مشاركة

BAB 248

مؤلف: Langit Parama
last update تاريخ النشر: 2026-07-21 00:07:35

Suara mesin mobil Kaelix perlahan menghilang dari halaman rumah.

Sasqia masih berdiri di depan pintu, tatapannya kosong. Baru beberapa detik yang lalu suaminya berada di hadapannya. Kini rumah sebesar itu kembali terasa sunyi.

Pelan-pelan ia melangkah menuju kamar, pintu ditutup tanpa suara. Begitu berada di dalam, seluruh tenaga di tubuhnya seakan lenyap.

Sasqia terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya akhirnya luruh begitu saja.

Ia mena
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 264

    “Ada apa, Martha?” tanya Miriam ketika melihat asisten pribadinya datang tergesa-gesa siang itu. Martha menutup pintu ruang kerja lebih dulu sebelum melangkah mendekat. Raut wajahnya tampak serius. “Saya baru mendapat informasi, Nyonya.” Miriam meletakkan cangkir tehnya di atas meja. “Informasi apa?” “Tuan Kaelix membawa Nyonya Sasqia ke rumah sakit pagi tadi.” Alis Miriam langsung bertaut. “Rumah sakit?” “Iya, Nyonya.” “Untuk apa?” “Pemeriksaan kandungan.” Martha menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Tuan Kaelix ingin memastikan kondisi rahim istrinya setelah mengonsumsi pil kontrasepsi.” Jari-jari Miriam yang semula tenang di atas meja perlahan menegang. “Apa ... apa Kael juga tahu kalau saya—” “Tidak.” Martha buru-buru menggeleng. “Setidaknya sampai informasi yang saya dapat, Tuan Kaelix belum mengetahui siapa yang berada di balik semua itu.” “Dan ... Nyonya Sasqia juga tidak pernah menyebut nama Anda sampai detik ini.” Helaan napas panjang akhirnya keluar dari b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 263

    “Apa yang kamu lakukan tadi?” tanya Tristan dingin. Jevier yang sedang menuangkan segelas air minum menghentikan gerakannya. Ia menoleh sekilas ke arah sang kakak. “Maksudnya?” “Memeluk Sana.” Nada bicara Tristan terdengar datar, tetapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih tajam. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Atau ... kamu mulai ingin mengakui kalau dia anak kandungmu?” Jevier terkekeh pelan, seolah menganggap ucapan itu tak lebih dari lelucon. “Saya hanya memeriksa pasien.” “Pasien?” Tristan menyandarkan bahunya pada kusen pintu. “Sana tidak sakit separah itu.” “Dia demam sejak kemarin.” Jevier menjawab tanpa nada emosi. “Pagi tadi saya memeriksanya. Sebagai dokter, kalau ada orang sakit di depan mata saya, tentu saya akan membantu.” Tristan mendengus pelan. “Aneh.” “Apa yang aneh?” Jevier menyipitkan matanya. “Barusan Sana bilang dia sehat-sehat saja.” “Itu karena dia tidak ingin kamu khawatir.” Jevier menatap lurus ke arah kakaknya. “Dia sendiri yang bila

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 262

    “Mas ... udah gak marah sama aku?” tanya Sasqia pelan. Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan bandara, membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan menjelang sore. Kaelix, yang duduk di sampingnya, menoleh sekilas. “Sejak kapan saya marah sama kamu?” Sasqia tersenyum tipis. “Maksudnya ... masih kecewa.” Tak ada jawaban. Kaelix kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membiarkan deretan gedung pencakar langit berganti satu demi satu. Melihat tak ada respons, senyum Sasqia perlahan memudar. “Berarti ... Mas masih kecewa sama aku, ya?” Keheningan kembali menyelimuti mobil. Beberapa detik kemudian, Kaelix akhirnya membuka suara. “Apa kamu benar-benar sudah berhenti minum obat itu?” Pertanyaan itu membuat Sasqia langsung menoleh. “Udah, Mas.” Ia mengangguk cepat. “Aku benar-benar udah berhenti.” Tanpa ragu, ia meraih kedua tangan suaminya dan menggenggamnya erat. “Aku mau punya anak dari Mas.” Tatapan Kaelix jatuh pada jemari kecil yang menggenggam tan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 261

