LOGIN“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.”
“Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, sikapnya penuh tantangan. “Aku dengar pramugari itu baru bekerja beberapa tahun. Masih junior.” “Benar. Tapi dia yang membantu Ayah saat muntah di pesawat.” Miriam mengeruKaelix menarik Sasqia ke sisinya dengan gerakan tegas namun terkontrol, lengannya melingkar posesif di pinggang wanita itu, seolah menandakan kepemilikan yang tak bisa diganggu gugat. “Sudah cukup,” ucap Kaelix dengan suara rendah dan dingin, tatapannya tajam menusuk Tristan. “Jangan sentuh dia lagi.” Tristan mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih, wajahnya memerah menahan amarah. “Kaelix! Kamu—” “Dia calon istri saya,” potong Kaelix tegas, suaranya tetap tenang tapi penuh kekuasaan. “Mulai sekarang, jangan dekati Sasqia lagi. Jangan ajak bicara. Jangan ganggu. Dia milik saya.” Sasqia tersentak dalam pelukan Kaelix, tubuhnya menegang. Ia melirik Tristan dengan tatapan bingung dan bimbang, tapi Kaelix langsung mempererat pelukannya, seolah tak memberi ruang sedikit pun untuk keraguan. Tristan tertawa sinis, amarahnya meledak. “Milik kamu? Dia bukan barang, Kael! Kamu pikir dengan melamarnya seenak jidat, dia langsung jadi milikmu? Sasqia masih berhak memilih!” Kaelix han
“Malam itu, kamu bersama saya. Di hotel yang sama, kamar kita berhadapan. Kenapa … kenapa kamu tidak meminta bantuan saya, Sasqia?” desis Tristan dengan suara dingin, tapi ada getar amarah dan penyesalan yang tertahan. Pagi itu cerah, angin sepoi menyapu atap rumah sakit. Tristan membawa Sasqia ke sana, jauh dari keramaian. Sinar matahari menyinari wajah mereka, tapi ketegangan di antara keduanya terasa jauh lebih panas. Sasqia berdiri dengan kepala tertunduk, menatap lantai beton di bawahnya. Jarinya saling meremas gelisah. “M-maksud Mas apa?” tanyanya terbata. Tristan mengeluarkan tangan dari saku celana, lalu dengan lembut namun tegas mencapit dagu Sasqia, memaksa wanita itu mendongak. Mata mereka akhirnya bertemu. “Saya sudah tahu siapa yang menyentuhmu malam itu,” ucap Tristan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya bergejolak hebat. Sasqia menelan ludah susah payah. “Mas ….” “Kalau malam itu kamu datang ke saya, meminta tolong … sampai detik ini tubuhmu tid
Untuk pertama kalinya sejak Mahendra dirawat di rumah sakit lima hari lalu, Soraya akhirnya memberanikan diri menjenguk suaminya. Di tangannya ia membawa sebuah kotak makanan hangat yang ia masak sendiri, sesuatu yang sudah lama tak ia lakukan. Langkahnya terasa berat di lobby rumah sakit. “Aku belum siap ketemu Mas Mahen,” gumamnya lirih, suaranya hampir hilang ditelan debar jantung. “Aku bahkan gak tahu harus bilang apa.” “Gimana kalau dia drop lagi begitu lihat aku? Gimana kalau dia gak mau maafin aku? Gimana kalau … dia malah menggugat cerai?” Napas Soraya tercekat. Bayangan itu membuat lututnya lemas. “Bu Soraya.” Suara berat yang tiba-tiba muncul dari belakang membuat Soraya tersentak. Ia buru-buru menoleh. Di sana berdiri Jevier mengenakan jas dokter putihnya, tersenyum sopan namun tatapannya tajam. “Anda ingin menjenguk Pak Mahendra?” tanya Jevier ramah. “Mari saya antar.” Tanpa menunggu jawaban, Jevier berjalan mendahului. Soraya hanya bisa mengekor di belakangnya d
