LOGIN“Papa serius gak papa kami tinggal?” Senja baru saja selesai make up, ia dan Arsen akan menghadiri undangan makan malam dari Neya, kakaknya Arsen.“Gak papa. Ada Susi juga, kok. Kamu gak usah khawatirkan papa, lagian papa udah baikan. Jalannya aja udah lancar. Papa sehat, Senja.”Meskipun begitu, tetap saja Senja tidak tenang meninggalkan papanya. Ia mengusap bahu papanya dengan lembut. “Kalau misal ada apa-apa, Papa harus telpon Senja.”“Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di jalan,” jawab RTrian, yang kemudian tatapannya bergeser pada Arsen yang kini sedang memakai jam tangan.“Arsen, ingat jangan ngebut.”“Tahu, Yan. Aku juga gak mau mati kali.”Senja memukul pelan lengan Arsen karena kesal, hingga calon suaminya itu menatapnya bingung. “NGomongnya, ih!”“Maaf. Ya habis papa kamu nyebelin, dikira aku ngajak jalan orang tersayang kaya mau diajak balap liar.”Trian memutar bola matanya. “Serah kamu, lah, Sen.”:“Mbak Susi, jangan lupa nanti obatnya Papa, ya, Mbak.”Susi yang berdiri di
Senja membungkam mulutnya sendiri, tidak menyangka dengan yang baru saja dia dengar. Kenzo, pria yang ia kenal baik, tidak sengaja menabrak orang karena mabuk?“Terus yang ditabrak gimana?” tanya Senja, panik.“Masih kritis. Kelurganya enggak terima, sih. Kakakku sudah memberikan ganti rugi dan menjamin pengobatan. Cuma ….”“Cuma kenapa, Mas?” Senja menyipitkan mata, ia begitu penasaran. ““Kak Neya mau jodohin Kenzo, biar gak main-main lagi, dan hidupnya terurus. Cuma bocah itu masih enggan dijodohkan sama anak temannya Kak Neya.”Senja kembali mengangguk, tangannya kini beralih mengusap bagian kepala Arsen. “Kamu istirahat dulu. Pasti capek. Biar aku buatkan teh ya.”Saat Senja hendak pergi, Arsen justrtu meraih tangan Senja, membuat kekasihnya itu mengangkat dagu. “Aku masih kangen sama kamu. Di sini saja.”Mata Senja mengedar. “Mas,. gak enak kalau ada yang lihat.”“Biarkan.”“Mas!” Senja mengerucutkan bibir, dan Arsen menyerah.Semenjak hubungan mereka diketahui banyak orang, Se
“Ada apa, Nad?” Senja menghampiri Nadia yang kini terlihat begitu gugup setengah mati. Ia takut, sahabatnya itu benar-benar sedang merencanakan hal yang tidak baik. “Senja, aku ….” Nadia menggigit bibir bawahnya. “Sumpah, ini gak ada hubungannya sama kamu dan Om Arsen, kok.”“Aku enggak nuduh kamu. Tapi, kenapa kamu gugup banget. Apa Mas Kenzo melakukan hal yang gak baik sama kamu?”Nadia menggeleng cepat.“Terus, kenapa tadi kamu kaya marah banget? Gak mau berurusan, apa yang terjadi.” Senja meraih tangan Nadia. Ia tahu, Nadia tidak diterima di keluarganya sendiri, dan sekarang, ia sudah menganggap gadis itu seperti saudaranya sendiri.“Nad?”“Sen, aku bukannya mau sembunyikan ini sama kamu, tapi sumpah, Sen. Aku cuma gak mau buat kamu semakin kepikiran.”Senja memilih menarik tangan nadia, mengajaknya duduk di sebelah kolam ikan. Berharap, Nadia bisa menceritakannya dengan tenang.Senja diam saja, dia siap menunggu jawaban dari Nadia yang seperti sedang bergelut dengan perasaannya
