FAZER LOGINTubuh Siska bergetar hebat di atas meja kerja Arga, bukan hanya karena kelegaan fisiologis, tetapi juga karena gelombang sensasi yang membanjiri dirinya.
Cairan putih itu terus mengalir, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja yang dingin. Siska terengah-engah, matanya terpejam, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Arga mengangkat wajahnya, menarik napas dalam-dalam. Sudut bibirnya yang basah menyunggingkan senyum puas. Ia menyentuh area sekitar mulut Siska, membersihkan sisa-sisa ASI yang mungkin menempel di sana dengan ibu jarinya yang kasar. "Kau... kau membuatku gila, Arga." desis Siska, suaranya parau, dipenuhi campuran kebencian, kebingungan, dan gairah. "Aku membuatmu hidup, Siska. Ini adalah caramu untuk bertahan hidup." koreksi Arga, suaranya pelan namun penuh otoritas. Ia menatap dalam-dalam ke mata Siska, mencari jejak perlawanan yang tersisa. "Dan ini adalah caramu menyelamatkan kakakmu.” Lanjutnya. Arga bangkit, berdiri tegak di antara kedua kaki Siska yang masih terjuntai di samping meja. Kemejanya yang basah dan sedikit terbuka menampakkan otot dadanya yang keras. Arga menarik dasinya, melonggarkannya sedikit, seolah ia baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sangat berat. "Aku tidak bisa melakukan ini setiap hari, Arga. Ini... ini salah." Ucap Siska. Siska mencoba mengumpulkan kekuatan untuk memprotes, meski tubuhnya masih lemas. "Salah? Bagiku, ini adalah kesepakatan terbaik. Kau mendapatkan kelegaan, Rendy mendapatkan kebebasan, dan aku... aku mendapatkan apa yang paling kuinginkan." Arga menunduk lagi, wajahnya mendekat ke wajah Siska. "Aku mendapatkan akses ke dirimu, Siska. Tubuhmu yang penuh rahasia ini." Kekeh Arga. Arga kembali menyentuh bagian yang kini kembali sedikit membengkak. Siska menjerit kecil saat Arga mengulumnya perlahan, memicu lagi sensasi yang membuat kakinya lemas. Kali ini, ia lebih berani. Tangannya mencengkeram bahu Arga, kukunya sedikit membenam ke dalam kulit pria itu. "Arga... Hhh... Aku tidak tahan lagi." Siska memohon, membiarkan tubuhnya bergerak-gerak mengikuti irama hisapan Arga. "Kau akan tahan. Kau harus tahan." bisik Arga di sela-sela hisapannya. "Setiap kali kau merasa penuh, setiap kali kau membutuhkan kelegaan ini, kau akan memikirkanku. Dan kau akan datang padaku." Arga melepaskan hisapannya, lalu mengangkat tubuh Siska dari meja. Tanpa menunggu persetujuan, ia menggendong Siska dan mendudukkannya di pangkuannya, di kursi kerja kulitnya yang besar. Kaki Siska kini melingkari pinggang Arga secara otomatis. "Kau harus memberiku kehangatan di tempat lain juga, Siska." gumam Arga, kini jari-jarinya mulai merayap naik dari paha dalam Siska, menjelajahi celah roknya yang kini kusut. "Tubuhmu ini penuh dengan mata air. Aku ingin menjelajahi semuanya." Ucap Arga. Siska terkejut, namun ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menolak. "Arga... jangan..." "Kenapa? Kau sudah basah. Kau sudah merasakan nikmatnya pelepasan." Arga mencondongkan tubuhnya, berbisik di telinga Siska. "Lagipula, Rendy adalah prioritasmu, bukan? Ini bagian dari 'ganti rugi' yang harus kau bayar." Lanjut Arga. Arga dengan sengaja menggesekkan bagian intimnya yang menonjol di balik celana kainnya ke pangkal paha Siska. Siska terkesiap, merasakan denyutan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia belum pernah sedekat ini dengan pria manapun. "Kau perawan, Siska. Tapi bukan berarti kau tidak bisa menikmati sentuhan ini." Arga mengulurkan tangannya ke belakang punggung Siska, lalu perlahan membuka resleting roknya. Rok Siska melorot ke bawah, jatuh ke lantai. Siska kini hanya mengenakan kemeja yang terbuka di bagian atas dan celana dalam renda tipis. Rasa malu dan putus asa bercampur aduk dengan gelombang gairah yang terus bergejolak. Arga menatapnya dengan tatapan lapar, matanya seolah ingin melahap setiap inci tubuh Siska. "Begitu murni... begitu menggoda." Ujar Arga. Ia