MasukKapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu.
Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin. Marvin meringis, kelopak matanya bergetar menahan perih yang luar biasa setelah peluru itu berhasil dikeluarkan secara paksa tanpa bius. "Nona..." suara Marvin nyaris tak terdengar, serak dan pecah. Alina yang belum bisa memejamkan kedua matanya, menatap Marvin dengan wajah menegang, jantungnya berdegup kencang saat melihat lelaki itu mulai tersadar, meski tubuhnya masih lemah. “Diam, Marvin. Jangan bicara banyak dulu,” ucap Alina ketus, berusaha menutupi kegelisahan yang berkecamuk di dadanya. Tangan Alina tak henti menyeka keringat dingin yang membasahi dahinya dengan kain bersih dari awak kapal. Seketika, tawa pelan yang hampir seperti rintihan keluar dari bibir Marvin. “Kenapa? Kau tampak begitu panik. Takut kehilangan pengawalmu... atau takut kehilangan suamimu?” Marvin masih sempat menggoda Alina di saat kondisinya masih lemah. Alina merasakan wajahnya memerah, dan tanpa sadar ia menekan lukanya sedikit lebih kuat. Dentingan kesakitan terdengar, namun Alina tak peduli. “Jangan melantur! Aku tak ingin kau mati dulu sebelum aku keluar dari sini. Setelah aku selamat, kau bebas mati kapan pun kau mau,” jawab Alina dingin, berusaha menyembunyikan perasaannya saat ini. “Begitukah? Padahal tanganmu gemetar sejak tadi,” gumamnya, menatap jemari Alina yang masih terletak di pundaknya. Alina segera menarik tangannya, seolah baru saja menyentuh bara api. "Itu karena aku kedinginan! Kapal ini sangat pengap dan bau," alasannya, seolah gengsi mengakui betapa khawatirnya dia saat ini. "Terima kasih sudah tidak meninggalkanku dan sudah merawatku saat ini," ucap Marvin tulus. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi, kini meredup menatap Alina dengan binar yang sulit diartikan. Alina membuang muka, menatap hamparan laut hitam di luar sana. "Aku sudah bilang, aku tidak mau berutang nyawa. Setelah kita sampai di daratan, aku akan membayarmu dengan uang yang banyak. Anggap saja pernikahan itu tidak pernah ada. Jangan terlalu berharap bisa menjadi suamiku." "Uang tidak bisa menghapus sumpah di depan pendeta, Nona Sterling," sahut Marvin datar, kembali ke mode profesionalnya yang menyebalkan. "Itu pernikahan di bawah todongan senjata, Marvin! Tidak sah secara hukum!" bentak Alina frustrasi. "Kenapa kau harus sekaku ini? Kau itu hanya pengawalku, bukan pemilik hidupku! Berhentilah berharap dengan pernikahan yang tak pernah aku harapkan sama sekali." Marvin terdiam sejenak. Ia mencoba memposisikan tubuhnya agar lebih bersandar pada dinding kapal. "Secara hukum mungkin tidak, tapi secara tugas... aku sekarang terikat dua kali lipat untuk menjagamu. Sebagai pengawal, dan sebagai pria yang sudah mengambil sumpah untuk melindungimu dalam suka maupun duka." "Kau benar-benar keras kepala!" Alina mendengus, namun ia kembali mendekat untuk menyelimuti tubuh Marvin dengan jaket tebal yang ia temukan. "Tidurlah. Kau terlihat sangat mengerikan dengan wajah pucat begitu." "Apa kau akan tetap di sini menjagaku?" tanya Marvin, suaranya mulai melemah karena efek lelah yang luar biasa. "Hanya sampai kau tertidur. Jangan berpikir macam-macam, aku ingin besok kau sudah pulih," jawab Alina, meskipun ia sendiri sudah menyandarkan punggungnya di samping Marvin, bersiap untuk terjaga