登入Alina memalingkan wajahnya ke arah lain, meski kegelapan tetap mengurungnya. Air matanya semakin deras membasahi perban yang membalut kedua matanya."Suami?" Alina tertawa hambar di sela tangisnya, suara tawanya terdengar begitu rapuh dan menyakitkan. "Kau bilang kau ini suamiku, Marvin? Lalu bagaimana dengan Lenika? Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya? Apa kau mau menceraikannya setelah aku tahu semua ini?""Ya! Aku akan mengurus perceraian kami secepatnya, Alina," jawab Marvin tanpa ragu, ia meremas lembut tangan Alina yang terasa sedingin es. "Pernikahan itu sejak awal tidak memiliki rasa. Aku hanya menunaikan janji terakhir kepada mendiang temanku. Setelah bayinya lahir, hubungan hukum kami selesai. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa dengannya.""Tapi dia istrimu yang sah saat ini, Marvin!" seru Alina, dadanya sesak menahan amarah yang kembali membumbung. "Setiap kali aku mengingat dia mengatakan dirinya adalah istrimu, rasanya dadaku seperti ditusuk belati. Aku tidak mau mem
"Dokter! Lakukan sesuatu! Aku akan bayar berapa pun, asalkan mata putriku bisa kembali melihat! Jangan biarkan dia hidup dalam kegelapan," raung Arthur, mencengkeram kerah jas sang dokter hingga pria paruh baya itu gemetar."Tuan Arthur, tenanglah. Kami sudah melakukan yang terbaik. Sekarang, semuanya tergantung pada keinginan Nona Alina untuk sembuh dan menghindari stres berat. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan mata putri Tuan," jelas dokter itu dengan suara pasrah."Lakukan apapun untuk kesembuhan putriku, Dokter!" ucap Arthur penuh dengan penekanan."Baik, Tuan. Maaf, saya permisi dulu," jawab dokter itu dengan tubuh gemetar, sebelum akhirnya pamit undur diri.Marvin masih bersimpuh di lantai koridor yang dingin. Penyesalan menghantam dadanya begitu telak hingga rasanya lebih menyakitkan daripada peluru mana pun yang pernah menembus tubuhnya. Air matanya tiba-tiba terjatuh begitu saja."Kau dengar itu, Marvin?" Lenika melangkah mendekat, bayangan tubuhnya yang anggu
"Katakan kepada Alina, siapa wanita itu, Marvin? Jangan sembunyikan apa pun kepada putriku!" Arthur menatap wajah Marvin penuh amarah.Marvin terpaku, tatapannya beralih dari moncong pistol Arthur yang dingin ke arah Alina yang mulai meraba-raba udara dengan panik. Napasnya tercekat di tenggorokan. Rahasia yang selama ini ia kunci rapat-rapat, kini pecah berkeping-keping."Jawab, Marvin! Atau aku pecahkan kepalamu!" "Ayah! Tolong turunkan senjatamu! Apa yang terjadi sebenarnya?" jerit Alina, suaranya melengking tinggi dipenuhi ketakutan saat mendengar ancaman ayahnya. "Suruh dia bicara, Alina," perintah Arthur."Marvin, katakan yang sebenarnya. Siapa wanita itu? Aku tahu kau tidak akan berbohong padaku," ucap Alina dengan nada lembut.Arthur sama sekali tidak menurunkan senjatanya. Matanya yang merah menyalang menatap Marvin penuh murka. "Aku menunggu jawabanmu, Marvin!"Marvin perlahan menurunkan kakinya, lalu berlutut di lantai dingin, tepat di depan Arthur dan Alina. Ia mengepalk
"Kau mengusirku, Marvin?" Lenika menatap wajah Marvin tak percaya."Aku tidak mengusirmu, tapi saat ini kehadiran mu di sini sudah tidak dibutuhkan lagi. Nona Alina akan merawatku."Wajah Lenika seketika pias, seolah baru saja ditampar di depan umum. Ia menatap Marvin dengan tatapan tidak percaya, sementara Arthur Sterling hanya memperhatikan drama itu dengan kening berkerut, mulai mencium ada sesuatu yang tidak beres."Marvin! Kenapa kau begitu kasar padaku? Aku ini__" Kalimat Lenika terputus saat ia melihat kilatan kemarahan yang mematikan di mata Marvin."Aku bilang keluar, Lenika!" bentak Marvin, suaranya naik satu oktav hingga membuat Alina sedikit tersentak. "Jangan buat aku mengulanginya lagi. Leo, bawa dia ke kamar tamu sekarang juga!"Leo yang sejak tadi berdiri di kejauhan langsung mendekat, ia memegang bahu Lenika dengan tegas. "Ayo, Lenika. Sebaiknya kau ikuti kata-kata Marvin sebelum situasi menjadi lebih rumit."Lenika mengibaskan tangan Leo dengan kasar, matanya yang ba
"Argh! Sialan! Beraninya kau...?!" raung Richard sambil memegangi dadanya yang tertembak."Ucapkan selamat tinggal, Richard. Selamatdatang di neraka," ucap Marvin lalu menarik tangan Alina menjauh dari Marvin.Tak lama kemudian, tembakan itu menggema di seluruh penjuru hutan, memutus suara serangga malam yang tadinya riuh. Namun, bukan tubuh Marvin yang ambruk. Richard terbelalak saat melihat senjatanya terlepas dari tangannya, darah mengucur dari dadanya yang baru saja ditembus peluru dari arah lain."Marvin... Maaf, aku terlambat." Dari balik kegelapan semak-semak, Leo muncul dengan senjata yang masih berasap. Di belakangnya, Lenika mengikuti dengan wajah pucat pasi."Kau pikir aku benar-benar pergi meninggalkannya, Richard?" teriak Leo lantang. "Aku hanya mencari posisi menembak yang tepat! Dan maaf, jika peluruku sampai menembus dadamu," ucap Leo tersenyum penuh kemenangan.Marvin tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Meski kakinya pincang dan tubuhnya penuh luka bakar, ia menerjang
"Leo, putar balik! Aku mohon... Marvin dalam bahaya!" jerit Alina, tangannya meraba-raba dasbor, berusaha mencari ponsel Leo yang tadi menampilkan wajah Marvin yang bersimbah darah.Mobil Leo melaju kencang membelah kegelapan hutan. Isak tangis Alina memenuhi kabin, sementara Lenika hanya bisa mematung dengan tatapan kosong.'Kenapa dia sangat perhatian dengan pengawalnya? Apakah dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Marvin?' batin Lenika dengan wajah kesal."Leo... Kau dengar perintahku?" Kali ini suaranya naik dua oktav."Tidak bisa, Nona! Perintah Marvin jelas, aku harus membawa kalian ke tempat Tuan Arthur. Kembali ke sana hanya akan membuat pengorbanannya sia-sia! Tolong, Nona jangan memaksaku," sahut Leo dengan nada tinggi, berusaha menyembunyikan getar ketakutan di suaranya sendiri.Lenika tiba-tiba bersuara, suaranya dingin dan tajam. "Berhentilah menangis, Alina. Kau hanya akan membuatnya semakin tidak bisa fokus. Bukankah kau sudah biasa melihatnya terluka demi melindu







