Share

Bab 4

Author: Gita Putri
last update publish date: 2026-02-26 11:24:04

**

Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. 

Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dengan kerah tinggi, pilihan yang sengaja ia buat untuk menutupi jejak kemerahan yang ditinggalkan Arga di lehernya semalam.

​Di dadanya, ia masih merasakan sisa-sisa denyutan panas. Meski Arga telah "mengosongkannya" hingga fajar, memori tentang sentuhan kasar namun membebaskan itu masih segar, membuat kulitnya terasa terbakar setiap kali ia teringat suara isapan pria itu.

​Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Siska tersentak, hampir menumpahkan tehnya. Itu Rendy.

​"Pagi, Siska." suara Rendy terdengar berat namun penuh kasih. Ia berjalan mendekat dan tanpa ragu mencium puncak kepala adiknya, sebuah rutinitas yang biasanya membuat Siska merasa aman, namun pagi ini justru membuatnya ingin menangis karena merasa kotor.

​Rendy duduk di hadapan Siska, wajahnya tampak jauh lebih ringan dari semalam. Ada binar kelegaan di matanya. 

"Kau tahu, hm? Keajaiban terjadi pagi ini. Pengacara Arga menelepon. Dia bilang mereka mencabut semua tuntutan dan dokumen penyitaan itu, semuanya hangus. Kakak tidak tahu apa yang merasuki bajingan itu, tapi kita selamat." Ucap Rendy.

​Siska menunduk dalam, menatap uap tehnya. 

"Benarkah, Kak? Itu... itu berita bagus."

​Rendy mengerutkan kening, menyadari nada suara adiknya yang datar. Ia meraih tangan Siska di atas meja. 

"Siska, ada apa? Kau pucat sekali. Apa kau tidak tidur semalam karena memikirkan masalah Kakak? Maaf, Kakak seharusnya tidak membuatmu cemas sampai seperti ini." Ucap Rendy.

​"Aku hanya... aku hanya lelah, Kak. Semalam sulit untuk memejamkan mata." jawab Siska bohong, meski secara teknis ia memang tidak tidur karena alasan yang sangat berbeda.

​"Aku merasa sangat bersalah padamu." Rendy menghela napas, tangannya meremas lembut jemari Siska. "Kau adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Sejak orang tua kita pergi, tujuanku hanya satu, memastikan kau hidup bahagia dan terlindungi. Melihatmu seperti ini, lemas dan tak bertenaga, membuatku merasa gagal menjagamu." Lanjut Rendy.

​Siska merasa tenggorokannya tercekat. 

‘Jika Kakak tahu apa yang kulakukan untuk menyelamatkanmu, kau pasti akan membenci dirimu sendiri.’ batinnya perih.

​"Kakak tidak gagal." bisik Siska. "Kakak sudah melakukan segalanya untukku."

​"Tapi kau terlihat berbeda pagi ini." Rendy menatapnya tajam, penuh selidik namun penuh kasih sayang. "Matamu... seperti ada ketakutan yang kau sembunyikan. Dan kenapa kau pakai baju tertutup begini di cuaca panas? Kau sakit?" Tanya Rendy.

​Rendy mengulurkan tangan, hendak menyentuh dahi Siska untuk memeriksa suhunya. Siska refleks mundur sedikit, membuat kakaknya tertegun.

​"Siska?"

​"Aku... aku merasa agak meriang, Kak. Mungkin karena kurang tidur." Siska mencoba tertawa kecil yang terdengar sangat hambar. "Jangan khawatirkan aku. Fokuslah pada bisnis Kakak yang baru saja kembali."

​Rendy terdiam sejenak, matanya menatap Siska dengan kehangatan yang tulus. 

"Kau adalah segalanya bagiku, Siska. Aku lebih baik kehilangan seluruh perusahaan itu daripada melihatmu menderita atau tertekan. Kalau ada seseorang yang mengganggumu, atau jika pria gila seperti Arga mencoba mendekatimu untuk membalas dendam padaku, kau harus bicara. Aku akan menghancurkannya, tak peduli apa risikonya." Ucap Rendy dengan tegas.

​Mendengar nama Arga disebut, Siska merasakan sensasi panas menjalar di dadanya. 

Produksi ASI-nya seolah merespons stres emosional yang hebat itu. 

