LOGINBAB 5
Enzo ### Pagi datang tanpa membawa kabar dari Arga. Elena terbangun ketika cahaya matahari menyentuh wajahnya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong. Lalu semuanya kembali. Pertengkaran semalam. Lip balm. Kucir rambut. Tamparan Arga. Dan pintu yang ditutup suaminya setelah pergi tanpa memberikan penjelasan. Elena mengangkat tangan, menyentuh pipinya. Bekasnya masih terasa nyeri. Namun rasa sakit di sana tidak seberapa dibandingkan dengan sesak yang memenuhi dadanya. Ia meraih ponsel di atas nakas, mencoba mengecek balasan pesan dari Arga. Tetapi ternyata, tidak ada pesan dari suaminya itu. Elena lantas membuka ruang percakapan mereka. Pesan terakhirnya masih sama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf. Bahkan tidak ada kalimat sederhana seperti 'aku baik-baik saja'. Elena menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menguncinya kembali. Ia tidak ingin menangis lagi. Setidaknya bukan pagi ini. Perlahan ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Ia mencuci wajah, mengikat rambut, lalu berdiri di depan cermin. Wajahnya terlihat pucat. Elena mengambil concealer dan menutupi bekas kemerahan di pipinya. Kali ini bukan untuk menyembunyikannya dari Arga. Melainkan dari dunia. Ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa rumah tangganya sedang retak. Setelah selesai bersiap, Elena turun ke lantai bawah. Rumah terasa begitu sunyi. Ia membuat secangkir teh, tetapi baru beberapa teguk sudah terasa hambar. Pikirannya kembali pada satu hal— Ia harus mencari pekerjaan. Selama ini Elena masih bertahan dengan tabungan yang perlahan menipis. Uang belanja dari Arga tidak pernah cukup untuk semua kebutuhan rumah. Dan setelah kejadian semalam, entah kenapa Elena semakin yakin bahwa ia tidak boleh terus bergantung sepenuhnya kepada suaminya. Ia mengambil ponsel dan membuka beberapa pesan lama. Salah satunya adalah percakapan dengan seseorang yang beberapa hari lalu menanyakan apakah dirinya masih bersedia menjadi guru privat. Elena membaca pesan itu lagi. Dulu ia memang agak ragu. Namun sekarang, mungkin ia tidak punya alasan untuk terus menolak. Baru saja Elena hendak membalas, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Bukan dari Arga. Nama pengirimnya membuat Elena sedikit terkejut. Bianca Raphael. Elena mengernyit. Ia mengenal nama itu dari percakapan sebelumnya mengenai pekerjaan guru privat. Pesannya singkat. [Selamat pagi, Elena. Apakah Anda bisa bertemu dengan saya hari ini? Saya ingin membicarakan pekerjaan tersebut secara langsung.] Elena membaca pesan itu dua kali. Kemudian segera membalas: [Bisa, Bu. Kapan dan di mana?] Balasan datang tidak lama kemudian. [Pukul sebelas. Saya kirimkan alamatnya.] Sejenak Ellena menatap layar. Untuk pertama kalinya sejak semalam, ada sesuatu yang membuat pikirannya sedikit teralihkan. Ia membutuhkan pekerjaan itu. Bukan sekadar tambahan uang. Tetapi juga alasan untuk mulai berdiri di atas kakinya sendiri. --- Satu jam kemudian, Elena sudah berada di depan sebuah bangunan besar dengan desain modern. — Raphael Gallery— Nama itu cukup dikenal. Elena sempat berdiri beberapa detik di depan pintu masuk sebelum akhirnya menarik napas dan melangkah masuk. Interiornya berbeda dari tempat-tempat yang biasa ia datangi. Dinding putih dipenuhi lukisan. Beberapa patung berdiri di sudut ruangan. Aroma cat minyak samar tercium di udara. Elena memperhatikan semuanya dengan kagum. Seorang staf kemudian menghampirinya. "Bu Elena?" tanyanya ramah dan sopan. "Iya." "Bu Bianca sudah menunggu di atas." "Baik. Terima kasih." Elena pun mengikuti staf tersebut menuju lantai atas. Beberapa