Share

Enzo

Penulis: Na_Vya
last update Tanggal publikasi: 2026-08-06 15:33:45

BAB 5

Enzo

###

Pagi datang tanpa membawa kabar dari Arga.

Elena terbangun ketika cahaya matahari menyentuh wajahnya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong.

Lalu semuanya kembali.

Pertengkaran semalam.

Lip balm.

Kucir rambut.

Tamparan Arga.

Dan pintu yang ditutup suaminya setelah pergi tanpa memberikan penjelasan.

Elena mengangkat tangan, menyentuh pipinya.

Bekasnya masih terasa nyeri.

Namun rasa sakit di sana tidak seberapa dibandingkan dengan sesak yang memenuhi dadanya.

Ia meraih ponsel di atas nakas, mencoba mengecek balasan pesan dari Arga. Tetapi ternyata, tidak ada pesan dari suaminya itu.

Elena lantas membuka ruang percakapan mereka. Pesan terakhirnya masih sama.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada permintaan maaf.

Bahkan tidak ada kalimat sederhana seperti 'aku baik-baik saja'.

Elena menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menguncinya kembali. Ia tidak ingin menangis lagi. Setidaknya bukan pagi ini.

Perlahan ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Ia mencuci wajah, mengikat rambut, lalu berdiri di depan cermin.

Wajahnya terlihat pucat. Elena mengambil concealer dan menutupi bekas kemerahan di pipinya.

Kali ini bukan untuk menyembunyikannya dari Arga. Melainkan dari dunia.

Ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa rumah tangganya sedang retak.

Setelah selesai bersiap, Elena turun ke lantai bawah. Rumah terasa begitu sunyi.

Ia membuat secangkir teh, tetapi baru beberapa teguk sudah terasa hambar.

Pikirannya kembali pada satu hal— Ia harus mencari pekerjaan.

Selama ini Elena masih bertahan dengan tabungan yang perlahan menipis. Uang belanja dari Arga tidak pernah cukup untuk semua kebutuhan rumah.

Dan setelah kejadian semalam, entah kenapa Elena semakin yakin bahwa ia tidak boleh terus bergantung sepenuhnya kepada suaminya.

Ia mengambil ponsel dan membuka beberapa pesan lama.

Salah satunya adalah percakapan dengan seseorang yang beberapa hari lalu menanyakan apakah dirinya masih bersedia menjadi guru privat.

Elena membaca pesan itu lagi.

Dulu ia memang agak ragu. Namun sekarang, mungkin ia tidak punya alasan untuk terus menolak.

Baru saja Elena hendak membalas, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Bukan dari Arga.

Nama pengirimnya membuat Elena sedikit terkejut.

Bianca Raphael.

Elena mengernyit. Ia mengenal nama itu dari percakapan sebelumnya mengenai pekerjaan guru privat.

Pesannya singkat. [Selamat pagi, Elena. Apakah Anda bisa bertemu dengan saya hari ini? Saya ingin membicarakan pekerjaan tersebut secara langsung.]

Elena membaca pesan itu dua kali. Kemudian segera membalas: [Bisa, Bu. Kapan dan di mana?]

Balasan datang tidak lama kemudian. [Pukul sebelas. Saya kirimkan alamatnya.]

Sejenak Ellena menatap layar. Untuk pertama kalinya sejak semalam, ada sesuatu yang membuat pikirannya sedikit teralihkan.

Ia membutuhkan pekerjaan itu. Bukan sekadar tambahan uang. Tetapi juga alasan untuk mulai berdiri di atas kakinya sendiri.

---

Satu jam kemudian, Elena sudah berada di depan sebuah bangunan besar dengan desain modern.

— Raphael Gallery—

Nama itu cukup dikenal.

Elena sempat berdiri beberapa detik di depan pintu masuk sebelum akhirnya menarik napas dan melangkah masuk.

Interiornya berbeda dari tempat-tempat yang biasa ia datangi. Dinding putih dipenuhi lukisan. Beberapa patung berdiri di sudut ruangan. Aroma cat minyak samar tercium di udara.

Elena memperhatikan semuanya dengan kagum.

Seorang staf kemudian menghampirinya. "Bu Elena?" tanyanya ramah dan sopan.

"Iya."

"Bu Bianca sudah menunggu di atas."

"Baik. Terima kasih."

Elena pun mengikuti staf tersebut menuju lantai atas.

Beberapa menit kemudian, ia berdiri di depan sebuah ruangan.

Tok! Tok!

"Masuk."

Elena membuka pintu, lantas melangkah masuk.