Senja senang, Trian sudah lebih baik, dan hari ini papanya itu bisa pulang ke rumah. Kondisinya jauh lebih baik. Meski dokter mengatakan, kalau Trian tidak boleh terlalu kelelahan.Arsen tidak mengantarkan mereka pulang karena hrus mengurus pasien operasi. Nadialah yang menjemput. Ia sudah dianggap seperti putri sendiri oleh Trian. Pun dengan Senja yang kini merasa seperti memiliki saudara.“Nad, gimana hubungan kamu sama Kenzo?” tanya Trian di tengah keheningan.Mereka sedang duduk di ruang tengah. Senja baru saja dari dapur membawa sepiring buah apel dan puding buatan Sari. Sari sekarang ditugaskan untuk bekerja di rumah Trian oleh Arsen.“Om, nanyanya, ih! Orang aku sama Mas Kenzo enggak gimana-gimana.” Niatnya Nadia memang ingin move on dari Kenzo. Untuk apa menyakiti diri sendiri dengan mengejar-ngejar pria. Sementara kenzo sendiri seperti tidak peduli dengan dirinya, kan?Senja hanya mengamati sahabatnya itu, jelas ia paham pergulatan batin Senja. Semalam Senja sempat mencuri d
Senja tidak menyangka, kalau Nadia akan semarah ini. Wajah Nadia bahkan terlihat merah, dengan mata menatap sengit ke arah Kenzo.“Apa maksud kamu? Kenapa kamu nuduh aku, Nad?” Kenzo mendekat, tetapi nadia justru mundur, seolah jijik kepadanya.“Mas Kenzo yang kasih tahu Tante Winny soal rumah ini?” Senja kini yang maju selangkah, wajah Kenzo berubah tegang, pria itu menggeleng.‘Enggak, Senja. Aku gak ngasih, kok. Suer. Aku justru ke sini mau ambil tas aku yang ketinggalan.” Baik Senja maupun Nadia menoleh pada bangku di dekat pintu. Ada tas yang tergeletak manis di sana. Kenzo pun mengambilnya.Winny seolah malas, ia masih menatap tajam ke arah Senja. “Jadi, di mana Arsen?”“Sudah aku bilang, gak ada!” Senja kini setengah berteriak, jujur, ia terganggu dengan kehadiran Winny.Mereka masih meributkan soal hubungan Senja dan Arsen, Kenzo yang berusaha menegahi pun kewalahan, hingga suara berat seseorang menghentikan perdebatan itu.“Ada apa ini?”“Mas Arsen!” Senja menghampiri Arsen
“Sebenarnya dia kenapa, sih? Masih aja ngurusin hidup orang lain. Dasar nyebelin!” Nadia menggerutu. Awalnya ia memang tertarik dengan Kenzo. Selain tampan, Kenzo begitu baik. Dan tentu karena profesinya.Tetapi setelah bersikap seperti tadi, ia benar-benar illfeel.“Kenapa, sih, Nad? Dari tadi menggerutu?’ tanya Senja dengan menepuk pundak sahabatnya, nyaris saja ia jadi korban siram mendadak.“Ya Allah, Sen. Hampir aja, kan kamu kena siram!” Alih-alih marah, Senja justru tertawa. Ia menghampiri keran air, lalu mematikannya. Ia meraih tangan Nadia, menggiring sahabatnya untuk duduk di bangku yang ada di tepi kolam ikan. “BIlang ada apa?”Nadia menggeleng, ia sempat mengalihkan pandanganya, takut ekspresinya itu akan terbaca.Senja justru terkekeh kecil, sahabatnya terus manyun. Diam-diam, ia memperhatikan Nadia sejak tadi. yang terlihat kesal setelah bertemu Kenzo.“Apa ini ada hubungannya dengan Mas Kenzo?Nadia menggeleng, tetapi wajahnya begitu panik. Seperti sedang mencari alas