menit kemudian, ia berdiri di depan sebuah ruangan. Tok! Tok! "Masuk." Elena membuka pintu, lantas melangkah masuk. Dia mendapati seorang wanita elegan duduk di balik meja kerja. Tatapannya langsung terangkat. Tenang. Tajam. Profesional. "Elena?" "Iya, Bu." "Duduk." Elena mengambil kursi di hadapan perempuan yang akan memberinya pekerjaan. Bianca membuka sebuah berkas. "Saya sudah membaca data yang Anda kirim," ucapnya. Elena mengangguk. "Saya ingin memastikan beberapa hal." "Silakan." "Anda bersedia mengajar tiga kali seminggu?" "Ya." "Dan jadwalnya fleksibel?" "Selama saya mendapat jadwal sebelumnya." Bianca mengangguk. Kemudian ia menutup berkas tersebut. "Anak saya mahasiswa tingkat akhir." Elena memperhatikan wanita itu. "Dia sebenarnya pintar." Ada sedikit jeda. "Terlalu pintar, malah." Elena tersenyum kecil.."Kalau begitu, seharusnya saya tidak terlalu kesulitan mengajarinya." Bianca menatap Elena datar. "Justru karena dia pintar, dia sering merasa tidak perlu belajar." Elena hampir tertawa, tetapi menahannya. Bianca melanjutkan, "Saya ingin nilainya sempurna semester ini." "Baik." "Dia harus lulus dengan hasil terbaik." Elena mengangguk. "Saya akan berusaha membantu semaksimal mungkin." Bianca menatap Elena beberapa detik. "Bagus." Kemudian terdengar suara pintu dibuka dari luar. Seorang pemuda masuk sambil membawa sebuah sketchbook besar. Usianya masih muda. Rambutnya sedikit berantakan, kaus hitam polos melekat santai di tubuhnya, dan sebuah tas kanvas menggantung di salah satu bahunya. Langkahnya terhenti ketika menyadari ada orang lain di ruangan itu. Tatapannya berpindah dari Bianca kepada Elena. "Mi ..." Bianca mengangkat wajah, dan menyahut agak sinis. "Kamu terlambat." "Aku cuma telat lima menit, Mi." "Lima menit tetap terlambat." Pemuda iitu menghela napas. Kemudian matanya kembali tertuju pada Elena. "Dia... Siapa, Mi?" Bianca menjawab tanpa basa-basi. "Guru privatmu." Kening pemuda itu langsung berkerut. "Hah?" Elena menahan senyum. Sementara Bianca tetap tenang, dan berkata lagi, "Namanya Elena." Pemuda itu mengangguk kecil. "Enzo." Ia kemudian menatap Elena beberapa detik lebih lama. Bukan tatapan kurang ajar. Lebih seperti seseorang yang sedang mencoba memahami— kenapa ibunya tiba-tiba mendatangkan guru privat tanpa memberitahunya. Elena tersenyum sopan, lantas menyapa, "Senang bertemu denganmu, Enzo." Pemuda bernama Enzo itu balas tersenyum. "Gue juga seneng," ucapnya, dengan gaya bicara yang terbilang kurang sopan untuk ukuran seseorang yang baru pertama kali bertemu. Sudut bibir Elena sampai berkedut melihat tingkah calon murid bimbingannya. Bianca kembali berbicara, "Mulai besok, Elena akan membantu kamu." Enzo langsung menoleh kepada ibunya. "Serius, Mi?" Tatapannya seolah masih tak menyangka. "Serius." "Mami nggak pernah bilang." "Kalau Mami bilang, kamu pasti menolak." Enzo terdiam. Ia tidak bisa membantah. Bianca kemudian kembali menatap Elena. "Jadwalnya sudah saya kirimkan." Elena mengangguk. "Baik, Bu." *** Pertemuan mereka sebenarnya hampir selesai. Elena memasukkan beberapa berkas ke dalam tas. "Kalau begitu, saya pamit dulu." Bianca mengangguk. "Sampai besok." Elena berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun sebelum ia sempat keluar, suara Enzo terdengar dari belakang. "El." Elena tidak langsung menoleh karena masih agak syok dengan cara Enzo memanggilnya barusan. 'Apa dia bilang? El? Dia panggil aku cuma nama doang? Jelas-jelas aku ini guru pembimbingnya.' Batin Elena agak kesal. Namun, demi menjaga imej dan tidak ingin memberi kesan yang buruk, Elena terpaksa menoleh. "Ya? Ada apa?" Perempuan itu memaksakan senyum. Enzo berdiri sambil memasukkan sketchbook ke dalam tas, dan tiba-tiba bertanya sesuatu yang sama sekali tidak terduga. "Lo pulang sendiri?" Elena mengerjap sambil mencerna pelan-pelan pertanyaan Enzo barusan. 