LOGIN**
Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dengan kerah tinggi, pilihan yang sengaja ia buat untuk menutupi jejak kemerahan yang ditinggalkan Arga di lehernya semalam. Di dadanya, ia masih merasakan sisa-sisa denyutan panas. Meski Arga telah "mengosongkannya" hingga fajar, memori tentang sentuhan kasar namun membebaskan itu masih segar, membuat kulitnya terasa terbakar setiap kali ia teringat suara isapan pria itu. Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Siska tersentak, hampir menumpahkan tehnya. Itu Rendy. "Pagi, Siska." suara Rendy terdengar berat namun penuh kasih. Ia berjalan mendekat dan tanpa ragu mencium puncak kepala adiknya, sebuah rutinitas yang biasanya membuat Siska merasa aman, namun pagi ini justru membuatnya ingin menangis karena merasa kotor. Rendy duduk di hadapan Siska, wajahnya tampak jauh lebih ringan dari semalam. Ada binar kelegaan di matanya. "Kau tahu, hm? Keajaiban terjadi pagi ini. Pengacara Arga menelepon. Dia bilang mereka mencabut semua tuntutan dan dokumen penyitaan itu, semuanya hangus. Kakak tidak tahu apa yang merasuki bajingan itu, tapi kita selamat." Ucap Rendy. Siska menunduk dalam, menatap uap tehnya. "Benarkah, Kak? Itu... itu berita bagus." Rendy mengerutkan kening, menyadari nada suara adiknya yang datar. Ia meraih tangan Siska di atas meja. "Siska, ada apa? Kau pucat sekali. Apa kau tidak tidur semalam karena memikirkan masalah Kakak? Maaf, Kakak seharusnya tidak membuatmu cemas sampai seperti ini." Ucap Rendy. "Aku hanya... aku hanya lelah, Kak. Semalam sulit untuk memejamkan mata." jawab Siska bohong, meski secara teknis ia memang tidak tidur karena alasan yang sangat berbeda. "Aku merasa sangat bersalah padamu." Rendy menghela napas, tangannya meremas lembut jemari Siska. "Kau adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Sejak orang tua kita pergi, tujuanku hanya satu, memastikan kau hidup bahagia dan terlindungi. Melihatmu seperti ini, lemas dan tak bertenaga, membuatku merasa gagal menjagamu." Lanjut Rendy. Siska merasa tenggorokannya tercekat. ‘Jika Kakak tahu apa yang kulakukan untuk menyelamatkanmu, kau pasti akan membenci dirimu sendiri.’ batinnya perih. "Kakak tidak gagal." bisik Siska. "Kakak sudah melakukan segalanya untukku." "Tapi kau terlihat berbeda pagi ini." Rendy menatapnya tajam, penuh selidik namun penuh kasih sayang. "Matamu... seperti ada ketakutan yang kau sembunyikan. Dan kenapa kau pakai baju tertutup begini di cuaca panas? Kau sakit?" Tanya Rendy. Rendy mengulurkan tangan, hendak menyentuh dahi Siska untuk memeriksa suhunya. Siska refleks mundur sedikit, membuat kakaknya tertegun. "Siska?" "Aku... aku merasa agak meriang, Kak. Mungkin karena kurang tidur." Siska mencoba tertawa kecil yang terdengar sangat hambar. "Jangan khawatirkan aku. Fokuslah pada bisnis Kakak yang baru saja kembali." Rendy terdiam sejenak, matanya menatap Siska dengan kehangatan yang tulus. "Kau adalah segalanya bagiku, Siska. Aku lebih baik kehilangan seluruh perusahaan itu daripada melihatmu menderita atau tertekan. Kalau ada seseorang yang mengganggumu, atau jika pria gila seperti Arga mencoba mendekatimu untuk membalas dendam padaku, kau harus bicara. Aku akan menghancurkannya, tak peduli apa risikonya." Ucap Rendy dengan tegas. Mendengar nama Arga disebut, Siska merasakan sensasi panas menjalar di dadanya. Produksi ASI-nya seolah merespons stres emosional yang hebat itu. Ia bisa merasakan area sensitifnya mulai menegang lagi, sedikit demi sedikit mulai memproduksi cairan itu kembali karena adrenalin yang melonjak. "Arga tidak akan