Mag-log inMarvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina.
"Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatkan perhatiannya ke arah Marvin yang sudah mulai melemah. "Di dermaga selatan ada kapal logistik yang akan berangkat lima belas menit lagi. Itu satu-satunya jalan keluar kita tanpa terdeteksi radar Silas." Alina menatap Marvin dengan sanksi. "Lalu bagaimana dengan para penjaga di gerbang depan? Mereka punya senjata lengkap, Marvin!" "Itulah gunanya aku di sini," balas Marvin ketus. Ia memeriksa sisa peluru di pistolnya. Dengan kondisi Marvin seperti ini, Alina sedikit ragu bisa keluar dengan selamat. "Aku akan memancing mereka ke arah gudang timur. Saat kau mendengar ledakan pertama, lari sekuat tenaga ke arah dermaga. Jangan menoleh ke belakang. Mengerti?" "Kau gila?" Alina mendesis, cengkeramannya pada lengan Marvin mengeras tanpa ia sadari. "Dengan luka seperti itu, kau mau menjadi umpan? Kau ingin mati konyol?" Marvin menatap mata Alina dalam-dalam. Ia tahu saat ini Alina ragu dengan rencananya akan berhasil. "Tugasku adalah memastikan Anda selamat, Nona. Jika aku mati, itu hanya bagian dari risiko pekerjaan. Bukan masalah besar." "Bagian dari risiko?" suara Alina meninggi, penuh amarah yang bercampur dengan rasa khawatir. "Kau bilang akan melindungiku sampai aku bisa keluar dari sini dengan selamat, dan sekarang kau bicara soal mati seolah itu hal sepele? Bagaimana kalau mereka akhirnya menemukanku dan kau benar-benar sudah mati? Siapa yang akan menyelamatkan aku nanti?" "Aku tidak akan mati sebelum berhasil membuatmu keluar dari sini dengan selamat." "Kau benar-benar pria paling menyebalkan! Benar-benar sial, sampai kau mati sekarang." "Simpan makianmu untuk nanti," potong Marvin datar. Ia berdiri dengan tumpuan pada kontainer, menahan erangan sakitnya. "Kau tak apa-apa?" tanya Alina penuh kekhawatiran. "Aku baik-baik saja. Sekarang, bergerak!" titahnya, ia terpaksa berbohong tentang keadaannya saat ini. Alina terpaksa mengikuti langkah tertatih Marvin menyusuri bayangan gelap tumpukan peti kemas. Keheningan malam itu pecah oleh suara derap sepatu bot para penjaga yang mulai menyisir area tersebut. Dalam sekejap, jantung Alina seakan copot. Ia benar-benar ketakutan, tangannya tanpa sadar menggenggam tangan Marvin dengan erat. "Jangan takut, ada aku di sini," bisik Marvin menenangkan dirinya. Namun, tempat persembunyian mereka akhirnya diketahui oleh pihak musuh. "Mereka di sana! Tangkap!" teriak seorang penjaga dari kejauhan. DOR! DOR! "Lari, Alina! Sekarang!" perintah Marvin tegas. Marvin berbalik, melepaskan tembakan balasan dengan akurasi yang mematikan meskipun tangannya gemetar. Ia sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh musuh, memancing kerumunan pria bersenjata itu menjauh dari jalur pelarian Alina. Alina berlari. Jantungnya berdegup kencang, paru-parunya terasa terbakar. Namun, langkahnya melambat saat ia mendengar suara ledakan keras dari arah gudang timur, diikuti rentetan tembakan yang membabi buta. "Marvin..." Alina menoleh ke arah kobaran api, membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Marvin. ’Dia benar-benar melakukannya dan aku membiarkan dirinya mati di sana sendirian,’ batin Alina bergolak penuh penyesalan. Ia sampai di tepian dermaga selatan. Kapal logistik itu sudah mulai