LOGINSasqia berdiri di balkon suite hotelnya, memandangi hamparan Pegunungan Alpen yang diselimuti cahaya senja. Di tangannya, ponsel masih menempel di telinga. Angin dingin Swiss mengibaskan pelan rambut panjangnya, tetapi tak sedikit pun mengurangi kerinduannya pada sang suami. “Mas ...,” rengeknya pelan. “Kapan nyusul aku?” Di seberang sana, Kaelix yang masih berada di ruang kerjanya menghentikan gerakan pena di tangannya. Sudut bibirnya terangkat tipis mendengar nada manja sang istri. “Sebentar lagi, sayang,” jawabnya tenang. “Di sini masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Sasqia menghembuskan napas panjang. “Aku udah seminggu di sini, loh.” “Hm.” Kaelix bergumam pelan. “Mas juga nggak bolehin aku pulang.” “Bukannya tidak boleh.” “Terus?” “Saya minta kamu menikmati liburan.” Sasqia langsung mencebik. “Liburan tanpa suami gak seru.” Kaelix terkekeh pelan. “Tadi katanya suka Swiss.” “Ya emang suka.” “Ya sudah, nikmati dulu.” “Gak mau,” jawab Sasqia cepa
Yola tersenyum hambar. “Maaf. Aku jadi banyak ngomong.” Sasqia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.” Keheningan kembali menyelimuti meja mereka beberapa saat. Suara denting sendok dari meja lain dan alunan musik pelan memenuhi sudut kafe. Sasqia menatap lembut wanita di hadapannya. “Yola ....” “Hm?" Yola mengangkat kedua alisnya. “Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Sasqia lembut. Yola mengangguk pelan. “Tentu.” “Kamu ... suka sama Mas Tristan, ya?” Pertanyaan itu membuat Yola tersenyum tipis. Namun senyum itu menyimpan begitu banyak kelelahan. “Iya.” Jawabnya singkat, tanpa berusaha disembunyikan. “Aku suka sama dia udah lama. Jauh sebelum dia berhubungan sama Mina. Jauh sebelum dia mengenal kamu.” Tatapan Yola perlahan menerawang ke luar jendela. “Dulu aku pikir ... kalau aku cukup sabar, suatu hari dia bakal melihat aku. Ternyata dia memilih Mina. Aku mundur.” “Setelah Mina meninggal, aku pikir kesempatan itu datang.” Yola tertawa lirih. “Dia gak bisa move on dari Mina selama b
| Mas, aku lagi di kafe. Aku pesen pure matcha. Kata pelayannya, minuman ini bagus buat kesehatan dan bikin kulit lebih glowing. Sasqia tersenyum kecil setelah mengirim pesan itu kepada sang suami. Beberapa detik berlalu. Tak ada balasan. Di layar ponselnya hanya terlihat satu tanda centang abu-abu, pertanda pesan itu belum sampai ke tangan Kaelix. Mungkin pria itu sedang berada di tengah rapat atau penerbangan bisnis. Sasqia tidak kecewa. Ia justru meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memandangi hamparan pegunungan Alpen yang berdiri megah di kejauhan. Udara musim semi yang sejuk berembus lembut, membawa aroma kopi dan bunga dari taman kecil di depan kafe. Perlahan senyum tipis terukir di bibirnya. “Jauh lebih tenang di sini,” gumamnya pelan. Tatapannya masih lurus ke luar jendela. “Tapi ... pasti lebih menyenangkan kalau Mas Kael ada di sebelah aku.” Ia membayangkan bagaimana suaminya akan duduk di kursi seberang, sesekali mencicipi m
Mobil hitam milik Kaelix berhenti di pelataran rumah sakit swasta tempat dokter kandungan Sasqia praktik. Mesin baru saja dimatikan ketika Kaelix membuka pintu mobil lebih dulu. “Ikut.” “Iya, Tuan.” Pelayan yang sedari tadi membawa paper bag segera mengekor di belakangnya. Di dalam kantong itu masih tersimpan beberapa botol jamu yang dibawa Shiren sebelumnya. Langkah Kaelix tenang, tetapi wajahnya sulit dibaca. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit hingga berhenti di depan ruang praktik dokter kandungan yang beberapa hari lalu memeriksa Sasqia. Tok. Tok. Tok. “Silakan masuk.” Interuksi sang dokter dari dalam ruangan. Kaelix mendorong pintu perlahan. Dokter paruh baya itu langsung berdiri menyambutnya. “Pak Kaelix?” Ia melirik ke belakang punggung pria itu sekilas. “Istri Anda tidak ikut?” “Tidak.” Kaelix menjawab singkat, lalu mempersilakan pelayannya mendekat. “Taruh di meja.” Pelayan meletakkan paper bag itu dengan hati-hati. Dokter mengernyit. “Ini apa, Pak?” Kae
“Kaelix.” Shiren menjadi orang pertama yang memecah keheningan. Karena berada di luar lingkungan kantor, ia memanggil pria itu tanpa embel-embel ‘Pak’. Saat ini, Kaelix bukan atasannya, melainkan adik iparnya. Kaelix menatapnya datar. Tatapan itu sama sekali tidak menunjukkan keramahan. “Sedang apa di sini?” Shiren tersenyum tipis. “Baru aja anter jamu buat Sasqia. Sayang sekali ternyata dia lagi di luar negeri.” Ia menghembuskan napas pelan, lalu menggeleng seolah merasa prihatin. “Oh iya ... aku juga sebenernya mau minta maaf.” Kening Kaelix sedikit berkerut. “Untuk apa?” “Ya ... soal Sasqia.” Shiren menundukkan wajah sesaat, seolah memilih kata-kata yang tepat. “Jujur aja, aku agak gak enak sama kamu. Kamu capek-capek kerja setiap hari, sementara adikku malah bersenang-senang ke luar negeri.” “Sebenernya aku udah menasihati dia. Seharusnya sebagai istri, dia menemani suaminya. Bukan menikmati liburan sendiri ketika suaminya masih berkutat dengan pekerjaan.” Pelayan yang
Miriam meletakkan cangkir tehnya perlahan. “Jadi kamu sudah tahu.” “Saya ingin mendengar penjelasan ibu.” Kaelix memasukan kedua tangannya dalam saku celana, tatapannya dingin dan menusuk. Miriam menghela napas pelan. “Ibu membuang jamu yang diminum Sasqia.” Kaelix tetap diam. “Kenapa?” “Karena ibu tidak ingin dia merusak tubuhnya sendiri." Alis Kaelix bertaut. “Maksud ibu?” Miriam menyandarkan punggungnya ke sofa. “Kael, istrimu sedang menjalani program hamil dengan dokter. Kalian sudah melakukan pemeriksaan. Sudah diberi vitamin. Sudah diberi arahan.” “Lalu untuk apa dia masih meminum ramuan herbal yang kandungannya bahkan tidak jelas?” Kaelix mendengarkan tanpa menyela. “Ibu bukan membenci obat herbal, tapi tidak semua orang cocok. Terlebih perempuan yang sedang mempersiapkan kehamilan.” Miriam menatap putranya lurus. “Rahim perempuan bukan tempat untuk bereksperimen. Satu orang merasa cocok, belum tentu orang lain akan mendapatkan hasil yang sama.” “Kalau sampai ada bah
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk
Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.
Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da