menyentuhku, Kak. Dia... dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, bukan? Kakak bilang dokumennya sudah kembali." kata Siska, suaranya sedikit bergetar. "Ya, tapi pria seperti dia tidak punya hati. Aku hanya takut dia menggunakan cara-cara licik untuk menyakitimu karena dia tidak bisa mengalahkan aku di bisnis." Rendy berdiri, mengitari meja dan memeluk bahu Siska dari belakang. "Kakak berjanji, mulai hari ini, Kakak akan lebih sering di rumah untuk menjagamu. Kita akan melewati ini bersama." Siska memejamkan mata dalam pelukan kakaknya. Ia merasa sangat dicintai, sekaligus sangat terisolasi. Pelukan Rendy adalah pelindung, namun di dalam pelukan itu, Siska menyadari bahwa ia baru saja memulai kehidupan ganda. Malam nanti, ia harus kembali ke sarang serigala itu. Ia harus kembali membiarkan musuh kakaknya mencicipi rahasia terdalam tubuhnya. "Terima kasih, Kak." bisik Siska, suaranya nyaris hilang. "Sama-sama, Sayang. Sekarang, habiskan sarapanmu. Kakak ada pertemuan sebentar, lalu kita akan makan siang bersama, oke?" Rendy menepuk bahu Siska sekali lagi sebelum beranjak pergi dengan senyum lebar yang tak berdosa. Saat pintu depan tertutup, Siska luruh di atas meja. Ia menyentuh dadanya yang mulai terasa berat lagi. Rasa sesak itu datang lebih cepat dari biasanya. Ia melihat jam di dinding. Masih ada belasan jam sebelum malam tiba, namun tubuhnya sudah mulai merindukan cara Arga meredakan sakitnya. Ia terjebak. Ia begitu menyayangi kakaknya, namun tubuhnya kini menjadi budak dari pria yang ingin menghancurkan kakaknya. ** Waktu berlalu… Suasana makan siang di sebuah restoran kelas atas itu seharusnya terasa hangat. Rendy terus bercerita tentang rencana ekspansi bisnisnya yang kini bangkit kembali, sementara Siska hanya mampu mengangguk pelan, berusaha menahan rasa tidak nyaman yang mulai menjalar di dadanya. Setiap kali Rendy tertawa atau menyentuh tangannya sebagai tanda kasih sayang, Siska merasa jantungnya berdegup kencang karena rasa bersalah. Namun, ketidaknyamanan fisik jauh lebih menyiksa. Karena stres dan tekanan emosional bertemu sang kakak, kelainannya bereaksi lebih agresif. Siska bisa merasakan blus sutranya mulai terasa lembap di bagian dalam, dan rasa nyut-nyutan yang panas mulai menuntut pelepasan. Tiba-tiba, ponsel Siska di atas meja bergetar hebat. Sebuah nomor tanpa nama muncul di layar, namun Siska tahu persis siapa itu. Siska segera menyambar ponselnya, wajahnya memucat. "Siapa, hm? Kantor?" tanya Rendy santai sambil memotong steaknya. "Ah, bukan Kak... ini... teman lama. Aku angkat sebentar ya." jawab Siska gugup. Ia menjauh dari meja, mencari sudut yang agak sepi di dekat toilet restoran. Begitu ia menekan tombol answer, suara berat dan penuh intimidasi Arga langsung memenuhi pendengarannya. "Kau terlambat, Siska. Aku sudah menunggumu di mobil, di parkiran bawah restoran ini." Siska terkesiap, matanya melirik ke arah Rendy yang masih duduk tenang. "Arga, kau gila! Aku sedang makan siang dengan kakakku. Kau tidak bisa seenaknya…" "Aku bisa, dan aku sedang melakukannya." potong Arga dengan nada dingin yang tak terbantah. "Dadamu mulai terasa penuh lagi, bukan? Aku bisa membayangkannya dari napasmu yang memburu. Jika kau tidak turun dalam lima menit, aku yang akan naik ke atas dan menyapa Rendy. Bayangkan wajahnya saat aku menceritakan apa yang aku minum dari adiknya semalam." "Jangan! Baiklah... aku akan turun." bisik Siska dengan nada memohon yang hancur. Siska kembali ke meja dengan langkah terburu-buru. Ia mulai mengemasi tasnya dengan tangan gemetar. "Kak, maaf sekali. Temanku tadi, dia sedang dalam masalah besar. Dia butuh aku menemaninya ke rumah sakit sekarang. Aku