공유

Bab 3

작가: Gita Putri
last update 게시일: 2026-02-25 20:09:50

Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. 

Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. 

Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sepatu Arga dan deru napas Siska yang masih belum stabil.

​Pintu ganda kamar utama terbuka dengan satu dorongan. 

Kamar Arga jauh lebih luas, dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan maskulin dan dominan. 

Arga merebahkan Siska di atas tempat tidur berseprai sutra hitam yang dingin, menciptakan kontras tajam dengan kulit Siska yang masih merona panas.

​"Tempat ini lebih pantas untukmu, Siska. Bukan meja kayu yang keras." gumam Arga sembari melepas jasnya dan melemparnya ke lantai.

​Siska mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, namun tangan Arga menahannya. 

"Jangan sembunyi. Aku ingin melihat setiap inci dari apa yang sekarang menjadi milikku." Ucap Arga.

​"Arga... Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau di ruang kerja tadi. Dokumen itu…"

​"Dokumen itu sudah bukan masalah lagi." potong Arga, ia merangkak naik ke atas tempat tidur, mengunci Siska di bawah kungkungan tubuhnya yang tegap. 

"Tapi kau lupa satu hal, Siska. Kelainanmu itu, ia tidak berhenti memproduksi hanya karena aku meminumnya sekali. Lihat, dadamu sudah mulai mengeras lagi karena gairah yang baru saja kau rasakan." Lanjut Arga.

​Siska meringis kecil. Benar, sensasi berdenyut itu kembali hadir, seolah tubuhnya merespons kehadiran Arga dengan cara yang paling memalukan. 

"Ini menyiksa, Arga. Kenapa tubuhku harus seperti ini?" Kesal Siska.

​"Jangan mengutuknya." Arga membelai pipi Siska dengan lembut namun posesif. 

"Bagiku, ini adalah anugerah. Sebuah keajaiban medis yang hanya boleh dinikmati oleh musuh kakakmu. Bayangkan betapa hancurnya Rendy jika tahu adiknya yang suci ini memohon padaku untuk dihisap setiap malam." Kekeh Arga.

​"Kau jahat..." bisik Siska, meski ia tidak bisa menolak saat Arga mulai menciumi lehernya lagi.

​"Aku jujur, Siska. Dan kejujuranku adalah bahwa aku menginginkan lebih dari sekadar rasa susumu. Aku ingin jiwamu bertekuk lutut." Ucap Arga.

​Arga menarik kemeja Siska sepenuhnya, membiarkan wanita itu benar-benar terbuka di bawah cahaya lampu tidur yang redup. 

Ia menatap lekat ke arah dada Siska yang putih bersih dengan urat-urat biru halus yang tampak menegang.

​"Katakan padaku, Siska." Arga berbisik di dekat telinganya sembari jemarinya mulai memijat dengan ritme yang lambat dan dalam. 

"Berapa kali kau harus melakukan ini sendirian di kamar mandimu? Menangis karena rasa sakit dan malu?" Tanya Arga.

​Siska menggigit bibirnya, air mata setitik jatuh di sudut matanya. 

"Setiap hari... setiap pagi dan malam. Aku merasa seperti orang aneh. Aku takut tidak akan ada pria yang bisa menerimaku." Jawab Siska.

​"Maka kau beruntung bertemu denganku." Arga mengecup air mata itu. "Karena aku tidak hanya menerimanya, aku memujanya. Aku akan menjadi satu-satunya 'obat' yang kau butuhkan." Lanjut Arga.

​Arga kembali membenamkan wajahnya di sana. Kali ini, ia tidak hanya menghisap, ia menggunakan tangannya untuk membantu memerah cairan itu keluar dengan teknik yang jauh lebih intim. 

Siska mengerang keras, tangannya meremas seprai sutra hingga kusut.

​"Ahhh! Arga... hhh... pelan-pelan, itu... itu terlalu sensitif!"

​"Biarkan ia keluar, Siska. Berikan semuanya padaku. Jangan sisakan setetes pun untuk orang lain." suara Arga terdengar meredam karena ia sibuk menampung setiap tetes yang memancar.

​Ruangan itu kini hanya diisi oleh suara hisapan yang ritmis dan desahan napas Siska yang semakin liar. 

Siska merasa seolah-olah seluruh tubuhnya mencair. Setiap kali Arga menekan lebih dalam, rasa sakit yang menghimpit dadanya menguap, digantikan oleh rasa nikmat yang menjalar hingga ke rahimnya.