sepanjang malam. Marvin memejamkan matanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat samar. "Selamat malam... Istriku." "Marvin! Jangan panggil aku begitu!" seru Alina kesal, namun pria itu sudah terlanjur masuk ke dalam ketidaksadaran yang dalam. Alina menoleh, menatap wajah Marvin yang tampak lebih tenang saat tertidur. Rasa benci itu masih ada, namun terselip rasa asing yang mulai menyelinap di hatinya. Ia meraih tangan Marvin yang terasa dingin, menggenggamnya perlahan seolah memastikan bahwa pengawa itu masih tetap bernapas. "Cepatlah pulih, Marvin. Aku masih butuh kau untuk membawaku pulang," bisik Alina lirih pada kegelapan malam. Tak menunggu waktu lama bagi Alina untuk mulai memejamkan matanya setelah melewati hari yang melelahkan penuh ketegangan. **** Kapal logistik itu akhirnya merapat di sebuah pelabuhan tikus yang sepi saat fajar menyingsing. Alina dan Marvin membuka matanya, sebuah harapan hadir dalam pikirannya. Mereka pikir mereka bisa pulang dengan selamat. Namun, ketenangan yang mereka harapkan sirna seketika saat puluhan lampu sorot mobil mendadak menyala, membutakan pandangan mereka. "Sial, mereka sudah tahu koordinat kita!" umpat Marvin. Ia memaksakan tubuhnya berdiri, meski wajahnya masih terlihat pucat. "Marvin, kau masih terluka! Jangan paksa!" pekik Alina panik saat melihat Marvin mencengkeram pistolnya erat-halat. "Tetap di belakangku, Nona Alina! Jangan pernah lepas dari jangkauanku!" perintah Marvin dengan nada otoritas yang tak terbantahkan. Pintu-pintu mobil terbuka, dan belasan pria bersenjata mulai menghujani kapal dengan tembakan. Marvin membalas tembakan itu dengan sisa tenaganya, satu tangannya memeluk pinggang Alina, melindunginya dari terjangan peluru. "Lari ke arah gudang kontainer itu! Sekarang!" teriak Marvin sambil mendorong tubuh Alina saat mereka berhasil melompat turun dari kapal. Perlawanan sengit terjadi. Marvin bertarung layaknya monster yang terluka, meski gerakannya melambat karena jahitan di punggungnya mulai terbuka kembali, ia tetap menjadi perisai bagi Alina. "Marvin, apa kau baik-baik saja?" Alina tak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya. "Aku baik-baik saja. Cepat lari dan bersembunyilah di sana. Aku singkirkan mereka dulu," titah Marvin. Alina mengangguk lalu dia berlari dengan cepat untuk mencari tempat persembunyian. Namun, kekacauan memuncak saat sebuah mobil jeep hitam melaju kencang dari arah samping, memutus jarak antara Marvin dan Alina. "Alina, awas!" raung Marvin. Alina yang panik berusaha berlari menghindari kejaran salah satu anak buah Silas. Ia tidak memperhatikan jalanan aspal yang licin. BRAKKKK! Sebuah mobil sedan perak menghantam tubuh mungil Alina dengan keras. Tubuhnya terpental beberapa meter sebelum kepalanya membentur beton trotoar dengan bunyi yang mengerikan. "ALINAAAA!" teriak Marvin dengan marah. Marvin mengamuk. Dengan sisa peluru terakhir, ia melumpuhkan pengemudi mobil itu dan menerjang ke arah Alina yang sudah tak sadarkan diri. "Akan aku habisi kalian semua!" Dengan sisa peluru, Marvin bisa membuat kedua mobil itu terguling. Darah mengalir dari pelipis gadis itu. Marvin segera menyambar tubuh Alina, menggendongnya ala bridal style dan berlari menembus gang-gang sempit pelabuhan di bawah hujan peluru. "Bertahanlah, Alina. Kau tidak boleh mati sekarang," bisiknya dengan