Accueil / Romansa / Dekapan Hangat Sang Mantan / BAB 41. Terapi Pertama

Partager

BAB 41. Terapi Pertama

Auteur: Wijaya Kusuma
last update Date de publication: 2026-07-16 20:54:14

Pagi itu terasa berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di vila. Ghea sudah terbiasa dengan rutinitas sarapan dan terapi fisik yang berjalan seperti jarum jam, tapi hari ini ada sesuatu yang baru dalam jadwalnya. Dia duduk di ruang tamu yang hangat, jari-jarinya menggenggam erat cangkir teh yang sudah dingin di tangannya, menunggu dengan perasaan campur aduk.

Mira muncul di ambang pintu dengan senyum ramah. "Nona Ghea, tamu Ibu sudah datang."

Ghea mengangkat kepalanya, jantungnya berdebar sedikit leb
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
gpp Ghea ini baru awal.. perlahan kamu pasti bisa melupakan traumamu.. semangat untuk sembuh y..
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    103. Retaknya Angka

    Pagi itu, ruang keuangan Adhitama Corp terasa lebih tegang dari biasanya, seolah-olah ada awan gelap yang menggantung di atas setiap meja dan setiap kepala. Para staf yang biasanya sibuk dengan rutinitas mereka yang monoton kini terlihat gelisah dan waspada, berbisik-bisik di antara tumpukan kertas dan layar monitor yang menampilkan deretan angka kompleks.Laporan keuangan triwulan internal yang baru saja selesai disusun dengan susah payah menunjukkan angka-angka yang tidak sesuai harapan dan mengecewakan, sebuah defisit operasional yang sangat mengkhawatirkan akibat macetnya kas utama yang terus mengalir ke arah yang tidak diketahui dan tidak bisa dijelaskan.Linda, seorang staf keuangan senior yang sudah bekerja di perusahaan itu selama sepuluh tahun dengan dedikasi tinggi, menatap layar monitor dengan alis berkerut dalam dan

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    102. Aliran Dana yang Membelok

    Ruang kerja Gunawan di lantai delapan gedung Adhitama Corp terasa sunyi dan tertutup dari hiruk-pikuk aktivitas di luar. Hanya suara ketukan keyboard yang terdengar pelan dan teratur, menciptakan ritme yang konstan di tengah keheningan ruangan yang ber-AC dingin.Pria itu duduk di belakang meja kayu yang rapi dan bersih, matanya yang tajam di balik kacamata tebalnya fokus pada layar monitor yang menampilkan deretan angka-angka kompleks yang bergerak dalam pola yang rumit. Di luar ruangan yang tertutup, staf-staf keuangan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, tidak menyadari bahwa di dalam ruang tertutup itu, sebuah rencana besar dan berbahaya sedang berjalan dengan mulus tanpa ada yang curiga.Gunawan membuka sistem pembukuan rahasia yang hanya dia sendiri yang tahu keberadaannya, sebuah sistem yang dia bangun dengan hat

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    101. Dokumen Cangkang

    Galeri seni itu terletak di sebuah gedung tua bergaya kolonial yang megah di kawasan elit Jakarta Selatan, tersembunyi di balik pepohonan rindang dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Lampu-lampu temaram yang dipasang dengan strategis di setiap sudut menciptakan suasana yang hangat dan misterius, memantulkan cahaya keemasan ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan abstrak bernuansa gelap dan penuh emosi. Tidak banyak pengunjung yang datang sore itu, hanya beberapa orang yang berbisik pelan dengan penuh kekaguman di antara karya-karya seni yang menggantung di dinding dengan anggun. Suasana sepi dan sunyi, seperti tempat yang sengaja dipilih untuk pertemuan rahasia antara dua orang yang saling memahami.Ghea melangkah masuk dengan gaun hitam sederhana yang tidak mencolok, dirancang untuk membuatnya terlihat seperti pengunjung biasa yang menikmati seni. Matanya yang tajam bergerak cepat mencari sosok yang dia cari di antara bayangan-bayangan yang terbentuk oleh lampu-lampu te

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    100. Paket Misterius

    Siang harinya, rumah Adhitama terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah dinding-dinding rumah itu sendiri sedang menahan napas untuk menyaksikan drama yang akan terjadi."Ada paket untuk Nyonya Nadia," kata kurir kepada satpam yang bertugas di pos jaga dengan suara sopan. "Tolong sampaikan kepada yang bersangkutan."Satpam itu menerima paket dengan perasaan ragu dan curiga, lalu menyerahkannya kepada pelayan yang kebetulan sedang melintas di halaman dengan membawa sapu. Pelayan yang tidak menyadari apa yang ada di dalam kotak itu, membawanya masuk ke dalam rumah dengan santai dan menaruhnya di atas meja ruang keluarga tanpa banyak berpikir. Beberapa menit kemudian, Nadia yang baru saja turun dari kamarnya dengan gaun santai melangkah masuk ke ruang keluarga dan melihat kotak hitam yang tergeletak di atas meja, menunggu untuk dibuka."Apa itu?" tanya Nadia dengan suara penasaran, mengerutkan keningnya yang rapi."Paket untuk Nyonya," jawab pelayan dengan sopan. "Tidak ada nama peng

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    99. Desakan Bu Ratna Kembali

    Tengah malam tiba dengan keheningan yang mencekam di rumah Adhitama. Bulan bersinar terang di balik jendela kamar utama, menciptakan bayangan perak yang menari di atas lantai marmer. Nadia terbangun dari tidurnya yang gelisah, matanya terbuka lebar di tengah kegelapan. Nadia duduk perlahan, mencoba menyesuaikan matanya dengan kegelapan. Matanya mencari-cari di setiap sudut ruangan, dan akhirnya menemukan sosok Arka berdiri di dekat jendela balkon yang terbuka lebar. Pria itu berdiri membelakanginya, tubuhnya kaku dan tegang, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan ujung kemeja putihnya yang tipis.Dengan hati-hati, Nadia turun dari ranjang dan berjalan mendekati Arka. Kakinya yang telanjang tidak bersuara di atas lantai dingin. Dia mendekati pria itu dari belakang, lalu merentangkan tangannya untuk memeluk pinggang Arka dengan lembut."Arka, sayang... kenapa kamu tidak tidur?" bisik Nadia, suaranya penuh dengan kelembutan dan kekhawatir

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    98. Surat Palsu dari Klinik

    Siang itu, rumah Adhitama terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah dinding-dinding rumah itu sendiri sedang menahan napas untuk menyaksikan drama yang akan terjadi. Suasana yang biasanya diisi oleh suara televisi atau percakapan pelayan yang sibuk, kini hanya dipenuhi oleh keheningan yang mencekam dan berat, seperti ada sesuatu yang menggantung di udara. Meski hari libur, Arka duduk di ruang kerja dengan tubuh tegang dan pikiran yang kacau balau, mencoba fokus pada tumpukan dokumen di hadapannya yang semakin menumpuk tanpa henti, tapi pikirannya terus melayang ke ruang periksa rumah sakit beberapa hari lalu. Kata-kata dokter tentang ukuran tulang paha janin yang lebih maju tiga minggu masih terngiang di kepalanya dengan jelas dan tajam, seperti gema yang tidak mau pergi, menggerogoti setiap sudut pikirannya dan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi pada apapun yang dia coba kerjakan.Di meja di sudut ruangan, tumpukan surat mulai menumpuk tanpa dibaca selama beberapa hari terakh

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status