“Kak Shiren dan Mas Raka akan bercerai,” ucap Sasqia pelan setelah mereka selesai makan malam. Suasana di ruangan akhirnya sedikit lebih tenang, memberinya keberanian untuk membuka percakapan yang selama ini tertahan. Mahendra menutup mata sejenak, punggungnya bersandar lelah di brankar rumah sakit. Napasnya terdengar berat. “Papa tidak setuju.” Mata Sasqia menyipit tajam. “Kenapa Papa gak setuju? Mas Raka udah hancurin semuanya, Pa.” Tatapan Mahendra perlahan beralih ke putrinya. Ada kesedihan yang dalam di sana. “Lalu bagaimana dengan nasib Sherly? Dia masih kecil, Sasqia. Bagaimana kalau Papa dan Mamanya berpisah?” Mendengar nama keponakannya, napas Sasqia langsung tercekat. Dada terasa sesak. Untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata. “Tapi … kesalahan Mas Raka gak bisa dibenarkan,” gumamnya akhirnya, suaranya bergetar. “Dia selingkuh, Pa. Dan selingkuhnya dengan … dengan Mama.” Sasqia tak sanggup melanjutkan. Kata-kata itu terasa seperti duri di lidahnya. Satu tangan Mahendra
“Kael,” suara Miriam bergetar menahan amarah, “Kamu tahu benar ibu tidak pernah menyukai perempuan itu. Lalu kenapa kamu malah melamarnya? Setelah adikmu gagal menikah dengan cara yang memalukan, kamu justru mengulangi kesalahan yang sama?” Kaelix tetap duduk dengan tenang, ekspresinya tak tergoyahkan. Hanya sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyum tipis, seolah seluruh kemarahan ibunya hanyalah angin lalu. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab dengan suara rendah dan terkendali, “Saya akan memikirkan tanggal yang tepat untuk melamar ke rumahnya. Setelah itu, kita bahas soal pernikahan.” Tanpa menunggu balasan, Kaelix bangkit dari kursi dengan gerakan tenang. Ia berbalik dan meninggalkan meja makan begitu saja, seolah percakapan itu sudah selesai. Prang! Miriam melempar sendoknya dengan keras ke atas meja. Suara logam itu menggema nyaring di ruang makan yang tiba-tiba hening. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah karena menahan emosi yang membara. “Mir ….” tegur Remme
Sasqia baru saja kembali ke rumah sakit dan melangkah masuk ke ruang rawat VIP tempat ayahnya dirawat. Begitu melihat putrinya, Mahendra yang semula terdiam langsung mengangkat pandangannya. “Kamu dari mana saja, Sas?” tanyanya serius. Mendengar suara sang ayah kembali terdengar setelah sekian lama membuat Sasqia tersenyum kecil. “Papa udah mau ngobrol.” Mahendra tak langsung menjawab. Beberapa saat lalu dia memang memilih diam. Bukan karena tidak mampu berbicara, melainkan karena setiap kali membuka mulutnya, rasa sakit yang menyesakkan itu kembali menyeruak dan membuat dadanya sesak. Bayangan kejadian yang menghancurkan keluarganya terus berputar di kepala. Namun ada hal lain yang harus dia pastikan. “Apa benar kamu membatalkan pernikahan dengan Tristan?” Pertanyaan itu keluar tanpa basa-basi. Sasqia langsung menunduk. “Jawab Papa.” Mahendra sedikit mendesak. Keheningan menggantung beberapa detik. “Apa alasan kamu melakukan itu?” lanjut Mahendra, kali ini dengan nada yan
“Selamat pagi, Tuan,” sapa Sasqia ketika langkahnya terhenti di ambang ruang tengah vila. Ia sempat terperanjat. Di sana, sang kakek dan Kaelix duduk santai seolah telah lama menikmati pagi. Dua cangkir teh hangat mengepul pelan di atas meja rendah di antara mereka. “Bergabunglah dengan kami,” pi
Kaelix baru saja selesai mandi. Tubuh atletisnya hanya terbalut handuk putih yang melingkar rendah di pinggangnya yang bidang.“Sial, cuma ada handuk. Tidak ada bathrobe,” gumamnya pelan.Udara malam terasa cukup dingin hingga membuatnya beberapa kali mendecih kesal.Begitu keluar dari kamar mandi,
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi
“Ternyata … kamu seorang pramugari.” Kaelix menyunggingkan senyum tipis. Tatapannya menelusuri sosok Sasqia dari ujung rambut hingga sepatu dengan sorot mata yang terlalu tajam untuk sekadar menilai seragam. Sasqia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering mendadak. “Saya permisi, Tuan.” “Ah,







