分享

BAB 165

作者: Langit Parama
last update publish date: 2026-06-20 00:01:48

“Kenapa tiba-tiba seperti ini, Sasqia?” desis Tristan dengan nada rendah.

Satu tangannya mencengkeram ponsel erat, sementara tangan satunya menggenggam setir kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.

Belum sempat Sasqia menjawab, Tristan kembali membuka suara. “Di mana kamu sekarang? Di rumah sakit, kan? Saya akan ke sana.”

“Nggak tiba-tiba, Mas,” balas Sasqia cepat sebelum Tristan benar-benar mengakhiri panggilan. “Saya udah mikirin ini berhari-hari.”

“Sasqia ....”

“Jadi saya minta maaf ka
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 166

    “Selamat siang, Pak.” Jevier melangkah masuk ke ruang rawat VIP sambil membawa tablet medis di tangannya. Mahendra yang sedang bersandar di atas brankar perlahan menoleh. Wajahnya masih terlihat pucat, namun kondisinya jauh lebih baik dibandingkan kemarin. “Siang, Dok,” sahutnya pelan. “Bagaimana kondisi hari ini? Masih pusing?” tanya Jevier ramah. “Sedikit lebih enakan.” “Syukurlah.” Jevier tersenyum tipis sebelum mendekat ke sisi ranjang dan memeriksa beberapa data medis yang tergantung di ujung tempat tidur. “Bapak sudah bertemu dengan pendonor ginjal Bapak?” Mahendra mengangguk. “Sudah. Barusan beliau keluar.” “Bagus.” Jevier mengangguk pelan. “Beliau memang sempat meminta izin pada saya untuk menjenguk.” Pria itu lalu menutup tabletnya. “Sasqia ke mana, Pak?” Mahendra melirik ke arah pintu. “Tadi keluar sebentar. Katanya mau kembali lagi nanti.” “Begitu, ya.” Ada jeda singkat. Jevier tampak berpikir sesuatu, lalu ia kembali menatap Mahendra. “Kalau boleh tahu, Pak.”

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 165

    “Kenapa tiba-tiba seperti ini, Sasqia?” desis Tristan dengan nada rendah. Satu tangannya mencengkeram ponsel erat, sementara tangan satunya menggenggam setir kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Belum sempat Sasqia menjawab, Tristan kembali membuka suara. “Di mana kamu sekarang? Di rumah sakit, kan? Saya akan ke sana.” “Nggak tiba-tiba, Mas,” balas Sasqia cepat sebelum Tristan benar-benar mengakhiri panggilan. “Saya udah mikirin ini berhari-hari.” “Sasqia ....” “Jadi saya minta maaf karena baru berani ngomong sekarang.” Napas Tristan terdengar berat. “Mas laki-laki yang baik,” lanjut Sasqia dengan suara bergetar. “Dan pantas mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari saya.” “Saya nggak mau dengar omong kosong seperti itu.” “Tapi itu kenyataannya.” Air mata mengalir di pipi Sasqia. “Saya cuma perempuan dari keluarga yang berantakan. Keluarga saya jadi bahan omongan orang. Dan saya juga bukan wanita yang seutuhnya, tidak pantas untuk Mas yang masih ....” Rahang Trist

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 164

    “Papa sama Mama kenapa berantem?” Suara kecil Sherly membuat Raka yang sedang terduduk di ruang tengah perlahan mengangkat kepalanya. Bocah itu berdiri beberapa langkah darinya sambil memeluk boneka kesayangannya erat-erat. Matanya sembab. Sejak semalam ia ikut menangis karena melihat ibunya terus menangis. “Kenapa Mama nangis?” tanya Sherly lagi lirih. “Apa yang Papa lakuin ke Mama?” Dada Raka terasa seperti diremas. Ia menatap wajah putrinya lama. Wajah kecil yang selama ini selalu menyambutnya dengan tawa dan pelukan. Kini hanya ada kebingungan di sana. Raka mengulurkan tangannya. “Sini sama Papa.” Sherly ragu sejenak, lalu berjalan mendekat. Raka langsung memeluk tubuh kecil putrinya erat. Sangat erat. Seolah takut kehilangan satu-satunya hal baik yang masih tersisa dalam hidupnya. “Papa bikin kesalahan, Nak.” “Kesalahan apa?” Raka memejamkan mata, tenggorokannya terasa tercekat. “Kesalahan yang bikin Mama sedih.” “Kalau salah kan tinggal minta maaf.” Kalimat polos it

