LOGINArga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu.
Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sepatu Arga dan deru napas Siska yang masih belum stabil. Pintu ganda kamar utama terbuka dengan satu dorongan. Kamar Arga jauh lebih luas, dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan maskulin dan dominan. Arga merebahkan Siska di atas tempat tidur berseprai sutra hitam yang dingin, menciptakan kontras tajam dengan kulit Siska yang masih merona panas. "Tempat ini lebih pantas untukmu, Siska. Bukan meja kayu yang keras." gumam Arga sembari melepas jasnya dan melemparnya ke lantai. Siska mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, namun tangan Arga menahannya. "Jangan sembunyi. Aku ingin melihat setiap inci dari apa yang sekarang menjadi milikku." Ucap Arga. "Arga... Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau di ruang kerja tadi. Dokumen itu…" "Dokumen itu sudah bukan masalah lagi." potong Arga, ia merangkak naik ke atas tempat tidur, mengunci Siska di bawah kungkungan tubuhnya yang tegap. "Tapi kau lupa satu hal, Siska. Kelainanmu itu, ia tidak berhenti memproduksi hanya karena aku meminumnya sekali. Lihat, dadamu sudah mulai mengeras lagi karena gairah yang baru saja kau rasakan." Lanjut Arga. Siska meringis kecil. Benar, sensasi berdenyut itu kembali hadir, seolah tubuhnya merespons kehadiran Arga dengan cara yang paling memalukan. "Ini menyiksa, Arga. Kenapa tubuhku harus seperti ini?" Kesal Siska. "Jangan mengutuknya." Arga membelai pipi Siska dengan lembut namun posesif. "Bagiku, ini adalah anugerah. Sebuah keajaiban medis yang hanya boleh dinikmati oleh musuh kakakmu. Bayangkan betapa hancurnya Rendy jika tahu adiknya yang suci ini memohon padaku untuk dihisap setiap malam." Kekeh Arga. "Kau jahat..." bisik Siska, meski ia tidak bisa menolak saat Arga mulai menciumi lehernya lagi. "Aku jujur, Siska. Dan kejujuranku adalah bahwa aku menginginkan lebih dari sekadar rasa susumu. Aku ingin jiwamu bertekuk lutut." Ucap Arga. Arga menarik kemeja Siska sepenuhnya, membiarkan wanita itu benar-benar terbuka di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Ia menatap lekat ke arah dada Siska yang putih bersih dengan urat-urat biru halus yang tampak menegang. "Katakan padaku, Siska." Arga berbisik di dekat telinganya sembari jemarinya mulai memijat dengan ritme yang lambat dan dalam. "Berapa kali kau harus melakukan ini sendirian di kamar mandimu? Menangis karena rasa sakit dan malu?" Tanya Arga. Siska menggigit bibirnya, air mata setitik jatuh di sudut matanya. "Setiap hari... setiap pagi dan malam. Aku merasa seperti orang aneh. Aku takut tidak akan ada pria yang bisa menerimaku." Jawab Siska. "Maka kau beruntung bertemu denganku." Arga mengecup air mata itu. "Karena aku tidak hanya menerimanya, aku memujanya. Aku akan menjadi satu-satunya 'obat' yang kau butuhkan." Lanjut Arga. Arga kembali membenamkan wajahnya di sana. Kali ini, ia tidak hanya menghisap, ia menggunakan tangannya untuk membantu memerah cairan itu keluar dengan teknik yang jauh lebih intim. Siska mengerang keras, tangannya meremas seprai sutra hingga kusut. "Ahhh! Arga... hhh... pelan-pelan, itu... itu terlalu sensitif!" "Biarkan ia keluar, Siska. Berikan semuanya padaku. Jangan sisakan setetes pun untuk orang lain." suara Arga terdengar meredam karena ia sibuk menampung setiap tetes yang memancar. Ruangan itu kini hanya diisi oleh suara hisapan yang ritmis dan desahan napas Siska yang semakin liar. Siska merasa seolah-olah seluruh tubuhnya mencair. Setiap kali Arga menekan lebih dalam, rasa sakit yang menghimpit dadanya menguap, digantikan oleh rasa nikmat yang menjalar hingga ke rahimnya. "Kau sangat haus, Arga." bisik Siska di sela-sela erangannya, ia mulai berani membelai rambut hitam Arga, menarik pria itu agar semakin erat menempel padanya. Arga mengangkat kepalanya, wajahnya tampak basah dan matanya berkilat penuh gairah predator. "Aku tidak akan pernah kenyang jika itu berasal darimu." Ucapnya. Ia kemudian meraih kedua tangan Siska, menguncinya di