LOGINSementara itu, di rumah asri milik Devan di pinggiran Jakarta, suasana yang sangat berbeda sedang terjadi. Dapur rumah itu dipenuhi oleh aroma kue yang baru dipanggang—aroma vanila dan kayu manis yang menciptakan kehangatan yang menyenangkan. Ghea berdiri di depan meja kayu, tangannya masih berlumuran tepung, dan di hadapannya, sebuah kue berbentuk sederhana namun rapi tersenyum di atas piring."Sudah jadi, Nek!" seru Ghea, suaranya penuh kegembiraan yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia mengangkat piring itu dengan hati-hati, menunjukkan kue itu kepada Nenek Ratih. "Lihat! Aku berhasil!"Nenek Ratih duduk di kursi dekat jendela, wajahnya yang keriput tersenyum lebar. "Bagus sekali, Nak. Kamu memang berbakat membuat kue, seperti ibumu dulu."Ghea tersenyum, merasakan kehangatan yang menyebar di dadanya. Dia sudah lama tidak merasakan kebahagiaan seperti ini—kebahagiaan yang sederhana, tanpa beban, tanpa dendam. Di rumah sederhana ini, bersama Nenek Ratih, dia merasa seperti kembali
Di luar kamar rumah sakit yang sunyi, Arka berdiri dengan punggung bersandar pada dinding putih yang dingin. Pikirannya berputar tanpa henti, mencoba mencerna kata-kata Nadia yang baru saja dia dengar.’Racun. Rahasia. Kebusukan.’ Kata-kata itu bergema di kepalanya seperti gema yang tidak mau pergi. Dia menatap pintu ruang rawat yang tertutup rapat, lalu menatap ibunya yang berdiri di sampingnya dengan wajah pucat dan mata yang gelisah."Ma," panggil Arka, suaranya tegang tapi penuh dengan pertanyaan yang tidak bisa dia tahan lagi. "Apa yang Nadia maksud? Rahasia apa yang dia bicarakan? Racun apa?" Arka amsih penasaran dengan tema pertikaian yang terjadi di dalam kamar rawat Nadia tadi.Bu Ratna menoleh ke arah Arka dengan tatapan yang berusaha dia kendalikan. Tangannya menggenggam tas dengan erat, buku-buku jarinya memutih. "Arka, jangan dengarkan dia. Dia sedang dalam kondisi yang tidak stabil. Dia baru kehilangan anaknya, dia sedang syok. Kata-katanya tidak bisa dipercaya." Tatapan
"Harus aku ulang biar kau dengar?" teriak Nadia, suaranya serak oleh emosi. "KAU TIDAK AKAN PERNAH PUNYA KETURUNAN! AKU BERSUMPAH!"Tapi sebelum Arka bisa menjawab, pintu ruangan terbuka dengan keras. Bu Ratna berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam karena kemarahan yang memuncak. Dia mendengar sumpah yang baru saja Nadia ucapkan, dan amarahnya meledak."KURANG AJAR!" teriak Bu Ratna, berjalan cepat menuju ranjang. "KAU BERANI BERSUMPAH SEPERTI ITU PADA ANAKKU?"Sebelum Arka bisa menghentikannya, Bu Ratna melayangkan tamparan keras ke pipi Nadia. Bunyi tamparan itu bergema di ruangan yang sunyi, membuat Arka terkejut setengah mati."MA!" teriak Arka, menahan lengan ibunya. "APA YANG MAMA LAKUKAN?"Nadia terbaring di ranjang, pipinya memerah karena tamparan. Tapi alih-alih menangis, dia justru tersenyum. Senyum yang penuh dengan arti, senyum yang membuat Bu Ratna merasakan ketakutan yang tidak bisa dia jelaskan."Tampar aku sebanyak yang kamu mau, Ma," kata Nadia, suaranya dingin
Rumah sakit itu terasa sunyi ketika Nadia membuka matanya perlahan. Cahaya lampu neon di langit-langit memancarkan sinar putih yang menusuk, membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali sebelum pandangannya mulai jelas. Aroma antiseptik yang menyengat memenuhi udara, dan suara monitor detak jantung berbunyi pelan di sampingnya."Ngg... di mana aku?" bisik Nadia, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.Tapi yang paling dia sadari adalah rasa sakit yang menjalar di perutnya—sebuah kekosongan yang aneh, seolah-olah ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya. Dia meraba perutnya dengan tangan gemetar. Perutnya yang tadinya membuncit dengan kehidupan, kini terasa kempes dan kosong."Tidak... tidak mungkin..." bisiknya, suaranya mulai bergetar. "Bayiku... di mana bayiku?"Nadia merasakan dadanya sesak, napasnya tersengal, dan air mata mulai mengalir deras di pipinya. Dia mencoba duduk, mengabaikan rasa sakit yang menusuk di perutnya. Tangannya meraba-raba ranjang, mencari sesuatu—apa pun—yan
Nenek Ratih tersenyum, tangannya masih menggenggam tangan Ghea. "Devan yang menjemputku, Nak. Setelah kamu keluar dari rumah itu, dia datang dan membawaku ke sini. Dia merawatku, memberiku tempat tinggal yang tenang. Aku tidak pernah merasa seaman ini sejak lama."“Jadi nenek tidak pulang ke kampung halaman?” tanya Ghea terkejut dnegan pengakuan ennek Ratih itu. Nenek Ratih menggeleng pelan, “Tidak, nenek bingung jika harus pulang ke kampung halaman nenek. Sebab, di sana juga sudah tidak ada lagi keluarga.” Kedua mata sang nenek terlihat sendu saat membicarakan keluarga yang sudah tidak dimilikinya. Baginya, ia sudah menganggap Ghea sebagai keluarga yang dimilikinya sejak Ghea masih kecil. Ghea menoleh ke arah Devan, matanya penuh dengan rasa terima kasih yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Devan... terima kasih. Aku tidak tahu harus berkata apa." Ghea merasa terharu atas keputusan besar yang Devan ambil pada sang ennek itu. Devan mengangguk, mendekat, dan duduk di bangk
Mobil hitam yang dikemudikan Devan melaju tenang di jalanan pinggiran Jakarta yang mulai sepi. Ghea duduk di kursi penumpang, matanya menatap ke luar jendela, memperhatikan pepohonan yang mulai berganti menjadi pemandangan pedesaan yang asri. Sudah hampir empat puluh menit mereka berkendara, meninggalkan hiruk-pikuk kota dan memasuki kawasan yang lebih tenang dan hijau. Jalanan beraspal lebar perlahan berubah menjadi jalan setapak yang lebih sempit, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan semak-semak yang tumbuh liar.Ghea mulai merasa gelisah. Dia menoleh ke arah Devan yang tetap fokus menatap jalan di depannya. "Devan, kita sudah cukup jauh. Ini ke mana sebenarnya?" Dia sangat penasaran, kemana Devan akan membawanya. Devan tetap menatap jalan di depannya, senyum tipis di bibirnya. "Sabar, Ghea. Sebentar lagi sampai." Dia kembali menoleh ke jalanan, pandangannya kembali fokus pada mengemudi. "Sabar?" Ghea mendesah pelan dan kembali menatap ke luar jendela. "Kamu bilang itu tadi. Sud