harus pergi." ucap Siska, matanya tidak berani menatap langsung ke mata Rendy. Rendy langsung berdiri, wajahnya penuh kekhawatiran. "Rumah sakit? Kakak antar ya? Biar Kakak minta supir siapkan mobil." "Jangan! Maksudku... jangan Kak, dia sangat tertutup. Dia tidak nyaman jika ada orang lain. Aku bisa naik taksi sendiri. Kakak lanjut makan saja, ya?" Siska mengecup pipi kakaknya dengan cepat, sebuah ciuman yang terasa seperti pengkhianatan terbesar. "Siska, kau yakin? Kau terlihat sangat terburu-buru." Rendy memegang bahu Siska, menatapnya dengan ketulusan yang menyakitkan. "Aku yakin, Kak. Aku janji akan pulang sebelum makan malam. I love you, Kak." Siska berbalik dan hampir berlari meninggalkan restoran, meninggalkan Rendy yang menatap punggungnya dengan penuh tanda tanya. Begitu sampai di parkiran bawah tanah yang remang-remang, Siska melihat mobil SUV hitam dengan kaca gelap yang sangat ia kenali. Pintu belakang terbuka secara otomatis saat ia mendekat. Dengan hati yang berdebu, ia masuk ke dalam. Di sana, Arga duduk dengan angkuh, jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Begitu pintu tertutup dan terkunci, Arga langsung menarik Siska ke dalam pelukannya. "Kau berbohong dengan sangat baik pada kakakmu, Siska." bisik Arga, jemarinya langsung merayap menuju kancing blus Siska yang paling atas. "Kau keterlaluan, Arga. Kenapa harus di sini? Di parkiran?" rintih Siska, namun ia tidak menolak saat Arga mulai membuka kancing bajunya satu per satu. "Karena aku ingin kau tahu bahwa kau tidak punya kendali atas tubuhmu sendiri. Hanya aku yang punya." Arga membuka bra Siska dengan kasar, memperlihatkan aset yang kini sudah sangat menegang dan basah oleh rembesan cairan putih. Arga tidak membuang waktu. Ia membenamkan wajahnya di antara kehangatan Siska yang melimpah. Hisapannya kali ini lebih liar, lebih menuntut, seolah ia benar-benar haus akan cairan yang dihasilkan dari rasa takut dan gairah Siska. "Ahhh! Arga... hhh... pelan-pelan..." Siska mendongak, kepalanya membentur kaca mobil yang dingin, menciptakan kontras dengan tubuhnya yang terbakar api nafsu. "Katakan, Siska... apakah temanmu di rumah sakit itu bisa memberikan kenikmatan seperti ini?" Arga bergumam di sela-sela hisapannya, tangannya yang lain meremas paha Siska, mengangkat roknya hingga memperlihatkan paha putihnya yang bergetar. Mengapa Arga tahu tentang kebohongan Siska, tentunya karena panggilan itu tidak benar-benar berakhir saat Siska berbohong pada Rendy. "Tidak... tidak ada... hhh... hanya kau." desis Siska. Ia mulai kehilangan akal sehatnya. Di tengah risiko tertangkap oleh kakaknya atau orang lain di parkiran itu, Siska justru merasakan kepuasan yang gila. Sensasi hisapan Arga merangsang seluruh saraf pusatnya, menciptakan aliran kenikmatan yang membasahi area bawahnya lebih deras dari sebelumnya. Arga mengangkat kepalanya sejenak, wajahnya yang tampan kini ternoda oleh jejak kepatuhan Siska. Ia mengambil tangan Siska dan memaksanya untuk ikut memijat dirinya sendiri agar cairan itu keluar lebih cepat. "Lihat dirimu, kau menikmatinya, bukan? Menjadi jalang kecil bagi musuh kakakmu di tempat umum seperti ini sangat menyenangkan." provokasi Arga. "Iya... aku menikmatinya... Tolong, Arga... habiskan semuanya... dadaku sakit sekali." Siska memohon dengan suara parau, ia menarik kepala Arga kembali ke dadanya. Di dalam mobil yang kedap suara itu, di bawah gedung tempat kakaknya berada, Siska mencapai puncaknya berkali-kali. Pelepasan yang ia rasakan bukan hanya soal fisik, tapi juga pelepasan dari kewarasan yang selama ini ia jaga. Ia menyadari satu hal yang mengerikan, ia tidak lagi