atas kepala dengan satu tangan. "Mulai besok, kau akan pindah ke sini. Aku akan menyiapkan kamar khusus, tapi kau akan tidur di sampingku. Setiap kali kau merasa 'penuh', kau tidak perlu lagi menangis sendirian. Kau hanya perlu membangunkanku." Ucap Arga. "Arga... itu berarti aku menjadi tawananmu." Siska menatapnya dengan pandangan nanar. "Tawanan yang paling aku manjakan." Arga mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Kau menyelamatkan Rendy dari kehancuran, dan aku menyelamatkanmu dari rasa sakitmu sendiri. Bukankah itu kesepakatan yang adil?" Ucap Arga. Siska terdiam, menatap pria yang seharusnya ia benci, namun kini menjadi satu-satunya orang yang memegang kunci kenyamanan tubuhnya. Ia merasakan denyutan di bawah sana semakin kuat, seiring dengan Arga yang mulai menjelajah lebih jauh ke area sensitif bawahnya lagi. "Jawab aku, Siska. Apakah kau setuju menjadi milikku sepenuhnya?" Tanya Arga lagi. Siska memejamkan mata, membiarkan gairah mengambil alih akal sehatnya. "Ya... aku setuju. Jadilah satu-satunya yang menyentuhku. Tolong, hilangkan rasa sesak ini lagi, Arga." Ucapnya. Arga tidak butuh kata-kata lagi. Ia melanjutkan penjelajahannya dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih panas, memastikan bahwa malam itu. Siska benar-benar melupakan dunia luar, melupakan kakaknya, dan hanya mengingat nama Arga di setiap hembusan napasnya yang penuh kenikmatan. ** Malam semakin larut, namun suhu di dalam kamar utama itu seakan terus meningkat, melawan dinginnya AC yang berembus pelan. Siska merasa waktu seakan berhenti. Di bawah kungkungan Arga, ia bukan lagi wanita terhormat dari keluarga Adijaya, ia hanyalah seorang wanita yang tubuhnya telah dikhianati oleh kelainannya sendiri, dan kini, dikuasai sepenuhnya oleh pria yang paling dibenci kakaknya. Arga tidak memberikan ruang bagi Siska untuk berpikir. Setiap kali Siska mencoba mengatur napas, Arga akan menemukan titik sensitif baru yang memicu desahan panjang. Arga berpindah dari satu sisi ke sisi lain, memastikan tekanan di dada Siska benar-benar berkurang. Namun, anehnya, setiap kali rasa sesak itu hilang, gairah di dalam diri Siska justru membangun tekanan baru di bagian bawah tubuhnya. "Kau tahu, Siska." Arga berbisik, suaranya serak, membelai garis rahang Siska yang berkeringat. "Aku bisa melakukan ini sepanjang malam. Tubuhmu ini seperti sumber mata air yang tak pernah kering. Begitu murni, begitu manis. Kau benar-benar tidak pernah membayangkan pria lain melakukan ini padamu?" Tanya Arga. Siska menggeleng lemah di atas bantal sutra. "Tidak, aku selalu merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku selalu merasa cacat." Balas Siska. Arga menarik dagu Siska, memaksanya menatap mata elangnya yang tajam. "Jangan pernah sebut ini cacat di depanku. Ini adalah persembahan paling intim yang bisa diberikan seorang wanita. Dan fakta bahwa hanya aku yang tahu, hanya aku yang bisa merasakannya, itu membuatku ingin menghancurkan siapa pun yang berani menatapmu." Ucap Arga. "Arga... Hhh... Kenapa kau begitu terobsesi?" tanya Siska terengah-engah saat tangan Arga kembali meremas pinggulnya, menariknya lebih dekat hingga kulit mereka seolah menyatu. "Karena kau adalah satu-satunya hal milik Rendy yang tidak bisa ia beli dengan uang. Dan sekarang, kau menyerahkannya padaku dengan sukarela." jawab Arga sebelum kembali membenamkan wajahnya di antara kelembutan Siska. Hisapan Arga kini lebih menuntut, lebih dalam. Siska merasakan sensasi tarikan yang kuat, yang seolah-olah menarik seluruh kesadarannya keluar dari tubuhnya. "Ahhh! Arga, pelan-pelan… Rasanya... rasanya aku akan meledak!" Siska mencengkeram lengan Arga yang berotot, merasakan urat-urat di tangan pria itu menonjol karena menahan gairahnya sendiri. "Biarkan saja, Siska. Meledaklah untukku." gumam Arga di sela-sela aktivitasnya. "Katakan, apa yang kau rasakan saat aku melakukan ini? Apakah kau masih merasakan kebencian itu?" Tanya Arga. Siska terdiam sejenak, matanya berkabut oleh kenikmatan. "Aku... aku tidak tahu. Aku hanya merasa... kosong