​"Kau sangat haus, Arga." bisik Siska di sela-sela erangannya, ia mulai berani membelai rambut hitam Arga, menarik pria itu agar semakin erat menempel padanya.

​Arga mengangkat kepalanya, wajahnya tampak basah dan matanya berkilat penuh gairah predator. 

"Aku tidak akan pernah kenyang jika itu berasal darimu." Ucapnya.

​Ia kemudian meraih kedua tangan Siska, menguncinya di atas kepala dengan satu tangan. 

"Mulai besok, kau akan pindah ke sini. Aku akan menyiapkan kamar khusus, tapi kau akan tidur di sampingku. Setiap kali kau merasa 'penuh', kau tidak perlu lagi menangis sendirian. Kau hanya perlu membangunkanku." Ucap Arga.

​"Arga... itu berarti aku menjadi tawananmu." Siska menatapnya dengan pandangan nanar.

​"Tawanan yang paling aku manjakan." Arga mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. 

"Kau menyelamatkan Rendy dari kehancuran, dan aku menyelamatkanmu dari rasa sakitmu sendiri. Bukankah itu kesepakatan yang adil?" Ucap Arga.

​Siska terdiam, menatap pria yang seharusnya ia benci, namun kini menjadi satu-satunya orang yang memegang kunci kenyamanan tubuhnya. 

Ia merasakan denyutan di bawah sana semakin kuat, seiring dengan Arga yang mulai menjelajah lebih jauh ke area sensitif bawahnya lagi.

​"Jawab aku, Siska. Apakah kau setuju menjadi milikku sepenuhnya?" Tanya Arga lagi.

​Siska memejamkan mata, membiarkan gairah mengambil alih akal sehatnya. 

"Ya... aku setuju. Jadilah satu-satunya yang menyentuhku. Tolong, hilangkan rasa sesak ini lagi, Arga." Ucapnya.

​Arga tidak butuh kata-kata lagi. 

Ia melanjutkan penjelajahannya dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih panas, memastikan bahwa malam itu.

Siska benar-benar melupakan dunia luar, melupakan kakaknya, dan hanya mengingat nama Arga di setiap hembusan napasnya yang penuh kenikmatan.

**

Malam semakin larut, namun suhu di dalam kamar utama itu seakan terus meningkat, melawan dinginnya AC yang berembus pelan. 

Siska merasa waktu seakan berhenti. Di bawah kungkungan Arga, ia bukan lagi wanita terhormat dari keluarga Adijaya, ia hanyalah seorang wanita yang tubuhnya telah dikhianati oleh kelainannya sendiri, dan kini, dikuasai sepenuhnya oleh pria yang paling dibenci kakaknya.

​Arga tidak memberikan ruang bagi Siska untuk berpikir. Setiap kali Siska mencoba mengatur napas, Arga akan menemukan titik sensitif baru yang memicu desahan panjang.

​Arga berpindah dari satu sisi ke sisi lain, memastikan tekanan di dada Siska benar-benar berkurang. 

Namun, anehnya, setiap kali rasa sesak itu hilang, gairah di dalam diri Siska justru membangun tekanan baru di bagian bawah tubuhnya.

​"Kau tahu, Siska." Arga berbisik, suaranya serak, membelai garis rahang Siska yang berkeringat. 

"Aku bisa melakukan ini sepanjang malam. Tubuhmu ini seperti sumber mata air yang tak pernah kering. Begitu murni, begitu manis. Kau benar-benar tidak pernah membayangkan pria lain melakukan ini padamu?" Tanya Arga.

​Siska menggeleng lemah di atas bantal sutra. 

"Tidak, aku selalu merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku selalu merasa cacat." Balas Siska.

​Arga menarik dagu Siska, memaksanya menatap mata elangnya yang tajam. 

"Jangan pernah sebut ini cacat di depanku. Ini adalah persembahan paling intim yang bisa diberikan seorang wanita. Dan fakta bahwa hanya aku yang tahu, hanya aku yang bisa merasakannya, itu membuatku ingin menghancurkan siapa pun yang berani menatapmu." Ucap Arga.

​"Arga... Hhh... Kenapa kau begitu terobsesi?" tanya Siska terengah-engah saat tangan Arga kembali meremas pinggulnya, menariknya lebih dekat hingga kulit mereka seolah menyatu.

