Share

BAB 166

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-06-20 00:02:09

“Selamat siang, Pak.”

Jevier melangkah masuk ke ruang rawat VIP sambil membawa tablet medis di tangannya.

Mahendra yang sedang bersandar di atas brankar perlahan menoleh. Wajahnya masih terlihat pucat, namun kondisinya jauh lebih baik dibandingkan kemarin.

“Siang, Dok,” sahutnya pelan.

“Bagaimana kondisi hari ini? Masih pusing?” tanya Jevier ramah.

“Sedikit lebih enakan.”

“Syukurlah.”

Jevier tersenyum tipis sebelum mendekat ke sisi ranjang dan memeriksa beberapa data medis yang tergantun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Vitta Achmad
suka sm badas nya kaelix emang paling pas sama kaelix aja sudah dp duluan juga khan yaa ...
goodnovel comment avatar
Tati S
saskia seberapa cantik dan indahnya sampe tiga cowok hebat berkualitas saling memperebutkannya .. menarik......
goodnovel comment avatar
Nia Khair
gak pernah sebegininya ngawatirin hidup orang,,wkwkwkwk gimana pula nasib Saskia ,, hadeh pusing akuuuu,, berasa jadi sasqia
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 304

    Ruang tamu mendadak terasa begitu sunyi setelah mobil polisi meninggalkan halaman rumah. Kaelix dan Mahendra kini duduk saling berhadapan. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun yang membuka suara. Kaelix akhirnya memecah keheningan. “Sekali lagi saya minta maaf, Pa.” Mahendra mengangkat pandangannya. “Saya sudah membuat keributan di rumah ini. Saya juga sadar, apa yang saya lakukan mungkin terlihat berlebihan.” Kaelix menghembuskan napas pelan. “Saya melaporkan istri dan anak Papa sendiri kepada pihak kepolisian. Saya tahu keputusan ini berat. Apalagi Shiren masih memiliki Sherly. Anak itu sudah kehilangan ayahnya, dan sekarang harus melihat ibunya dibawa ke kantor polisi.” Tatapan Kaelix perlahan menunduk. “Percayalah, Pa. Ini bukan keputusan yang saya ambil karena emosi. Saya hanya ingin memberikan keadilan untuk istri saya. Saya juga ingin mencari tahu siapa yang harus bertanggung jawab.” Rahangnya mengeras. “Suami mana yang bisa diam ketika melihat istrinya menderita sela

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 303

    Sore mulai berganti malam. Lampu-lampu taman di halaman rumah telah menyala sejak beberapa menit lalu. Namun, sosok yang ditunggu Sasqia tak kunjung muncul. Wanita itu berdiri di teras rumah sambil sesekali melongok ke arah gerbang. “Mas Kael kok belum pulang, ya?” gumamnya pelan. Ia melirik layar ponselnya. Jarum jam sudah melewati waktu kepulangan sang suami. “Biasanya kalau ada rapat atau lembur, Mas pasti ngabarin.” Keningnya berkerut tipis “Atau ... jangan-jangan masih ada urusan di kantor?” Sasqia menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum sendiri. “Aneh. Baru beberapa jam gak ketemu aja aku udah sekangen ini.” Padahal mereka baru saja pulang dari Swiss. Baru semalam mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Namun entah mengapa, ia tetap ingin segera melihat wajah sang suami. Tanpa berpikir panjang, Sasqia menekan nama Mas Kael di layar ponselnya. Beberapa detik berlalu, panggilan itu tidak tersambung. ‘Nomor yang Anda tuju sedang berada dalam panggilan lain.’ Sasqia me

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 302

    Shiren menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat. Baru setelah itu ia menghembuskan napas panjang, seolah beban besar baru saja terlepas dari pundaknya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi, lalu menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. “Untung aja,” gumamnya lirih. “Tadi hampir ketahuan.” Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka mata. Keningnya perlahan berkerut. “Tapi kenapa Kaelix sampe bawa jamu itu ke laboratorium?” Jemarinya tanpa sadar mengetuk permukaan meja. “Dia bener-bener selidikin itu.” Shiren menggigit bibir bawahnya pelan. “Padahal itu cuma jamu. Gak mungkin dia sampe sejauh itu kalau bukan karena bener-bener curiga dari awal.” Ia mengepalkan tangan di atas meja. “Untungnya tadi aku cepet alihin semuanya ke Mama.” Setidaknya untuk sementara, perhatian Kaelix sudah beralih. _____ Tak terasa, jam kerja pun berakhir pada pukul lima sore. Satu per satu karyawan mulai meninggalkan gedung perusahaan. Shiren ikut melangkah keluar sambil menyampirkan tas di bahunya.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 301