jika kau berhenti. Tolong, jangan berhenti..." Arga tertawa rendah, sebuah suara yang penuh kemenangan. "Itu jawaban yang aku cari. Kau mulai kecanduan, bukan? Kau kecanduan pada rasa lega yang hanya bisa kuberikan." Kekeh Arga. Arga kemudian merubah posisi, ia duduk bersandar pada headboard tempat tidur dan menarik Siska untuk duduk di atas pangkuannya, menghadap ke arahnya. Dalam posisi yang sangat intim ini, Siska bisa merasakan betapa kerasnya keinginan Arga yang tertahan di bawah sana. "Lakukan sendiri, Siska." perintah Arga, suaranya penuh otoritas. "Tunjukkan padaku betapa kau menginginkan 'obat' ini. Pegang dadamu, dan berikan padaku. Aku ingin melihatmu menyerahkan dirimu sepenuhnya." Dengan tangan gemetar dan wajah yang memerah padam, Siska mengikuti perintah itu. Ia menyentuh dirinya sendiri di depan mata Arga, memandu aliran cairan putih itu menuju bibir Arga yang sudah menunggu. Pemandangan itu begitu liar dan erotis, membuat Arga mengerang rendah. "Pintar... Kau adalah tawanan yang sangat penurut." puji Arga sembari menyambut aliran itu dengan rakus. Jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi, namun energi di dalam kamar itu tidak memudar. Siska sudah mencapai puncak berkali-kali, tubuhnya lemas dan bersimbah keringat, namun Arga seolah memiliki stamina yang tak terbatas. Arga kini membaringkan Siska dalam posisi miring, memeluknya dari belakang. Tangannya tetap aktif, memastikan tidak ada sisa ketegangan di tubuh Siska. "Sebentar lagi fajar." bisik Arga di telinga Siska yang memerah. "Rendy mungkin sudah menunggumu pulang. Tapi dia tidak akan pernah tahu bahwa adiknya menghabiskan malam dengan memohon pada musuhnya." Kekeh Arga. "Kau akan menepati janjimu, kan?" suara Siska terdengar sangat kecil, ia hampir tidak punya tenaga lagi untuk bicara. "Dokumen itu... kakakku..." "Aku bukan pembohong, Siska. Rendy akan mendapatkan dokumennya besok pagi. Tapi kau harus kembali kesini besok malam. Dan malam-malam berikutnya." Ucap Arga. Arga mencium bahu polos Siska. "Jika kau terlambat satu jam saja, aku akan memastikan Rendy kehilangan segalanya. Tapi jika kau patuh, aku akan menjadikannya raja di dunianya, selama kau tetap menjadi milikku di dunia ini." Lanjut Arga lagi. Siska memejamkan mata saat ia merasakan sinar matahari pertama mulai mengintip dari celah gorden. Ia telah menyelamatkan kakaknya, namun ia tahu, mulai saat ini, hidupnya bukan lagi miliknya. Kini Siska telah terikat pada rutinitas malam yang gelap, panas, dan penuh dosa dengan pria yang seharusnya ia hancurkan. "Aku akan datang." bisik Siska akhirnya, pasrah pada takdirnya. "Aku akan selalu datang, Arga." Ucap Siska. Arga tersenyum gelap, memeluk Siska lebih erat, menikmati kehangatan dan aroma tubuh wanita itu saat fajar menyingsing, menandai awal dari pengabdian panjang Siska sebagai 'sumber kehidupan' pribadinya. Bersambung…***Siska melangkah keluar dari toilet dengan kaki yang masih terasa lemas, tangannya gemetar hebat saat mencoba merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah detaknya bisa terdengar oleh semua orang di aula pesta malam itu. Ia merasa seolah ada label "milik Arga" yang tertempel di keningnya.Baru beberapa langkah ia keluar dari lorong toilet, sosok Rendy sudah berdiri di sana dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam."Siska! Ke mana saja kau? Kakak mencarimu ke mana-mana." ujar Rendy sambil menghampiri adiknya. Ia segera memegang kedua bahu Siska, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau lama sekali di dalam. Kau sakit? Wajahmu sangat merah."Siska mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa sangat kaku. "Aku... aku hanya merasa sedikit pusing, Kak. Udara di dalam ruangan tadi terlalu sesak."Rendy hendak menjawab, namun matanya tiba-tiba terpaku pada bagian dada gaun maroon Siska. Di sana, tepat di dekat