'Maksudnya tanya gitu apa, coba?' batin Elena. "Iya. Saya pulang sendiri," jawab Elena akhirnya. "Naik apa?" "Pesan ojek." Enzo melirik ke luar jendela, di luar sana langit mulai berubah gelap. Kemudian ia mengambil sesuatu dari atas meja. Sebuah helm. "Ikut sama gue aja," katanya, dengan santainya. Ajakan itu membuat Elena terdiam, lalu tatapannya turun pada helm di tangan Enzo. Kemudian kembali kepada wajah pemuda itu. "Maaf? Kayaknya gak perlu. Saya—" "Ayolah. Gue nggak bakal nyulik lo, kok!" Enzo mencoba merayu Elena supaya mau menerima tawarannya. Lagi-lagi Elena dibuat melongo dengan kata-kata pemuda di hadapannya ini. 'Ini anak kayaknya tukang maksa. Udah gitu kalo ngomong seenaknya.' Elena tentu sedikit kesal dengan sikap Enzo, yang baru kenal sudah bertingkah tidak sopan. Huh, untung masih ada Bu Bianca. Kalo nggak, udah kusemprot nih anak. Manik Elena melirik Bianca yang hanya kembali membaca tabletnya, seolah tidak ingin ikut campur. Elena menggenggam tali tasnya lebih erat. Maniknya mengarah ke pintu. Kemudian menatap Enzo. Untuk beberapa detik, ruangan itu sunyi. Apakah Elena akan menerima tawaran Enzo? BERSAMBUNG.BAB 7Peringatan### Begitu pintu rumah tertutup di belakangnya, Elena berhenti beberapa langkah dari ruang tengah. Tangannya masih menggenggam tali tas, sementara pikirannya belum sepenuhnya lepas dari perjalanan pulang tadi. Suara motor Enzo yang semakin menjauh masih terngiang samar di kepalanya, tetapi perhatian Elena segera tertarik pada satu hal yang jauh lebih mengganggu. Arga masih berdiri di sana. Wajahnya terlihat tegang sejak tadi, seolah kedatangan Elena bersama Enzo telah mengubah suasana rumah yang memang sudah tidak nyaman menjadi semakin buruk. Elena menundukkan pandangan sebentar. Ia sebenarnya tidak ingin bertengkar lagi. Sejak semalam, rasanya tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah untuk menghadapi pertengkaran baru. Namun Arga sepertinya tidak berpikiran sama. "Kamu sekarang kerja?" Suara itu terdengar dingin. Elena mengangkat wajah. "Iya.""Sejak kapan?" "Mulai hari ini."Arga tertawa pendek. Bukan tawa yang menunjukkan rasa senang, melainkan seperti s
Bab 7Perubahan Elena###Elena tidak langsung bergerak. Tangannya masih menggantung di sisi tubuh, sementara jantungnya berdetak lebih cepat setelah melihat Arga berdiri di depan pintu rumah. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tatapan suaminya yang dingin membuat semua kalimat itu kembali tertahan di tenggorokan. Arga tidak bertanya bagaimana harinya. Tidak juga menanyakan dari mana Elena baru pulang. Tatapan laki-laki itu justru tertuju pada motor yang masih terparkir beberapa meter dari mereka. Enzo. Pemuda itu masih duduk di atas motornya sambil melepas sarung tangan. Begitu menyadari Arga sedang memperhatikannya, Enzo hanya mengangkat dagu sedikit sebagai bentuk sapaan.Elena menelan ludah. "Mas...""Siapa dia?"Nada suara Arga terdengar datar, tetapi Elena tahu suaminya sedang menahan sesuatu.Elena menarik napas sebelum menjawab. "Dia muridku." Kening Arga mengernyit samar. "Murid?" "Iya."Arga mengalihkan pandangan kepada Elena. "Sejak kapan kamu puny