menyentuh pinggul Siska, menariknya lebih dekat hingga mereka tak berjarak. Arga mendekatkan bibirnya ke telinga Siska. "Malam ini, kau bukan lagi adik Rendy. Kau adalah milikku. Kau adalah sumber kebahagiaan pribadiku." bisik Arga. "Dan kau akan bersumpah untuk selalu memenuhi kebutuhanku, seperti aku memenuhi kebutuhanmu." Siska tidak bisa bicara. Ia hanya bisa mengangguk kecil, kepalanya terkulai di bahu Arga. Ia tahu bahwa ia telah terperangkap dalam permainan Arga, permainan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Tapi di saat yang sama, ia merasakan kelegaan yang luar biasa, kelegaan dari tekanan fisik dan ketakutan akan nasib kakaknya. Arga kembali mencium Siska, kali ini di bibir, sebuah ciuman yang dalam dan menuntut. Tangannya kini merayap ke bawah, menyelipkan jari-jarinya ke dalam celana dalam Siska yang sudah basah. Siska menjerit tertahan ke dalam mulut Arga, saat ia merasakan sentuhan langsung yang belum pernah ada sebelumnya. "Kau akan tahu namaku, Siska. Namaku akan selalu menjadi yang pertama kau sebut saat kau merasa 'penuh'," Arga berbisik, memprovokasi Siska dengan sentuhannya yang semakin berani. "Arga... Arga..." Siska hanya bisa mengulang nama pria itu, menyerahkan dirinya sepenuhnya pada takdir yang ia pilih demi kakaknya. Di tengah semua kegilaan ini, ia tahu satu hal, ia telah menemukan solusi untuk kelainannya, betapa pun gelap dan berbahaya solusi itu. ** Tangan Arga yang besar kini mencengkram pinggang Siska dengan posesif, mengangkat tubuh wanita itu sedikit agar posisi mereka benar-benar terkunci di atas kursi kulit yang berderit. Siska merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis, digantikan oleh aroma maskulin Arga dan aroma manis susu yang kini membasahi kemeja mereka berdua. "Kau gemetar, Siska." bisik Arga, bibirnya menempel di ceruk leher Siska, memberikan kecupan-kecupan panas yang meninggalkan tanda kemerahan. "Apakah ini karena takut, atau karena tubuhmu akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari?" Tanya Arga. "Aku... aku membencimu," rintih Siska, namun tangannya justru semakin erat memeluk leher Arga, kuku-kukunya memutih karena tekanan. "Benci adalah awal yang bagus untuk gairah yang liar." balas Arga dengan tawa rendah. Arga tidak lagi menahan diri. Dengan satu gerakan sentakan, ia merobek celana dalam renda tipis yang menjadi penghalang terakhir. Siska terpekik kecil, namun pekikannya tertelan saat Arga kembali membungkam bibirnya dengan ciuman yang menuntut. Jari-jari Arga kini menjelajahi area sensitif Siska yang sudah sangat lembap. Ia menemukan betapa kontrasnya kepolosan Siska dengan reaksi tubuhnya yang begitu jujur. "Lihat betapa siapnya kau, Siska. Padahal kau belum pernah disentuh pria manapun. Kelainanmu ini... dia tidak hanya memenuhi dadamu, tapi juga membuat seluruh sarafmu merindukan pelepasan." Arga berbisik tepat di depan bibir Siska yang membengkak. "Arga, tolong... hentikan bicaramu dan... lakukan sesuatu." Siska memohon dengan mata yang berkaca-kaca karena gairah yang sudah di ubun-ubun. Arga tersenyum gelap. Ia mengatur posisi Siska agar benar-benar berada di atasnya. Ia ingin Siska merasakan setiap inci dari kekuasaannya. Saat ia mulai memberikan rangsangan yang lebih intens di area bawah, ia secara bersamaan kembali meraih dada Siska, memberikan hisapan yang lebih kuat dan ritmis. Siska mendongak, punggungnya melengkung sempurna. Sensasi ganda itu membuatnya merasa seolah tubuhnya akan pecah menjadi ribuan kepingan cahaya. "Ahhh! Arga! Terlalu banyak... aku tidak bisa..." "Kau bisa, Siska. Teruslah mengalir. Berikan semuanya padaku." perintah Arga. Produksi ASI Siska seolah terpacu oleh adrenalin dan gairah seksual yang meledak. Cairan itu memancar keluar lebih deras, membasahi dada Arga, mengalir turun ke perut mereka yang bersentuhan. Siska merasa seolah seluruh beban hidupnya, beban rahasia medisnya dan beban dosa kakaknya luruh bersama aliran itu. Arga