Dia mendapati seorang wanita elegan duduk di balik meja kerja.

Tatapannya langsung terangkat.

Tenang.

Tajam.

Profesional.

"Elena?"

"Iya, Bu."

"Duduk."

Elena mengambil kursi di hadapan perempuan yang akan memberinya pekerjaan.

Bianca membuka sebuah berkas. "Saya sudah membaca data yang Anda kirim," ucapnya.

Elena mengangguk.

"Saya ingin memastikan beberapa hal."

"Silakan."

"Anda bersedia mengajar tiga kali seminggu?"

"Ya."

"Dan jadwalnya fleksibel?"

"Selama saya mendapat jadwal sebelumnya."

Bianca mengangguk. Kemudian ia menutup berkas tersebut. "Anak saya mahasiswa tingkat akhir."

Elena memperhatikan wanita itu.

"Dia sebenarnya pintar." Ada sedikit jeda. "Terlalu pintar, malah."

Elena tersenyum kecil.."Kalau begitu, seharusnya saya tidak terlalu kesulitan mengajarinya."

Bianca menatap Elena datar. "Justru karena dia pintar, dia sering merasa tidak perlu belajar."

Elena hampir tertawa, tetapi menahannya.

Bianca melanjutkan, "Saya ingin nilainya sempurna semester ini."

"Baik."

"Dia harus lulus dengan hasil terbaik."

Elena mengangguk. "Saya akan berusaha membantu semaksimal mungkin."

Bianca menatap Elena beberapa detik. "Bagus."

Kemudian terdengar suara pintu dibuka dari luar. Seorang pemuda masuk sambil membawa sebuah sketchbook besar.

Usianya masih muda. Rambutnya sedikit berantakan, kaus hitam polos melekat santai di tubuhnya, dan sebuah tas kanvas menggantung di salah satu bahunya.

Langkahnya terhenti ketika menyadari ada orang lain di ruangan itu.

Tatapannya berpindah dari Bianca kepada Elena.

"Mi ..."

Bianca mengangkat wajah, dan menyahut agak sinis. "Kamu terlambat."

"Aku cuma telat lima menit, Mi."

"Lima menit tetap terlambat."

Pemuda iitu menghela napas. Kemudian matanya kembali tertuju pada Elena. "Dia... Siapa, Mi?"

Bianca menjawab tanpa basa-basi. "Guru privatmu."

Kening pemuda itu langsung berkerut. "Hah?"

Elena menahan senyum.

Sementara Bianca tetap tenang, dan berkata lagi,

"Namanya Elena."

Pemuda itu mengangguk kecil. "Enzo."

Ia kemudian menatap Elena beberapa detik lebih lama. Bukan tatapan kurang ajar. Lebih seperti seseorang yang sedang mencoba memahami— kenapa ibunya tiba-tiba mendatangkan guru privat tanpa memberitahunya.

Elena tersenyum sopan, lantas menyapa, "Senang bertemu denganmu, Enzo."

Pemuda bernama Enzo itu balas tersenyum. "Gue juga seneng," ucapnya, dengan gaya bicara yang terbilang kurang sopan untuk ukuran seseorang yang baru pertama kali bertemu.

Sudut bibir Elena sampai berkedut melihat tingkah calon murid bimbingannya.

Bianca kembali berbicara, "Mulai besok, Elena akan membantu kamu."

Enzo langsung menoleh kepada ibunya. "Serius, Mi?" Tatapannya seolah masih tak menyangka.

"Serius."

"Mami nggak pernah bilang."

"Kalau Mami bilang, kamu pasti menolak."

Enzo terdiam. Ia tidak bisa membantah.

Bianca kemudian kembali menatap Elena. "Jadwalnya sudah saya kirimkan."

Elena mengangguk. "Baik, Bu."

***

Pertemuan mereka sebenarnya hampir selesai. Elena memasukkan beberapa berkas ke dalam tas.

"Kalau begitu, saya pamit dulu."

Bianca mengangguk. "Sampai besok."

Elena berdiri dan berjalan menuju pintu.

Namun sebelum ia sempat keluar, suara Enzo terdengar dari belakang.

"El."

Elena tidak langsung menoleh karena masih agak syok dengan cara Enzo memanggilnya barusan.

'Apa dia bilang? El? Dia panggil aku cuma nama doang? Jelas-jelas aku ini guru pembimbingnya.' Batin Elena agak kesal.

Namun, demi menjaga imej dan tidak ingin memberi kesan yang buruk, Elena terpaksa menoleh.

"Ya? Ada apa?" Perempuan itu memaksakan senyum.

