Share

Bab. 3 Meminta Izin

Penulis: Layli Dinata
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 20:53:17

Senja memutar tubuhnya ke kanan. Matanya menatap langit-langit kamar, tanpa benar-benar melihat apapun. Sudah hampir satu jam berlalu sejak ia menutup aplikasi streaming. Tetapi angka yang terpampang di profil streamer terus berputar di kepala.

Rp. 85.000.000.

Nominal yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, sekaligus satu-satunya cara cepat untuk melunasi ganti rugi tas mahal Bianka yang sama sekali bukan ia pelakunya yang merusaknya.

“Kenapa harus kepikiran, sih?”

Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa penasaran tadi berubah menjadi rasa bersalah.

Tidak!

Senja tidak boleh tergoda. Kepalanya terus menggeleng, sejak awal menjadi streamer cosplay saja sudah membuatnya merasa berbohong kepada Arsen dan Trian. Meski kontennya hanya mengobrol, terkadang bernyanyi kecil dan mengenakan kostum anime saja sudah membuatnya merasa sangat berdosa . Di dunia nyata, ia hanyalah Senja, mahasiswi biasa. Namun, di balik layar, ribuan orang mengenalnya Rose.

Senja tidak bisa membayangkan, kalau pekerjaannya itu sampai diketahui Arsen. Tidak hanya semua peralatannya akan disita, tetapi statusnya sebagai anak angkat, pasti akan membuat Arsen kecewa.

Tidak, pasti ada cara lain! Begitu yang ada di pikiran gadis bermata lebar itu.

Ia duduk meraih laptop di atas meja belajar. Lalu mulai membuka berbagai situs lowongan kerja.

Barista, pelayan kafe, kasir minimarket. Matanya membaca satu persatu persyaratan yang tertera. Minimal enam jam perhari.

“Enggak! Mending aku cari yang lain!”

Jam kuliahnya padat. Hampir mustahil ia bisa membagi waktu. Ia menggulir lagi.

Senyum Senja melebar usai menemukan satu lowongan kerja. Barista shift pendek di jam malam. Hanya saja tertulis persyaratan bertuliskan ‘Wajib mendapatkan persetujuan keluarga’.

Senja memijat pelipisnya. “Duh, syarat macam apa ini, Tuhan?”

***

Paginya, Senja menuju dapur. Di sana ia disuguhkan aroma kopi hitam yang autentik. Berulang kali ia menarik napas dalam.

“Pagi,” sapa Arsen tanpa mengalihkan pandangannya.

Senja mengangkat kepala, ia memaksa menarik senyuman. “Pagi, Om.”

Senja menarik kursi. Menunggu waktu yang pas untuk mengutarakan niatnya. Tangannya memainkan sendok dan menatap kosong nasi goreng yang sudah disiapkan oleh bibi asisten rumah tangga.

Ada yang ingin dia sampaikan sejak semalam, kalimat perizinan itu sudah ia susun rapi di kepala demi menutupi masalah tas Bianka tanpa membocorkan rahasia beasiswa bohongannya. Sayangnya, kalimat itu buyar saat meliohat Arsen duduk di depannya.

“Kamu sakit?”

Senja tersentak kecil, lalu buru-buru menggeleng. “Enggal, Om.”

“Terus?”

Senja menarik napas dalam, sebelum memberanikan diri menatap Arsen.

“Aku mau minta izin.”

Terlihat sedikit kerutan di kening Arsen, tatapi pria kembali menyesap kopinya dan meletakkan cangkir keramik itu di meja. “Izin apa?”

Senja mengapalkan tangannya. Rasa gugup membuat tangannya mulai berkeringat.

“Aku mau kerja part time.” Kalimat itu meluncur begitu saja.

Hening sejenak.

Mata Arsen justru menatap Senja, memperhatikan gadis itu, seolah mencoba memahami keinginan Senja yang tiba-tiba.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu justru membuat Senja kehilangan semua jawaban yang sudah ia siapkan. Ia tidak mungkin berkata bahwa dirinya sedang membutuhkan uang untuk mengganti tas Bianka. 

Pada akhirnya, Senja hanya mampu untuk menundukkan kepala. “Aku hanya ingin punya penghasilan sendiri, Om.”

Arsen menghembuskan napas pelan. Jemarinya meraih cangkir kopi, tetapi urung menyesap isinya.

“Penghasilan sendiri?”

Senja mengangguk pelan.

“Kamu merasa uang saku yang Om kasih kurang?”

Pertanyaan itu membuat Senja buru-buru menggeleng. “Bukan begitu.”

“Lalu?”

Senja terdiam. Pandangannya jatuh ke meja makan. Serat kayu berwarna cokelat itu mendadak terasa jauh lebih menarik daripada menatap Arsen.

Ia tak mungkin mengatakannya. Sudah berbohong mengenai beasiswa saja sudah membuatnya sangat berdosa, dan kali ini uang tiga puluh delapan juta begitu menghantuinya.