melepas jangkar. Alina menoleh kembali ke belakang, ke arah kobaran api yang mulai melahap gudang timur. Hatinya kembali bergejolak. Seharusnya ia senang bisa lepas dari Marvin, pria yang ia anggap sebagai sopir penjara. Tapi bayangan Marvin yang bersimbah darah melindunginya terus membayangi pikirannya. "Bodoh! Kenapa aku harus peduli!" umpat Alina pada dirinya sendiri. Namun, entah mengapa perasaannya mulai bergolak, ada sesal dan rasa bersalah saat dirinya membiarkan Marvin mengorbankan dirinya demi menyelamatkan hidupnya. 'Kau benar-benar egois, seharusnya kau tidak meninggalkan dirinya saat itu. Dia sedang terluka, bagaimana kau bisa setega itu?' Alina merutuki dirinya, kali ini perasaan bersalah mulai menyeruak dalam pikirannya. Tiba-tiba, sesosok tubuh muncul dari kegelapan, merangkak dengan susah payah menuju dermaga. Jantung Alina seolah copot saat pria itu mendekatinya. Saat tubuhnya sudah mendekat, Alina terkejut saat tahu pria itu adalah Marvin. Bajunya sudah sepenuhnya basah oleh darah, dan ia tampak nyaris kehilangan kesadaran. "Marvin!" Alina berlari menghampirinya, melupakan egonya. "Naik... ke kapal... cepat," gumam Marvin parau, matanya mulai sayu. "Kau selamat? Maafkan aku, tadi aku sudah meninggalkanmu," ucap Alina dengan perasaan bersalah. "Gadis bodoh, kenapa kau mengkhawatirkan aku? Aku hanya pengawalmu saja," balas Marvin dengan suara parau, menahan sakit. "Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku hanya takut tidak ada yang melindungiku lagi sebelum aku selamat dari pelarian ini." Alina menarik lengan Marvin, memapah tubuh kekar pria itu menuju pinggiran kapal. Dengan bantuan seorang awak kapal yang kebingungan, Alina berhasil menyeret Marvin naik tepat saat kapal itu mulai menjauh dari dermaga. Di atas dek kapal yang dingin, Marvin jatuh tergeletak. Alina segera berlutut di sampingnya, menekan luka di punggung Marvin dengan sisa kain yang ia miliki. "Jangan mati dulu, Pengawal bodoh," bisik Alina, suaranya bergetar. "Kau belum menyelamatkanku dari pelarian ini. Banyak musuh yang mengejarku saat ini. Kalau bukan kau, siapa lagi yang akan melindungiku?" Marvin membuka matanya sedikit, menatap wajah Alina yang diterangi cahaya bulan. Ada sedikit binar aneh di matanya saat melihat kekhawatiran yang nyata di wajah gadis yang selalu menghinanya itu. "Kau... tidak lari?" tanya Marvin lemah. "Aku tidak mau berutang nyawa padamu," jawab Alina dingin, meski tangannya terus bekerja mengobati luka Marvin dengan telaten. "Bantu aku keluarkan pelurunya. Minta bantuan pria yang ada di sana," pinta Marvin, menahan sakit yang mengoyak tubuhnya. Setetes harapan tersisa dalam dirinya, meski rasanya nyaris pupus. Marvin bisa melihat Alina, dengan wajah penuh kecemasan dan ketakutan, mencoba mengumpulkan tenaga untuk membantu. Ia memanggil pria yang tadi datang membantu mereka, suaranya memelas tapi tegas, sebuah permohonan yang tak bisa dia abaikan begitu saja. Di bawah arahan Marvin, mereka saling membantu mengeluarkan peluru itu dengan hati-hati, walau prosesnya lambat dan terasa menyakitkan. Tubuh Marvin menggigil menahan sakit yang merambat tanpa obat bius. "Marvin, sudah selesai. Kau bisa istirahat. Aku akan menjagamu malam ini. Besok pagi, kau harus pulih. Aku tidak tahu kapal ini akan berlabuh kapan," kata Alina dengan nada