Enzo berdiri sambil memasukkan sketchbook ke dalam tas, dan tiba-tiba bertanya sesuatu yang sama sekali tidak terduga.

"Lo pulang sendiri?"

Elena mengerjap sambil mencerna pelan-pelan pertanyaan Enzo barusan.

'Maksudnya tanya gitu apa, coba?' batin Elena.

"Iya. Saya pulang sendiri," jawab Elena akhirnya.

"Naik apa?"

"Pesan ojek."

Enzo melirik ke luar jendela, di luar sana langit mulai berubah gelap. Kemudian ia mengambil sesuatu dari atas meja. Sebuah helm.

"Ikut sama gue aja," katanya, dengan santainya.

Ajakan itu membuat Elena terdiam, lalu tatapannya turun pada helm di tangan Enzo. Kemudian kembali kepada wajah pemuda itu.

"Maaf? Kayaknya gak perlu. Saya—"

"Ayolah. Gue nggak bakal nyulik lo, kok!" Enzo mencoba merayu Elena supaya mau menerima tawarannya.

Lagi-lagi Elena dibuat melongo dengan kata-kata pemuda di hadapannya ini.

'Ini anak kayaknya tukang maksa. Udah gitu kalo ngomong seenaknya.'

Elena tentu sedikit kesal dengan sikap Enzo, yang baru kenal sudah bertingkah tidak sopan.

Huh, untung masih ada Bu Bianca. Kalo nggak, udah kusemprot nih anak.

Manik Elena melirik Bianca yang hanya kembali membaca tabletnya, seolah tidak ingin ikut campur.

Elena menggenggam tali tasnya lebih erat. Maniknya mengarah ke pintu. Kemudian menatap Enzo.

Untuk beberapa detik, ruangan itu sunyi.

Apakah Elena akan menerima tawaran Enzo?

BERSAMBUNG.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Berondongku   Menatap Kembali Hidupnya

    BAB 68 Menata Kembali Hidupnya ### Setelah tiba di kos, Elena mengganti pakaian dan makan siang seadanya. Dia baru saja selesai membereskan piring ketika ponselnya bergetar di atas meja kecil. Nama yang muncul di layar membuat tubuhnya seketika kaku. Karin. Elena menatap layar itu lama sekali. Sudah beberapa hari sejak semuanya terbongkar. Beberapa hari sejak dia menyadari bahwa sahabat yang selama ini dia percaya ternyata menyimpan hubungan dengan suaminya sendiri. Selama waktu itu, Karin belum benar-benar berbicara dengannya secara langsung. Elena sempat berharap Karin memahami bahwa dirinya membutuhkan jarak. Dia belum siap mendengar penjelasan apa pun, apalagi melihat wajah perempuan yang pernah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Namun, pesan itu sudah masuk. Dengan ragu, Elena membukanya. [El, aku tahu kamu mungkin nggak mau bicara sama aku. Tapi aku pengin minta maaf.] Elena tidak langsung membalas. Pesan berikutnya muncul beberapa saat kemudian. [Aku tahu aku

  • Dekapan Hangat Berondongku   Belajar Berdiri Tanpa Dirinya

    BAB 61 Belajar Berdiri Tanpa Dirinya###Pagi itu, Elena berdiri cukup lama di depan cermin kecil yang menempel di dinding kamar kosnya. Rambutnya sudah tersisir rapi, wajahnya telah dibasuh, dan pakaian sederhana yang biasa dia kenakan saat mengajar sudah melekat di tubuhnya. Namun, kedua tangannya masih sibuk merapikan bagian kerah kemeja, seolah ada sesuatu yang belum benar-benar siap dari penampilannya.Padahal, bukan pakaiannya yang membuat Elena terus berdiri di tempat yang sama.Dia hanya sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa hari ini dia benar-benar bisa kembali menjalani rutinitas.Beberapa hari terakhir, Elena lebih banyak menghabiskan waktu di kamar kos. Dia bangun, mandi, makan seadanya, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi ponsel. Sesekali dia membuka percakapan dengan Arga, membaca pesan-pesan lama mereka, kemudian menutupnya lagi sebelum luka yang belum mengering kembali terasa menyakitkan.Ada bagian dari dirinya yang masih menunggu Arga menghubunginya.