nafas tersengal. Anak buah Silas masih mengejar mereka. Beruntung, di ujung jalan buntu, sebuah mobil berhenti mendadak di depan mereka. Marvin yang sudah tampak lemah, hanya bisa bisa pasrah saat dia mengira mobil yang ada di depannya adalah musuhnya. Begitu orang itu keluar dari mobil, Marvin terlihat terkejut saat melihat sosok pria yang tak asing baginya. "Marvin? Itu kau?!" tanya pria itu dengan wajah terkejut "Leo... Tolong aku. Bawa kami pergi dari sini!" desis Marvin parau sebelum kesadarannya sendiri nyaris hilang."Bercerai? Kau bicara apa, Alina? Jangan bicara sembarangan," protes Marvin, wajahnya terlihat panik."Aku tidak berguna untukmu, Marvin. Aku tidak mau menyusahkan hidupmu karena aku buta, Marvin," balas Alina, wajahnya terlihat putus asa."Jangan katakan itu lagi, Alina. Kau pikir pernikahan kita ini mainan, Alina?!" desis Marvin, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang meremukkan dadanya.Ruang perawatan yang sunyi itu terasa makin mencekam. Udara dingin seolah membeku di antara mereka. Alina memalingkan wajahnya yang pucat, menolak menatap ke arah sumber suara Marvin meski matanya sendiri tak mampu melihat apa-apa selain kegelapan pekat."Aku serius, Marvin," sahut Alina dingin, suaranya datar tanpa nada. "Untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini? Aku hanya menjadi beban untukmu. Wanita buta dan cacat seperti diriku hanya akan merusak masa depanmu.""Cukup, Alina! Berhenti merendahkan dirimu sendiri! Aku tak pernah berpikir seperti itu tentang dirimu, Alina. Aku mencintaimu
"Aku tidak sabar untuk kembali melihat senyumanmu, Marvin. Pastikan aku segera melihat," bisik Alina pelan."Tentu saja, Sayang. Aku akan Carikan dokter dan pengobatan yang terbaik untukmu," ucap Marvin meyakinkan, ia mencium punggung tangan Alina.***Dua minggu berlalu sejak hari damai di balkon perbukitan itu. Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Di dalam kamar utama vila perbukitan yang megah dan hangat, tim dokter spesialis mata paling terkemuka dari Jerman berdiri tegang bersama Leo di sudut ruangan.Marvin duduk sangat dekat di samping Alina, memegang erat kedua tangan istrinya yang dingin dan gemetar."Kau siap, Sayang? Dikter akan segera mengobati matamu," bisik Marvin lembut, mengelus punggung tangan Alina.Alina mengangguk pelan, napasnya memburu halus. "Aku sangat gugup, Marvin... Bagaimana kalau aku masih melihat kegelapan?""Percayalah padaku, Alina. Dokter akan melakukan yang terbaik untukmu," bujuk Marvin mantap, lalu menoleh pada dokter utama. "Dokter, buka perb
"Selamat datang di neraka, Marvin Vance! Tentukan pilihanmu, penawar mata putriku, atau nyawa seluruh pasukanmu yang akan meledak di tempat ini!" jerit Helena dengan tawa membahana di tengah kepulan asap.Guncangan dahsyat akibat ledakan di luar vila membuat puing-puing atap runtuh berjatuhan. Namun, alih-alih panik, mata tajam Marvin justru berkilat bagai iblis yang menemukan celah mangsanya."Kau salah menilai lawanmu, Helena! Kau pikir aku akan memilih salah satunya? Kau salah!" gertak Marvin dingin.Dalam hitungan milidetik, sebelum Helena sempat menekan tombol detonator di tangannya, Marvin meluncur deras menewaskan jarak di antara mereka. Tangan kirinya mencengkeram cengkeraman leher Helena hingga wanita itu tersedak hebat, sementara tangan kanannya dengan kilat menyambar tabung reaksi berisi sampel darah khusus dari balik saku gaun hitam wanita itu!"L-lepaskan... bangsat kau, Marvin!" umpat Helena, matanya terbelalak tak percaya saat melihat tabung penawar itu sudah berpindah