​"Karena kau adalah satu-satunya hal milik Rendy yang tidak bisa ia beli dengan uang. Dan sekarang, kau menyerahkannya padaku dengan sukarela." jawab Arga sebelum kembali membenamkan wajahnya di antara kelembutan Siska.

​Hisapan Arga kini lebih menuntut, lebih dalam. Siska merasakan sensasi tarikan yang kuat, yang seolah-olah menarik seluruh kesadarannya keluar dari tubuhnya.

​"Ahhh! Arga, pelan-pelan… Rasanya... rasanya aku akan meledak!" Siska mencengkeram lengan Arga yang berotot, merasakan urat-urat di tangan pria itu menonjol karena menahan gairahnya sendiri.

​"Biarkan saja, Siska. Meledaklah untukku." gumam Arga di sela-sela aktivitasnya. 

"Katakan, apa yang kau rasakan saat aku melakukan ini? Apakah kau masih merasakan kebencian itu?" Tanya Arga.

​Siska terdiam sejenak, matanya berkabut oleh kenikmatan. 

"Aku... aku tidak tahu. Aku hanya merasa... kosong jika kau berhenti. Tolong, jangan berhenti..."

​Arga tertawa rendah, sebuah suara yang penuh kemenangan. 

"Itu jawaban yang aku cari. Kau mulai kecanduan, bukan? Kau kecanduan pada rasa lega yang hanya bisa kuberikan." Kekeh Arga.

​Arga kemudian merubah posisi, ia duduk bersandar pada headboard tempat tidur dan menarik Siska untuk duduk di atas pangkuannya, menghadap ke arahnya. 

Dalam posisi yang sangat intim ini, Siska bisa merasakan betapa kerasnya keinginan Arga yang tertahan di bawah sana.

​"Lakukan sendiri, Siska." perintah Arga, suaranya penuh otoritas. 

"Tunjukkan padaku betapa kau menginginkan 'obat' ini. Pegang dadamu, dan berikan padaku. Aku ingin melihatmu menyerahkan dirimu sepenuhnya."

​Dengan tangan gemetar dan wajah yang memerah padam, Siska mengikuti perintah itu. 

Ia menyentuh dirinya sendiri di depan mata Arga, memandu aliran cairan putih itu menuju bibir Arga yang sudah menunggu. 

Pemandangan itu begitu liar dan erotis, membuat Arga mengerang rendah.

​"Pintar... Kau adalah tawanan yang sangat penurut." puji Arga sembari menyambut aliran itu dengan rakus.

​Jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi, namun energi di dalam kamar itu tidak memudar. 

Siska sudah mencapai puncak berkali-kali, tubuhnya lemas dan bersimbah keringat, namun Arga seolah memiliki stamina yang tak terbatas.

​Arga kini membaringkan Siska dalam posisi miring, memeluknya dari belakang. Tangannya tetap aktif, memastikan tidak ada sisa ketegangan di tubuh Siska.

​"Sebentar lagi fajar." bisik Arga di telinga Siska yang memerah. 

"Rendy mungkin sudah menunggumu pulang. Tapi dia tidak akan pernah tahu bahwa adiknya menghabiskan malam dengan memohon pada musuhnya." Kekeh Arga.

​"Kau akan menepati janjimu, kan?" suara Siska terdengar sangat kecil, ia hampir tidak punya tenaga lagi untuk bicara. "Dokumen itu... kakakku..."

​"Aku bukan pembohong, Siska. Rendy akan mendapatkan dokumennya besok pagi. Tapi kau harus kembali kesini besok malam. Dan malam-malam berikutnya." Ucap Arga.

Arga mencium bahu polos Siska. 

"Jika kau terlambat satu jam saja, aku akan memastikan Rendy kehilangan segalanya. Tapi jika kau patuh, aku akan menjadikannya raja di dunianya, selama kau tetap menjadi milikku di dunia ini." Lanjut Arga lagi.

​Siska memejamkan mata saat ia merasakan sinar matahari pertama mulai mengintip dari celah gorden. 

Ia telah menyelamatkan kakaknya, namun ia tahu, mulai saat ini, hidupnya bukan lagi miliknya. 

Kini Siska telah terikat pada rutinitas malam yang gelap, panas, dan penuh dosa dengan pria yang seharusnya ia hancurkan.