  • Dekapan Hangat Berondongku   Perempuan yang Seharusnya Kujaga

    BAB 60Perempuan yang Seharusnya Kujaga###Kalimat Nathan membuat ruang tengah mendadak sunyi.Arga menatap adiknya tanpa berkedip. Selama beberapa detik, dia seperti berusaha memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar. Namun, ekspresi Nathan yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bercanda membuat rahangnya mengeras."Apa maksud kamu?" tanya Arga.Nathan membalas tatapannya dengan tenang. "Maksudku seperti yang kamu dengar, Mas.""Kamu bilang kamu menyesal sudah melepaskan Elena buat aku?""Iya."Arga tertawa pendek, tetapi tawanya terdengar hambar. "Kamu sadar kamu sedang bicara sama siapa?""Sama kakakku sendiri. Aku tahu.""Kalau kamu tahu, seharusnya kamu nggak ngomong sembarangan.""Aku justru sedang berusaha bicara sejujurnya."Arga berdiri dari sofa. Wajahnya memerah, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Ada sesuatu dalam pengakuan Nathan yang membuatnya jauh lebih marah daripada teguran ayahnya. Mungkin karena selama ini Arga tidak pernah benar-benar

  • Dekapan Hangat Berondongku   NATHAN

    BAB 64NATHAN###Di rumah orang tuanya, Arga duduk di ruang tengah dengan wajah kusut. Dia sudah menerima beberapa pesan dari ibunya sejak pagi, meminta dirinya datang untuk membicarakan masalah yang terjadi dalam rumah tangganya.Awalnya, Arga sempat berpikir untuk menghindar. Dia tidak ingin menghadapi pertanyaan panjang, apalagi mendengar ceramah dari orang tuanya. Namun, dia tahu mengabaikan mereka hanya akan membuat keadaan semakin buruk.Akhirnya, dia memutuskan untuk datang ke rumah ini.Tadi begitu memasuki rumah, Arga langsung menyadari bahwa suasananya tidak seperti biasanya. Mama Rani duduk di sofa dengan wajah serius, sementara Papa berada di kursi seberangnya. Tidak ada sapaan hangat atau pertanyaan basa-basi seperti yang biasa mereka lakukan. Arga baru saja duduk ketika ayahnya membuka suara. "Papa mau dengar langsung dari kamu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Elena?"Arga mengusap wajahnya sebelum menjawab, "Masalah rumah tangga, Pa." "Papa tahu ini mas

  • Dekapan Hangat Berondongku   Keberanian untuk Bertahan

    BAB 63Keberanian untuk Bertahan ###Elena terbangun ketika cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai tipis di jendela kamarnya. Selama beberapa detik, dia hanya menatap langit-langit yang asing, berusaha mengingat mengapa dirinya tidak terbangun di kamar yang selama tiga tahun terakhir menjadi tempatnya tidur. Lalu ingatannya kembali. Arga. Karin. Ciuman yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri. Koper yang dia kemas dengan tangan gemetar. Dan keputusan yang akhirnya membawanya ke kamar kos kecil ini. Elena memejamkan mata sebentar, berharap rasa sesak di dadanya sudah berkurang setelah tidur semalaman. Sayangnya, luka itu masih ada. Bahkan, ketika dia menggerakkan tubuh untuk duduk, ingatan tentang kejadian malam itu kembali muncul tanpa diminta. Dia meraih ponsel di samping bantal. Ada beberapa pesan yang masuk, termasuk pesan dari Arga yang belum dibalasnya. Elena membaca sekilas sebelum meletakkan ponsel kembali. Dia belum siap berbicara dengan suaminya. Buk

  • Dekapan Hangat Berondongku   Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Rumah

    BAB 62Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Rumah ### Arga masih berdiri di dekat pintu ketika suara langkah Elena benar-benar menghilang dari pendengarannya. Beberapa detik berlalu, tetapi dia belum juga beranjak. Tangannya masih menggenggam ponsel, sementara pandangannya tertuju pada pintu yang baru saja ditutup Elena. Entah kenapa, ada bagian dalam dirinya yang masih menunggu perempuan itu kembali, membuka pintu, lalu mengatakan bahwa dia berubah pikiran. Namun, sampai beberapa menit kemudian, pintu itu tetap tertutup. Elena benar-benar pergi. Arga akhirnya berjalan menuju ruang tengah. Rumah yang biasanya terasa begitu biasa kini mendadak tampak asing. Sepasang sandal Elena sudah tidak ada di dekat pintu. Tas yang biasa diletakkan di atas sofa juga telah dibawa pergi. Bahkan, sudut kecil tempat Elena biasa duduk sambil membaca atau memeriksa bahan ajarnya terlihat lebih kosong daripada sebelumnya. Arga berhenti di depan sofa. Dia teringat bagaimana Elena beberapa waktu lalu masih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status