Share

Bab 4

Author: Rose_roshella
last update publish date: 2026-02-10 11:45:16

Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. 

Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.

Marvin meringis, kelopak matanya bergetar menahan perih yang luar biasa setelah peluru itu berhasil dikeluarkan secara paksa tanpa bius.

"Nona..." suara Marvin nyaris tak terdengar, serak dan pecah.

Alina yang belum bisa memejamkan kedua matanya, menatap Marvin dengan wajah menegang, jantungnya berdegup kencang saat melihat lelaki itu mulai tersadar, meski tubuhnya masih lemah. 

“Diam, Marvin. Jangan bicara banyak dulu,” ucap Alina ketus, berusaha menutupi kegelisahan yang berkecamuk di dadanya.

Tangan Alina tak henti menyeka keringat dingin yang membasahi dahinya dengan kain bersih dari awak kapal. 

Seketika, tawa pelan yang hampir seperti rintihan keluar dari bibir Marvin. 

“Kenapa? Kau tampak begitu panik. Takut kehilangan pengawalmu... atau takut kehilangan suamimu?” Marvin masih sempat menggoda Alina di saat kondisinya masih lemah.

Alina merasakan wajahnya memerah, dan tanpa sadar ia menekan lukanya sedikit lebih kuat. 

Dentingan kesakitan terdengar, namun Alina tak peduli. 

“Jangan melantur! Aku tak ingin kau mati dulu sebelum aku keluar dari sini. Setelah aku selamat, kau bebas mati kapan pun kau mau,” jawab Alina dingin, berusaha menyembunyikan perasaannya saat ini.

“Begitukah? Padahal tanganmu gemetar sejak tadi,” gumamnya, menatap jemari Alina yang masih terletak di pundaknya. 

Alina segera menarik tangannya, seolah baru saja menyentuh bara api. 

"Itu karena aku kedinginan! Kapal ini sangat pengap dan bau," alasannya, seolah gengsi mengakui betapa khawatirnya dia saat ini.

"Terima kasih sudah tidak meninggalkanku dan sudah merawatku saat ini," ucap Marvin tulus. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi, kini meredup menatap Alina dengan binar yang sulit diartikan.

Alina membuang muka, menatap hamparan laut hitam di luar sana. 

"Aku sudah bilang, aku tidak mau berutang nyawa. Setelah kita sampai di daratan, aku akan membayarmu dengan uang yang banyak. Anggap saja pernikahan itu tidak pernah ada. Jangan terlalu berharap bisa menjadi suamiku."

"Uang tidak bisa menghapus sumpah di depan pendeta, Nona Sterling," sahut Marvin datar, kembali ke mode profesionalnya yang menyebalkan.

"Itu pernikahan di bawah todongan senjata, Marvin! Tidak sah secara hukum!" bentak Alina frustrasi. 

"Kenapa kau harus sekaku ini? Kau itu hanya pengawalku, bukan pemilik hidupku! Berhentilah berharap dengan pernikahan yang tak pernah aku harapkan sama sekali."

Marvin terdiam sejenak. Ia mencoba memposisikan tubuhnya agar lebih bersandar pada dinding kapal. 

"Secara hukum mungkin tidak, tapi secara tugas... aku sekarang terikat dua kali lipat untuk menjagamu. Sebagai pengawal, dan sebagai pria yang sudah mengambil sumpah untuk melindungimu dalam suka maupun duka."

"Kau benar-benar keras kepala!" Alina mendengus, namun ia kembali mendekat untuk menyelimuti tubuh Marvin dengan jaket tebal yang ia temukan.

"Tidurlah. Kau terlihat sangat mengerikan dengan wajah pucat begitu."

"Apa kau akan tetap di sini menjagaku?" tanya Marvin, suaranya mulai melemah karena efek lelah yang luar biasa.

"Hanya sampai kau tertidur. Jangan berpikir macam-macam, aku ingin besok kau sudah pulih," jawab Alina, meskipun ia sendiri sudah menyandarkan punggungnya di samping Marvin, bersiap untuk terjaga sepanjang malam.

