MasukBerani berbuat harus berani bertanggung jawab. Ulahnya menyebabkan sang suami kelimpungan menunggu dia pulang. Ajeng pun merasa waswas begitu tiba di kediaman mereka. Hanya waswas, bukan perasaan takut. Terkadang dia memang keras kepala. Beruntungnya saat dia sudah di rumah, Abimana masih berada di luar. Dengan langkah terburu-buru dia melepaskan sandal dan masuk ke rumah.
"Bu ..." Mumu menyapa saat keduanya berpapasan di ruang tengah. "Tadi Bapak cari Ibu. Dia pergi ke jamuan makan malam dari salah seorang rekan bisnisnya. Saya diminta menyampaikan ini ke Ibu. Bapak juga sudah menghubungi ponsel Ibu berulang-ulang, enggak aktif katanya." "Mas Abim udah pulang?" "Belum, Bu." Mumu menjawab seadanya. "Ya udah, aku mau langsung ke kamar aja." Perasaan Ajeng berubah tenang usai tahu dia pulang lebih awal daripada suaminya. Langkahnya pun diayun lambat menaiki anak tangga, "Tolong kunci pintunya ya, Mumu." "Baik, Bu," sahut Mumu. Di dalam kamar Ajeng mengemasi barang-barang belanjaannya. Dia mengamati singkat satu-persatu barang itu sebelum menyimpannya ke dalam lemari. Pasalnya, dia tidak ingin memancing kemarahan Abimana bila suaminya tersebut mendapati paper bag berserakan di kamar mereka. Betapa tidak, baru dua minggu yang lalu Ajeng membeli barang bermerek secara online, juga dalam jumlah banyak. Bukan cuma satu atau dua macam barang. Dini rampung Ajeng menyegerakan dirinya untuk mandi dan berganti pakaian. Tidur adalah solusi tepat agar dia tak harus mendengar rentetan tanya dari suaminya. Tangannya mengambil kimono handuk lebih dahulu, beeringsut ke kamar mandi; benar-benar hanya mandi di bawah guyuran shower demi menghemat waktu. Sekalian berniat berjaga-jaga, menghindari interaksi dengan suaminya di malam ini. Abimana bisa tiba kapan saja dan dia tidak mau ada keributan di antara mereka. Hampir sepuluh menit berlalu, Ajeng keluar dari kamar mandi. Sedari tadi rambutnya sengaja ia gelung ke atas agar tidak basah. Perempuan berparas menawan ini memandang pantulan dirinya di cermin yang digantung tak jauh dari pintu kamar mandi. "Baru pulang juga?!" Mendadak bariton suaminya menukas tanya, sehingga dia yang tak siap menghadapi situasi semacam spontan pula terperanjat. Faktanya, nyali Ajeng justru menciut saat dia bertemu muka dengan suaminya. "Iya, Mas." Seolah berbisik, suara Ajeng hampir tidak bisa didengar. "Segitu pentingnya ya teman-teman Adek, bahkan Mas enggak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Mas telepon berkali-kali karena khawatir, tapi sepertinya adek enggak suka diganggu." Abimana duduk di pinggir ranjang. Seraya merenggangkan dasi, dia memandang istrinya pada gurat kecewa yang teramat dalam. Raut sendu tak dapat menutupi fakta tersebut. "Maaf, Mas. Adek lagi mengobrol sama mereka, pada protes pas Adek sempat jawab telepon Mas. Hp Adek lowbat juga, keburu mati sebelum mengabari Mas." Ajeng berusaha cukup keras dalam memberanikan dirinya. Alibi tetaplah alibi. Walau gugup, dia memaksakan wajahnya mendongak untuk memandang suaminya. "Mas baru tahu kalau di circle Adek enggak ada yang punya ponsel. Ini bukan soal ketidaksengajaan. Tetapi, Adek memang enggak peduli sama perasaan Mas di sini. Paniknya gimana, gelisah kayak apa, Adek enggak mau tau. Terkadang Mas heran, kenapa hanya Mas yang enggak bisa berhenti memikirkan kamu. Setiap hari, dua puluh empat jam bayangan Adek terus melintas di kepala Mas. Adek sedang apa, makan yang benar atau enggak, apa udah beristirahat dengan cukup. Mas benar-benar menikmati dampak kehadiran Adek setelah kita menikah. Besar sekali arti keberadaan Adek buat Mas. Kalau Mas tanya sebaliknya, Adek bisa jawab apa? Nihil 'kan?" Sekejap Abimana hela napasnya pelan-pelan dan kembali berkata, "Misalkan Adek menganggap perasaan Mas ini berharga buat Adek, mustahil Adek segini entengnya membelakangi posisi Mas sebagai suami. Mas berhak tau semua yang Adek lakukan, paham?!" "Adek enggak sejahat itu, Mas. Kenapa omongan Mas barusan membuat perasaan Adek enggak enak?" "Iya, seharusnya. Tapi, Adek