LOGIN"Bu Ratna," bisik Ghea, suaranya dingin namun tenang. "Sekarang kau akan merasakan apa yang aku rasakan selama lima tahun."Sementara itu, di kantor polisi pusat Jakarta, Arka tiba dengan pengacaranya yang lebih dulu tiba. Wajahnya pucat, matanya merah karena kurang tidur, dan ada kerutan dalam di dahinya yang menunjukkan kelelahan yang luar biasa. Dia melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah cepat, diikuti oleh pengacaranya yang membawa tas kerja penuh dokumen yang menyambut kedatangannya."Aku ingin bertemu dengan ibu saya," kata Arka pada petugas di meja depan, suaranya tegang. "Dia baru saja dibawa ke sini. Namanya Ratna Adhitama."Petugas itu memeriksa komputer sebentar, lalu mengangguk. "Ibu Ratna sedang dalam proses pemeriksaan. Anda bisa menunggu di ruang tunggu."Arka mengangguk dan duduk di kursi yang tersedia. Kursi itu keras dan dingin, tidak nyaman untuk diduduki dalam waktu lama. Pengacaranya duduk di sampingnya, membuka tas dan mengeluarkan beberapa dokumen."Pak
"Mereka bilang... mereka dapat perintah dari Ibu Ghea, Pak. Nyonya dituduh melakukan tindakan kriminal."Arka merasakan dunianya berputar. Ghea. Nama itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Dia menutup telepon tanpa menjawab, lalu menatap para direktur yang masih menunggu penjelasan."Rapat ditunda. Aku harus pergi sekarang.""Pak, tapi masalah ini—""AKU BILANG RAPAT DITUNDA!" bentak Arka, suaranya menggema di ruangan. Dia tidak peduli lagi pada perusahaan. Yang dia pikirkan hanya ibunya.Dia berlari keluar ruangan, meninggalkan para direktur yang saling berpandangan dengan bingung. Di dalam hatinya, dia merasakan campuran antara kemarahan, kebingungan, dan ketakutan. Ghea—wanita yang dia anggap sudah tidak berdaya dan telah berpihak padanya belakangan ini—telah melancarkan serangan yang tidak dia duga. Dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.Di mobilnya, Arka menelepon pengacaranya. Tangannya gemetar, dan nafasnya tersengal. "Aku butuh bantuanmu. Ibuku ditangk
Pagi itu, rumah Adhitama terasa lebih sunyi dari biasanya. Matahari baru saja terbit, dan cahaya keemasan mulai menyusup melalui celah-celah tirai di ruang keluarga. Burung-burung berkicau di taman depan, menciptakan melodi yang tenang namun terasa ganjil—seolah alam pun tahu bahwa ketenangan ini hanyalah sementara. Bu Ratna duduk di kursi favoritnya di dekat jendela, menikmati secangkir teh hangat yang baru saja diseduhkan oleh pelayan. Aroma melati dari teh itu mengepul pelan, menghangatkan udara pagi yang sejuk."Tehnya pas sekali hari ini," gumam Bu Ratna sambil menyesap tehnya. Tapi pikirannya masih kacau setelah semua yang terjadi—pertengkaran dengan Arka, kehilangan harta warisan, dan ancaman Nadia yang masih menghantui.Dia menatap ke luar jendela, memperhatikan dedaunan yang bergoyang tertiup angin. "Kenapa semua ini harus terjadi padaku?" bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku hanya ingin melindungi keluarga dan hartaku." Dia masih tak habis pikir dengan banyaknya kejadian yan
Ghea berdiri dari kursinya, menatap Nadia dengan tatapan yang dingin dan penuh kemenangan. Dia menarik tasnya dari meja, meletakkannya di bahunya dengan gerakan tegas. "Aku tidak butuh bantuanmu, Nadia. Aku akan menghancurkan Arka dan ibunya dengan caraku sendiri. Dan kamu..." Dia berhenti sejenak, senyum tipis terbentuk di bibirnya. "Kamu juga akan aku hancurkan. Kamu bukan sekutu. Kamu adalah target." Senyum penuh kemenangan terukir dari kedua sudut bibir Ghea. Nadia menegang, wajahnya pucat pasi. Dia mencoba menyembunyikan ketakutannya, tapi tubuhnya yang gemetar mengkhianatinya. "Kamu... kamu tidak bisa melakukannya. Aku punya bukti yang bisa—""Bukti yang bisa kamu gunakan untuk menawariku?" potong Ghea, suaranya sarkastik. Dia menatap Nadia dengan tatapan yang merendahkan. "Aku tidak butuh buktimu. Aku punya caraku sendiri. Dan aku akan memastikan bahwa kamu juga akan merasakan akibat dari semua yang telah kamu lakukan.""Ghea, tunggu!" Nadia mencoba bangkit dari kursinya, tapi
Kafe di pusat ibu kota itu terasa sepi untuk ukuran sore hari. Hanya beberapa meja yang terisi, dan sebagian besar pengunjung sibuk dengan laptop atau ponsel mereka masing-masing. Suara mesin espresso yang mendesis dan aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara, menciptakan suasana yang tenang namun sedikit pengap. Di sudut paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke jalan, Nadia duduk dengan tubuh gelisah. Dia sudah berada di sana selama hampir dua puluh menit, tangannya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin, dan matanya terus menatap pintu masuk dengan penuh harapan dan kecemasan."Ayolah, Ghea," bisik Nadia pada dirinya sendiri, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah. "Kamu harus datang. Kamu satu-satunya harapanku sekarang."Dia memeriksa ponselnya berkali-kali, membaca ulang pesan terakhir yang dia kirimkan pada Ghea."Aku akan menunggumu di kafe itu. Jam empat sore."*Pesan itu sudah dia baca puluhan kali, dan setiap kali, keraguannya semakin besar. Apakah Ghea a
Rumah sakit itu terasa sunyi ketika Nadia terbaring sendirian di ranjang perawatannya. Lampu-lampu neon di langit-langit memancarkan cahaya putih yang dingin, dan suara monitor detak jantung yang teratur menjadi satu-satunya teman di ruangan itu. Perutnya masih terasa sakit, tapi rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan luka di hatinya. Dia menatap langit-langit putih, pikirannya berputar tanpa henti, mencerna semua yang telah terjadi—kehilangan anaknya, tamparan Bu Ratna, dan kata-kata yang terucap tanpa bisa ditarik kembali."Aku akan membongkar semua kebusukan yang kau lakukan pada Ghea."Kalimat itu bergema di kepalanya, mengingatkannya pada rahasia yang selama ini dia ketahui. Rahasia yang selama ini dia simpan, entah karena takut atau karena tidak peduli. Tapi sekarang, setelah kehilangan segalanya, dia tidak punya apa-apa lagi untuk hilang. Dan dia tidak akan tinggal diam."Arka," bisik Nadia pada dirinya sendiri, suaranya serak dan penuh kebencian. "Kau membunuh anakku. Kau