Marvin memejamkan matanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat samar. "Selamat malam... Istriku."

"Marvin! Jangan panggil aku begitu!" seru Alina kesal, namun pria itu sudah terlanjur masuk ke dalam ketidaksadaran yang dalam.

Alina menoleh, menatap wajah Marvin yang tampak lebih tenang saat tertidur. Rasa benci itu masih ada, namun terselip rasa asing yang mulai menyelinap di hatinya.

Ia meraih tangan Marvin yang terasa dingin, menggenggamnya perlahan seolah memastikan bahwa pengawa itu masih tetap bernapas.

"Cepatlah pulih, Marvin. Aku masih butuh kau untuk membawaku pulang," bisik Alina lirih pada kegelapan malam.

Tak menunggu waktu lama bagi Alina untuk mulai memejamkan matanya setelah melewati hari yang melelahkan penuh ketegangan.

****

Kapal logistik itu akhirnya merapat di sebuah pelabuhan tikus yang sepi saat fajar menyingsing. 

Alina dan Marvin membuka matanya, sebuah harapan hadir dalam pikirannya. Mereka pikir mereka bisa pulang dengan selamat.

Namun, ketenangan yang mereka harapkan sirna seketika saat puluhan lampu sorot mobil mendadak menyala, membutakan pandangan mereka.

"Sial, mereka sudah tahu koordinat kita!" umpat Marvin. Ia memaksakan tubuhnya berdiri, meski wajahnya masih terlihat pucat.

"Marvin, kau masih terluka! Jangan paksa!" pekik Alina panik saat melihat Marvin mencengkeram pistolnya erat-halat.

"Tetap di belakangku, Nona Alina! Jangan pernah lepas dari jangkauanku!" perintah Marvin dengan nada otoritas yang tak terbantahkan.

Pintu-pintu mobil terbuka, dan belasan pria bersenjata mulai menghujani kapal dengan tembakan. 

Marvin membalas tembakan itu dengan sisa tenaganya, satu tangannya memeluk pinggang Alina, melindunginya dari terjangan peluru.

"Lari ke arah gudang kontainer itu! Sekarang!" teriak Marvin sambil mendorong tubuh Alina saat mereka berhasil melompat turun dari kapal.

Perlawanan sengit terjadi. Marvin bertarung layaknya monster yang terluka, meski gerakannya melambat karena jahitan di punggungnya mulai terbuka kembali, ia tetap menjadi perisai bagi Alina. 

"Marvin, apa kau baik-baik saja?" Alina tak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya.

"Aku baik-baik saja. Cepat lari dan bersembunyilah di sana. Aku singkirkan mereka dulu," titah Marvin.

Alina mengangguk lalu dia berlari dengan cepat untuk mencari tempat persembunyian.

Namun, kekacauan memuncak saat sebuah mobil jeep hitam melaju kencang dari arah samping, memutus jarak antara Marvin dan Alina.

"Alina, awas!" raung Marvin.

Alina yang panik berusaha berlari menghindari kejaran salah satu anak buah Silas. Ia tidak memperhatikan jalanan aspal yang licin.

BRAKKKK!

Sebuah mobil sedan perak menghantam tubuh mungil Alina dengan keras. Tubuhnya terpental beberapa meter sebelum kepalanya membentur beton trotoar dengan bunyi yang mengerikan.

"ALINAAAA!" teriak Marvin dengan marah.

Marvin mengamuk. Dengan sisa peluru terakhir, ia melumpuhkan pengemudi mobil itu dan menerjang ke arah Alina yang sudah tak sadarkan diri. 

"Akan aku habisi kalian semua!" Dengan sisa peluru, Marvin bisa membuat kedua mobil itu terguling.

Darah mengalir dari pelipis gadis itu. Marvin segera menyambar tubuh Alina, menggendongnya ala bridal style dan berlari menembus gang-gang sempit pelabuhan di bawah hujan peluru.

"Bertahanlah, Alina. Kau tidak boleh mati sekarang," bisiknya dengan nafas tersengal.