    “Om Jev ....” Langkah Jevier yang semula hendak menuju ruang kerjanya terhenti. Ia menoleh ke arah kamar Sana yang pintunya terbuka sedikit. Tanpa banyak berpikir, ia mengubah arah langkahnya. Di atas ranjang, Sana terbaring di balik selimut tebal. Wajah mungilnya tampak pucat, sementara sebuah kompres penurun demam menempel di dahinya. “Kamu kenapa?” tanya Jevier pelan sembari mendekat. “Sana sakit, Om,” jawab gadis kecil itu lirih. “Om, kan, dokter. Periksa Sana, ya, biar cepet sembuh.” Jevier tersenyum tipis. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sana. Masih hangat. “Sudah diperiksa dokter?” Sana mengangguk pelan. “Udah. Kata Nenek cuma demam biasa.” “Kamu sudah minum obat?” “Udah.” “Kalau begitu tinggal istirahat. Besok juga pasti lebih enakan.” Sana menghembuskan napas pelan. “Sana gak mau sakit lama-lama.” “Kenapa?” Jevier mengernyitkan alisnya. “Nanti Papa Tristan sedih kalau pulang kerja lihat Sana masih demam.” Senyum di wajah Je

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 260

    “Mama ... bajunya bagus.” Sherly bertepuk tangan kecil melihat ibunya yang pagi itu sudah berdiri rapi dengan seragam barunya. “Mama jadi cantik.” Shiren tersenyum lebar. Ia merapikan kerah seragamnya, lalu berputar pelan di depan putrinya. “Iya, dong. Sekarang Mama udah naik jabatan. Jadi seragamnya juga beda.” Sherly mengangguk kagum. “Lebih bagus daripada yang dulu.” “Ya harus, dong,” sahut Shiren dengan nada bangga. “Sekarang Mama udah bukan office girl lagi.” Bocah itu tersenyum semakin lebar. “Berarti gaji Mama banyak?” Shiren terkekeh pelan, lalu berjongkok hingga sejajar dengan tinggi putrinya. “Iya. Kenapa memangnya? Kamu mau dibeliin apa?” Sherly mengerucutkan bibir, berpikir cukup lama. Matanya kemudian berbinar. “Sherly mau Papa pulang.” Senyum di wajah Shiren perlahan menghilang. “Papa?” “Iya.” Sherly mengangguk polos. “Sekarang Papa juga udah kerja lagi, kan? Terus Mama juga udah kerja yang bagus. Jadi Papa gak usah capek-capek kerja terus. Papa bisa tinggal

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 259

    Sasqia baru saja selesai membersihkan diri di suite baru yang disiapkan Kaelix. Begitu keluar dari kamar mandi, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sunyi. Tak ada sosok suaminya. “Mas ...?” panggilnya pelan. Rambut panjangnya masih setengah basah, beberapa helainya menempel di pipi. Bathrobe putih yang dikenakannya membungkus tubuh mungilnya dengan rapi. Tak lama kemudian pintu suite terbuka. Kaelix melangkah masuk dengan wajah setenang biasanya. “Mas dari mana?” tanya Sasqia sambil menghampirinya. “Dari luar,” jawab Kaelix singkat. Ia berjalan melewati sang istri menuju sofa, lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. “Sebentar lagi makan malam. Kita makan di kamar saja.” Sasqia mengangguk kecil. “Iya, Mas.” Ia kemudian membuka koper, mengambil pakaian bersih, lalu duduk di depan meja rias. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Kaelix melalui pantulan cermin. Sementara itu, Kaelix duduk tenang di sofa. Tatapannya sesekali mengikuti setiap gerakan sang istri yang

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 14

    Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 12

    “Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 13

    “Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 90

    “Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael

    last updateآخر تحديث : 2026-04-02
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status