lembut, seolah menutupi kekhawatirannya. Marvin membalas dengan senyum tipis, hampir tak tampak. "Hmmm... Terima kasih, Nona," gumamnya pelan. Perlahan mata Marvin mulai terpejam, membiarkan kelelahan yang menyiksa merenggut kesadarannya. Di tengah gelapnya samudera ini, Marvin menyadari sesuatu yang aneh pada perasaannya. Alina, wanita yang dulu menganggap dirinya sebagai musuh, kini duduk di sisinya, menjaga dan merawat lukanya. Takdir benar-benar telah mengikat mereka lebih erat dari sekadar janji pernikahan yang terpaksa mereka terima di bawah todongan senjata."Tuhan, tolong jangan biarkan dia mati." Alina masih berlutut, memohon kepada Sang Pencipta untuk keajaiban suaminya.Di tengah kegelapan dunianya dan ratapan doa yang begitu pilu, suara dengung panjang monitor jantung Marvin masih terus bergema, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.BIIIIIIIP...Dokter di dalam ruangan menggelengkan kepalanya pasrah. Ia meletakkan alat kejut jantung itu ke atas meja medis. "Maaf, kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Pasien tidak merespons. Waktu kematian sudah__""Tidak! Marvin tidak boleh mati! Dokter, kau berbohong!" jerit Lenika histeris, mencoba menerobos masuk namun tertahan oleh tubuh Hugo yang kokoh. "Lepaskan aku, Hugo! Suamiku tidak boleh mati!""Tenang, Lenika! Jangan membuat keributan di dalam ruang operasi! Jangan buat suasana menjadi gaduh!" bentak Hugo dengan napas memburu, menahan pergerakan Lenika yang kian liar.Sementara itu, Alina masih bersujud di lantai dingin di ambang pintu. Air matanya merembes membasahi perban barun
"Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon... jangan tinggalkan aku dalam kegelapan ini! Bertahanlah demi aku," jerit Alina histeris, ia mengguncang-guncang tubuh Marvin yang sudah tak bergerak.Hugo langsung menerobos maju bersama dua perawat. "Nona Alina, lepaskan Marvin! Dokter harus segera menanganinya! Tenangkan dirimu, Nona.""Tidak! Aku tidak mau lepas! Dia harus bangun, Hugo! Jangan biarkan dia pergi." tangis Alina semakin pecah."Nona, jika Anda tidak melepaskannya sekarang, Marvin benar-benar bisa meninggal! Tenangkan dirimu, Nona Sterling!" bentak Hugo terpaksa, sembari dengan lembut menarik tubuh Alina menjauh dari Marvin.Tim medis dengan cekatan mengangkat tubuh Marvin dan Tuan Arthur ke atas brankar secara bersamaan. Suasana di dalam ruangan berubah menjadi sangat kacau dengan instruksi-instruksi medis yang saling bersahutan."Pasien pertama, Tuan Arthur, denyut nadi sangat lemah! Siapkan ruang operasi satu!" teriak dokter penanggung jawab. "Pasien kedua, Marvin, mengalami syok
"Lepaskan senjatamu sekarang, Marvin! Letakkan di lantai dan tendang ke arah anak buahku!" teriak Richard lagi melalui interkom, tawanya terdengar begitu puas.Marvin melirik anak buah Richard yang mengelilinginya, lalu perlahan mencabut pistol dari pinggangnya."Marvin, jangan gila! Ini jebakan!" bisik Hugo menahan lengan Marvin."Aku tidak punya pilihan, Hugo. Nyawa Alina taruhannya," sahut Marvin dingin. Ia menjatuhkan pistolnya ke lantai dan menendangnya menjauh. "Buka pintunya, Richard! Aku sudah tidak bersenjata!"KLIK.Pintu baja itu perlahan terbuka. Marvin melangkah masuk dengan kedua tangan terangkat di samping kepala. Di dalam ruangan, bau anyir darah langsung menyengat hidungnya. Tuan Arthur terkapar di lantai dekat ranjang dengan dada bersimbah darah, tak bergerak.Sementara itu, Alina duduk di sudut ranjang, menangis histeris dengan moncong pistol Richard yang menempel ketat di pelipisnya. Perban di matanya kembali merembeskan darah segar."Marvin? Kau di sini?! Jangan m