​"Aku akan datang." bisik Siska akhirnya, pasrah pada takdirnya. 

"Aku akan selalu datang, Arga." Ucap Siska.

​Arga tersenyum gelap, memeluk Siska lebih erat, menikmati kehangatan dan aroma tubuh wanita itu saat fajar menyingsing, menandai awal dari pengabdian panjang Siska sebagai 'sumber kehidupan' pribadinya.

Bersambung…

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 23

    Setelah klimaks yang menghancurkan di depan layar proyektor, Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja mahoni itu. Ia menatap Siska yang terkulai lemas dengan tatapan lapar yang tidak pernah terpuaskan. Keringat membanjiri tubuh mereka, membuat kulit yang bersentuhan mengeluarkan suara decit yang erotis setiap kali bergeser. ​"Kau pikir ini sudah selesai, Siska?" bisik Arga, suaranya serak, penuh dengan dominasi yang gelap. "Rendy mencoba meretas satelitku, maka aku akan menunjukkan padanya apa yang terjadi jika ia mencoba menyentuh milikku." ​Arga meraih sebuah remote kecil di pinggir meja. Dengan satu tekanan tombol, dinding kaca besar yang menghadap ke arah laut perlahan terbuka, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulit mereka yang panas. Di luar sana, di bawah sinar bulan, sebuah helikopter pengintai tanpa awak milik Arga terbang rendah, menyalakan lampu sorotnya tepat ke arah mereka. ​"Arga... apa yang kau lakukan? Lampu itu... orang-orangmu bisa melihat kita!" Sis

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 22

    Asap tipis masih mengepul dari laras pistol hitam di atas meja kayu itu, bercampur dengan aroma amis garam laut dan keringat dingin yang membasahi pelipis Siska. Matahari kini telah naik lebih tinggi, membakar kulit mereka yang masih bersentuhan erat. Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja latihan tersebut; ia justru menarik sebuah papan target yang selama ini tertutup kain hitam.​Begitu kain itu ditarik, jantung Siska seolah berhenti berdetak. Di sana, terpampang foto Rendy berukuran besar, wajah kakaknya yang sedang tersenyum tenang, foto yang diambil saat perayaan ulang tahun Siska tahun lalu.​"Arga... apa yang kau lakukan?" suara Siska bergetar hebat.​"Satu peluru terakhir, Siska." Arga berbisik, suaranya sedingin es yang membeku. Ia mengambil pistol itu, mengisi satu peluru terakhir ke dalam kamar dengan bunyi klik yang mematikan, lalu meletakkannya kembali ke tangan Siska yang gemetar. "Tembak dia. Tembak tepat di jantungnya."​Arga berdiri tepat di belakang Siska, mel

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 21

    Suasana di dalam ruang rahasia itu terasa sangat kedap dan berat. Hanya suara dengung konstan dari mesin peladen dan kelap-kelip lampu indikator dari puluhan monitor yang menerangi ruangan bawah tanah tersebut. Arga tampak tertidur pulas di atas sofa kulit panjang yang terletak di sudut ruangan, napasnya berat dan teratur setelah pergulatan hebat mereka beberapa jam yang lalu.​Siska, yang masih merasakan sisa denyut di intinya dan rasa hangat di dadanya, perlahan bangkit dari pelukan Arga. Ia melangkah dengan jinjit, kakinya yang polos tidak mengeluarkan suara di atas lantai teknis yang dingin. Matanya tertuju pada panel kontrol di samping pintu baja yang tertutup rapat.​Bip. Bip.​Siska mencoba menekan beberapa kombinasi angka yang ia ingat dari tanggal lahir Arga atau tanggal pertemuan mereka, namun layar kecil itu hanya menampilkan warna merah. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak benar-benar ingin lari dari pulau ini, ia tahu itu mustahil, namun rasa terkurung di ruangan tanp