berhenti sejenak, membiarkan Siska terengah-engah di bahunya. Ia mengusap punggung Siska yang berkeringat. "Mulai detik ini, Rendy aman. Dokumen itu akan hangus." Arga berbisik, namun nadanya berubah menjadi sangat posesif. "Tapi sebagai gantinya, kau adalah wadahku. Kau tidak boleh membiarkan pria lain menyentuhmu, apalagi melihat apa yang terjadi malam ini. Hanya aku yang boleh meredakan rasa sakitmu. Mengerti?" Siska hanya bisa mengangguk lemah, wajahnya tersembunyi di perpotongan leher Arga. "Iya... hanya kau..." "Katakan lebih keras, Siska. Siapa yang memiliki tubuhmu?" Tanya Arga. "Kau, Arga... Hanya kau yang memilikiku." suara Siska bergetar, mengakui kekalahannya yang paling manis sekaligus pahit. Arga kembali menyerang, kali ini dengan tempo yang lebih cepat, membawa Siska ke puncak orgasme yang berkali-kali lebih hebat dari sebelumnya. Di dalam ruang kerja yang gelap itu, musuh kakaknya telah berubah menjadi satu-satunya orang yang memegang kendali atas hidup dan tubuhnya. Siska menyadari, ia mungkin telah menyelamatkan kakaknya, tapi ia telah menyerahkan jiwanya pada iblis yang paling nikmat. Bersambung...Setelah badai kepuasan yang mengunci takdir mereka di ruang kendali bawah tanah, Arga tidak membiarkan Siska berlama-lama di atas meja besi yang dingin. Dengan kelembutan seorang pemilik yang baru saja mengamankan harta paling berharganya, ia menyelimuti tubuh lemas Siska dengan jas taktisnya yang tebal, lalu menggendongnya kembali ke lantai atas.Namun, kegilaan di pulau pribadi ini tidak pernah benar-benar tidur. Saat mereka melangkah kembali ke dalam kamar utama yang megah, badai tropis di luar pulau tiba-tiba pecah. Angin kencang menghantam dinding-dinding kaca tebal, dan suara petir menggelegar, membelah langit malam yang pekat dan menciptakan kilatan cahaya yang dramatis di dalam ruangan.Arga meletakkan Siska di atas karpet bulu domba yang tebal di depan perapian yang menyala hangat. Cahaya jingga dari api menari-nari di atas kulit Siska yang masih berkeringat, memantul pada kalung platina dan permata safir di lehernya yang berkilau dingin."Arga... dengar suara badai itu,
Setelah badai gairah yang melanda di tepian balkon saat matahari terbit, Arga membawa tubuh Siska yang sudah benar-benar mati rasa kembali ke dalam kamar. Namun, istirahat bagi Siska di bawah atap pria posesif ini hanyalah sebuah ilusi yang berumur pendek. Baru beberapa jam Siska tenggelam dalam tidur yang melelahkan, Arga sudah kembali berdiri di sisi ranjang. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaian santai vila. Arga mengenakan kemeja taktis hitam ketat yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang kokoh dan berbahaya. Di tangannya, terdapat sebuah gaun sutra tipis berwarna merah menyala—warna yang sengaja Arga pilih untuk mengontraskan kulit putih Siska yang kini dipenuhi tanda kepemilikannya. "Bangun, permaisuriku," bisik Arga, suaranya yang bariton bergetar rendah di dekat telinga Siska. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik selimut, mencengkram pinggul Siska yang ramping dan menariknya dalam satu gerakan mudah. Siska melenguh, matanya yang sayu terbuka perla
Sinar fajar pertama di pulau pribadi itu mulai memecah kegelapan, melemparkan semburat warna merah darah dan ungu di sepanjang cakrawala laut. Cahaya pagi yang redup itu menyelinap masuk melalui dinding kaca ruang kerja, menerangi siluet dua tubuh yang masih saling mengunci di atas sofa mahoni. Siska terbangun bukan karena alarm, melainkan karena rasa kebas yang menjalar di punggungnya serta sensasi penuh yang tak kunjung surut di bagian intinya. Arga belum melepaskan penyatuan mereka. Pria itu terbangun beberapa menit sebelum Siska, sepasang matanya yang sehitam jelaga menatap lekat ke arah wajah wanita di pelukannya dengan intensitas yang tidak berkurang sedikitpun semenjak semalam. "Kau sudah bangun, Sayang?" suara Arga terdengar sangat berat, serak khas pria yang baru terjaga, namun penuh dengan getaran kepemilikan yang mutlak. Siska melenguh lemah, mencoba menggeser pinggulnya yang terasa sangat pegal, namun gerakan kecil itu justru membuat kejantanan Arga yang bera
