengunci lebih erat. "Masakan hari ini luar biasa," ujar Abimana membuka percakapan, sekadar mengisi ruang yang tampaknya terlalu hening."Iya, Nak." Cahyani menyahut cepat. "Ini permintaan beberapa orang. Ibu dan Mumu memang dari siang sudah di dapur." Di seberang, Ajeng mengangguk lamban. "Makasih untuk makanan hari ini, Bu--tadi Ajeng enggak ikut bantu." Nada suaranya datar, tapi cukup sopan untuk tidak menimbulkan kecurigaan.Di samping, Abimana melirik istrinya itu sekilas. Singkat saj

  • Dek Ajeng & Mas Abim   Sesuatu yang tertunda untuk diucapkan

    Suhu ruangan lebih bersahabat ketika obrolan mereka berpindah dari nada panik ke arah yang lebih tenang. Olivia menambahkan air putih ke gelas kosong, yang segera di minum oleh Ajeng. Tak lama berselang, dia mengangguk dan meneguk sedikit isinya. Sensasi hangat itu mereda di tenggorokan.Meskipun wajahnya masih menunjukkan bekas guncangan, tatapan Ajeng kini fokus. Napasnya teratur. Sesekali dia mengusap sisa basah di sudut matanya, tetapi nada suaranya tidak lagi bergetar semula."Sekarang gimana perasaanmu?" tanya Olivia, sedikit hati-hati agar ucapannya tidak memantik emosi Ajeng lagi."Aku masih pusing, tapi sekarang bisa mikir. Tadi itu ... terlalu tiba-tiba dan datangnya barengan. Aku enggak bisa bereaksi apa-apa, dan milih kabur. Untung aku langsung ingat kamu, Liv. Enggak kebayang kalau yang ku telepon Mas Abim." Olivia mengangguk, "Aku ngerti. Jadi, langkahmu sekarang apa? Kamu mau cerita ke Mas Abim?"Pertanyaan sekian membuat Ajeng terdiam beberapa detik. Dia tidak berkedi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status