“Aku hanya ingin belajar mandiri, Om.”

Arsen menatapnya beberapa saat. Raut wajah pria itu tetap tenang, tetapi sorot matanya sarat dengan keraguan.

“Mandiri itu bagus. Tapi ada waktunya.” Arsen menyandarkan punggung ke kursi. “Sekarang tugas kamu kuliah. Nilai kamu harus tetap bagus. Jangan sampai pekerjaan justru membuat kuliah kamu berantakan.”

“Aku bisa bagi waktu, Om.”

“Aku tahu kamu bisa.” Jawaban itu membuat Senja menaruh harapan. Namun pupus pada kalimat berikutnya, “tetap saja Om gak izinkan.”

Senja menggigit bibir bawahnya. 

“Kenapa?”

“Karena kamu tinggal di rumah Om.” Suara Arsen tetap rendah, tetapi tegas. “Papa kamu menitipkan kamu ke Om untuk belajar, bukan untuk bekerja. Selama Om masih mampu memenuhi kebutuhanmu, kamu enggak perlu memikirkan hal-hal seperti itu.”

Dada Senja semakin sesak.

Justru karena Arsen selalu memenuhi kebutuhannya, ia semakin tidak sanggup mengaku mengenai hal yang sedang terjadi.

Senja memaksakan senyum tipis. 

“Iya, Om.” Hanya itu yang bisa Senja ucapkan. Karena semakin lama pembicaraan ini berlangsung, semakin besar kemungkinan kebohongannya akan terbongkar.

“Aku ke kamar dulu, Om. Mau siap-siap kuliah.” Tanpa menunggu jawaban dari Arsen, ia langsung melangkah ke kamar. Mengabaikan nasi goreng yang sempat ia aduk-aduk.

Pintu kamar tertutup pelan. Tubuhnya langsung bersandar di balik pintu. Ia menghembuskan napas panjang, seolah beban di dadanya ikut keluar.

“Gagal lagoi.”

Senja meraih ponsel. Kembali membuka beberapa lowongan kerja. Mungkin masih ada pekerjaan yang tidak memerlukan izin keluarga.

Namun, setiap kali menemukan pekerjaan yang cocok, syaratnya sama,  waktunya bertabrakan dengan jadwal kuliah dan minimal pengalaman satu tahun.

Senja menjatuhkan ponselnya di kasur. “Kenapa susah banget!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 106 Pillow talk

    Begitu pintu kamar tertutup, Senja langsung mengembuskan napas panjang. Seharian mengenakan pakaian pengantin, tersenyum menyambut tamu, dan berdiri untuk berbagai prosesi membuat tubuhnya terasa pegal. Ia bahkan harus menahan kantuk sejak acara masih berlangsung.Arsen yang baru saja melepaskan jasnya menoleh, lalu tersenyum melihat sang istri duduk di tepi ranjang sambil memijat bahunya sendiri.“Capek, Sayang?”Senja mendongak. “Menurut Mas?”“Menurut Mas, istri Mas ini perlu dimanjakan.”“Cie, istri.” Senja tersenyum jahil. “Senang banget, ya, akhirnya bisa manggil aku istri?”Arsen terkekeh. Ia meletakkan jas di sofa, kemudian menghampiri Senja. “Bukan cuma senang. Aku sudah menunggu lama untuk bisa memanggil kamu begitu.”“Padahal biasanya juga manggil aku Senja aja.”“Beda, dong.” Arsen duduk di sampingnya. “Sekarang kalau Mas bilang, ‘Istri Mas cantik banget,’ itu sudah sah secara hukum dan agama.”Senja spontan tertawa. “Ya ampun, Mas. Ada-ada saja.”“Memangnya salah?”“Nggak

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 105 Tolong Mengerti

    Hari itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan bagi Senja dan Arsen. Setelah melewati berbagai rintangan, keduanya akhirnya resmi menjadi suami istri. Senyum tak pernah benar-benar lepas dari wajah Senja, sementara Arsen terus berada di sisinya, sesekali membetulkan letak kerudung sang istri atau menggenggam tangannya seolah tak ingin berjauhan sedetik pun.Di antara para tamu yang datang memberikan ucapan selamat, Nadia menjadi salah satu orang yang paling antusias. Begitu mendapat kesempatan mendekat, ia langsung merentangkan tangan dan memeluk Senja erat.“Selamat, ya, Sen!” ucapnya tulus. “Akhirnya kamu menikah juga. Aku ikut bahagia banget.”Senja tertawa kecil, lalu membalas pelukan sahabatnya. “Makasih, Nad.”Setelah melerai pelukan, pandangan Senja tanpa sengaja bergeser ke arah Kenzo yang berdiri tak jauh dari mereka. Pria itu tampak santai dengan setelan jasnya, kedua tangan masuk ke saku celana sebelum akhirnya melangkah mendekat.“Selamat, ya, Senja.” Kenzo mengulur

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 104 Lalu Gimana dengan Pernikahan?

