登入“Shiren, tolong buatkan kopi untuk Pak Kaelix, ya.” Salah seorang office girl senior menyodorkan secarik kertas berisi pesanan. Shiren yang sejak tadi bersandar santai di pantry langsung mengangguk. “Siap, Mbak.” Tangannya mulai meracik kopi dengan cekatan. Sambil menunggu air panas menetes perlahan dari mesin, sudut bibirnya terangkat tipis. “Lumayan ...,” gumamnya pelan. “Harus sering-sering cari perhatian begini. Toh hubungan Kaelix sama Sasqia lagi gak baik.” Ia terkekeh kecil. “Lagian bulan depan aku juga udah pindah divisi. Gak bakal lama-lama jadi office girl.” Beberapa menit kemudian, secangkir kopi hangat telah siap. Shiren merapikan tatakan cangkir, lalu membawanya menuju lantai eksekutif. _____ Begitu keluar dari lift, ia langsung disambut sekretaris pribadi Kaelix yang tengah berdiri di depan meja kerjanya. “Oh, Mbak Shiren. Biar saya yang antarkan ke dalam.” Shiren menggeleng halus. “Gak usah, Mbak. Kebetulan saya juga mau ngobrol sebentar sama Pak Kaelix.” Se
“Mobil sudah siap mengantar Bapak ke restoran untuk makan siang,” lapor Arlan setelah rapat bersama jajaran divisi berakhir. Kaelix menghembuskan napas pelan. Sejujurnya, ia sama sekali tidak berselera makan. Namun, pekerjaannya masih menumpuk hingga malam. Ia tetap membutuhkan tenaga. Pria itu bangkit dari kursi kerjanya, merapikan jas yang dikenakannya, lalu melangkah menuju pintu dengan Arlan mengikuti beberapa langkah di belakang. Klek. Begitu pintu terbuka, Kaelix mendapati Sasqia sudah berdiri di depan ruangannya, tangan kanannya terangkat, hendak mengetuk. “Mas ...,” senyum manis langsung merekah di wajah cantik wanita itu. “Aku dateng bawain makan siang buat kamu.” Ia mengangkat paper bag yang dibawanya dengan antusias. “Aku masak sendiri. Masih hangat.” Tatapan Kaelix jatuh pada paper bag itu selama beberapa detik. Lalu kembali menatap wajah istrinya. “Saya tidak meminta.” Kalimat itu terdengar datar, cukup membuat senyum Sasqia sedikit memudar. “Aku tahu,” balasnya
Pagi itu, suasana kantor mulai ramai oleh para karyawan yang baru datang. Di pantry lantai utama, Shiren tengah berdiri sambil menikmati secangkir kopi. Pagi itu pekerjaan belum terlalu padat. Ia pun bersandar santai di meja pantry. Tanpa sadar, jemarinya memainkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Kilauan berlian kecil pada cincin itu tampak memantulkan cahaya lampu. “Lumayan,” gumamnya pelan. “Toh Sasqia punya banyak.” Tatapannya kembali jatuh pada cincin tersebut. “Pasti dia juga gak bakal sadar kalau satu hilang.” Senyum tipis penuh kemenangan terukir di wajahnya. “Shiren!” Suara seseorang membuatnya buru-buru menurunkan tangan. Ia menoleh dan mendapati salah seorang supervisor berjalan menghampirinya. “Iya, Bu?” “Pak Arlan minta kamu ke ruang HRD sekarang.” Shiren mengernyit. “HRD?” “Iya.” “Ada masalah sama kerjaan saya?” tanya Shiren dengan raut wajah panik. Supervisor itu justru tersenyum. “Saya juga kurang tahu. Tapi se
Pukul sembilan malam, Sasqia sudah duduk di ruang tamu dengan kedua tangan memeluk lutut. Tatapannya berkali-kali beralih ke arah pintu utama. Sebelumnya ia sempat mengirim pesan kepada sang suami, menanyakan apakah Kaelix sudah makan dan apakah akan pulang larut malam. Balasan yang diterimanya hanya satu kata. Iya. Tak ada kalimat lain. Tak ada pertanyaan balik seperti biasanya. Biasanya Kaelix akan menanyakan apakah ia sudah makan, atau mengingatkannya agar tidak menunggu terlalu malam. Namun malam ini tidak ada satu pun. Sasqia menghembuskan napas pelan. Ia kembali melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam. Rumah itu masih sunyi. “Kalau aku kirim pesan lagi ...,” gumamnya lirih. “Paling jawabannya singkat lagi.” Sesaat kemudian ia menggeleng pelan. “Yaudah ... coba aja.” Jemarinya segera meraih ponsel di atas meja. Kali ini ia tidak mengirim pesan. Ia langsung menekan nama Mas Kael pada daftar kontak. Panggilan tersambung, namun hanya beberapa detik. “Nomor yang Anda tuju
Suara mesin mobil Kaelix perlahan menghilang dari halaman rumah. Sasqia masih berdiri di depan pintu, tatapannya kosong. Baru beberapa detik yang lalu suaminya berada di hadapannya. Kini rumah sebesar itu kembali terasa sunyi. Pelan-pelan ia melangkah menuju kamar, pintu ditutup tanpa suara. Begitu berada di dalam, seluruh tenaga di tubuhnya seakan lenyap. Sasqia terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya akhirnya luruh begitu saja. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isaknya pecah. “Mas ...,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Maaf ....” Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya bahwa satu keputusan yang ia anggap sepele justru melukai orang yang paling tulus mencintainya. Bukan karena Kaelix marah. Bukan pula karena pria itu meninggikan suara. Yang paling menyakitkan adalah tatapan datar itu. Tatapan yang seolah membangun jarak di antara mereka. Sasqia memeluk kedua lututnya, dadanya terasa sesak. Bar
“Yaaah ... udah mau pulang.” Sherly langsung mengerucutkan bibirnya. “Sherly gak bisa berenang lagi kayak semalem.” “Di rumah juga ada kolam renang, Sayang,” hibur Mahendra sambil mengusap kepala cucunya. “Tapi gak sebagus di rumah Om Kael,” rengek Sherly. “Kolamnya lebih gede, lampunya banyak, terus ada Om Kael yang ngajarin Sherly berenang.” Sudut bibir Kaelix terangkat tipis. “Hari lain Om ajarin lagi.” Bola mata Sherly berbinar. “Janji?” serunya semangat, tatapannya beralih pada Kaelix. “Janji.” Sherly langsung tersenyum puas. Sementara itu, Soraya diam-diam memperhatikan Sasqia. Sejak semalam, putri bungsunya itu tampak lebih banyak diam. “Sasqia.” Sasqia menoleh. “Ikut Mama sebentar.” Tanpa menunggu jawaban, Soraya lebih dulu berjalan menuju taman samping rumah. Sasqia sempat melirik Mahendra dan Kaelix. Tak ada yang berkata apa-apa. Ia pun menyusul ibunya. “Ada apa, Ma?” Soraya memandang rumah megah di hadapannya. “Rumah kamu bagus.” Sasqia hanya te
“Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s
“Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk







