Share

Bab 3

Author: Rose_roshella
last update publish date: 2026-02-10 11:44:27

Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha  untuk tidak tumbang di depan Alina. 

"Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. 

Alina memusatkan perhatiannya ke arah Marvin yang sudah mulai melemah.

"Di dermaga selatan ada kapal logistik yang akan berangkat lima belas menit lagi. Itu satu-satunya jalan keluar kita tanpa terdeteksi radar Silas."

Alina menatap Marvin dengan sanksi. "Lalu bagaimana dengan para penjaga di gerbang depan? Mereka punya senjata lengkap, Marvin!"

"Itulah gunanya aku di sini," balas Marvin ketus. Ia memeriksa sisa peluru di pistolnya.

Dengan kondisi Marvin seperti ini, Alina sedikit ragu bisa keluar dengan selamat.

"Aku akan memancing mereka ke arah gudang timur. Saat kau mendengar ledakan pertama, lari sekuat tenaga ke arah dermaga. Jangan menoleh ke belakang. Mengerti?"

"Kau gila?" Alina mendesis, cengkeramannya pada lengan Marvin mengeras tanpa ia sadari.

"Dengan luka seperti itu, kau mau menjadi umpan? Kau ingin mati konyol?"

Marvin menatap mata Alina dalam-dalam. Ia tahu saat ini Alina ragu dengan rencananya akan berhasil.

"Tugasku adalah memastikan Anda selamat, Nona. Jika aku mati, itu hanya bagian dari risiko pekerjaan. Bukan masalah besar."

"Bagian dari risiko?" suara Alina meninggi, penuh amarah yang bercampur dengan rasa khawatir. 

"Kau bilang akan melindungiku sampai aku bisa keluar dari sini dengan selamat, dan sekarang kau bicara soal mati seolah itu hal sepele? Bagaimana kalau mereka akhirnya menemukanku dan kau benar-benar sudah mati? Siapa yang akan menyelamatkan aku nanti?"

"Aku tidak akan mati sebelum berhasil membuatmu keluar dari sini dengan selamat."

"Kau benar-benar pria paling menyebalkan! Benar-benar sial, sampai kau mati sekarang."

"Simpan makianmu untuk nanti," potong Marvin datar. Ia berdiri dengan tumpuan pada kontainer, menahan erangan sakitnya.

"Kau tak apa-apa?" tanya Alina penuh kekhawatiran.

"Aku baik-baik saja. Sekarang, bergerak!" titahnya, ia terpaksa berbohong tentang keadaannya saat ini.

Alina terpaksa mengikuti langkah tertatih Marvin menyusuri bayangan gelap tumpukan peti kemas. 

Keheningan malam itu pecah oleh suara derap sepatu bot para penjaga yang mulai menyisir area tersebut. Dalam sekejap, jantung Alina seakan copot. Ia benar-benar ketakutan, tangannya tanpa sadar menggenggam tangan Marvin dengan erat.

"Jangan takut, ada aku di sini," bisik Marvin menenangkan dirinya.

Namun, tempat persembunyian mereka akhirnya diketahui oleh pihak musuh.

"Mereka di sana! Tangkap!" teriak seorang penjaga dari kejauhan.

DOR! DOR!

"Lari, Alina! Sekarang!" perintah Marvin tegas.

Marvin berbalik, melepaskan tembakan balasan dengan akurasi yang mematikan meskipun tangannya gemetar.

Ia sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh musuh, memancing kerumunan pria bersenjata itu menjauh dari jalur pelarian Alina.

Alina berlari. Jantungnya berdegup kencang, paru-parunya terasa terbakar. Namun, langkahnya melambat saat ia mendengar suara ledakan keras dari arah gudang timur, diikuti rentetan tembakan yang membabi buta.

"Marvin..." Alina menoleh ke arah kobaran api, membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Marvin.

’Dia benar-benar melakukannya dan aku membiarkan dirinya mati di sana sendirian,’ batin Alina bergolak penuh penyesalan.

Ia sampai di tepian dermaga selatan. Kapal logistik itu sudah mulai melepas jangkar. Alina menoleh kembali ke belakang, ke arah kobaran api yang mulai melahap gudang timur. 

Hatinya kembali bergejolak. Seharusnya ia senang bisa lepas dari Marvin, pria yang ia anggap sebagai sopir penjara. Tapi bayangan Marvin yang bersimbah darah melindunginya terus membayangi pikirannya.

"Bodoh! Kenapa aku harus peduli!" umpat Alina pada dirinya sendiri.

Namun, entah mengapa perasaannya mulai bergolak, ada sesal dan rasa bersalah saat dirinya membiarkan Marvin mengorbankan dirinya demi menyelamatkan hidupnya.

'Kau benar-benar egois, seharusnya kau tidak meninggalkan dirinya saat itu. Dia sedang terluka, bagaimana kau bisa setega itu?' Alina merutuki dirinya, kali ini perasaan bersalah mulai menyeruak dalam pikirannya.

Tiba-tiba, sesosok tubuh muncul dari kegelapan, merangkak dengan susah payah menuju dermaga. 

Jantung Alina seolah copot saat pria itu mendekatinya. Saat tubuhnya sudah mendekat, Alina terkejut saat tahu pria itu adalah Marvin. 

Bajunya sudah sepenuhnya basah oleh darah, dan ia tampak nyaris kehilangan kesadaran.

"Marvin!" Alina berlari menghampirinya, melupakan egonya.

"Naik... ke kapal... cepat," gumam Marvin parau, matanya mulai sayu.

"Kau selamat? Maafkan aku, tadi aku sudah meninggalkanmu," ucap Alina dengan perasaan bersalah.

"Gadis bodoh, kenapa kau mengkhawatirkan aku? Aku hanya pengawalmu saja," balas Marvin dengan suara parau, menahan sakit.

"Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku hanya takut tidak ada yang melindungiku lagi sebelum aku selamat dari pelarian ini." 

Alina menarik lengan Marvin, memapah tubuh kekar pria itu menuju pinggiran kapal. 

Dengan bantuan seorang awak kapal yang kebingungan, Alina berhasil menyeret Marvin naik tepat saat kapal itu mulai menjauh dari dermaga.

Di atas dek kapal yang dingin, Marvin jatuh tergeletak. Alina segera berlutut di sampingnya, menekan luka di punggung Marvin dengan sisa kain yang ia miliki.

"Jangan mati dulu, Pengawal bodoh," bisik Alina, suaranya bergetar. "Kau belum menyelamatkanku dari pelarian ini. Banyak musuh yang mengejarku saat ini. Kalau bukan kau, siapa lagi yang akan melindungiku?"

Marvin membuka matanya sedikit, menatap wajah Alina yang diterangi cahaya bulan. Ada sedikit binar aneh di matanya saat melihat kekhawatiran yang nyata di wajah gadis yang selalu menghinanya itu.

"Kau... tidak lari?" tanya Marvin lemah.

"Aku tidak mau berutang nyawa padamu," jawab Alina dingin, meski tangannya terus bekerja mengobati luka Marvin dengan telaten.

"Bantu aku keluarkan pelurunya. Minta bantuan pria yang ada di sana," pinta Marvin, menahan sakit yang mengoyak tubuhnya. 

Setetes harapan tersisa dalam dirinya, meski rasanya nyaris pupus. 

Marvin bisa melihat Alina, dengan wajah penuh kecemasan dan ketakutan, mencoba mengumpulkan tenaga untuk membantu. 

Ia memanggil pria yang tadi datang membantu mereka, suaranya memelas tapi tegas, sebuah permohonan yang tak bisa dia abaikan begitu saja. 

Di bawah arahan Marvin, mereka saling membantu mengeluarkan peluru itu dengan  hati-hati, walau prosesnya lambat dan terasa menyakitkan.

Tubuh Marvin menggigil menahan sakit yang merambat tanpa obat bius. 

"Marvin, sudah selesai. Kau bisa istirahat. Aku akan menjagamu malam ini. Besok pagi, kau harus pulih. Aku tidak tahu kapal ini akan berlabuh kapan," kata Alina dengan nada lembut, seolah menutupi kekhawatirannya. Marvin membalas dengan senyum tipis, hampir tak tampak. 

"Hmmm... Terima kasih, Nona," gumamnya pelan. 

Perlahan mata Marvin mulai terpejam, membiarkan kelelahan yang menyiksa merenggut kesadarannya. 

Di tengah gelapnya samudera ini, Marvin menyadari sesuatu yang aneh pada perasaannya.

Alina, wanita yang dulu menganggap dirinya sebagai musuh, kini duduk di sisinya, menjaga dan merawat  lukanya.

Takdir benar-benar telah mengikat mereka lebih erat dari sekadar janji pernikahan yang terpaksa mereka terima di bawah todongan senjata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 71

    "Kau mengusirku, Marvin?" Lenika menatap wajah Marvin tak percaya."Aku tidak mengusirmu, tapi saat ini kehadiran mu di sini sudah tidak dibutuhkan lagi. Nona Alina akan merawatku."Wajah Lenika seketika pias, seolah baru saja ditampar di depan umum. Ia menatap Marvin dengan tatapan tidak percaya, sementara Arthur Sterling hanya memperhatikan drama itu dengan kening berkerut, mulai mencium ada sesuatu yang tidak beres."Marvin! Kenapa kau begitu kasar padaku? Aku ini__" Kalimat Lenika terputus saat ia melihat kilatan kemarahan yang mematikan di mata Marvin."Aku bilang keluar, Lenika!" bentak Marvin, suaranya naik satu oktav hingga membuat Alina sedikit tersentak. "Jangan buat aku mengulanginya lagi. Leo, bawa dia ke kamar tamu sekarang juga!"Leo yang sejak tadi berdiri di kejauhan langsung mendekat, ia memegang bahu Lenika dengan tegas. "Ayo, Lenika. Sebaiknya kau ikuti kata-kata Marvin sebelum situasi menjadi lebih rumit."Lenika mengibaskan tangan Leo dengan kasar, matanya yang ba

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 70

    "Argh! Sialan! Beraninya kau...?!" raung Richard sambil memegangi dadanya yang tertembak."Ucapkan selamat tinggal, Richard. Selamatdatang di neraka," ucap Marvin lalu menarik tangan Alina menjauh dari Marvin.Tak lama kemudian, tembakan itu menggema di seluruh penjuru hutan, memutus suara serangga malam yang tadinya riuh. Namun, bukan tubuh Marvin yang ambruk. Richard terbelalak saat melihat senjatanya terlepas dari tangannya, darah mengucur dari dadanya yang baru saja ditembus peluru dari arah lain."Marvin... Maaf, aku terlambat." Dari balik kegelapan semak-semak, Leo muncul dengan senjata yang masih berasap. Di belakangnya, Lenika mengikuti dengan wajah pucat pasi."Kau pikir aku benar-benar pergi meninggalkannya, Richard?" teriak Leo lantang. "Aku hanya mencari posisi menembak yang tepat! Dan maaf, jika peluruku sampai menembus dadamu," ucap Leo tersenyum penuh kemenangan.Marvin tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Meski kakinya pincang dan tubuhnya penuh luka bakar, ia menerjang

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 69

    "Leo, putar balik! Aku mohon... Marvin dalam bahaya!" jerit Alina, tangannya meraba-raba dasbor, berusaha mencari ponsel Leo yang tadi menampilkan wajah Marvin yang bersimbah darah.Mobil Leo melaju kencang membelah kegelapan hutan. Isak tangis Alina memenuhi kabin, sementara Lenika hanya bisa mematung dengan tatapan kosong.'Kenapa dia sangat perhatian dengan pengawalnya? Apakah dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Marvin?' batin Lenika dengan wajah kesal."Leo... Kau dengar perintahku?" Kali ini suaranya naik dua oktav."Tidak bisa, Nona! Perintah Marvin jelas, aku harus membawa kalian ke tempat Tuan Arthur. Kembali ke sana hanya akan membuat pengorbanannya sia-sia! Tolong, Nona jangan memaksaku," sahut Leo dengan nada tinggi, berusaha menyembunyikan getar ketakutan di suaranya sendiri.Lenika tiba-tiba bersuara, suaranya dingin dan tajam. "Berhentilah menangis, Alina. Kau hanya akan membuatnya semakin tidak bisa fokus. Bukankah kau sudah biasa melihatnya terluka demi melindu