Keheningan malam yang pekat kembali menyelimuti kamar utama vila mewah itu, namun udara di dalamnya masih terasa sangat panas dan sarat akan aroma gairah yang tak kunjung padam. Arga tidak bergemak dari posisinya yang menindih Siska. Detak jantung pria itu bergemuruh keras di dada Siska yang telanjang, menciptakan ritme konstan yang mendominasi kesunyian.Siska terengah-engah, matanya terpejam rapat dengan sisa-sisa air mata nikmat yang mengering di pelipisnya. Tubuhnya terasa mati rasa, lemas seperti boneka kain yang kehilangan seluruh kekuatannya. Namun, di bawah kuasa Arga, ia tahu bahwa kata "cukup" adalah sebuah kemewahan yang tidak akan pernah ia dapatkan malam ini.Arga perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah Siska yang tampak begitu pasrah dan rapuh di bawah temaram cahaya bulan yang menembus dinding kaca. Jemari besarnya yang kasar merayap naik, menyusuri rahang Siska yang tegas, lalu turun ke leher jenjang tempat kalung safir itu masih melingkar manis, sebuah tanda
Arga tidak membiarkan momen itu berlalu begitu saja. Begitu klimaks mereda dan Siska terengah-engah dalam dekapannya di dalam jacuzzi, Arga mengangkat tubuh wanita itu keluar dari air dengan gerakan yang sangat tangkas. Tanpa mengeringkan tubuh mereka, ia langsung menggendong Siska masuk kembali ke dalam ruang utama vila. Langkahnya lebar dan pasti, melewati lantai marmer yang dingin hingga ia menghempaskan Siska ke atas tempat tidur berukuran king size yang dilapisi sutra hitam. Kamar itu kini terasa sangat pengap oleh aroma gairah dan sisa-sisa aroma tubuh mereka yang bercampur. Arga tidak langsung menindih Siska. Ia justru berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan, menuangkan segelas whiskey dingin, lalu kembali ke sisi tempat tidur. Ia meminum sedikit, lalu membiarkan cairan itu membasahi bibirnya sebelum ia membungkuk dan mencium Siska dengan kasar, memindahkan sensasi dingin dan tajam dari whiskey itu ke dalam mulut wanita yang masih setengah sadar tersebut. "M
Setelah klimaks yang menghancurkan di depan layar proyektor, Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja mahoni itu. Ia menatap Siska yang terkulai lemas dengan tatapan lapar yang tidak pernah terpuaskan. Keringat membanjiri tubuh mereka, membuat kulit yang bersentuhan mengeluarkan suara decit yang erotis setiap kali bergeser. "Kau pikir ini sudah selesai, Siska?" bisik Arga, suaranya serak, penuh dengan dominasi yang gelap. "Rendy mencoba meretas satelitku, maka aku akan menunjukkan padanya apa yang terjadi jika ia mencoba menyentuh milikku." Arga meraih sebuah remote kecil di pinggir meja. Dengan satu tekanan tombol, dinding kaca besar yang menghadap ke arah laut perlahan terbuka, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulit mereka yang panas. Di luar sana, di bawah sinar bulan, sebuah helikopter pengintai tanpa awak milik Arga terbang rendah, menyalakan lampu sorotnya tepat ke arah mereka. "Arga... apa yang kau lakukan? Lampu itu... orang-orangmu bisa melihat kita!" Sis
Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sep
***Lampu di ruang kerja Arga meremang, hanya menyisakan sorot lampu meja yang tajam. Siska berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar hebat. Ia merasa seperti domba yang masuk ke sarang serigala. Arga, pria yang selama bertahun-tahun mencoba menghancurkan bisnis kakaknya, kini duduk di hadapan
**Jumat malam di apartemen barunya menjadi sebuah neraka sekaligus surga bagi Siska. Esok pagi ia harus kembali ke rumah Rendy untuk memenuhi janjinya menghabiskan akhir pekan bersama sang kakak. Namun, Arga seolah memiliki rencana lain. Ia tidak ingin Siska pergi dengan perasaan tenang, ia ingin
**Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer y