Ia bisa merasakan area sensitifnya mulai menegang lagi, sedikit demi sedikit mulai memproduksi cairan itu kembali karena adrenalin yang melonjak.

​"Arga tidak akan menyentuhku, Kak. Dia... dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, bukan? Kakak bilang dokumennya sudah kembali." kata Siska, suaranya sedikit bergetar.

​"Ya, tapi pria seperti dia tidak punya hati. Aku hanya takut dia menggunakan cara-cara licik untuk menyakitimu karena dia tidak bisa mengalahkan aku di bisnis." Rendy berdiri, mengitari meja dan memeluk bahu Siska dari belakang. 

"Kakak berjanji, mulai hari ini, Kakak akan lebih sering di rumah untuk menjagamu. Kita akan melewati ini bersama."

​Siska memejamkan mata dalam pelukan kakaknya. 

Ia merasa sangat dicintai, sekaligus sangat terisolasi. Pelukan Rendy adalah pelindung, namun di dalam pelukan itu, Siska menyadari bahwa ia baru saja memulai kehidupan ganda. 

Malam nanti, ia harus kembali ke sarang serigala itu. Ia harus kembali membiarkan musuh kakaknya mencicipi rahasia terdalam tubuhnya.

​"Terima kasih, Kak." bisik Siska, suaranya nyaris hilang.

​"Sama-sama, Sayang. Sekarang, habiskan sarapanmu. Kakak ada pertemuan sebentar, lalu kita akan makan siang bersama, oke?" Rendy menepuk bahu Siska sekali lagi sebelum beranjak pergi dengan senyum lebar yang tak berdosa.

​Saat pintu depan tertutup, Siska luruh di atas meja. Ia menyentuh dadanya yang mulai terasa berat lagi. Rasa sesak itu datang lebih cepat dari biasanya. 

Ia melihat jam di dinding. Masih ada belasan jam sebelum malam tiba, namun tubuhnya sudah mulai merindukan cara Arga meredakan sakitnya.

​Ia terjebak. Ia  begitu menyayangi kakaknya, namun tubuhnya kini menjadi budak dari pria yang ingin menghancurkan kakaknya.

**

Waktu berlalu…

Suasana makan siang di sebuah restoran kelas atas itu seharusnya terasa hangat. 

Rendy terus bercerita tentang rencana ekspansi bisnisnya yang kini bangkit kembali, sementara Siska hanya mampu mengangguk pelan, berusaha menahan rasa tidak nyaman yang mulai menjalar di dadanya.

​Setiap kali Rendy tertawa atau menyentuh tangannya sebagai tanda kasih sayang, Siska merasa jantungnya berdegup kencang karena rasa bersalah. 

Namun, ketidaknyamanan fisik jauh lebih menyiksa. Karena stres dan tekanan emosional bertemu sang kakak, kelainannya bereaksi lebih agresif. Siska bisa merasakan blus sutranya mulai terasa lembap di bagian dalam, dan rasa nyut-nyutan yang panas mulai menuntut pelepasan.

​Tiba-tiba, ponsel Siska di atas meja bergetar hebat. Sebuah nomor tanpa nama muncul di layar, namun Siska tahu persis siapa itu.

​Siska segera menyambar ponselnya, wajahnya memucat.

​"Siapa, hm? Kantor?" tanya Rendy santai sambil memotong steaknya.

​"Ah, bukan Kak... ini... teman lama. Aku angkat sebentar ya." jawab Siska gugup. Ia menjauh dari meja, mencari sudut yang agak sepi di dekat toilet restoran.

​Begitu ia menekan tombol answer, suara berat dan penuh intimidasi Arga langsung memenuhi pendengarannya. 

"Kau terlambat, Siska. Aku sudah menunggumu di mobil, di parkiran bawah restoran ini."

​Siska terkesiap, matanya melirik ke arah Rendy yang masih duduk tenang. 

"Arga, kau gila! Aku sedang makan siang dengan kakakku. Kau tidak bisa seenaknya…"

​"Aku bisa, dan aku sedang melakukannya." potong Arga dengan nada dingin yang tak terbantah. 