enggak sadar malah melakukannya. Mas juga bingung jika ditanya apa alasan yang menyebabkan Adek tega. Dan jika memang Adek menyesal, Mas harap itu bukan hanya sesaat." "Mas, Adek minta maaf. Adek enggak bermaksud bikin Mas segini kecewa." Ajeng menyadari sebuah pukulan kecil menghantam nuraninya. Dia mulai panik, berupaya membujuk Abimana yang sekarang justru beranjak ke kamar mandi. Tidak butuh berlama-lama bagi pria itu untuk membersihkan diri. Dia kembali dengan cuma mengenakan kaus putih dan selembar handuk menggantung di lehernya. "Mas dengar Adek, enggak?" Namun, Abimana betah bergeming. Dia berpura-pura tak menangkap ucapan apapun dari bibir istrinya. Untuk malam ini dia tidak ingin mengalah. Dia putuskan mengambil sendiri setelan piyama yang akan dikenakan, bergegas naik ke ranjang dan memunggungi Ajeng tanpa sepatah kata selamat tidur. Ini merupakan pertama kalinya bagi Ajeng Dwi Ayu menemukan sisi lain suaminya. Dia tak bisa menepis kesedihan yang muncul. Sebab kesalahannya, dia terpaksa tidur dalam suasana dingin nan hampa. ----- "Mu, Mas Abim mana?" Pagi-pagi Ajeng sudah dibuat bingung. Dia tidak melihat suaminya di kamar. "Baru aja pergi, Bu. Bapak bilang lagi buru-buru, enggak sarapan karena takut terlambat." "Kok Mas Abim enggak pamit?" Ajeng mendesah kecewa, dalam hati sudah menebak apa yang menyebabkan suaminya seperti menghindari dia. "Saya enggak tau, Bu." "Ya udah enggak apa-apa. Nanti biar aku yang tanya langsung ke Mas Abim." Nafsu makannya dalam sekejap menghilang. Ajeng memilih untuk kembali ke kamarnya setelah meminta Mumu menyiapkan sesuatu, "Mu, tolong buatkan susu, ya. Antarkan aja ke atas. Sekalian rotinya, kasih mentega sama keju aja." Si gadis berbadan mungil tersebut mengangguk diam. "Ibu enggak mau telur rebus?" "Ehm, boleh deh. Setengah mateng aja, Mu." "Baik, Bu." "Aku naik ke atas, ya." "Iya, Bu." Tiada terasa waktu begitu cepat berlalu. Pukul dua siang saat ini di mana Ajeng menghabiskan hari-harinya sebagaimana biasa. Dia berbincang dengan teman-temannya melalui telepon atau sosial media. Dia juga menonton acara langsung dari beberapa akun online shop penjual barang-barang mewah. Di atas meja tersedia stoples biskuit dan stoples keripik kentang untuk temannya bersantai. Ada pula teko kaca berisi jus jeruk dingin sebagai penawar dahaga. Semua keasyikan itu pada akhirnya membuai Ajeng, melemahkan perhatiannya terhadap presensi Abimana. Sejak pagi dia berencana menelepon suaminya, namun urung dia penuhi setelah fokusnya teralihkan. Abimana sangat mencintai Ajeng, sedari dulu hingga sekarang dan juga selamanya. Perasaan itu tidak pernah berubah walau Ajeng sering melakukan kesalahan. Abimana menyadari sikap lembutnya mulai memicu perlawanan dari istrinya sendiri. Ajeng menjadi keras kepala, suka semaunya sahaja. Tapi, apakah salah jika cinta Abimana terhadap sang istri terlampau besar?Cinta adalah bentuk alami, emosional yang tak dapat dicegah. Meski bersusah payah menghindar, seseorang bisa kembali ke tempat di mana perasaan itu bermula. Abimana mengakui rasa sayangnya kepada Ajeng cukup berlebihan. Dia nyaris menuruti apapun permintaan istrinya itu. Cinta telah menguasai akal dan pikiran. Sepatutnya dia memberi batas kuasa yang didukung oleh sedikit ketegasan halus. Barangkali laun-laun istrinya akan mengerti. Malang, Abimana dibuat tak berdaya oleh sisi sensitif yang ada padanya. Kesedihan Ajeng adalah yang paling dia benci. Langit tak lagi terang begitu matahari turun ke singgasananya. Abimana kentara masih enggan untuk pulang. Di saat yang sama, Ajeng di rumah dilanda kekhawatiran. Dia segera meraih ponselnya untuk menghubungi sang suami. Sudah yang ketiga kalinya Ajeng mencoba menghubungi nomor Abimana, tetapi tetap tidak ada jawaban. Perempuan itu mendengkus, melirik singkat pada jam dinding sebelum menelepon sekali lagi. Lipatan menit berikutnya dia mengirim pesan teks, berharap Abimana membaca dan membalasnya. Tahu-tahu Ajeng mengerang keras. Dia menangkap hal aneh terhadap