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 163

    Malam telah larut ketika Sasqia berdiri di depan ruang pemulihan ayahnya. Dari balik kaca, ia dapat melihat Mahendra terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Jarum infus menancap di punggung tangannya, sementara berbagai alat medis terus memantau kondisinya. Sejak operasi selesai, Sasqia hampir tidak beranjak dari sana. Di belakangnya, Tristan masih setia menemani. Pria itu hanya pulang sebentar untuk mandi, berganti pakaian, dan makan. Setelah itu, ia kembali lagi ke rumah sakit tanpa banyak bicara. “Saya tahu penyebab lain yang membuat Papa kamu drop.” Suara Tristan yang tiba-tiba terdengar memecah keheningan. Tubuh Sasqia sedikit menegang, perlahan ia membalikkan badan dan menatap pria itu. “Mas tahu dari mana?” tanyanya pelan. Tristan menghembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada lantai beberapa saat sebelum kembali menatap Sasqia. “Ibu saya yang memberitahu.” Seketika rahang Sasqia mengeras. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. “Mas ....” “Saya tidak b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 162

    “Tuan Kaelix?” “Benar.” Pria itu mengalihkan pandangannya ke jendela kamar. “Sebenarnya pertemuan itu memang sudah direncanakan sejak awal. Saya dipersiapkan sebagai kandidat pendonor ginjal untuk Pak Mahendra.” Napas Sasqia tercekat. “Jadi ... sejak dulu?” “Ya.” “Tuan Kaelix yang mengurus semuanya?” Pria itu tersenyum kecil. “Saya tidak tahu sampai sejauh mana yang beliau lakukan. Tapi yang saya tahu, sejak awal beliau memang sangat serius memikirkan kondisi kesehatan Pak Mahendra.” Sasqia terdiam. Jemarinya perlahan saling menggenggam. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. “Pak ....” panggil Sasqia pelan. “Hm?” “Terima kasih.” Pria itu tersenyum hangat. “Kamu tidak perlu berterima kasih pada saya.” Sasqia mengernyit. “Kalau memang ingin berterima kasih ...,” lanjut pria itu pelan, “Orang yan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 161

    Sasqia baru saja tiba di rumah sakit. Dengan langkah tergesa, ia memasuki lobby sambil menggenggam erat tas di tangannya. Wajahnya masih terlihat pucat setelah pergi menemui seseorang yang diharapkannya dapat menyelamatkan sang ayah. “Sasqia.” Suara yang memanggil namanya membuat wanita itu tersentak pelan. Ia segera menoleh. “Mas Tristan?” Tristan berjalan menghampirinya dengan langkah cepat. Raut wajah pria itu terlihat tegang. “Kamu dari mana saja?” tanyanya. “Nomor kamu saya hubungi terus tidak aktif.” Sasqia menundukkan pandangan sesaat. “Sa-saya tadi menemui seseorang yang memiliki donor ginjal untuk Papa, Mas,” jawabnya lirih, sengaja tidak menyebut nama orang tersebut. Tristan menghembuskan napas panjang, seolah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya. “Kamu tidak perlu memikirkan itu lagi.” Kening Sasqia langsung berker

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 36

    Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da

    last update最後更新 : 2026-03-22
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 35

    “Dok ….” Sasqia perlahan menarik kembali tangannya dari genggaman Jevier. Gerakannya halus, tapi tegas. “Terima kasih atas niat baiknya. Tapi benar, saya tidak ingin merepotkan Anda.” “Saya tidak merasa direpotkan, Sasqia,” balas Jevier tenang. Nada su

    last update最後更新 : 2026-03-22
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 27

    “Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir membangunkan Tristan yang duduk di kursi belakang. Ia baru saja tiba di vila tempat kakeknya beristirahat. Sejak mendarat di bandara, ia langsung menuju ke sini—bahkan sempat terlelap sebentar di perjalanan. Ia membuka mata perlahan, lalu keluar dari mobi

    last update最後更新 : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 30

    “Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i

    last update最後更新 : 2026-03-21
更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status