**Jumat malam di apartemen barunya menjadi sebuah neraka sekaligus surga bagi Siska. Esok pagi ia harus kembali ke rumah Rendy untuk memenuhi janjinya menghabiskan akhir pekan bersama sang kakak. Namun, Arga seolah memiliki rencana lain. Ia tidak ingin Siska pergi dengan perasaan tenang, ia ingin menanamkan "tanda" bahwa meskipun Siska berada di rumah kakaknya, tubuhnya tetap milik Arga.Di atas tempat tidur luas itu, Arga mengunci kedua tangan Siska di atas kepala. Napasnya yang panas menerpa kulit Siska yang sudah bersimbah peluh dan sisa-sisa cairan putih yang melimpah."Kau akan pulang besok, bukan? Kembali ke pelukan kakakmu yang suci itu." bisik Arga dengan nada mengejek yang tajam."Arga... lepaskan aku, ini sudah hampir pagi. Aku harus berkemas." rintih Siska, mencoba mengabaikan rasa berdenyut di dadanya yang kembali terasa berat."Aku akan melepaskanmu, tapi aku ingin memastikan Rendy tahu, tanpa perlu aku bicara bahwa ada pria lain yang sudah menjamah adiknya." Arga t
**Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus memabukkan.Siska terkulai lemas di dada Arga, blusnya terbuka lebar, dan napasnya masih terputus-putus. Arga perlahan melepaskan hisapannya, namun tangannya tetap posesif mencengkram pinggang Siska. Ia mengambil selembar sapu tangan sutra dan dengan tenang membersihkan sudut bibirnya, lalu mengusap sisa-sisa kelembapan di kulit Siska dengan gerakan yang hampir terlihat seperti perhatian, namun terasa seperti penandaan wilayah.Siska menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. Matanya sayu, bibirnya bengkak, dan ia terlihat seperti wanita yang baru saja kehilangan segalanya, namun anehnya, dadanya yang tadi terasa meledak kini terasa ringan dan nyaman."K
**Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dengan kerah tinggi, pilihan yang sengaja ia buat untuk menutupi jejak kemerahan yang ditinggalkan Arga di lehernya semalam.Di dadanya, ia masih merasakan sisa-sisa denyutan panas. Meski Arga telah "mengosongkannya" hingga fajar, memori tentang sentuhan kasar namun membebaskan itu masih segar, membuat kulitnya terasa terbakar setiap kali ia teringat suara isapan pria itu.Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Siska tersentak, hampir menumpahkan tehnya. Itu Rendy."Pagi, Siska." suara Rendy terdengar berat namun penuh kasih. Ia berjalan mendekat dan tanpa ragu mencium puncak kepala adiknya, sebuah rutinitas yang biasanya membuat Siska merasa aman, namun pagi ini justru membuatnya ing
Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sepatu Arga dan deru napas Siska yang masih belum stabil.Pintu ganda kamar utama terbuka dengan satu dorongan. Kamar Arga jauh lebih luas, dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan maskulin dan dominan. Arga merebahkan Siska di atas tempat tidur berseprai sutra hitam yang dingin, menciptakan kontras tajam dengan kulit Siska yang masih merona panas."Tempat ini lebih pantas untukmu, Siska. Bukan meja kayu yang keras." gumam Arga sembari melepas jasnya dan melemparnya ke lantai.Siska mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, namun tangan Arga menahannya. "Jangan sembunyi. Aku ingin melihat setiap inci dari apa yang sekarang menjadi milikku." Ucap Arga."Arga... Kau sudah me
Tubuh Siska bergetar hebat di atas meja kerja Arga, bukan hanya karena kelegaan fisiologis, tetapi juga karena gelombang sensasi yang membanjiri dirinya. Cairan putih itu terus mengalir, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja yang dingin. Siska terengah-engah, matanya terpejam, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.Arga mengangkat wajahnya, menarik napas dalam-dalam. Sudut bibirnya yang basah menyunggingkan senyum puas. Ia menyentuh area sekitar mulut Siska, membersihkan sisa-sisa ASI yang mungkin menempel di sana dengan ibu jarinya yang kasar."Kau... kau membuatku gila, Arga." desis Siska, suaranya parau, dipenuhi campuran kebencian, kebingungan, dan gairah."Aku membuatmu hidup, Siska. Ini adalah caramu untuk bertahan hidup." koreksi Arga, suaranya pelan namun penuh otoritas. Ia menatap dalam-dalam ke mata Siska, mencari jejak perlawanan yang tersisa. "Dan ini adalah caramu menyelamatkan kakakmu.” Lanjutnya.Arga bangkit, berdiri tegak di antara kedua kaki Siska yang ma