suaminya. Abimana bukanlah orang yang bisa membiarkan dia, apalagi seharian penuh tanpa kabar seperti ini. Batinnya bertanya-tanya, 'Mas Abim masih marah, ya?!'Kamar NICU dibatasi kaca bening, memisahkan dunia luar dari deretan inkubator yang berjajar rapi.Cahaya putih lampu memantul di permukaan alat-alat medis. Bunyi mesin berdetak lambat, stabil, mengisi ruang dengan ritme konstan. Ajeng duduk di kursi yang disediakan, sedikit condong ke depan. Kedua tangannya bertaut di pangkuan. Matanya tertuju pada satu titik—bayinya.Dia kelihatan kecil, terlalu kecil dibanding bayangan yang selama ini dia simpan.Tubuh mungil itu terbaring di dalam inkubator, dibalut selang dan alat bantu yang menjaga setiap napasnya agar tetap berjalan.Ajeng bergeming, sekadar mengamati. Dia menelusuri setiap detail dengan pandangan utuh, seakan-akan dia enggan melewatkan apapun. Dadanya bergetar halus, namun nyata. Bukan berupa tangisan, alih-alih seperti sesuatu yang menekan dari dalam, lalu perlahan-lahan mereda tanpa benar-benar hilang."Anakku ..." Kalimatnya nyaris tidak terdengar. Ujung jarinya menyentuh kaca. Tidak bisa lebi
Normal saat ruang tunggu rumah sakit dikuasai keheningan penuh. Kursi sudah terisi sebagian. Jam dinding terasa berdetak keras, mengisi ruang tanpa percakapan.Abimana tampak berdiri di dekat jendela, mengamati ke luar dalam pandangan kosong. Pikirannya tertuju pada satu hal—lantai di mana Ajeng berada juga kamar kecil tempat bayinya dirawat. Saking hanyutnya, dia bahkan tak sadar saat Arjuna tahu-tahu sudah berhenti beberapa langkah di belakang dia. "Ehm--" Niatnya hendak menegur, namun Arjuna merasakan lidahnya berat untuk berkata-kata. "Kamu datang??" Abimana spontan berbalik dan cukup terkejut melihat Arjuna di situ."Aku enggak tahu harus ngomong apa." Arjuna menggeleng-geleng sambil mengangkat kedua lengannya untuk kemudian dihempaskan ringan. "Alyssa baru aja melahirkan--aku dapat kabar dari ibu tentang Ajeng. Tiba-tiba sekali.""Selamat buat Alyssa.""Terima kasih--" diam sejenak sebelum dia mendongak dan berkata lagi,
Ruang kontrol keamanan berada di sudut lantai dasar. Itu tertutup, hening, serta terpisah dari hiruk-pikuk pengunjung. Deretan monitor menyala, berjejer rapi. Setiap layar menampilkan sudut berbeda dari gedung: koridor, pintu masuk, area parkir, hingga ke lift.Seorang petugas memutar ulang rekaman pada salah satu layar. "Ini yang tadi dilaporkan, Pak," ujarnya singkat.Abimana berdiri di belakang. Posisi tubuhnya tegak, kedua tangannya masuk ke saku celana. Tidak ada ekspresi mencolok di wajahnya—selain fokus yang tertuju penuh pada layar.Begitu video dimulai, mereka menyaksikan di mana Ajeng memasuki lift lebih dahulu. Gerakannya lamban, namun langkahnya jelas terukur. Tidak ada yang aneh pada awalnya. Beberapa detik kemudian, pintu hampir menutup—bertepatan Diana masuk. Gerakannya cepat sekali, tepat ketika celah itu terbuka.Si petugas menghentikan sebentar. Tetapi, Abimana memintanya tetap meneruskan. Rekaman kembali berjalan. Mereka menyaksikan di dalam ruang sempit itu, Ajeng
Koridor rumah sakit diisi langkah buru-buru serempak bunyi roda brankar yang berderit halus.Ajeng terbaring dengan napas putus-putus. Jemarinya mencengkeram seprai tipis yang menutup tubuhnya. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis seiring rasa nyeri datang silih berganti secara beruntun."Dokter, pasien dengan pendarahan!" seru salah seorang perawat, sengaja berteriak guna membuka jalan menuju ruang bersalin.Abimana berjalan di sisi brankar. Tungkainya mengikuti dengan presisi. Tangannya tidak lepas dari genggaman Ajeng. Nihil kata-kata dapat dia ucapkan—selain kehadiran utuh yang bisa Ajeng rasakan di tengah kondisi sulit demikian."Dek, Mas di sini. Kamu kuat ya, sayang." Bujukannya terucap rendah, serta stabil. Ajeng mengangguk lemah, lengkap dengan matanya yang memberat. Nyeri membuat badannya menegang, punggungnya sedikit terangkat sebelum kembali jatuh ke permukaan kasur tipis."Mas, sakit--" suaranya pun hampir hilang.
