Share

Bab 2

Penulis: Gita Putri
last update Tanggal publikasi: 2026-02-25 11:30:23

Tubuh Siska bergetar hebat di atas meja kerja Arga, bukan hanya karena kelegaan fisiologis, tetapi juga karena gelombang sensasi yang membanjiri dirinya.

Cairan putih itu terus mengalir, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja yang dingin. Siska terengah-engah, matanya terpejam, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.

Arga mengangkat wajahnya, menarik napas dalam-dalam. Sudut bibirnya yang basah menyunggingkan senyum puas. Ia menyentuh area sekitar mulut Siska, membersihkan sisa-sisa ASI yang mungkin menempel di sana dengan ibu jarinya yang kasar.

"Kau... kau membuatku gila, Arga." desis Siska, suaranya parau, dipenuhi campuran kebencian, kebingungan, dan gairah.

"Aku membuatmu hidup, Siska. Ini adalah caramu untuk bertahan hidup." koreksi Arga, suaranya pelan namun penuh otoritas.

Ia menatap dalam-dalam ke mata Siska, mencari jejak perlawanan yang tersisa. "Dan ini adalah caramu menyelamatkan kakakmu.” Lanjutnya.

Arga bangkit, berdiri tegak di antara kedua kaki Siska yang masih terjuntai di samping meja. Kemejanya yang basah dan sedikit terbuka menampakkan otot dadanya yang keras.

Arga menarik dasinya, melonggarkannya sedikit, seolah ia baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sangat berat.

"Aku tidak bisa melakukan ini setiap hari, Arga. Ini... ini salah." Ucap Siska.

Siska mencoba mengumpulkan kekuatan untuk memprotes, meski tubuhnya masih lemas.

"Salah? Bagiku, ini adalah kesepakatan terbaik. Kau mendapatkan kelegaan, Rendy mendapatkan kebebasan, dan aku... aku mendapatkan apa yang paling kuinginkan." Arga menunduk lagi, wajahnya mendekat ke wajah Siska.

"Aku mendapatkan akses ke dirimu, Siska. Tubuhmu yang penuh rahasia ini." Kekeh Arga.

Arga kembali menyentuh bagian yang kini kembali sedikit membengkak. Siska menjerit kecil saat Arga mengulumnya perlahan, memicu lagi sensasi yang membuat kakinya lemas. Kali ini, ia lebih berani. Tangannya mencengkeram bahu Arga, kukunya sedikit membenam ke dalam kulit pria itu.

"Arga... Hhh... Aku tidak tahan lagi." Siska memohon, membiarkan tubuhnya bergerak-gerak mengikuti irama hisapan Arga.

"Kau akan tahan. Kau harus tahan." bisik Arga di sela-sela hisapannya. "Setiap kali kau merasa penuh, setiap kali kau membutuhkan kelegaan ini, kau akan memikirkanku. Dan kau akan datang padaku."

Arga melepaskan hisapannya, lalu mengangkat tubuh Siska dari meja. Tanpa menunggu persetujuan, ia menggendong Siska dan mendudukkannya di pangkuannya, di kursi kerja kulitnya yang besar.

Kaki Siska kini melingkari pinggang Arga secara otomatis.

"Kau harus memberiku kehangatan di tempat lain juga, Siska." gumam Arga, kini jari-jarinya mulai merayap naik dari paha dalam Siska, menjelajahi celah roknya yang kini kusut.

"Tubuhmu ini penuh dengan mata air. Aku ingin menjelajahi semuanya." Ucap Arga.

Siska terkejut, namun ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menolak. "Arga... jangan..."

"Kenapa? Kau sudah basah. Kau sudah merasakan nikmatnya pelepasan." Arga mencondongkan tubuhnya, berbisik di telinga Siska.

"Lagipula, Rendy adalah prioritasmu, bukan? Ini bagian dari 'ganti rugi' yang harus kau bayar." Lanjut Arga.

Arga dengan sengaja menggesekkan bagian intimnya yang menonjol di balik celana kainnya ke pangkal paha Siska. Siska terkesiap, merasakan denyutan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia belum pernah sedekat ini dengan pria manapun.

"Kau perawan, Siska. Tapi bukan berarti kau tidak bisa menikmati sentuhan ini." Arga mengulurkan tangannya ke belakang punggung Siska, lalu perlahan membuka resleting roknya.

Rok Siska melorot ke bawah, jatuh ke lantai. Siska kini hanya mengenakan kemeja yang terbuka di bagian atas dan celana dalam renda tipis. Rasa malu dan putus asa bercampur aduk dengan gelombang gairah yang terus bergejolak.