    “Kita perlu melihat hasil pemeriksaan lengkap dan memastikan kondisi janinnya juga baik. Mual dan muntah memang sering terjadi pada awal kehamilan, tetapi kalau sudah sampai membuat ibu sangat lemas dan kesulitan minum, kita tidak boleh menganggapnya sebagai keluhan biasa.” Dokter Diana berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Kalau tidak ditangani dengan baik, dehidrasi dan gangguan elektrolit bisa berbahaya bagi ibu maupun kehamilannya.”Arsen menoleh kepada Senja. Wajah perempuan itu masih pucat, matanya sayu, dan ia tampak terlalu lelah untuk ikut berbicara.“Kenapa bisa separah ini, sih? Sebelumnya memang sesekali mual, tapi tidak sampai begini.”“Penyebabnya bisa bermacam-macam. Perubahan hormon kehamilan dapat memicu mual dan muntah yang berat pada sebagian ibu. Kita juga perlu memastikan tidak ada faktor lain, seperti gangguan pencernaan atau infeksi.” Dokter Diana kemudian menatap Senja dengan ramah. “Yang jelas, sekarang kita tangani dulu dehidrasinya dan pantau respons tubuhn

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 103 Bagaimana dengan Keadaannya?

    Begitu tiba di rumah Trian, Arsen langsung disambut oleh sahabatnya itu. Namun, ia tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi. Sejak menerima kabar bahwa Senja terus muntah-muntah, pikirannya tak bisa tenang. Bahkan, ia meninggalkan beberapa urusan di rumah sakit untuk memastikan kondisi calon istrinya.“Di mana Senja?” tanyanya begitu masuk.Trian menghela napas. Raut wajahnya terlihat cemas, sesuatu yang jarang diperlihatkannya di hadapan Arsen. “Di kamar. Ayo, aku antar.”Arsen mengikuti langkah Trian menuju kamar Senja. Begitu pintu dibuka, tatapannya langsung tertuju pada perempuan yang terbaring lemah di atas ranjang. Wajah Senja pucat, bibirnya tampak kering, dan tubuhnya terlihat begitu lesu. Tidak ada senyum manis yang biasanya menyambut kedatangannya.“Senja ....”Arsen segera menghampiri ranjang, lalu duduk di tepinya. Tangannya terulur menyentuh dahi Senja sebelum beralih menggenggam jemari perempuan itu.Senja membuka mata perlahan. Begitu melihat siapa yang datang, ia b

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 102 Kangen Doi

    “Gimana nih, urusan nikah?”Arsen baru saja tiba di rumah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan di rumah sakit. Begitu memasuki ruang tengah, dokter berusia tiga puluh tujuh tahun itu langsung melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Bahunya terasa pegal, kepalanya sedikit berat, dan ia hanya ingin duduk tenang tanpa memikirkan pasien, pekerjaan, ataupun masalah keluarga yang belakangan seolah tidak ada habisnya.Sayangnya, keinginannya untuk menikmati ketenangan tampaknya masih harus menunggu.Dua hari lagi, ia akan menikahi Senja. Seharusnya, menjelang hari penting itu, Arsen bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk mengurus persiapan pernikahan bersama calon istrinya. Namun, kenyataannya, jadwal praktik dan tanggung jawabnya di rumah sakit tetap berjalan seperti biasa. Ada pasien yang membutuhkan penanganan, ada laporan yang harus diperiksa, dan ada beberapa urusan yang tidak bisa begitu saja ia tinggalkan.Belum lagi drama Neya dan Kenzo yang sukses membuat kepalanya pen

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 101 Kabur.

    Nadia terdiam."Termasuk soal keluarga kecil itu?" tanyanya tanpa sadar.Begitu kalimat tersebut meluncur dari bibirnya, Nadia langsung ingin menggigit lidah sendiri.Ya Tuhan! Kenapa justru bagian itu yang kutanyakan?!Senyum tipis akhirnya muncul di bibir Kenzo."Nah, berarti kamu dengar semuanya."Nadia mendelik. "Aku cuma kebetulan lewat!""Iya, aku percaya.""Bagus!""Tapi kenapa wajahmu merah?""PANAS!"Kenzo melirik kipas angin yang berputar di atas mereka, kemudian kembali menatap Nadia."Oh, begitu."Nadia tahu nada itu. Nada yang selalu muncul setiap kali Kenzo menemukan bahan untuk menggodanya."Jangan mulailagi, Mas Kenzo.""Aku belum mulai apa-apa.""Pokoknya jangan!"Kenzo tertawa pelan. Namun, kali ini tawanya tidak berlangsung lama. Ia kembali menatap Nadia dengan keseriusan yang membuat perempuan itu kehilangan keberanian untuk terus mengomel."Nadia.""Hm?""Terima kasih karena sudah membiarkanku tinggal di sini."Nadia menunduk, memainkan ujung bajunya. "Kalau kamu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status