    Siang itu, suasana kantor kembali sibuk setelah jam makan siang usai.Shiren baru saja menyalakan kembali komputernya ketika salah seorang rekan kerja menghampiri mejanya.“Shiren.”Wanita itu mengangkat kepala. “Iya?”“Pak Kaelix minta kamu ke ruangannya. Sekarang.”Shiren mengernyit tipis. “Kaelix? Maksudku ... Pak Kael?”“Iya. Beliau bilang sekarang juga.”Rekan kerjanya kemudian berlalu begitu saja setelah menyampaikan informasi tersebut.Sementara Shiren masih terduduk beberapa saat, perlahan sudut bibirnya terangkat.‘Kaelix manggil aku buat apa?’Jarang sekali pria itu memanggilnya secara langsung, apalagi di luar urusan pekerjaan. Jangan-jangan ada sesuatu yang ingin dibicarakan?Senyum Shiren semakin mengembang. Atau Kaelix mulai melihat keberadaannya?Cepat-cepat ia merapikan rambut, mengoleskan sedikit lipstik yang mulai memudar, lalu mematikan layar komputer.Dengan langkah anggun, ia berjalan menuju lantai paling atas, tempat ruang kerja sang direktur utama berada.Tangan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 300

    Seminggu kemudian. Pesawat yang membawa Kaelix dan Sasqia akhirnya mendarat mulus di Bandara Jakarta. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, Sasqia menoleh ke luar jendela sambil tersenyum tipis. “Rasanya cepet banget.” Kaelix yang duduk di sampingnya melirik sekilas. “Apa?” “Liburannya.” Sasqia mengembuskan napas pelan. “Padahal aku masih betah di Swiss. Kalau bukan karena Mas harus kerja, mungkin aku belum mau pulang.” Kaelix tersenyum kecil. “Nanti kita ke sana lagi.” “Serius?” “Iya.” “Kalau program hamil sudah selesai,” ia berhenti sejenak, lalu menggeleng pelan. “Maksud saya kalau semuanya sudah lebih tenang. Saya akan ajak kamu lagi.” Sasqia menatap suaminya beberapa detik sebelum tersenyum lebar. “Janji?” Kaelix mengangguk. “Janji.” Tak lama kemudian, keduanya berjalan keluar dari area kedatangan. Di luar bandara, Zidan sudah berdiri menunggu di samping mobil hitam yang mengilap. “Selamat datang kembali, Tuan. Nyonya.” Zidan membungkukkan badan hormat. Kaelix menga

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 299

    Dokter wanita paruh baya itu menutup map hasil pemeriksaan, lalu mengangkat pandangannya kepada Kaelix. “Secara keseluruhan kondisi Anda sangat baik, Pak Kaelix.” Wanita itu tersenyum tipis. “Tubuh Anda sehat. Kualitas sperma juga berada di atas rata-rata. Peluang Anda untuk memiliki keturunan tidak ada masalah.” Kaelix mengangguk pelan, tetapi wajahnya tetap sulit ditebak. “Kalau begitu ….” gumamnya lirih. Dokter memperhatikan perubahan raut wajah pria di hadapannya. “Apa yang membuat Anda sampai ingin memeriksakan diri?” Beberapa detik Kaelix terdiam. Bayangan percakapannya dengan Tristan di lobi hotel kembali terlintas di benaknya. ‘Siapa tahu yang membuat Sasqia sulit hamil selama ini justru suaminya.’ Kaelix menarik napas pelan. “Saya tidak pernah meragukan kondisi tubuh saya. Namun saya hanya ingin memastikan. Kalau memang ada masalah, saya ingin mengetahuinya lebih dulu.” Dokter mengangguk memahami. Ia kembali membuka lembar hasil pemeriksaan. “Paru-paru Anda juga bers

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 36

    Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status