Arga menatapnya dengan tatapan lapar, matanya seolah ingin melahap setiap inci tubuh Siska. "Begitu murni... begitu menggoda." Ujar Arga.

Ia menyentuh pinggul Siska, menariknya lebih dekat hingga mereka tak berjarak. Arga mendekatkan bibirnya ke telinga Siska.

"Malam ini, kau bukan lagi adik Rendy. Kau adalah milikku. Kau adalah sumber kebahagiaan pribadiku." bisik Arga. "Dan kau akan bersumpah untuk selalu memenuhi kebutuhanku, seperti aku memenuhi kebutuhanmu."

Siska tidak bisa bicara. Ia hanya bisa mengangguk kecil, kepalanya terkulai di bahu Arga. Ia tahu bahwa ia telah terperangkap dalam permainan Arga, permainan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Tapi di saat yang sama, ia merasakan kelegaan yang luar biasa, kelegaan dari tekanan fisik dan ketakutan akan nasib kakaknya.

Arga kembali mencium Siska, kali ini di bibir, sebuah ciuman yang dalam dan menuntut. Tangannya kini merayap ke bawah, menyelipkan jari-jarinya ke dalam celana dalam Siska yang sudah basah.

Siska menjerit tertahan ke dalam mulut Arga, saat ia merasakan sentuhan langsung yang belum pernah ada sebelumnya.

"Kau akan tahu namaku, Siska. Namaku akan selalu menjadi yang pertama kau sebut saat kau merasa 'penuh'," Arga berbisik, memprovokasi Siska dengan sentuhannya yang semakin berani.

"Arga... Arga..." Siska hanya bisa mengulang nama pria itu, menyerahkan dirinya sepenuhnya pada takdir yang ia pilih demi kakaknya.

Di tengah semua kegilaan ini, ia tahu satu hal, ia telah menemukan solusi untuk kelainannya, betapa pun gelap dan berbahaya solusi itu.

**

Tangan Arga yang besar kini mencengkram pinggang Siska dengan posesif, mengangkat tubuh wanita itu sedikit agar posisi mereka benar-benar terkunci di atas kursi kulit yang berderit.

Siska merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis, digantikan oleh aroma maskulin Arga dan aroma manis susu yang kini membasahi kemeja mereka berdua.

"Kau gemetar, Siska." bisik Arga, bibirnya menempel di ceruk leher Siska, memberikan kecupan-kecupan panas yang meninggalkan tanda kemerahan. "Apakah ini karena takut, atau karena tubuhmu akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari?" Tanya Arga.

"Aku... aku membencimu," rintih Siska, namun tangannya justru semakin erat memeluk leher Arga, kuku-kukunya memutih karena tekanan.

"Benci adalah awal yang bagus untuk gairah yang liar." balas Arga dengan tawa rendah.

Arga tidak lagi menahan diri. Dengan satu gerakan sentakan, ia merobek celana dalam renda tipis yang menjadi penghalang terakhir.

Siska terpekik kecil, namun pekikannya tertelan saat Arga kembali membungkam bibirnya dengan ciuman yang menuntut.

Jari-jari Arga kini menjelajahi area sensitif Siska yang sudah sangat lembap. Ia menemukan betapa kontrasnya kepolosan Siska dengan reaksi tubuhnya yang begitu jujur.

"Lihat betapa siapnya kau, Siska. Padahal kau belum pernah disentuh pria manapun. Kelainanmu ini... dia tidak hanya memenuhi dadamu, tapi juga membuat seluruh sarafmu merindukan pelepasan." Arga berbisik tepat di depan bibir Siska yang membengkak.

"Arga, tolong... hentikan bicaramu dan... lakukan sesuatu." Siska memohon dengan mata yang berkaca-kaca karena gairah yang sudah di ubun-ubun.

Arga tersenyum gelap. Ia mengatur posisi Siska agar benar-benar berada di atasnya. Ia ingin Siska merasakan setiap inci dari kekuasaannya.

Saat ia mulai memberikan rangsangan yang lebih intens di area bawah, ia secara bersamaan kembali meraih dada Siska, memberikan hisapan yang lebih kuat dan ritmis.

Siska mendongak, punggungnya melengkung sempurna. Sensasi ganda itu membuatnya merasa seolah tubuhnya akan pecah menjadi ribuan kepingan cahaya.

"Ahhh! Arga! Terlalu banyak... aku tidak bisa..."

"Kau bisa, Siska. Teruslah mengalir. Berikan semuanya padaku." perintah Arga.

