Masuk“Kita perlu melihat hasil pemeriksaan lengkap dan memastikan kondisi janinnya juga baik. Mual dan muntah memang sering terjadi pada awal kehamilan, tetapi kalau sudah sampai membuat ibu sangat lemas dan kesulitan minum, kita tidak boleh menganggapnya sebagai keluhan biasa.” Dokter Diana berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Kalau tidak ditangani dengan baik, dehidrasi dan gangguan elektrolit bisa berbahaya bagi ibu maupun kehamilannya.”Arsen menoleh kepada Senja. Wajah perempuan itu masih pucat, matanya sayu, dan ia tampak terlalu lelah untuk ikut berbicara.“Kenapa bisa separah ini, sih? Sebelumnya memang sesekali mual, tapi tidak sampai begini.”“Penyebabnya bisa bermacam-macam. Perubahan hormon kehamilan dapat memicu mual dan muntah yang berat pada sebagian ibu. Kita juga perlu memastikan tidak ada faktor lain, seperti gangguan pencernaan atau infeksi.” Dokter Diana kemudian menatap Senja dengan ramah. “Yang jelas, sekarang kita tangani dulu dehidrasinya dan pantau respons tubuhn
Begitu tiba di rumah Trian, Arsen langsung disambut oleh sahabatnya itu. Namun, ia tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi. Sejak menerima kabar bahwa Senja terus muntah-muntah, pikirannya tak bisa tenang. Bahkan, ia meninggalkan beberapa urusan di rumah sakit untuk memastikan kondisi calon istrinya.“Di mana Senja?” tanyanya begitu masuk.Trian menghela napas. Raut wajahnya terlihat cemas, sesuatu yang jarang diperlihatkannya di hadapan Arsen. “Di kamar. Ayo, aku antar.”Arsen mengikuti langkah Trian menuju kamar Senja. Begitu pintu dibuka, tatapannya langsung tertuju pada perempuan yang terbaring lemah di atas ranjang. Wajah Senja pucat, bibirnya tampak kering, dan tubuhnya terlihat begitu lesu. Tidak ada senyum manis yang biasanya menyambut kedatangannya.“Senja ....”Arsen segera menghampiri ranjang, lalu duduk di tepinya. Tangannya terulur menyentuh dahi Senja sebelum beralih menggenggam jemari perempuan itu.Senja membuka mata perlahan. Begitu melihat siapa yang datang, ia b
“Gimana nih, urusan nikah?”Arsen baru saja tiba di rumah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan di rumah sakit. Begitu memasuki ruang tengah, dokter berusia tiga puluh tujuh tahun itu langsung melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Bahunya terasa pegal, kepalanya sedikit berat, dan ia hanya ingin duduk tenang tanpa memikirkan pasien, pekerjaan, ataupun masalah keluarga yang belakangan seolah tidak ada habisnya.Sayangnya, keinginannya untuk menikmati ketenangan tampaknya masih harus menunggu.Dua hari lagi, ia akan menikahi Senja. Seharusnya, menjelang hari penting itu, Arsen bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk mengurus persiapan pernikahan bersama calon istrinya. Namun, kenyataannya, jadwal praktik dan tanggung jawabnya di rumah sakit tetap berjalan seperti biasa. Ada pasien yang membutuhkan penanganan, ada laporan yang harus diperiksa, dan ada beberapa urusan yang tidak bisa begitu saja ia tinggalkan.Belum lagi drama Neya dan Kenzo yang sukses membuat kepalanya pen
Nadia terdiam."Termasuk soal keluarga kecil itu?" tanyanya tanpa sadar.Begitu kalimat tersebut meluncur dari bibirnya, Nadia langsung ingin menggigit lidah sendiri.Ya Tuhan! Kenapa justru bagian itu yang kutanyakan?!Senyum tipis akhirnya muncul di bibir Kenzo."Nah, berarti kamu dengar semuanya."Nadia mendelik. "Aku cuma kebetulan lewat!""Iya, aku percaya.""Bagus!""Tapi kenapa wajahmu merah?""PANAS!"Kenzo melirik kipas angin yang berputar di atas mereka, kemudian kembali menatap Nadia."Oh, begitu."Nadia tahu nada itu. Nada yang selalu muncul setiap kali Kenzo menemukan bahan untuk menggodanya."Jangan mulailagi, Mas Kenzo.""Aku belum mulai apa-apa.""Pokoknya jangan!"Kenzo tertawa pelan. Namun, kali ini tawanya tidak berlangsung lama. Ia kembali menatap Nadia dengan keseriusan yang membuat perempuan itu kehilangan keberanian untuk terus mengomel."Nadia.""Hm?""Terima kasih karena sudah membiarkanku tinggal di sini."Nadia menunduk, memainkan ujung bajunya. "Kalau kamu
Suasana kamar mendadak terasa lebih berat.Arsen tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras sedikit, tetapi ia masih berusaha mempertahankan ketenangannya."Jaga ucapanmu, Kenzo.""Kenapa? Aku cuma bertanya.""Ini bukan waktunya berdebat.""Atau Om tidak suka mendengar sesuatu yang benar?"Nadia membelalakkan mata.Astaga. Kenzo benar-benar sedang mencari masalah!Biasanya, ia mengira laki-laki itu hanya suka membuat orang lain kesal. Namun, melihat bagaimana ia berbicara kepada Arsen sekarang, Nadia menyadari ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kenakalan.Seolah-olah Kenzo sudah lama menyimpan sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi baru sekarang menemukan keberanian untuk mengungkapkannya.Arsen maju selangkah."Om datang untuk membicarakan masalahmu dengan ibumu. Jangan mengalihkan pembicaraan."Kenzo mengangguk pelan, lalu tersenyum miring."Baiklah. Kalau begitu, aku akan bertanya sesuatu yang masih berhubungan dengan masalah orang dewasa.""Kenzo.""Misalnya, Om."Laki-
Nadia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kayu yang berada di sudut kamar. Punggungnya bersandar lemas, sementara tangan kanannya terangkat untuk mengelap keringat di dahi menggunakan punggung tangan. Setelah seharian sibuk mengurus berbagai hal, ditambah harus menghadapi Kenzo yang tingkahnya tidak pernah mengenal kata lelah, rasanya ia ingin mengunci diri di kamar dan tidak bertemu siapa pun sampai besok pagi.Ia meraih sebotol air mineral di atas meja, membuka tutupnya, lalu meneguk beberapa kali. Tenggorokannya yang kering terasa lebih lega. Namun, ketenangan yang baru saja ia dapatkan tidak bertahan lama ketika ingatannya kembali memutar kejadian di kamar sebelah.Tatapan Kenzo.Senyum menyebalkannya.Dan tangan laki-laki itu yang sempat mencengkeram pergelangan tangannya.Nadia nyaris tersedak air mineralnya sendiri."Aduh, apaan, sih!" gerutunya sambil meletakkan botol ke meja.Ia mengipasi wajah dengan telapak tangan, seolah-olah udara di dalam kamar mendadak terasa panas. Pada