"Racun dari darah ibunya sendiri? Apa maksud semua ini, Dokter?!" desis Marvin, suaranya berubah menjadi geraman berbahaya yang sanggup membuat dokter di hadapannya bergidik ketakutan.Aura membunuh yang pekat seketika memenuhi lorong laboratorium medis itu. Cengkeraman tangan Marvin pada hasil laboratorium hingga membuat kertas tebal itu remuk tak berbentuk."B-benar, Tuan Vance," jawab dokter itu dengan suara bergetar hebat. "Jika dalam waktu tujuh hari Nyonya Alina tidak mendapatkan penawar dari sampel darah ibu kandungnya, saraf matanya akan mati secara permanen... Dan penglihatannya tidak akan bisa diselamatkan lagi. Anda harus segera mencari ibu kandung Nyonya Alina.""Brengsek!" bentak Marvin murka. Ia menghempaskan kertas remuk itu ke lantai dan berbalik menatap Leo yang berdiri kaku di belakangnya. "Leo! Cari wanita iblis itu sekarang juga! Kepung seluruh sudut kota, jangan biarkan dia lolos!""Baik, Tuan Vance! Seluruh tim intelijen sudah dikerahkan! Kami akan bawa ibu Non
"Satu sentuhan saja jari kotor mu melukai Alina, aku pastikan seluruh garis keturunanmu musnah malam ini juga! Aku peringatkan kau!"Geraman Marvin menggelegar di lorong sunyi itu, cengkeramannya pada ponsel hingga jemarinya memutih, seolah ingin meremukkan perangkat besi di tangannya.Namun dari seberang telepon, suara wanita paruh baya itu justru terkekeh dingin dan penuh keangkuhan."Gertakan yang manis, Marvin Vance. Tapi ingat, aku adalah ibunya. Aku yang melahirkannya, dan aku juga yang berhak menentukan hidup atau matinya, kau hanya pengawal yang tak berguna," ucap wanita itu dengan nada tenang yang sangat mengerikan. "Kau punya waktu empat puluh delapan jam untuk menyerahkan kepemimpinan Black Dragon padaku. Jika tidak, nikmatilah masa-masa terakhirmu menjadi suami bagi putri butaku!"TUT... TUT... TUT...*lSambungan telepon terputus sepihak."Bangsat! Wanita itu benar-benar gila!" amuk Marvin murka, membanting ponsel berharga fantastis itu ke lantai hingga hancur berantakan.
"Tenang, Sayang! Tetap bersama dalam pelukanku! Aku akan melindungi dan menjaga mu," bisik Marvin lembut, penuh protektif, langsung menyambar tubuh rapuh Alina dari atas ranjang sebelum kegelapan total membungkus kamar rawat tersebut. "Marvin! Ada suara langkah kaki di luar! Aku takut!" jerit Alina histeris. Jemari lentiknya mencengkeram erat kerah kemeja Marvin, sementara napasnya memburu tak beraturan di tengah kegelapan pekat yang membisu. "Jangan takut, aku ada di samping mu, Alina." "Leo! Amankan koridor depan! Jangan biarkan satu pun bajingan itu menembus pintu ini! Beri perlindungan penuh untuk Nyonya Alina," perintah Marvin dengan nada rendah yang sarat akan dominasi berbahaya. "Baik, Tuan Vance!" sahut Leo tegas. Suara letusan senjata berperedam suara langsung bergema memecah keheningan di luar koridor. DOR! DOR! DOR! "Marvin... Suara apa itu?! Siapa mereka? Kenapa banyak suara tembakan?!" bisik Alina gemetar hebat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marvin. "Han
"Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr
"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan."Aku tidak akan