Bab 6 Ketegangan ### Elena akhirnya menghela napas panjang. Entah kenapa, berdebat dengan laki-laki yang baru dikenalnya kurang dari satu jam itu terasa jauh lebih melelahkan daripada menerima tawarannya. "Saya ikut sampai rumah saja," katanya akhirnya, masih dengan nada ragu. Senyum Enzo langsung muncul. "Nah, gitu dong." "Tapi jangan macem-macem." Enzo mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Emang gue kelihatan kayak orang jahat?" Elena memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Kaus hitam, celana jeans, rambut sedikit berantakan, dan ekspresi santai yang seolah tidak pernah mengenal kata serius. "Iya," jawab Elena spontan. Enzo terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil. "Jujur banget, sih." Elena sendiri baru sadar dengan jawabannya. Sudut bibirnya hampir terangkat, tetapi buru-buru ia tahan. Rasanya aneh bisa bercanda seperti itu dengan orang yang baru saja dikenalnya, apalagi setelah malam yang begitu buruk. Mereka turun bersama menuju area pa
BAB 5 Enzo ### Pagi datang tanpa membawa kabar dari Arga. Elena terbangun ketika cahaya matahari menyentuh wajahnya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong. Lalu semuanya kembali. Pertengkaran semalam. Lip balm. Kucir rambut. Tamparan Arga. Dan pintu yang ditutup suaminya setelah pergi tanpa memberikan penjelasan. Elena mengangkat tangan, menyentuh pipinya. Bekasnya masih terasa nyeri. Namun rasa sakit di sana tidak seberapa dibandingkan dengan sesak yang memenuhi dadanya. Ia meraih ponsel di atas nakas, mencoba mengecek balasan pesan dari Arga. Tetapi ternyata, tidak ada pesan dari suaminya itu. Elena lantas membuka ruang percakapan mereka. Pesan terakhirnya masih sama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf. Bahkan tidak ada kalimat sederhana seperti 'aku baik-baik saja'. Elena menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menguncinya kembali. Ia tidak ingin menangis lagi. Setidaknya bukan pagi ini.
BAB 4 Jejak yang Tak Terjawab ### Malam datang bersama suara hujan yang turun tipis di luar rumah. Elena duduk sendirian di ruang keluarga. Sejak sore, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Di atas meja di hadapannya terdapat sebuah benda kecil yang sejak pagi terus mengganggu pikirannya. Lip balm. Di sampingnya, sebuah plastik transparan berisi kucir rambut hitam dengan beberapa helai rambut berwarna cokelat yang masih tersangkut di sana. Dua benda itu sudah berkali-kali Elena masukkan ke dalam laci. Namun setiap beberapa menit, ia kembali membukanya. Entah untuk apa. Mungkin karena berharap benda-benda itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang tidak mencurigakan. Atau mungkin karena jauh di dalam hatinya, Elena sudah tahu bahwa ia sedang berusaha menunda sesuatu. Pertanyaan. Kebenaran. Atau kemungkinan terburuk yang sejak tadi ia takutkan. Ponselnya menunjukkan pukul sembilan malam ketika suara mobil terdengar dari halaman. Elena langsung men
Bab 3 Menebak-nebak ### Elena masih berdiri di tengah kamar. Sehelai rambut berwarna cokelat itu terjepit di antara kedua jarinya. Matanya menatap benda kecil tersebut cukup lama, seolah berharap dari sana akan muncul sebuah jawaban. Namun tentu saja tidak. Rambut tetaplah rambut. Lip balm tetaplah lip balm. Tidak ada nama pemiliknya. Tidak ada petunjuk dari mana benda itu berasal. Elena akhirnya menghela napas. "Jangan berpikir macam-macam." Ia mencoba menertawakan dirinya sendiri. "Belum tentu ada hubungannya sama Mas Arga." Namun kalimat itu terdengar jauh lebih meyakinkan di kepalanya daripada ketika diucapkan. Elena meletakkan kucir rambut tersebut di samping lip balm. Kedua benda itu berdampingan di atas meja. Aneh. Sangat aneh. Terlebih setelah apa yang ia lihat semalam. Kissmark. Lip balm. Kucir rambut perempuan. Tiga hal itu terus berputar di kepalanya. Elena berjalan menuju jendela dan membuka tirainya. Cahaya pagi langsung memenuhi