Anak buah Silas masih mengejar mereka. Beruntung, di ujung jalan buntu, sebuah mobil  berhenti mendadak di depan mereka.

Marvin yang sudah tampak lemah, hanya bisa bisa pasrah saat dia mengira mobil yang ada di depannya adalah musuhnya.

Begitu orang itu keluar dari mobil, Marvin terlihat terkejut saat melihat sosok pria yang tak asing baginya.

"Marvin? Itu kau?!" tanya pria itu dengan wajah terkejut 

"Leo... Tolong aku. Bawa kami pergi dari sini!" desis Marvin parau sebelum kesadarannya sendiri nyaris hilang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 76

    "Lepaskan senjatamu sekarang, Marvin! Letakkan di lantai dan tendang ke arah anak buahku!" teriak Richard lagi melalui interkom, tawanya terdengar begitu puas.Marvin melirik anak buah Richard yang mengelilinginya, lalu perlahan mencabut pistol dari pinggangnya."Marvin, jangan gila! Ini jebakan!" bisik Hugo menahan lengan Marvin."Aku tidak punya pilihan, Hugo. Nyawa Alina taruhannya," sahut Marvin dingin. Ia menjatuhkan pistolnya ke lantai dan menendangnya menjauh. "Buka pintunya, Richard! Aku sudah tidak bersenjata!"KLIK.Pintu baja itu perlahan terbuka. Marvin melangkah masuk dengan kedua tangan terangkat di samping kepala. Di dalam ruangan, bau anyir darah langsung menyengat hidungnya. Tuan Arthur terkapar di lantai dekat ranjang dengan dada bersimbah darah, tak bergerak.Sementara itu, Alina duduk di sudut ranjang, menangis histeris dengan moncong pistol Richard yang menempel ketat di pelipisnya. Perban di matanya kembali merembeskan darah segar."Marvin? Kau di sini?! Jangan m

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 75

    Sementara itu, di koridor markas yang sepi, Marvin duduk bersandar di dinding tepat di samping pintu ICU. Hugo berdiri tak jauh darinya, mengawasinya dengan tatapan iba. "Kau benar-benar nekat, Marvin. Mengapa kau merahasiakan hal sebesar itu dari Tuan Arthur dan Nona Alina? Apa kau sadar telah menyakiti perasaannya?" tanya Hugo pelan, melangkah mendekat. "Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan mereka, Hugo," jawab Marvin parau, memijat pelipisnya yang berdarah. "Aku pikir aku bisa menyelesaikan urusanku dengan Lenika setelah bayinya lahir, tanpa harus menyakiti Alina. Tapi aku salah. Ke bodohanku justru menghancurkan mata dan hatinya. Aku menyesal, Hugo." "Percuma kau menyesali semua itu, sudah terlambat. Lalu sekarang apa rencanamu? Lenika belum benar-benar pergi dari kehidupanmu. Leo saat ini menahannya di paviliun depan, tapi wanita itu terus histeris menuntut untuk bertemu denganmu, dia benar-benar terobsesi denganmu," ujar Hugo memberi tahu situasi di luar.

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 74

    Alina memalingkan wajahnya ke arah lain, meski kegelapan tetap mengurungnya. Air matanya semakin deras membasahi perban yang membalut kedua matanya. "Suami?" Alina tertawa hambar di sela tangisnya, suara tawanya terdengar begitu rapuh dan menyakitkan. "Kau bilang kau ini suamiku, Marvin? Lalu bagaimana dengan Lenika? Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya? Apa kau mau menceraikannya setelah aku tahu semua ini?" "Ya! Aku akan mengurus perceraian kami secepatnya, Alina," jawab Marvin tanpa ragu, ia meremas lembut tangan Alina yang terasa sedingin es. "Pernikahan itu sejak awal tidak memiliki rasa. Aku hanya menunaikan janji terakhir kepada mendiang temanku. Setelah bayinya lahir, hubungan hukum kami selesai. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa dengannya." "Tapi dia istrimu yang sah saat ini, Marvin!" seru Alina, dadanya sesak menahan amarah yang kembali membumbung. "Setiap kali aku mengingat dia mengatakan dirinya adalah istrimu, rasanya dadaku seperti ditusuk belati. Aku tidak ma