melakukannya hanya demi Rendy, tapi karena tubuhnya telah benar-benar jatuh cinta pada cara Arga menghancurkannya. Bersambung…Setelah klimaks yang menghancurkan di depan layar proyektor, Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja mahoni itu. Ia menatap Siska yang terkulai lemas dengan tatapan lapar yang tidak pernah terpuaskan. Keringat membanjiri tubuh mereka, membuat kulit yang bersentuhan mengeluarkan suara decit yang erotis setiap kali bergeser. "Kau pikir ini sudah selesai, Siska?" bisik Arga, suaranya serak, penuh dengan dominasi yang gelap. "Rendy mencoba meretas satelitku, maka aku akan menunjukkan padanya apa yang terjadi jika ia mencoba menyentuh milikku." Arga meraih sebuah remote kecil di pinggir meja. Dengan satu tekanan tombol, dinding kaca besar yang menghadap ke arah laut perlahan terbuka, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulit mereka yang panas. Di luar sana, di bawah sinar bulan, sebuah helikopter pengintai tanpa awak milik Arga terbang rendah, menyalakan lampu sorotnya tepat ke arah mereka. "Arga... apa yang kau lakukan? Lampu itu... orang-orangmu bisa melihat kita!" Sis
Asap tipis masih mengepul dari laras pistol hitam di atas meja kayu itu, bercampur dengan aroma amis garam laut dan keringat dingin yang membasahi pelipis Siska. Matahari kini telah naik lebih tinggi, membakar kulit mereka yang masih bersentuhan erat. Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja latihan tersebut; ia justru menarik sebuah papan target yang selama ini tertutup kain hitam.Begitu kain itu ditarik, jantung Siska seolah berhenti berdetak. Di sana, terpampang foto Rendy berukuran besar, wajah kakaknya yang sedang tersenyum tenang, foto yang diambil saat perayaan ulang tahun Siska tahun lalu."Arga... apa yang kau lakukan?" suara Siska bergetar hebat."Satu peluru terakhir, Siska." Arga berbisik, suaranya sedingin es yang membeku. Ia mengambil pistol itu, mengisi satu peluru terakhir ke dalam kamar dengan bunyi klik yang mematikan, lalu meletakkannya kembali ke tangan Siska yang gemetar. "Tembak dia. Tembak tepat di jantungnya."Arga berdiri tepat di belakang Siska, mel
Suasana di dalam ruang rahasia itu terasa sangat kedap dan berat. Hanya suara dengung konstan dari mesin peladen dan kelap-kelip lampu indikator dari puluhan monitor yang menerangi ruangan bawah tanah tersebut. Arga tampak tertidur pulas di atas sofa kulit panjang yang terletak di sudut ruangan, napasnya berat dan teratur setelah pergulatan hebat mereka beberapa jam yang lalu.Siska, yang masih merasakan sisa denyut di intinya dan rasa hangat di dadanya, perlahan bangkit dari pelukan Arga. Ia melangkah dengan jinjit, kakinya yang polos tidak mengeluarkan suara di atas lantai teknis yang dingin. Matanya tertuju pada panel kontrol di samping pintu baja yang tertutup rapat.Bip. Bip.Siska mencoba menekan beberapa kombinasi angka yang ia ingat dari tanggal lahir Arga atau tanggal pertemuan mereka, namun layar kecil itu hanya menampilkan warna merah. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak benar-benar ingin lari dari pulau ini, ia tahu itu mustahil, namun rasa terkurung di ruangan tanp