Sementara itu, di koridor markas yang sepi, Marvin duduk bersandar di dinding tepat di samping pintu ICU. Hugo berdiri tak jauh darinya, mengawasinya dengan tatapan iba. "Kau benar-benar nekat, Marvin. Mengapa kau merahasiakan hal sebesar itu dari Tuan Arthur dan Nona Alina? Apa kau sadar telah menyakiti perasaannya?" tanya Hugo pelan, melangkah mendekat. "Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan mereka, Hugo," jawab Marvin parau, memijat pelipisnya yang berdarah. "Aku pikir aku bisa menyelesaikan urusanku dengan Lenika setelah bayinya lahir, tanpa harus menyakiti Alina. Tapi aku salah. Ke bodohanku justru menghancurkan mata dan hatinya. Aku menyesal, Hugo." "Percuma kau menyesali semua itu, sudah terlambat. Lalu sekarang apa rencanamu? Lenika belum benar-benar pergi dari kehidupanmu. Leo saat ini menahannya di paviliun depan, tapi wanita itu terus histeris menuntut untuk bertemu denganmu, dia benar-benar terobsesi denganmu," ujar Hugo memberi tahu situasi di luar.
Alina memalingkan wajahnya ke arah lain, meski kegelapan tetap mengurungnya. Air matanya semakin deras membasahi perban yang membalut kedua matanya. "Suami?" Alina tertawa hambar di sela tangisnya, suara tawanya terdengar begitu rapuh dan menyakitkan. "Kau bilang kau ini suamiku, Marvin? Lalu bagaimana dengan Lenika? Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya? Apa kau mau menceraikannya setelah aku tahu semua ini?" "Ya! Aku akan mengurus perceraian kami secepatnya, Alina," jawab Marvin tanpa ragu, ia meremas lembut tangan Alina yang terasa sedingin es. "Pernikahan itu sejak awal tidak memiliki rasa. Aku hanya menunaikan janji terakhir kepada mendiang temanku. Setelah bayinya lahir, hubungan hukum kami selesai. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa dengannya." "Tapi dia istrimu yang sah saat ini, Marvin!" seru Alina, dadanya sesak menahan amarah yang kembali membumbung. "Setiap kali aku mengingat dia mengatakan dirinya adalah istrimu, rasanya dadaku seperti ditusuk belati. Aku tidak ma
"Dokter! Lakukan sesuatu! Aku akan bayar berapa pun, asalkan mata putriku bisa kembali melihat! Jangan biarkan dia hidup dalam kegelapan," raung Arthur, mencengkeram kerah jas sang dokter hingga pria paruh baya itu gemetar."Tuan Arthur, tenanglah. Kami sudah melakukan yang terbaik. Sekarang, semuanya tergantung pada keinginan Nona Alina untuk sembuh dan menghindari stres berat. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan mata putri Tuan," jelas dokter itu dengan suara pasrah."Lakukan apapun untuk kesembuhan putriku, Dokter!" ucap Arthur penuh dengan penekanan."Baik, Tuan. Maaf, saya permisi dulu," jawab dokter itu dengan tubuh gemetar, sebelum akhirnya pamit undur diri.Marvin masih bersimpuh di lantai koridor yang dingin. Penyesalan menghantam dadanya begitu telak hingga rasanya lebih menyakitkan daripada peluru mana pun yang pernah menembus tubuhnya. Air matanya tiba-tiba terjatuh begitu saja."Kau dengar itu, Marvin?" Lenika melangkah mendekat, bayangan tubuhnya yang anggu