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 68

    "Leo? Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" tanya Marvin setengah berbisik, matanya tetap waspada memindai halaman depan rumah yang gelap."Maaf, aku mengejutkanmu, Marvin."Marvin menghela napas lega saat tahu siapa yang datang adalah Leo. Ia segera menyarungkan kembali senjatanya dan membuka selot pintu dengan cepat.Leo masuk dengan terburu-buru, wajahnya tampak tegang dan dipenuhi peluh. "Aku melacak sinyal ponselmu sebelum kau mematikannya. Richard sudah gila, Marvin! Dia membakar paviliun itu sampai rata dengan tanah dan sekarang anak buahnya sedang menyisir area pinggiran kota ini. Beruntung kau cepat pergi dari sana dan menyelamatkan Nona Alina."Marvin mengertakkan gigi, rahangnya mengeras. "Bajingan itu tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan Alina. Ia pasti sedang melakukan aksi balas dendam.""Rumah siapa ini, Marvin? Aku baru tahu kau punya rumah di sini," tanya Leo sambil melirik ke arah lorong kamar."Milik sepupuku," jawab Marvin singkat, datar, dan dingin.

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 67

    Marvin berdiri mematung di ambang pintu, napasnya memburu dengan peluh dingin yang membasahi kening. Di gendongannya, Alina tampak pucat pasi dengan noda darah yang mulai mengering di pelipisnya. "Siapa wanita ini?" tanya wanita cantik yang senyumannya langsung memudar setelah melihat sosok wanita yang dibawa Marvin. "Dia sedang terluka, aku harus segera mengobatinya," katanya, dingin. Wanita cantik itu, Sarah, ia tertegun saat Marvin tiba-tiba membawa wanita pulang ke rumah. Matanya beralih dari wajah suaminya, lalu ke arah wanita buta yang didekap erat oleh Marvin. Ada kilatan rasa sakit dan cemburu yang menyambar di dadanya saat melihat cara Marvin memeluk Alina, seolah wanita itu adalah permata paling berharga di dunia. "Marvin, siapa dia? Dan kenapa kau membawanya ke rumah kita dalam keadaan seperti ini?" suara Lenika bergetar, mencoba menahan sesak. Marvin tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, melewati Lenika begitu saja, dan membaringkan Alina di sofa usang ruan

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 66

    jantungnya semakin berdegup kencang. “Maaf, Nona. Aku tak bisa menahan perasaanku. Apa kau marah padaku?” Marvin menatapnya, berusaha meraba isi hatinya sendiri. Alina merasakan sesuatu, meski ia sulit mengungkapkannya. Namun, Kata-katanya berhenti di bibir. “Tidak, aku tidak marah padamu, hanya saja…” Alina menggigit bibir bawah, mencoba memahami gemuruh di dadanya yang bercampur dengan ketakutan. “Apa kau tidak memiliki perasaan yang sama sedikit pun denganku?” suara Marvin yang lembut kembali menyentuh, membuat Alina terpaku dalam kebingungan. "Aku… aku takut dengan ayahku, Marvin.” Alina tak bisa menyembunyikan perasaan cemas yang mencengkeram hatinya. “Aku takut kalau dia akan melukaimu, jika dia tahu perasaan yang kita rasakan saat ini." Suara Marvin tiba-tiba mengisi ruang yang hening. “Jadi kau merasa hal yang sama denganku? Kau memiliki perasaan kepadaku?" Raut wajah Alina mulai berubah, ia mulai gelisah, dadanya berdebar tak menentu. Bibirnya membuka mulu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status