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 20

    Setelah gairah yang meluap di kolam renang, Arga membiarkan Siska membersihkan diri di kamar mandi utama yang luar biasa mewah. Ruangan itu berdinding marmer putih dengan bathtub raksasa yang menghadap ke arah laut lepas.Namun, rasa tenang Siska perlahan sirna saat ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang polos, kecuali sebuah benda yang kini melingkar permanen di lehernya.​Kalung platina dengan permata safir itu berkilau dingin. Siska menyentuhnya, mencoba mencari celah pengait. Ia menariknya pelan, lalu sedikit lebih kuat. Tidak ada gerakan. Kalung itu terasa sangat pas, seolah-olah telah menyatu dengan kulitnya.​"Kenapa tidak bisa digeser?" gumam Siska. Ia mencoba memasukkan ujung jarinya di antara kulit dan rantai, namun rantai itu terasa mengencang secara otomatis saat ia menariknya. Ada sensasi getaran halus, hampir tak terasa, yang keluar dari liontin safir tersebut.​Siska mulai panik. Ia mengambil sebuah jepit rambut besi dari meja rias dan mencoba

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 19

    Sebelum helikopter pribadi Arga lepas landas menuju pulau terpencil yang akan menjadi penjara emas bagi Siska, Arga memiliki satu urusan darah yang harus diselesaikan. Ia tidak bisa pergi dengan tenang jika pengkhianatan masih bernapas di bawah atapnya.​Di sebuah ruang kedap suara di rubanah terdalam kediamannya, ruangan yang bahkan Siska tidak tahu keberadaannya, Yoga, sang pengawal pengkhianat, tergantung dengan rantai besi yang mengikat kedua pergelangan tangannya ke langit-langit. Wajahnya sudah tak berbentuk, bengkak dan bersimbah darah, namun Arga baru saja memulai.​Arga berdiri di hadapannya, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menyingkap urat-urat tangannya yang menegang. Di atas meja di sampingnya, tertata rapi berbagai alat interogasi yang berkilau dingin di bawah lampu neon yang berkedip.​"Lima tahun, Yoga." suara Arga rendah, hampir seperti bisikan predator yang sedang mengintai. "Aku memberimu gaji sepuluh kali lipat dari pengawal bias

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 18

    Malam itu, kamar utama Arga terasa seperti pusat gravitasi dunia. Aroma musk, keringat, dan manisnya susu memenuhi udara yang pengap oleh gairah yang tak kunjung padam. Arga tidak memberikan celah sedikit pun bagi Siska untuk bernapas. Ia bergerak dengan ritme yang menghujam, seolah setiap gerakannya adalah paku yang menancap untuk mengunci Siska di bawah kuasa mutlaknya.​"Arga... ahh... cukup... aku tidak kuat lagi." rintih Siska, tubuhnya melengkung, matanya terpejam rapat sementara tangannya mencengkeram sprei sutra hingga kusut.​"Belum, Siska. Belum cukup." Arga berbisik di ceruk lehernya, suaranya serak dan penuh otoritas. Ia kembali merangkul dada Siska yang sudah melunak namun masih memancarkan kehangatan yang memabukkan. Arga menyesap puncaknya sekali lagi, seolah setiap tetes yang ia telan adalah bensin yang membakar gairahnya untuk terus memacu Siska.​Penyatuan mereka malam itu berlangsung jauh lebih lama, lebih intens, dan lebih liar. Arga seolah sedang merayakan kemen

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 16

    Ruang kerja Arga yang biasanya dingin dan penuh dengan aura otoritas mendadak terasa pengap oleh ketegangan yang berbeda. Arga duduk dibalik meja mahoni besarnya, mengenakan setelan jas yang rapi dari pinggang ke atas, menghadap layar monitor yang menampilkan wajah-wajah petinggi kolega bisnis int

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 15

    Petir menggelegar di langit, seolah membelah langit malam yang kelam, tepat saat Rendy menarik paksa pakaian Siska. Di tengah keputusasaan yang mencekik, Siska teringat sesuatu. Beberapa hari yang lalu, karena ketakutannya pada ancaman Arga, ia sempat menyembunyikan sebuah pisau lipat kecil yang

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 13

    Hari-hari berikutnya di kediaman Adijaya berjalan dengan harmoni yang palsu. Di bawah terang matahari, Rendy adalah definisi dari seorang kakak yang sempurna. Ia membawakan Siska bunga, menemaninya makan malam dengan obrolan ringan yang hangat, dan bahkan memberikan perhatian ekstra pada kesehatan

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 12

    Hening yang mencekam menyelimuti kamar itu setelah pengakuan Rendy. Siska menatap kertas di tangannya seolah benda itu adalah racun yang baru saja membunuh sosok kakak yang selama ini ia puja. Dunianya yang sudah porak-poranda oleh Arga, kini rata dengan tanah karena pengakuan pria di depannya.​R

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status