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    bab 73

    "Dokter! Lakukan sesuatu! Aku akan bayar berapa pun, asalkan mata putriku bisa kembali melihat! Jangan biarkan dia hidup dalam kegelapan," raung Arthur, mencengkeram kerah jas sang dokter hingga pria paruh baya itu gemetar."Tuan Arthur, tenanglah. Kami sudah melakukan yang terbaik. Sekarang, semuanya tergantung pada keinginan Nona Alina untuk sembuh dan menghindari stres berat. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan mata putri Tuan," jelas dokter itu dengan suara pasrah."Lakukan apapun untuk kesembuhan putriku, Dokter!" ucap Arthur penuh dengan penekanan."Baik, Tuan. Maaf, saya permisi dulu," jawab dokter itu dengan tubuh gemetar, sebelum akhirnya pamit undur diri.Marvin masih bersimpuh di lantai koridor yang dingin. Penyesalan menghantam dadanya begitu telak hingga rasanya lebih menyakitkan daripada peluru mana pun yang pernah menembus tubuhnya. Air matanya tiba-tiba terjatuh begitu saja."Kau dengar itu, Marvin?" Lenika melangkah mendekat, bayangan tubuhnya yang anggu

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 72

    "Katakan kepada Alina, siapa wanita itu, Marvin? Jangan sembunyikan apa pun kepada putriku!" Arthur menatap wajah Marvin penuh amarah.Marvin terpaku, tatapannya beralih dari moncong pistol Arthur yang dingin ke arah Alina yang mulai meraba-raba udara dengan panik. Napasnya tercekat di tenggorokan. Rahasia yang selama ini ia kunci rapat-rapat, kini pecah berkeping-keping."Jawab, Marvin! Atau aku pecahkan kepalamu!" "Ayah! Tolong turunkan senjatamu! Apa yang terjadi sebenarnya?" jerit Alina, suaranya melengking tinggi dipenuhi ketakutan saat mendengar ancaman ayahnya. "Suruh dia bicara, Alina," perintah Arthur."Marvin, katakan yang sebenarnya. Siapa wanita itu? Aku tahu kau tidak akan berbohong padaku," ucap Alina dengan nada lembut.Arthur sama sekali tidak menurunkan senjatanya. Matanya yang merah menyalang menatap Marvin penuh murka. "Aku menunggu jawabanmu, Marvin!"Marvin perlahan menurunkan kakinya, lalu berlutut di lantai dingin, tepat di depan Arthur dan Alina. Ia mengepalk

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 71

    "Kau mengusirku, Marvin?" Lenika menatap wajah Marvin tak percaya."Aku tidak mengusirmu, tapi saat ini kehadiran mu di sini sudah tidak dibutuhkan lagi. Nona Alina akan merawatku."Wajah Lenika seketika pias, seolah baru saja ditampar di depan umum. Ia menatap Marvin dengan tatapan tidak percaya, sementara Arthur Sterling hanya memperhatikan drama itu dengan kening berkerut, mulai mencium ada sesuatu yang tidak beres."Marvin! Kenapa kau begitu kasar padaku? Aku ini__" Kalimat Lenika terputus saat ia melihat kilatan kemarahan yang mematikan di mata Marvin."Aku bilang keluar, Lenika!" bentak Marvin, suaranya naik satu oktav hingga membuat Alina sedikit tersentak. "Jangan buat aku mengulanginya lagi. Leo, bawa dia ke kamar tamu sekarang juga!"Leo yang sejak tadi berdiri di kejauhan langsung mendekat, ia memegang bahu Lenika dengan tegas. "Ayo, Lenika. Sebaiknya kau ikuti kata-kata Marvin sebelum situasi menjadi lebih rumit."Lenika mengibaskan tangan Leo dengan kasar, matanya yang ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status