Produksi ASI Siska seolah terpacu oleh adrenalin dan gairah seksual yang meledak. Cairan itu memancar keluar lebih deras, membasahi dada Arga, mengalir turun ke perut mereka yang bersentuhan.

Siska merasa seolah seluruh beban hidupnya, beban rahasia medisnya dan beban dosa kakaknya luruh bersama aliran itu.

Arga berhenti sejenak, membiarkan Siska terengah-engah di bahunya. Ia mengusap punggung Siska yang berkeringat.

"Mulai detik ini, Rendy aman. Dokumen itu akan hangus." Arga berbisik, namun nadanya berubah menjadi sangat posesif.

"Tapi sebagai gantinya, kau adalah wadahku. Kau tidak boleh membiarkan pria lain menyentuhmu, apalagi melihat apa yang terjadi malam ini. Hanya aku yang boleh meredakan rasa sakitmu. Mengerti?"

Siska hanya bisa mengangguk lemah, wajahnya tersembunyi di perpotongan leher Arga.

"Iya... hanya kau..."

"Katakan lebih keras, Siska. Siapa yang memiliki tubuhmu?" Tanya Arga.

"Kau, Arga... Hanya kau yang memilikiku." suara Siska bergetar, mengakui kekalahannya yang paling manis sekaligus pahit.

Arga kembali menyerang, kali ini dengan tempo yang lebih cepat, membawa Siska ke puncak orgasme yang berkali-kali lebih hebat dari sebelumnya.

Di dalam ruang kerja yang gelap itu, musuh kakaknya telah berubah menjadi satu-satunya orang yang memegang kendali atas hidup dan tubuhnya.

Siska menyadari, ia mungkin telah menyelamatkan kakaknya, tapi ia telah menyerahkan jiwanya pada iblis yang paling nikmat.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 32

    Kabut tebal yang menyelimuti perairan luar gua mendadak pecah oleh deru mesin helikopter tempur yang terbang rendah di atas permukaan laut. Suara baling-baling raksasa itu memantul di dinding batu gua bawah tanah, menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke dek kapal tempat Arga dan Siska berada.​Siska, yang baru saja pulih dari gelombang orgasmenya di atas dasbor kokpit, seketika tersentak bangun. Matanya yang sayu melebar karena panik, menatap layar radar sekunder yang mendeteksi sinyal tak dikenal menyusup masuk ke zona larangan udara pulau.​"Arga... suara apa itu? Helikopter?!" pekik Siska, suaranya gemetar ketakutan saat ia menarik jas taktis Arga lebih erat menutupi tubuh polosnya. "Apakah... apakah masih ada pasukan Rendy yang lain?"​Arga mendengus dingin. Ia bangkit dari kursi kendali, memperlihatkan tubuh atletisnya yang basah oleh keringat. Tanpa sedikitpun rasa gentar, ia menyeringai, menatap layar monitor dengan tatapan penuh nafsu darah yang bercampur dengan ga

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 31

    Lampu neon di ruang interogasi bawah tanah itu berkedip perlahan sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat. Arga melangkah keluar dari ruangan kedap suara itu sambil mendekap tubuh Siska yang sudah tak berdaya. Di belakang mereka, dua pria pengikut Rendy yang telah pingsan akibat gas penenang dibiarkan tergeletak di dalam sel baja.​Arga membawa Siska melewati koridor bawah tanah yang panjang, menuju sebuah area tersembunyi yang belum pernah Siska lihat sebelumnya, docks bawah tanah rahasia, sebuah gua alam yang diubah menjadi dermaga modern berkonektivitas tinggi, tempat beberapa kapal cepat militer dan satu kapal selam taktis bersandar di air laut yang hitam dan tenang.​Suara gema air yang beriak menghantam dinding batu gua menciptakan suasana yang dingin dan mencekam. Arga menurunkan Siska di atas kursi kemudi kulit dari kapal pesiar mini yang berlabuh di sudut gua.​Siska membuka matanya yang sayu, menarik jas taktis Arga yang masih longgar membungkus tu

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 30

    Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tirai sutra vila Arga seolah menjadi ironi bagi kondisi Siska yang masih tergeletak lemas di atas ranjang. Tubuhnya terasa mati rasa, namun jiwanya tetap terikat kuat dalam gravitasi pria yang kini duduk di sisi ranjang, menyesap kopi hitam dengan ketenangan yang menakutkan.​Arga meletakkan cangkir porselen itu dengan bunyi denting pelan yang justru terdengar seperti guntur bagi telinga Siska yang peka. Ia tidak lagi mengenakan pakaiannya, kini, Arga tampil dengan jubah sutra hitam yang longgar, memberikan kesan penguasa yang baru saja menyelesaikan ritual pembantaiannya.​"Bangun, Siska," suara Arga memecah kesunyian kamar. "Hari ini kita punya tamu. Atau lebih tepatnya, sisa-sisa pengikut kakakmu yang masih berniat menantang otoritas kita di pulau ini."​Siska mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang menyengat di pangkal paha membuatnya meringis. "Tamu? Arga, kau baru saja meledakkan kapal Rendy. Apa lagi yang kau inginkan?