"Dadamu mulai terasa penuh lagi, bukan? Aku bisa membayangkannya dari napasmu yang memburu. Jika kau tidak turun dalam lima menit, aku yang akan naik ke atas dan menyapa Rendy. Bayangkan wajahnya saat aku menceritakan apa yang aku minum dari adiknya semalam."

​"Jangan! Baiklah... aku akan turun." bisik Siska dengan nada memohon yang hancur.

​Siska kembali ke meja dengan langkah terburu-buru. Ia mulai mengemasi tasnya dengan tangan gemetar.

​"Kak, maaf sekali. Temanku tadi, dia sedang dalam masalah besar. Dia butuh aku menemaninya ke rumah sakit sekarang. Aku harus pergi." ucap Siska, matanya tidak berani menatap langsung ke mata Rendy.

​Rendy langsung berdiri, wajahnya penuh kekhawatiran. 

"Rumah sakit? Kakak antar ya? Biar Kakak minta supir siapkan mobil."

​"Jangan! Maksudku... jangan Kak, dia sangat tertutup. Dia tidak nyaman jika ada orang lain. Aku bisa naik taksi sendiri. Kakak lanjut makan saja, ya?" Siska mengecup pipi kakaknya dengan cepat, sebuah ciuman yang terasa seperti pengkhianatan terbesar.

​"Siska, kau yakin? Kau terlihat sangat terburu-buru." Rendy memegang bahu Siska, menatapnya dengan ketulusan yang menyakitkan.

​"Aku yakin, Kak. Aku janji akan pulang sebelum makan malam. I love you, Kak." Siska berbalik dan hampir berlari meninggalkan restoran, meninggalkan Rendy yang menatap punggungnya dengan penuh tanda tanya.

​Begitu sampai di parkiran bawah tanah yang remang-remang, Siska melihat mobil SUV hitam dengan kaca gelap yang sangat ia kenali. Pintu belakang terbuka secara otomatis saat ia mendekat. 

Dengan hati yang berdebu, ia masuk ke dalam.

​Di sana, Arga duduk dengan angkuh, jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Begitu pintu tertutup dan terkunci, Arga langsung menarik Siska ke dalam pelukannya.

​"Kau berbohong dengan sangat baik pada kakakmu, Siska." bisik Arga, jemarinya langsung merayap menuju kancing blus Siska yang paling atas.

​"Kau keterlaluan, Arga. Kenapa harus di sini? Di parkiran?" rintih Siska, namun ia tidak menolak saat Arga mulai membuka kancing bajunya satu per satu.

​"Karena aku ingin kau tahu bahwa kau tidak punya kendali atas tubuhmu sendiri. Hanya aku yang punya." Arga membuka bra Siska dengan kasar, memperlihatkan aset yang kini sudah sangat menegang dan basah oleh rembesan cairan putih.

​Arga tidak membuang waktu. Ia membenamkan wajahnya di antara kehangatan Siska yang melimpah. 

Hisapannya kali ini lebih liar, lebih menuntut, seolah ia benar-benar haus akan cairan yang dihasilkan dari rasa takut dan gairah Siska.

​"Ahhh! Arga... hhh... pelan-pelan..." Siska mendongak, kepalanya membentur kaca mobil yang dingin, menciptakan kontras dengan tubuhnya yang terbakar api nafsu.

​"Katakan, Siska... apakah temanmu di rumah sakit itu bisa memberikan kenikmatan seperti ini?" Arga bergumam di sela-sela hisapannya, tangannya yang lain meremas paha Siska, mengangkat roknya hingga memperlihatkan paha putihnya yang bergetar.

Mengapa Arga tahu tentang kebohongan Siska, tentunya karena panggilan itu tidak benar-benar berakhir saat Siska berbohong pada Rendy.

​"Tidak... tidak ada... hhh... hanya kau." desis Siska. 

Ia mulai kehilangan akal sehatnya. Di tengah risiko tertangkap oleh kakaknya atau orang lain di parkiran itu, Siska justru merasakan kepuasan yang gila. 

Sensasi hisapan Arga merangsang seluruh saraf pusatnya, menciptakan aliran kenikmatan yang membasahi area bawahnya lebih deras dari sebelumnya.

​Arga mengangkat kepalanya sejenak, wajahnya yang tampan kini ternoda oleh jejak kepatuhan Siska. Ia mengambil tangan Siska dan memaksanya untuk ikut memijat dirinya sendiri agar cairan itu keluar lebih cepat.

