Se connecterDi dalam kamar, Ghea menunggu dengan gelisah. Dia mendengar suara Devan dan Nenek Ratih dari dapur, tapi dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia menunggu sampai suara langkah Devan menjauh—mungkin ke ruang kerjanya atau keluar rumah—sebelum dia bangkit dari ranjang.Dia membuka pintu kamar dengan hati-hati dan melangkah keluar. Langkahnya pelan, hampir seperti bisikan. Di dapur, Nenek Ratih masih sibuk dengan pekerjaannya, mengaduk sup di atas kompor. Aroma sup ayam dengan jahe memenuhi udara, menciptakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya hati Ghea."Nek," panggil Ghea, suaranya hati-hati. Dia berdiri di ambang pintu dapur, tangannya menggenggam ujung dress dengan gelisah.Nenek Ratih menoleh, senyumnya hangat. "Iya, Nak. Ada apa? Kamu sudah bangun? Kenapa tidak istirahat yang lama?"Ghea duduk di kursi dekat meja dapur, tangannya menggenggam cangkir teh yang masih hangat yang disiapkan Nenek Ratih. Dia menatap cangkir itu lama, mencoba mengumpulkan keberanian.
Mobil yang dikemudikan Devan melaju pelan memasuki halaman rumah asri di pinggiran Jakarta. Matahari sore mulai condong ke barat, menciptakan cahaya keemasan yang menyinari taman yang penuh bunga. Kupu-kupu beterbangan di antara kelopak-kelopak yang berwarna-warni, dan burung-burung berkicau riang di dahan pohon. Tapi Ghea tidak memperhatikan keindahan itu. Matanya kosong, tatapannya hampa, dan pikirannya melayang jauh—terjebak dalam kata-kata Bu Ratna yang masih bergema di kepalanya seperti gema yang tidak mau pergi."Ibumu juga pembawa sial! Dia menghancurkan keluargaku!"Kalimat itu terus berputar, menusuk-nusuk pikirannya, menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Ghea tidak tahu apa yang dimaksud Bu Ratna. Dia tidak tahu rahasia apa yang tersimpan di balik kebencian wanita itu. Tapi satu hal yang dia tahu—ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang selama ini dia tidak ketahui tentang ibunya."Ibu," bisik Ghea dalam hati, suaranya nyaris tak terdengar. "Apa
Sementara itu, di penjara wanita, Ghea melangkah masuk ke ruang kunjungan. Ruangan itu sunyi, dengan meja-meja kayu yang dipisahkan oleh kaca tebal. Ghea mengenakan dress biru muda sederhana, dan wajahnya tenang namun dingin. Langkahnya mantap, tidak ada keraguan. Di hadapannya, Bu Ratna duduk dengan tubuh yang kurus dan mata yang merah. Wanita tua itu terlihat jauh lebih tua dari yang terakhir Ghea lihat. Rambutnya yang putih acak-acakan, dan kebaya yang dia kenakan kusut. Tapi kemarahannya masih membara."Ghea," desis Bu Ratna, suaranya penuh kebencian. Dia menggenggam meja di hadapannya, kuku-kukunya mencakar permukaan kayu. "Kau! Kau yang melakukan ini padaku!"Ghea duduk di kursi di hadapan Bu Ratna, menatap mertuanya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Tatapan itu dingin, seperti es yang tidak akan pernah mencair. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Bu. Kau telah meracuniku selama lima tahun. Kau telah membunuh anakku. Kau pantas mendapatkan ini. Dan kau, memb
Pagi itu, kantor Adhitama Corp terasa lebih sunyi dari biasanya. Karyawan-karyawan yang biasanya sibuk dengan rutinitas mereka kini berjalan dengan langkah hati-hati, berbicara dengan suara pelan, seolah-olah ada sesuatu yang mengintai di sudut-sudut ruangan. Kabar tentang penahanan Bu Ratna sudah menyebar seperti api, dan rumor tentang masalah keuangan perusahaan semakin kencang berhembus. Di sudut-sudut ruangan, bisik-bisik tentang kehancuran keluarga Adhitama menjadi topik utama. Di lantai eksekutif, Arka baru saja tiba di ruang kerjanya, tubuhnya masih lelah setelah semalaman bekerja tanpa tidur. Matanya yang merah dan kerutan dalam di dahinya menjadi saksi dari malam yang panjang dan penuh tekanan."Pak Arka," sapa sekretarisnya dengan suara pelan, hati-hati. "Apakah Bapak baik-baik saja? Bapak terlihat sangat lelah."Arka melambaikan tangannya dengan lemah. "Aku baik-baik saja. Tolong siapkan kopi untukku."Tapi sebelum dia bisa duduk, pintu ruang kerjanya terbuka. Dua orang pr
"Nona Nadia," sapa pelayan itu, suaranya hati-hati. "Anda datang."Nadia mengangguk, berusaha tersenyum meskipun senyum itu terasa pahit di bibirnya. "Aku hanya ingin mengambil barang-barangku. Di mana semua orang?"Pelayan itu menunduk, wajahnya pucat. Tangannya menggenggam celemek yang dia kenakan, memutar-mutarnya dengan gelisah. "Bu Ghea sudah beberapa hari tidak kembali ke rumah ini, Nona. Tuan Arka belum pulang dari kantor sejak kemarin. Dan Bu Ratna..." dia berhenti sejenak, menelan ludah. "Bu Ratna sedang ditahan, Nona."Nadia terkejut, matanya membelalak. Meskipun dia sudah tahu tentang penahanan itu, mendengarnya dari mulut pelayan membuat semuanya terasa lebih nyata. "Ditahan? Bu Ratna ditahan? Kenapa?"Pelayan itu menggeleng pelan, matanya menatap lantai. "Saya tidak tahu detailny. Tapi semua atas laporan Ibu Ghea. Katanya... katanya Bu Ratna melakukan sesuatu yang sangat buruk pada Ibu Ghea."Nadia merasakan darahnya berubah dingin. Dia tahu apa yang dilakukan Bu Ratna. D
Malam itu, kantor Adhitama Corp terasa seperti medan perang yang sunyi. Lampu-lampu di lantai eksekutif masih menyala terang, tapi tidak ada suara aktivitas yang biasanya mengisi ruangan—hanya dentingan keyboard dan suara telepon yang sesekali berdering. Koridor yang biasanya dipenuhi oleh langkah kaki para karyawan kini lengang, seperti kota mati yang hanya dihuni oleh hantu-hantu masa lalu. Di dalam ruang kerjanya, Arka duduk di balik meja yang dipenuhi tumpukan dokumen dan berkas tagihan. Wajahnya pucat, matanya merah karena kurang tidur, dan jari-jarinya yang gemetar sibuk menandatangani surat-surat yang tidak pernah habis."Sepuluh miliar," gumam Arka, menatap angka-angka di layar komputernya. "Di mana aku bisa mendapatkan angka miliar itu dalam 3 hari?"Sejak pagi tadi, dia belum makan. Sejak kemarin, dia belum tidur. Sejak Bu Ratna ditahan, dia belum pulang ke rumah. Semua energinya tercurah untuk menyelamatkan perusahaan yang berada di ambang kehancuran—tapi semakin dia berusa