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 29

    Badai di luar vila berangsur-angsur mereda, meninggalkan suara sisa rintik hujan yang mengetuk dinding kaca kamar utama dengan ritme yang monoton. Di depan perapian yang kini hanya menyisakan abu hangat dan bara jingga yang redup, Siska berbaring telentang di atas karpet bulu domba. Seluruh tubuhnya terasa seperti dilelehkan, otot-ototnya lemas, dan setiap tarikan napasnya terasa berat, meninggalkan jejak kepuasan yang terlampau pekat di dada dan intinya.​Arga berdiri di atasnya, menatap mahakarya penaklukannya dengan sepasang mata yang masih berkilat lapar. Pria itu tidak tampak lelah sedikitpun. Struktur tubuhnya yang kokoh terbalas cahaya temaram fajar yang mulai menyembul dari balik awan badai. Ia meraih sebuah botol kaca gelap dari atas meja kayu, bukan lagi minyak aromaterapi, melainkan sebuah ramuan khusus berminyak dengan aroma mint dan mawar yang pekat, penawar baru yang sengaja dirancang oleh tim medis pribadinya.​"Bangun, Siska. Permainan kita belum selesai hanya karen

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 28

    Setelah badai kepuasan yang mengunci takdir mereka di ruang kendali bawah tanah, Arga tidak membiarkan Siska berlama-lama di atas meja besi yang dingin. Dengan kelembutan seorang pemilik yang baru saja mengamankan harta paling berharganya, ia menyelimuti tubuh lemas Siska dengan jas taktisnya yang tebal, lalu menggendongnya kembali ke lantai atas.​Namun, kegilaan di pulau pribadi ini tidak pernah benar-benar tidur. Saat mereka melangkah kembali ke dalam kamar utama yang megah, badai tropis di luar pulau tiba-tiba pecah. Angin kencang menghantam dinding-dinding kaca tebal, dan suara petir menggelegar, membelah langit malam yang pekat dan menciptakan kilatan cahaya yang dramatis di dalam ruangan.​Arga meletakkan Siska di atas karpet bulu domba yang tebal di depan perapian yang menyala hangat. Cahaya jingga dari api menari-nari di atas kulit Siska yang masih berkeringat, memantul pada kalung platina dan permata safir di lehernya yang berkilau dingin.​"Arga... dengar suara badai itu,

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 27

    Setelah badai gairah yang melanda di tepian balkon saat matahari terbit, Arga membawa tubuh Siska yang sudah benar-benar mati rasa kembali ke dalam kamar. Namun, istirahat bagi Siska di bawah atap pria posesif ini hanyalah sebuah ilusi yang berumur pendek. Baru beberapa jam Siska tenggelam dalam tidur yang melelahkan, Arga sudah kembali berdiri di sisi ranjang. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaian santai vila. Arga mengenakan kemeja taktis hitam ketat yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang kokoh dan berbahaya. ​Di tangannya, terdapat sebuah gaun sutra tipis berwarna merah menyala—warna yang sengaja Arga pilih untuk mengontraskan kulit putih Siska yang kini dipenuhi tanda kepemilikannya. ​"Bangun, permaisuriku," bisik Arga, suaranya yang bariton bergetar rendah di dekat telinga Siska. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik selimut, mencengkram pinggul Siska yang ramping dan menariknya dalam satu gerakan mudah. ​Siska melenguh, matanya yang sayu terbuka perla

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 1

    ***Lampu di ruang kerja Arga meremang, hanya menyisakan sorot lampu meja yang tajam. Siska berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar hebat. Ia merasa seperti domba yang masuk ke sarang serigala. Arga, pria yang selama bertahun-tahun mencoba menghancurkan bisnis kakaknya, kini duduk di hadapan

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 6

    **Jumat malam di apartemen barunya menjadi sebuah neraka sekaligus surga bagi Siska. Esok pagi ia harus kembali ke rumah Rendy untuk memenuhi janjinya menghabiskan akhir pekan bersama sang kakak. Namun, Arga seolah memiliki rencana lain. Ia tidak ingin Siska pergi dengan perasaan tenang, ia ingin

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 5

    **Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer y

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 4

    **Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna kr

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status