​"Lihat dirimu, kau menikmatinya, bukan? Menjadi jalang kecil bagi musuh kakakmu di tempat umum seperti ini sangat menyenangkan." provokasi Arga.

​"Iya... aku menikmatinya... Tolong, Arga... habiskan semuanya... dadaku sakit sekali." Siska memohon dengan suara parau, ia menarik kepala Arga kembali ke dadanya.

​Di dalam mobil yang kedap suara itu, di bawah gedung tempat kakaknya berada, Siska mencapai puncaknya berkali-kali. 

Pelepasan yang ia rasakan bukan hanya soal fisik, tapi juga pelepasan dari kewarasan yang selama ini ia jaga. 

Ia menyadari satu hal yang mengerikan, ia tidak lagi melakukannya hanya demi Rendy, tapi karena tubuhnya telah benar-benar jatuh cinta pada cara Arga menghancurkannya.

Bersambung…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 32

    Kabut tebal yang menyelimuti perairan luar gua mendadak pecah oleh deru mesin helikopter tempur yang terbang rendah di atas permukaan laut. Suara baling-baling raksasa itu memantul di dinding batu gua bawah tanah, menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke dek kapal tempat Arga dan Siska berada.​Siska, yang baru saja pulih dari gelombang orgasmenya di atas dasbor kokpit, seketika tersentak bangun. Matanya yang sayu melebar karena panik, menatap layar radar sekunder yang mendeteksi sinyal tak dikenal menyusup masuk ke zona larangan udara pulau.​"Arga... suara apa itu? Helikopter?!" pekik Siska, suaranya gemetar ketakutan saat ia menarik jas taktis Arga lebih erat menutupi tubuh polosnya. "Apakah... apakah masih ada pasukan Rendy yang lain?"​Arga mendengus dingin. Ia bangkit dari kursi kendali, memperlihatkan tubuh atletisnya yang basah oleh keringat. Tanpa sedikitpun rasa gentar, ia menyeringai, menatap layar monitor dengan tatapan penuh nafsu darah yang bercampur dengan ga

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 31

    Lampu neon di ruang interogasi bawah tanah itu berkedip perlahan sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat. Arga melangkah keluar dari ruangan kedap suara itu sambil mendekap tubuh Siska yang sudah tak berdaya. Di belakang mereka, dua pria pengikut Rendy yang telah pingsan akibat gas penenang dibiarkan tergeletak di dalam sel baja.​Arga membawa Siska melewati koridor bawah tanah yang panjang, menuju sebuah area tersembunyi yang belum pernah Siska lihat sebelumnya, docks bawah tanah rahasia, sebuah gua alam yang diubah menjadi dermaga modern berkonektivitas tinggi, tempat beberapa kapal cepat militer dan satu kapal selam taktis bersandar di air laut yang hitam dan tenang.​Suara gema air yang beriak menghantam dinding batu gua menciptakan suasana yang dingin dan mencekam. Arga menurunkan Siska di atas kursi kemudi kulit dari kapal pesiar mini yang berlabuh di sudut gua.​Siska membuka matanya yang sayu, menarik jas taktis Arga yang masih longgar membungkus tu

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 30

    Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tirai sutra vila Arga seolah menjadi ironi bagi kondisi Siska yang masih tergeletak lemas di atas ranjang. Tubuhnya terasa mati rasa, namun jiwanya tetap terikat kuat dalam gravitasi pria yang kini duduk di sisi ranjang, menyesap kopi hitam dengan ketenangan yang menakutkan.​Arga meletakkan cangkir porselen itu dengan bunyi denting pelan yang justru terdengar seperti guntur bagi telinga Siska yang peka. Ia tidak lagi mengenakan pakaiannya, kini, Arga tampil dengan jubah sutra hitam yang longgar, memberikan kesan penguasa yang baru saja menyelesaikan ritual pembantaiannya.​"Bangun, Siska," suara Arga memecah kesunyian kamar. "Hari ini kita punya tamu. Atau lebih tepatnya, sisa-sisa pengikut kakakmu yang masih berniat menantang otoritas kita di pulau ini."​Siska mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang menyengat di pangkal paha membuatnya meringis. "Tamu? Arga, kau baru saja meledakkan kapal Rendy. Apa lagi yang kau inginkan?