Setelah gairah yang meluap di kolam renang, Arga membiarkan Siska membersihkan diri di kamar mandi utama yang luar biasa mewah. Ruangan itu berdinding marmer putih dengan bathtub raksasa yang menghadap ke arah laut lepas.Namun, rasa tenang Siska perlahan sirna saat ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang polos, kecuali sebuah benda yang kini melingkar permanen di lehernya.Kalung platina dengan permata safir itu berkilau dingin. Siska menyentuhnya, mencoba mencari celah pengait. Ia menariknya pelan, lalu sedikit lebih kuat. Tidak ada gerakan. Kalung itu terasa sangat pas, seolah-olah telah menyatu dengan kulitnya."Kenapa tidak bisa digeser?" gumam Siska. Ia mencoba memasukkan ujung jarinya di antara kulit dan rantai, namun rantai itu terasa mengencang secara otomatis saat ia menariknya. Ada sensasi getaran halus, hampir tak terasa, yang keluar dari liontin safir tersebut.Siska mulai panik. Ia mengambil sebuah jepit rambut besi dari meja rias dan mencoba
Sebelum helikopter pribadi Arga lepas landas menuju pulau terpencil yang akan menjadi penjara emas bagi Siska, Arga memiliki satu urusan darah yang harus diselesaikan. Ia tidak bisa pergi dengan tenang jika pengkhianatan masih bernapas di bawah atapnya.Di sebuah ruang kedap suara di rubanah terdalam kediamannya, ruangan yang bahkan Siska tidak tahu keberadaannya, Yoga, sang pengawal pengkhianat, tergantung dengan rantai besi yang mengikat kedua pergelangan tangannya ke langit-langit. Wajahnya sudah tak berbentuk, bengkak dan bersimbah darah, namun Arga baru saja memulai.Arga berdiri di hadapannya, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menyingkap urat-urat tangannya yang menegang. Di atas meja di sampingnya, tertata rapi berbagai alat interogasi yang berkilau dingin di bawah lampu neon yang berkedip."Lima tahun, Yoga." suara Arga rendah, hampir seperti bisikan predator yang sedang mengintai. "Aku memberimu gaji sepuluh kali lipat dari pengawal bias
Malam itu, kamar utama Arga terasa seperti pusat gravitasi dunia. Aroma musk, keringat, dan manisnya susu memenuhi udara yang pengap oleh gairah yang tak kunjung padam. Arga tidak memberikan celah sedikit pun bagi Siska untuk bernapas. Ia bergerak dengan ritme yang menghujam, seolah setiap gerakannya adalah paku yang menancap untuk mengunci Siska di bawah kuasa mutlaknya."Arga... ahh... cukup... aku tidak kuat lagi." rintih Siska, tubuhnya melengkung, matanya terpejam rapat sementara tangannya mencengkeram sprei sutra hingga kusut."Belum, Siska. Belum cukup." Arga berbisik di ceruk lehernya, suaranya serak dan penuh otoritas. Ia kembali merangkul dada Siska yang sudah melunak namun masih memancarkan kehangatan yang memabukkan. Arga menyesap puncaknya sekali lagi, seolah setiap tetes yang ia telan adalah bensin yang membakar gairahnya untuk terus memacu Siska.Penyatuan mereka malam itu berlangsung jauh lebih lama, lebih intens, dan lebih liar. Arga seolah sedang merayakan kemen
*** Siska melangkah keluar dari toilet dengan kaki yang masih terasa lemas, tangannya gemetar hebat saat mencoba merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah detaknya bisa terdengar oleh semua orang di aula pesta malam itu. Ia merasa seola
Petir menggelegar di langit, seolah membelah langit malam yang kelam, tepat saat Rendy menarik paksa pakaian Siska. Di tengah keputusasaan yang mencekik, Siska teringat sesuatu. Beberapa hari yang lalu, karena ketakutannya pada ancaman Arga, ia sempat menyembunyikan sebuah pisau lipat kecil yang
Hari-hari berikutnya di kediaman Adijaya berjalan dengan harmoni yang palsu. Di bawah terang matahari, Rendy adalah definisi dari seorang kakak yang sempurna. Ia membawakan Siska bunga, menemaninya makan malam dengan obrolan ringan yang hangat, dan bahkan memberikan perhatian ekstra pada kesehatan
Hening yang mencekam menyelimuti kamar itu setelah pengakuan Rendy. Siska menatap kertas di tangannya seolah benda itu adalah racun yang baru saja membunuh sosok kakak yang selama ini ia puja. Dunianya yang sudah porak-poranda oleh Arga, kini rata dengan tanah karena pengakuan pria di depannya.R