Ajeng mematung di sana, seorang diri di dalam kotak lift itu. Tubuhnya seperti dipaksakan untuk berdiri tegak, dengan pikiran buruk yang kini merajalela menghantui benaknya. Suara Diana masih terngiang—rendah, dingin, dan menekan.Napasnya mulai tidak teratur. Dia upayakan mengaturnya perlahan-lahan, cukup panjang sebanyak dua kali sembari berharap dadanya yang penuh sesak kembali ringan.Tungkai-tungkainya diangkat juga, lamban serta berhati-hati. Pada akhirnya Ajeng sampai di depan pintu lift, mendapati koridor di hadapannya terlihat lengang. Suara percakapan orang-orang samar terdengar dari ujung lorong, tidak begitu jelas. Ajeng berjalan tanpa arah yang seharusnya dia sadari. Telapak kakinya memijak lantai dengan ketukan kini berantakan. Tangannya ditaruh ke atas perut usai dia merasakan ada yang mengencang.Halus di awal—seperti tarikan dari dengan efek sakit yang tipis. Ajeng berhenti sejenak, mengerjap-ngerjap guna memahami apa yang tubuhnya rasakan."Nggak apa-apa, Nak. Kita b
Di hari ini, lobi tidak segitu ramai biasanya. Sebagian orang lalu-lalang, sisanya fokus ke pekerjaan masing-masing, termasuk resepsionis. Bunyi langkah-langkah kaki, dan denting halus dari pintu kaca hanya menjadi semarak ringan. Tidak ada yang aneh, tetapi Ajeng merasakan keganjalan di batinnya.Dia melangkah pelan, satu tangan bertumpu di perutnya. Pikiran masih tertinggal di kamar—mengenai percakapan kemarin bersama Abimana. Ada banyak hal yang belum benar-benar selesai, tapi setidaknya dia memiliki pelindung. Itu lebih dari cukup saat ini. Ajeng melewati deretan kursi tunggu. Tumit sepatunya mengetuk-ngetuk lantai marmer dengan intonasi teratur. Satu ... dua ... tiga ... lalu samar-samar ada suara lain. Pendengarannya peka di sini, menangkap sesuatu nan asing sekaligus tidak dapat dibuktikan. Sejenak dia mematung. Keningnya berkerut, memperkirakan perasaan apa barusan tadi. Dia pura-pura menarik tas di bahunya. Napasnya berembus rendah. Pandangnya menyapu sekitar, sekilas saja
Pulang ke Indonesia merupakan keputusan tunggal oleh Arjuna Eka Angga setelah dia melewati minggu-minggu untuk pertimbangan matang. Dia tak lagi merasa cocok bekerjasama dengan rekan-rekan maupun agensinya di Prancis. Maka dari itu, berangkat ke negara asalnya menjadi pilihan paling bijak menurut d
Kamar hening kian senyap oleh suasana siang yang begitu tenang. Arjuna Eka Angga duduk diam di atas kasur, menghadap ke jendela bertutup tirai renda. Sikunya bertumpu di atas lutut dengan jemari menahan dahi. Gerangan beban apa yang sepertinya sungguh berat dia pikul. Nyatanya Arjuna tidak terlihat
•• ༻❁༺ ••Hari ini Ajeng berencana mengajak kakak iparnya berjalan-jalan ke mal terbesar di Jakarta. Mereka bisa berburu perlengkapan bayi yang lucu-lucu atau barangkali menikmati pijatan khusus bagi ibu hamil. Terdengar menyenangkan saat Ajeng mengutarakan niatnya. Raut Alyssa si ipar pun praktis
•• ༻❁༺ ••"Ini kenapa jadi sempit, sih? Minggu lalu 'kan baru aku pakai dan masih nyaman juga." Agaknya kemeja yang ingin dikenakan Ajeng tak lagi muat di badannya. Ajeng berencana tampil sebagus mungkin di hadapan kakak dan kakak iparnya. Terlebih dia paham betul segitu modis keduanya dalam berbus