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 29

    Badai di luar vila berangsur-angsur mereda, meninggalkan suara sisa rintik hujan yang mengetuk dinding kaca kamar utama dengan ritme yang monoton. Di depan perapian yang kini hanya menyisakan abu hangat dan bara jingga yang redup, Siska berbaring telentang di atas karpet bulu domba. Seluruh tubuhnya terasa seperti dilelehkan, otot-ototnya lemas, dan setiap tarikan napasnya terasa berat, meninggalkan jejak kepuasan yang terlampau pekat di dada dan intinya.​Arga berdiri di atasnya, menatap mahakarya penaklukannya dengan sepasang mata yang masih berkilat lapar. Pria itu tidak tampak lelah sedikitpun. Struktur tubuhnya yang kokoh terbalas cahaya temaram fajar yang mulai menyembul dari balik awan badai. Ia meraih sebuah botol kaca gelap dari atas meja kayu, bukan lagi minyak aromaterapi, melainkan sebuah ramuan khusus berminyak dengan aroma mint dan mawar yang pekat, penawar baru yang sengaja dirancang oleh tim medis pribadinya.​"Bangun, Siska. Permainan kita belum selesai hanya karen

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 28

    Setelah badai kepuasan yang mengunci takdir mereka di ruang kendali bawah tanah, Arga tidak membiarkan Siska berlama-lama di atas meja besi yang dingin. Dengan kelembutan seorang pemilik yang baru saja mengamankan harta paling berharganya, ia menyelimuti tubuh lemas Siska dengan jas taktisnya yang tebal, lalu menggendongnya kembali ke lantai atas.​Namun, kegilaan di pulau pribadi ini tidak pernah benar-benar tidur. Saat mereka melangkah kembali ke dalam kamar utama yang megah, badai tropis di luar pulau tiba-tiba pecah. Angin kencang menghantam dinding-dinding kaca tebal, dan suara petir menggelegar, membelah langit malam yang pekat dan menciptakan kilatan cahaya yang dramatis di dalam ruangan.​Arga meletakkan Siska di atas karpet bulu domba yang tebal di depan perapian yang menyala hangat. Cahaya jingga dari api menari-nari di atas kulit Siska yang masih berkeringat, memantul pada kalung platina dan permata safir di lehernya yang berkilau dingin.​"Arga... dengar suara badai itu,

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 27

    Setelah badai gairah yang melanda di tepian balkon saat matahari terbit, Arga membawa tubuh Siska yang sudah benar-benar mati rasa kembali ke dalam kamar. Namun, istirahat bagi Siska di bawah atap pria posesif ini hanyalah sebuah ilusi yang berumur pendek. Baru beberapa jam Siska tenggelam dalam tidur yang melelahkan, Arga sudah kembali berdiri di sisi ranjang. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaian santai vila. Arga mengenakan kemeja taktis hitam ketat yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang kokoh dan berbahaya. ​Di tangannya, terdapat sebuah gaun sutra tipis berwarna merah menyala—warna yang sengaja Arga pilih untuk mengontraskan kulit putih Siska yang kini dipenuhi tanda kepemilikannya. ​"Bangun, permaisuriku," bisik Arga, suaranya yang bariton bergetar rendah di dekat telinga Siska. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik selimut, mencengkram pinggul Siska yang ramping dan menariknya dalam satu gerakan mudah. ​Siska melenguh, matanya yang sayu terbuka perla

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 1

    ***Lampu di ruang kerja Arga meremang, hanya menyisakan sorot lampu meja yang tajam. Siska berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar hebat. Ia merasa seperti domba yang masuk ke sarang serigala. Arga, pria yang selama bertahun-tahun mencoba menghancurkan bisnis kakaknya, kini duduk di hadapan

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 5

    **Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer y

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 3

    Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sep

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 2

    Tubuh Siska bergetar hebat di atas meja kerja Arga, bukan hanya karena kelegaan fisiologis, tetapi juga karena gelombang sensasi yang membanjiri dirinya. Cairan putih itu terus mengalir, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja yang dingin. Siska terengah-engah, matanya terpejam, mencoba memproses

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status