LOGIN"Siap, Tuan! Saya akan mengerahkan seluruh tim ke bandara, stasiun dan terminal sekarang juga!" jawab Leo tegas, langsung memutar badan dan berlari keluar kamar.Marvin tak menyia-nyiakan waktu. Ia menyambar kunci mobilnya di atas meja, melangkah lebar menuruni tangga dengan napas memburu. Penyesalan teramat besar menghantam dadanya."Alina... Tolong tunggu aku. Jangan pergi! Aku tahu kau marah kepadaku," gumam Marvin dengan suara gemetar seraya menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam.Sementara itu, di aula keberangkatan Bandara Internasional yang padat.Alina duduk di kursi tunggu terminal keberangkatan luar negeri. Lehernya tertutup syal tipis untuk menyembunyikan bekas goresan pisau. Matanya yang berkaca-kaca menatap tiket pesawat satu arah di genggamannya.Panggilan terakhir penerbangan GA-802 tujuan Melbourne, Australia, silakan menuju pintu lima.Suara pengumuman bandara bergema. Alina menghela napas panjang, mengusap sisa air mata di pipinya. Ia berdiri seraya menarik kopern
"N-Nyonya Alina... Kau bisa melihat? Kau benar-benar bisa melihat kembali?" tanya Leo dengan mata membelalak lebar, memandangi koper besar di samping Alina dan jemari wanita itu yang memegang erat gagangnya.Alina membeku sejenak, lalu menyeka air matanya dengan kasar. Ia menatap lurus ke arah mata Leo tanpa sedikit pun rabaan atau kebingungan khas orang buta."Iya, Leo. Aku sudah bisa melihat sejak lama, tolong jangan pernah kamu mengatakan ini kepada Marvin," sahut Alina dingin. "Kenapa, Nyonya? Kenapa harus menyembunyikan ini dari Tuan Marvin? Dia pasti sangat senang melihat mu bisa melihat lagi.""Itu bukan urusan mu. Sebaiknya jangan katakan ini kepada Marvin," jawab Alina dengan ketus."Tolong menyingkir dari jalanku. Aku ingin pergi.""Tapi Nyonya... Nyonya mau kemana? Apa Tuan Tahu kalau Nyonya ingin pergi?" Leo melangkah maju, menghalangi pintu dengan wajah panik. Alina terdiam, dia menatap ke arah lain, menahan air matanya jatuh membasahi pipinya."Kenapa Nyonya membawa ko
"Lalu... Aku harus tinggal di mana? Kau bilang ingin melindungi aku dan calon bayiku? Aku tidak bisa tinggal sendiri bersama dengan anak buah mu," protes Lenika dengan wajah kesal."Aku sudah menyiapkan tempat untuk mu. Kau tidak perlu khawatir, di sana aman. Aku akan melindungi mu." Marvin berusaha meyakinkan Lenika."Aku menurut, Marvin. Hari ini aku diperbolehkan dokter pulang. Bisakah kamu mengantarkan aku ke rumah itu? Demi keamananku," pinta Lenika dengan nada memohon.Alina mengepalkan kedua tangannya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang, mungkin hanya kali ini saja Marvin bersama Lenika."Marvin... Antarkan dia ke rumah itu. Setelah itu kau balik ke rumah," sahut Sofia, memberikan persetujuan."Terima kasih, Alina. Aku akan segera pulang ke rumah," kata Marvin meyakinkan.Alina mengangguk dan pulang bersama Leo. Sementara Melvin dan beberapa anak buahnya mengantarkan Lenika ke rumahnya.***Hari berganti hari. Situasi yang makin mencekam membuat Marvin tidak punya pilihan. Se
"Ada apa, Lenika?" tanya Marvin yang sempat menyadari perubahan raut wajah wanita itu saat berdiri di ambang pintu.'Apa ini hanya perasaanku saja? Marvin bahkan tidak menyadari Alina bisa melihat. Mungkin itu hanya perasaan ku saja,' batin Lenika dalam hati.Lenika menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak gelisah menatap Alina yang kini kembali bersikap layaknya orang buta, meraba lengan Marvin dengan lembut."T-tidak ada, Marvin... Aku hanya masih sangat syok dengan apa yang terjadi dengan ku, Marvin," kilah Lenika terbata-bata, menyembunyikan kepanikan hebat yang membakar dadanya."Baiklah. Jika butuh sesuatu, katakan pada pengawal di luar, jangan sungkan untuk meminta bantuan," ucap Marvin tegas sebelum merangkul Alina dan melangkah keluar dari kamar VIP tersebut."Oke, terima kasih, Marvin." Lenika mengangguk, lalu menatap punggung Marvin dan Alina pergi***Di dalam mobil mewah yang melaju tenang menuju kediaman Vance, Marvin tak henti-hentinya menggenggam jemari Alina
"Ayo, kita pergi sekarang! Kita jenguk Lenika." ujar Marvin tegas seraya beranjak dari sofa dan membantu Alina berdiri dengan penuh kehati-hatian."Baiklah, Marvin."Alina mengangguk, menyandarkan lengannya pada lengan kokoh Marvin. Di dalam hati, ia merasa berdebar. Penglihatannya yang sudah pulih total membuatnya bisa melihat dengan jelas guratan cemas dan amarah di wajah suaminya."Leo, perketat penjagaan!" perintah Marvin sebelum mereka sampai di rumah sakit."Baik, Tuan."Beberapa saat kemudian, mobil mewah Marvin telah terparkir di halaman rumah sakit. Didampingi beberapa pengawal ketat, Marvin menuntun Alina menuju ruang perawatan intensif tempat Lenika dirawat.Di depan pintu kamar, dua anggota kepolisian tampak berjaga."Tuan Vance, kalian sudah datang," panggil salah satu polisi seraya membungkuk hormat. "Dokter baru saja selesai memeriksa Nona Lenika. Beliau sudah sadar, tapi kondisinya masih sangat syok. Saat ini kami belum bisa meminta keterangan darinya.""Boleh kami mas
Setelah melewati kegetiran, tanpa disadari Alina mulai merasakan ada sesuatu dalam penglihatannya. Perlahan dia mulai merasakan melihat ada bayangan dan pelan-pelan bayangan itu sudah terlihat jelas. Ia tidak tahu bahwa efek dari penawar itu bisa menyembuhkan kedua matanya.'Aku bisa melihat kembali? Ya Tuhan, aku tidak bermimpi, aku bisa melihat dengan jelas saat ini. Aku akan memberitahukan Marvin tentang hal ini, mungkin aku akan memberikan sebuah kejutan untuk dirinya,' batin Alina dengan senang.Setelah dia menemui Marvin waktu itu, Alina mewurungkan niatnya untuk mengatakan itu padanya, dia masih menunggu momen yang tepat untuk memberikan kejutan buat suaminya.Dua hari kemudian, dokter sudah mengijinkan Meraka untuk pulang ke rumah.Setelah kepulangan mereka dari rumah sakit, suasana kediaman mewah keluarga Vance terasa begitu hangat."Akhirnya kita bisa pulang dan menikmati kehidupan baru," ucap Alina, menghirup napasnya dengan penuh syukur."Aku juga sangat bahagia, Alina. Ak
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr
"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan."Aku tidak akan
Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka







